Tian Hu An POV
Duniaku runtuh seketika, melihat wanita yang aku cintai pergi meninggalkanku. Pergi sangat jauh.
Aku memeluk tubuhnya, tubuh yang sekarang sangat dingin. Aku menangis, pertahananku rapuh.
Aku tahu ada yang aneh dengannya sejak kehamilannya. Dimulai dari dia yang tidur lebih lama, bahkan melupakan makan. Dia yang terlihat seperti memikirkan sesuatu yang berat. Dia yang akan selalu memandangiku lebih lama. Dia yang akan lebih mendengarkan keluhanku daripada dia yang bercerita. Kenapa tak kusadari ini?
"Kita harus adakan pemakaman secepatnya, Hu An," ucap ibunda ratu. Kusadari ada nada sedih di sana.
"Baiklah, siapkan pemakaman!" perintahku.
Seminggu berlalu, aku menyibukkan diriku dengan urusan pemerintahan. Kini aku dikenal menjadi raja yang dingin dan kejam. Aku tak berpikir dua kali dalam memberi hukuman. Semua sama, itu adil menurutku. Ling Ling menasehatiku bahwa itu adalah sesuatu yang salah.
Tapi aku tak peduli, bila rakyat membenciku, silakan.
"Yang Mulia Raja, ibunda ratu ingin Anda menghadap beliau," ucap Yu Qong.
Ini adalah panggilan kesekian kalinya dari ibunda ratu. Aku menghindari paviliun beliau karena Yuwen. Bayi itu mengingatkanku pada Mu Lan.
"Ibunda ratu mengatakan bahwa putra mahkota sedang sakit, jadi beliau mohon Yang Mulia datang ke paviliun ratu," lanjut Yu Qong.
Sakit? Anakku sakit? Aku segera bangkit dan menuju paviliun ratu.
Aku melarang pengawal mengumumkan kedatanganku. Benar saja, tangisan Yuwen menggema.
"Salam Yang Mulia Ratu," hormatku.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tak segera datang?" Sang ratu marah.
"Hamba hanya sibuk." Aku beralasan.
Ratu menghela napas. "Aku tahu ini berat bagimu, tapi tolong jaga janjimu pada Mu Lan. Dia ingin kau dan Ling Ling menjaganya. Lihatlah, dia menangis terus menerus dan suhu tubuhnya meningkat," ucap ratu.
Aku hanya bisa memandang Yuwen, merasa bersalah. Bayi ini sangat kecil dan rapuh.
"Dia tak mau minum, kucoba suapi tapi selalu meronta," jelas ratu.
"Biarkan aku menggendongnya," pintaku.
Ibunda ratu memberikan Yuwen padaku.
Begitu ada di dekapanku, Yuwen berhenti menangis, mengusap wajahnya ke dadaku, seakan menyamankan posisinya.
"Coba kau suapi!" perintah ratu. Aku pun menyuapi Yuwen, lalu dengan lahap dia meminum susunya.
Aku menangis. Apa yang kulakukan pada bayi ini?
"Maafkan Ayah, Nak." Aku terisak memeluk tubuh mungilnya.
Yuwen sudah berusia tujuh tahun. Kami sedang makan bersama, aku, Ling Ling dan Yuwen.
"Ayahanda, seperti apa ibu kandungku?" Tiba-tiba Yuwen bertanya padaku.
"Kenapa kau bertanya?" tanyaku.
"Karena aku ingin tahu. Selama ini yang kutahu hanyalah nama ibu, Xiao Mu Lan, Paman Fanfan, Kakek dan Nenek Xiao. Aku tak tahu seperti apa ibu," jawabnya.
"Ibumu wanita yang sangaaaaaat baik," jawab Ling Ling.
"Benarkah?" Yuwen antusias mendengarkan.
"Iya, ibumu sangat suka memasak, membuat sabun, merajut dan teh buatan ibumu, tak ada tandingannya," lanjut Ling Ling.
"Aku suka teh melati," ucap Yuwen.
"Sama seperti ibumu, dia sangat sukaa teh melati," jawab Ling Ling. Mata Yuwen berbinar, seakan tak sabar menanti kelanjutan cerita. "Ibumu juga sangat jago memanah," kata Ling Ling.
"Ibu bisa memanah?" tanya Yuwen. Ling Ling mengangguk.
"Ibumu wanita istimewa," lanjut Ling Ling sembari mengusap rambut Yuwen.
"Sangat istimewa," sambungku. Secara cepat pandangan Yuwen beralih padaku.
