"Belum pulang, Van? Ini sudah masuk shift kedua, kan? Pulanglah, kau juga butuh istirahat," ujar Pak Dimas--lelaki separuh baya, yang bermurah hati memberikan Evan pekerjaan--sambil menepuk bahu kanan Evan.
"Siap, Pak. Seharian ini saya yang tugas, menggantikan Dito."
"Jangan terlalu ngoyo bekerja, kalo kamu sakit, uangnya bakal habis buat berobat. Sekarang lebih mahal biaya obatnya daripada uang yang kau terima buat ganti si Dito."
"Siap, Pak!" jawab Evan, dengan tubuh tegap, dan tangan di dahi memberikan tanda hormat.
Pak Dimas terlihat menggeleng beberapa kali, membuang nafas, dan berbalik sambil menepuk bahu Evan beberapa kali.
"Aku duluan, kalo ada yang kau butuhkan, jangan sungkan menghubungiku." Pak Dimas kemudian berlalu, meninggalkan pos jaga di depan kantor bank terbesar di kota ini.
Evan yang mendengar pesan pak Dimas, terdiam. Matanya terlihat basah. Pak Dimas adalah penolong hidupnya. Semenjak pertengkaran dengan ayahnya. Evan membulatkan tekad untuk menikahi perempuan pilihannya tanpa bantuan dari sang ayah. Sudah banyak surat lamaran yang dikirim namun tak satu pun yang berhasil.
Untunglah dia bertemu dengan Pak Dimas, yang pada saat itu mencari bantuan karena mobilnya mogok di perjalanan. Sebagai tanda terimakasih, akhirnya Evan diangkat sebagai satpam di kantor yang mempercayakan perengkrutan karyawan out sourching-nya kepada perusahaan milik Pak Dimas.
***
"Bagaimana kerjanya? Aman kan?!" Nila bertanya sambil meletakkan dua bungkusan dan dua botol minuman mineral di meja depan kursi yang Evan duduki. Siang itu, seperti biasa dia mengantarkan nasi pada lelaki yang berjanji akan menikahinya itu.
Evan tersenyum, membiarkan si gadis yang di cintainya mengoceh di depannya tanpa ada niatan untuk menyela, perempuan cantik itu terus berucap sambil sibuk menyiapkan makan siang untuk Evan.
"Mas Albi kemana, Bang?" Matanya meneliti di sekitar pos jaga. Mencari orang yang bernama Albi, teman piket Evan hari ini.
"Kamu cantik, Dik." Nila berhenti mencari, dia menatap lelaki yang baru saja membuat pipinya blushing.
"Kamu, cakep banget," jawab Nila, bibirnya tersenyum. Sambil menundukkan, malu.
Terpancar bahagia di wajah kedua muda-mudi itu, hingga timbul senyum pula di bibir Pak Dimas yang memperhatikan mereka sejak Nila datang dari lobi kantor.
***
"Belum pulang, Pak?" tanya Evan, waktu sudah menunjukkan jam kantor usai.
Pak Dimas tersenyum sambil menepuk bahu kiri Evan.
"Sini, sini duduk bersama, ada yang ingin kutanyakan." Pak Dimas merangkul bahu Evan dan menuntunnya duduk di kursi kayu panjang, di bawah jendela pos jaga.
"Kamu, sudah empat bulan kerja di sini kan, jadi bagaimana? Sudah terkumpul berapa dana yang buat nikahan?" tanya Pak Dimas. Tanpa memandangi orang yang di ajaknya bicara.malah fokus menatap jalan yang penuh dengan hilir mobil dan sepeda motor.
"Alhamdulillah sudah terkumpul lumayan, Pak. Insya Allah, rencananya bulan depan, saya mau lamar sekalian nikah dengan Nila. Yaa ... Sederhana, asalkan sah."
"Alhamdulillah--"
Tiba-tiba deru sepeda motor, memutus ucapan Pak Dimas.
"Nila!" jerit Evan dengan suara tertahan. Hingga tanpa sadar melangkah pergi mendekati kekasihnya, hingga terlupa pamit pada pak Dimas.
Nila, turun dari sepeda motor dengan muka sebap dan masih basah karena air mata. Dia langsung melangkah ke arah Evan.
"Kita ... putus--" Dengan tersengal-sengal, Nila mengucapkan kata itu.
"Putus! Kenapa, ada apa? Jangan membuatku berpikir yang bukan-bukan. Kita sudah berjuang bersama, Sayang. Kita sudah ada di depan pintu, selangkah lagi kita sah. SAH!" Dengan emosi, Evan menjawab ucapan Nila. Dipeluknya tubuh wanitanya dengan erat.
"Lepas!" Sentak Nila, sambil melepaskan badannya dengan paksa dari rengkuhan Evan.
"Aku tidak mencintaimu ... aku benci, BENCI!" Dengan emosi, Nila berucap sambil terisak. Berpaling dan berlari menuju tempat orang tadi yang masih menunggunya di atas sepeda motor.
