D E S T I N Y
E N J O Y ¡
Setelah dari Seoul University, Chanyeol membawa mobilnya ke suatu tempat. Dimana ia berharap bisa menemukan sebuah informasi penting tentang Baekhyun dan keluarganya. Bagaimanapun, Hangyul sudah menyembunyikan hal ini dari dirinya.
Sesampainya diparkiran bawah sebuah apartemen, Chanyeol memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobilnya. Berjalan menuju lift, dan menunggu.
Sembari menunggu, Chanyeol tiba-tiba teringat tentang anak tadi. Namanya, Byun Jiwon. Pasti itu adalah anaknya Baekhyun dan dirinya— bahkan ia sendiri tidak yakin itu anaknya apa tidak. Mengingat, kejadian menimpa Baekhyun dan setelah itu Baekhyun dinyatakan mengandung kembali.
Lift terbuka dan Chanyeol masuk kedalam lift tersebut, menekan tombol menuju lantai yang ditujunya.
ting!
Lift tersebut sampai pada lantai 14, kaki Chanyeol melangkah kedepan pintu bertuliskan nomor apartemen "146" dan Chanyeol pun menekan bel apartemen itu.
"Siapa—oh, Chanyeol?"
"Kau sibuk, Jong?"
"Tidak, hanya bersantai. Masuklah."
Jongin, sahabat Chanyeol saat ini yang tersisa yang bisa Chanyeol percaya. Saat memasuki apartemen Jongin, Chanyeol melihat sedikit berantakan dan hanya tersenyum. Sahabatnya ini seperti tinggal sendirian, padahal dia sudah menikah.
"Kau seperti pengangguran, Jong."
"Ck, kau tau. Aku hanya sendirian disini,"
Chanyeol duduk di sofa itu dan menyandarkan kepalanya. Jongin yang paham dengan situasi mengambil sekaleng soda dan memberikannya pada Chanyeol.
"Minumlah, setidaknya kau tidak seperti mayat hidup."
"Thanks," Chanyeol mengambil kaleng soda dan meneguknya hampir setengah, Jongin yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa bebannya seberat itu? Sepertinya aku harus memberi Soju, bukan Soda." sindir Jongin. Sedangkan Chanyeol hanya mengabaikan.
Jongin yang merasa terabaikanpun mendecak kesal dan duduk dikursi satunya lagi, melihat keadaan sahabatnya ini. Tidak mungkin jika tidak ada masalah, Chanyeol datang ke apartemennya. Apartemen Jongin adalah tempat Chanyeol melampiaskan segala amarahnya.
"Jadi apa tujuanmu kesini, Presdir Park?"
Chanyeol yang masih ingin bersantai sedikit, harus disuguhkan pertanyaan seperti itu. Iya tahu, Jongin adalah orang yang mempunyai rasa penasaran teramat besar.
"Ck, biarkan kepalaku dingin sejenak."
"Baiklah, Presdir Park. Haha," Jongin hanya membiarkan Chanyeol seperti itu. Dan hal ini sudah terbiasa menurutnya, apartment nya ini tempat dimana Chanyeol membuang segala pikiran jenuhnya.
"Ah, tadi kau hadir di rapat? Aku hanya menyuruh Wakil Pimpinan saja yang hadir, aku cukup malas."
"Tidak, aku tidak hadir. Hangyul yang mewakiliku,"
Chanyeol memperbaiki duduknya dan melihat kearah Jongin, sedangan Jongin yang dilihat hanya melihatkan ekspresi penasarannya.
"Kau masih memiliki seseorang yang bisa mendapatkan informasi?"
Gotcha! Tebakan Jongin benar, Chanyeol ingin meminta bantuannya.
"Informasi seperti apa dulu? Tentang aib perusahaan? Penagih utang piutang? Atau bagaimana?"
"Bukan itu, bodoh. Aku ingin mencari tahu tentang seseorang lebih tepatnya satu keluarga."
"Woah, tumben sekali kau meminta bantuanku dalam hal seperti itu? Apa keluarga dari pesaingmu? Bukannya kau memiliki sekretaris Lee, yang bisa mencarinya?"
"Itu dia masalahnya, dia menyembunyikan sesuatu dariku."
"Maksudmu? Dia mempergunakan kesempatan itu untuk mencari informasi terkait dan menyimpannya sendirian?"
"Tepat sekali." Chanyeol menjentikkan jarinya, dan menganggukkan kepalanya.
"Apa salahnya kau minta sendiri dengannya? Kan dia bawahan mu, Yeol."
Chanyeol merotasi bola matanya dan mendengus. Jongin terlalu banyak bicara dan bertanya, tapi memang itulah dia. Akan mencari alasan yang tepat dulu, baru mau membantu. Jika saja segampang dan semudah itu, Chanyeol tidak perlu report datang ke apartemen Jongin.
"Masalahnya aku tidak bisa meminta segampang itu, bodoh."
"Cih, memangnya tentang siapa?"
"Tentang Baekhyun dan keluarganya,"
pffft!
Jongin tersedak dan menyemburkan minumannya ketika ia akan meneguk lalu terbatuk. Sedangkan Chanyeol yang melihat itu hanya mendecak, sudah tahu bagaimana respon dari sahabatnya ini.
"Kau masih mencarinya?" ini menarik, batin Jongin. Chanyeol ternyata masih peduli tentang Baekhyun.
"Aku hanya mencari kebenaran yang belum aku ketahui. Sepertinya Joohyun sudah menipuku selama ini,"
Jongin memfokuskan dirinya pada sahabat nya ini, percakapan ini mulai menarik. Jongin lalu menyipitkan matanya,
"Apa kau baru sadar kalau kau ditipu habis-habisan oleh mantan pacarmu dulu? Ah, maksudku cinta pertamamu?"