"Ibumu adalah satu-satunya selir yang Ayah cintai." Aku memulai cerita. "Berawal dari masakannya kami mulai dekat. Dia wanita yang sangat baik, ramah dan hangat. Nama Yuwen adalah pemberiannya. Yuwen berarti tampan dan bijaksana," lanjutku.
"Aku tampan dan bijaksana!" ucap Yuwen bangga. Aku dan Ling Ling tertawa.
"Di hari sebelum kau lahir, kami sempat berbicara. Ibumu meninggalkan banyak pesan untukku," ucapku.
"Apa itu, Ayah?" tanyanya.
"Aku harus menjagamu dari makhluk jahat di sini. Mengajarimu hingga pandai, melatihmu untuk tangguh, mendidik agar kepribadianmu hebat, membiasakanmu untuk jujur dan menemanimu saat makan," kataku mengulang pesan yang diberikan Mu Lan.
"Aku akan menjadi lelaki pintar, tangguh, hebat dan jujur. Aku janji," ucap Yuwen. Kami semua tertawa.
Saat Yuwen 13 tahun. Aku baru saja tiba setelah seminggu pergi ke Kerajaan Xing.
"Putra Mahkota ingin menghadap Yang Mulia Raja!" ucap pengawal. Aku menghela napas.
"Belum sempat aku duduk dia sudah ada di sini," gumamku sambil tertawa.
"Ayah!" teriaknya.
"Jaga sikapmu, Putra Mahkota." Aku menegurnya.
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Raja," ucap Yuwen dengan muka ditekuk.
Aku tertawa, "Ada apa kemari?" tanyaku.
"Ayah melupakan janji ibu," katanya.
"Yang mana?" tanyaku.
"Menemaniku makan! Ayah harus makan denganku sekarang," pintanya.
"Baiklah, mari kita makan. Terkadang Ayah menyesal menceritakan itu padamu. Tiap terjadi sesuatu kau gunakan pesan ibumu untuk mengancam Ayah," ucapku. Yuwen tertawa.
Malam harinya. "Yang Mulia Raja, ibunda ratu sedang dalam kondisi yang tidak baik, Putri Bao menginginkan Anda untuk ke paviliun ibunda ratu," kata Yu Qong.
Aku bergegas ke paviliun ibunda ratu. Kulihat Yuwen dan Ling Ling di sana. Yuwen menangis dalam diam, dia sangat dekat dengan neneknya, sang ratu.
"Ada yang ingin aku katakan padamu sebelum aku pergi," ucap ibunda ratu.
Aku memerintahkan Yuwen dan Ling Ling untuk keluar.
"Ini tentang Mu Lan." Ibunda ratu mengawali cerita. Aku terkejut karena jarang sekali beliau membahas Mu Lan.
"Apa kau tak merasa aneh saat Mu Lan tiba-tiba bangun dan memasak, membuat sabun, merajut?" lanjut beliau. Aku menatap beliau dengan bingung. "Mu Lan yang kau cintai itu bukan berasal dari dunia ini."
"Apa maksud Ibu?" tanyaku.
"Entah bagaimana arwah gadis itu masuk ke dalam tubuh Mu Lan. Hidup di sana cukup lama, hingga akhirnya dia kembali ke dunianya," jelas ratu.
Aku tak mengerti. "Saat dia hamil Yuwen, dia sangat lemah dan terlihat kelelahan karena harus hidup di dua dunia," lanjut beliau. Aku tak percaya apa yang kudengar.
"Dia memutuskan untuk meninggalkan Yuwen padamu dan Ling Ling karena dia tahu tempatnya bukan di sini. Dia ingin membantu kalian berdua melindungi kerajaan ini," ucap ratu.
"Kenapa tak pernah Ibunda Ratu katakan padaku?" tanyaku.
"Dia melarangku, aku pun menawarkan bantuanku agar dia tetap tinggal di sini, tapi keputusannya sudah tidak bisa diubah. Dia berasal dari masa depan Hu An, dia tak ingin merubah sesuatu yang terjadi di masa ini. Di akhir hidupku ini, aku akan membuatmu bertemu dengannya lagi di masa depan. Jikalau nanti kau terlahir kembali, akan kupastikan kau bertemu dengannya." Itu adalah kalimat terakhir ibunda ratu sebelum wafat
Kini aku mengerti. Akan kunantikan pertemuan kitananti Mu Lan. Tunggu aku.
-Selamat Membaca-
#EditedVersion
Tenang guys, Hu An nyusulin Mu Lan kog 😂✌