Tertegun Evan mendengar ucapan Nila. Matanya menatap nanar memandangi Nila yang menjauh dari pandangan.
Pak Dimas pun segera pergi meninggalkan pos jaga dengan diam-diam. Membiarkan Evan yang tergugu melihat kepergian kekasihnya.
***
"Ada angin apa yang membuatmu mau datang ke rumahku, Dimas?" Seorang pria dengan penampilan flamboyan, menyambut tamu yang baru saja diantarkan oleh salah seorang satpam yang bertugas menjaga.
"Tak usah basa-basi yang memuakkan, Hen. Kapan kamu berhenti menyakiti perasaan anakmu sendiri? Apa kau lupa kalau yang mengalir itu adalah darahmu!" Setengah berusaha memendam emosi, Dimas menatap mata si tuan rumah.
"Hahahahaha ...." Bukannya menjawab, pria yang bernama Hendra malah tertawa keras sekali.
"Sejak kapan kau perduli dengan apa yang kulakukan? Evan anakku, tak ada hubungannya denganmu." Sinis Hendra menjawab sambil membalas tatapan Dimas.
"Darahku memang tidak mengalir di badannya, tapi kau lupa. Darah Sinta, perempuan yang paling kucintai, ada di nadi Evan."
"Ooo ... jadi kau masih mencintai istriku yang sudah mati itu? Kasihan sekali kamu, Dimas!" ejek Hendra, sambil memalingkan badan hendak kembali duduk ke kursi kebesarannya yang berlapis emas.
Bruuugh!
Pukulan tangan Dimas, yang sebelumnya tak pernah hendra duga tepat bersarang di pelipisnya, hingga membuat ia terjatuh dari sofa yang belum sempat ia duduki lagi tadi. Belum sempat berdiri sempurna. Dimas kembali menyerang perut Hendra dengan tendangan kaki kanannya. Hingga membuat ayah kandung dari Evan itu kembali mencium lantai. Sempurna!
Sangat mudah bagi Dimas, pemegang sabuk hitam karate ini untuk mengalahkan lawannya. apalagi lawan yang tak mempunyai dasar tentang pembelaan diri.
Hendra dengan susah payah bangkit dan duduk kembali di kursinya. Sambil terus memegangi perut yang mungkin kerasa sangat sakit.
"Bajingan, kamu Dimas!" ujar Hendra, matanya terpejam sambil menyandarkan punggungnya. Mungkin untuk mengurangi sakit di bagian perut.
"Bajingan!" ejek Dimas sambil kembali duduk di sofa.
"Aku kasih tahu kamu, siapa yang bajingan di antara kita?" Dimas menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kirinya. Matanya menatap tajam Hendra.
"Aku tahu, kamu pasti sudah mengira siapa yang membantu Bastian dan Mieke menikah? Namun apa alasanmu, dengan tak berperasaan, kau guna-guna istriku, kau hancurkan rumah tanggaku dengan Sinta. Kau tak terima, Mieke lebih memilih Bastian yang miskin daripada kamu yang punya segalanya."
"Kamu punya segalanya, Hen. Kaya! Tapi sayangnya kamu nggak punya hati!" Dimas berkata sambil menahan emosi, pandangan mata itu memerah dan tajam seakan ingin merobek robek laki laki yang berdiri di depannya, sangat fokus pada lawannya.
"Di mana kamu, saat Sinta yang mulai menyayangimu dengan hati, bersusah payah sendirian, saat melahirkan anak kalian? Atau pada saat dia meregang nyawa?" Ada getaran kesedihan dalam nada suara Dimas yang tak bisa disembunyikan.
"Tapi yang tak bisa kuterima, perlakuanmu pada Evan. Dia anakmu, darah dagingmu. Salah apa dia hingga cintanya kau hancurkan? Hanya karena Nilla anak dari Mieke, wanita yang telah menolak cintamu. Tidakkah kau merasa bersalah telah membunuh Mieke dan Bastian dengan sengaja menabrakkan mobilmu pada warung mereka?" Kaget nampak jelas di raut muka Hendra, seperti tak percaya Dimas mengetahui segalanya.
"Aku juga tahu, Nilla kau ancam untuk putus dari Evan. Ayah macam apa kamu?" Dimas menggenggam ke dua tangannya, menahan amarah.
"Lepaskan, Evan. Biar aku yang akan menjaganya. Kan kucintai dia seperti anakku sendiri." Dimas berdiri dan melangkah keluar. Namun tiba-tiba terhenti di depan pintu, dan berbalik.
"Bila nanti, ada sesuatu yang menimpa Evan dan Nilla. Aku yang akan membunuhmu. Ingat itu, Hendra!" ucap Dimas sebelum berlalu pergi dari rumah besar itu.
Tanpa Hendra dan Dimas sadari. Dari balik pintu yang terbuka tiba tiba, Evan sedang menatap lantai dengan kedua tangan terkepal.