"Ck, aku serius." Chanyeol malas jika Jongin membahas tengang itu.
"Aku juga serius, bodoh. Dari siapa kau tahu kau sudah ditipu habis-habisan?"
"Aku hanya menebak," jujur Chanyeol.
BUGH!
Jongin melempar bantal kursi kearah Chanyeol, dan mengenai wajahnya. Chanyeol hanya bisa pasrah ketika sahabatnya sudah seperti ini, karna jika Chanyeol marah, tidak ada tempat ia mengeluhkan keadaannya.
"Jadi, Joohyun benar-benar menipuku?" Chanyeol mencoba memastikan pada Jongin.
"Ck, sudah berapa kali aku bilang? Dari awal aku sudah katakan, kau ditipu oleh Joohyun. Tapi kau bilang Joohyun bukan seperti itu, bukan seperti ini, akibatnya apa? Rumah tangga yang kau bangun, hancur, Yeol. Rata seperti tanah."
"Tanah masih ada yang tidak rata, Jong. Huf.."
Chanyeol menghela nafasnya, tujuannya ke apartemen Jongin untuk meminta bantuan bukan meminta omelan seperti ini.
"Bahas Joohyunnya, nanti. Bisakah kau membantuku? Mencari tau tentang keberadaan Baekhyun dan keluarganya?"
Jongin menaikkan alisnya sebelah, "Untuk apa kau mencari tahunya? Jika untuk membuatnya sengsara seperti dulu, mending kau simpan saja tenagamu itu. Dan aku tidak mau membantu."
"Hei! Sejak kapan aku membuatnya sengsara?" Tidak terima dikata demikian oleh Jongin, Chanyeol sedikit terpancing.
"Sejak kapan? Kau ingat saat dia memutuskan tinggal di daerah Daegu, menuruti semua aturan yang berikan. Tapi kau malah mengusirnya. Rumah yang kau berikan padanya, kau sita kembali dan kau jual lagi. Baekhyun dan anaknya? Terlantar.
Untungnya, dia masih mempunyai rumah di daerah tempat tinggal ibunya. Aku yakin, dia membenci kau seribu persen, Yeol." lanjut Jongin.
Kenapa Chanyeol sangat bodoh sekali, pikir Jongin. Sedangkan Chanyeol hanya terdiam dan mencoba mengingat apa yang terjadi,
"Kau bilang, aku mengusir Baekhyun dan anaknya?" menatap Jongin tidak percaya.
"Mengusirnya secara halus, lebih tepatnya. Jika kau memang tidak berniat memberikan rumah itu untuknya, dari awal kau mestinya tidak memberikannya. Bukan membiarkannya tinggal setahun lalu kau usir—"
"Aku tidak mengusirnya!" Chanyeol sedikit menaikkan intonasi suaranya. Bagaimanapun dia tidak suka dengan tuduhan yang Jongin berikan.
Jongin yang melihat Chanyeol kebingungan pun hanya bisa diam, tidak menjawab apa yang disanggah Chanyeol. Jika disanggah dan akan berakhir ribut lagi, mereka bukan anak remaja lagi.
"Kenapa kau selalu mengatakan aku mengusirnya, aku mengusirnya? Yang jelas-jelas Baekhyun yang pergi dan ingin menjual rumah itu!"
Jongin menyeritkan dahinya, bagaimana bisa Chanyeol mengatakan kalau Baekhyun menjual rumah itu? Yang jelas-jelas Chanyeol sendiri yang ingin menjual dan mengusir Baekhyun.
"Kau bilang apa? Baekhyun yang ingin menjualnya?" Jongin bingung sekarang.
"Astaga. Iya. Baekhyun yang ingin menjual rumah itu, untungnya Hangyul cepat menerima surat itu di perusahaan dan mengecek isi suratnya. Disurat itu dinyatakan Baekhyun akan menjual rumah itu dan pergi jauh dari kehidupanku,"
Jongin mencelos. Jelas-jelas informasi yang dia dapatkan dari Minho kalau Chanyeol lah yang mengusir Baekhyun, lebih tepatnya mengusir secara halus. Bukan Hangyul ataupun siapa yang mereka kenal, tetapi orang lain yang datang—katanya Minho orang suruhan dari Chanyeol— dan mengatakan bahwa rumah itu sudah dibeli orang lain, lalu Baekhyun dan anaknya—Jiwon diberikan waktu hanya 3hari untuk pergi dari rumah itu membawa segala barangnya, dan menandatangani sebuah surat.
"Lalu, ketika aku dan Hangyul tiba di Daegu lusa nya, rumah itu sudah kosong. Tidak ada siapapun lagi disana dan tidak ada sedikitpun barang Baekhyun yang tertinggal. Sejak saat itu, aku tidak mengetahui tentang keberadaannya lagi." lanjut Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas keras, entah kenapa rasanya ingin marah saja pada dirinya sendiri. Salah satu tujuannya mencari Baekhyun saat ini, ingin bertanya mengapa rumah itu dijual sedangkan semua surat-surat nya atas nama Baekhyun sendiri, bukan atas nama dirinya. Dan tidak habis pikir, bagaimana bisa Jongin menuduhnya menjual rumah yang Chanyeol belikan untuk Baekhyun.
Sedangkan Jongin masih kalut dengan pikirannya. Disini ada dua jalan cerita yang berbeda, tetapi Jongin lebih kuat menerima cerita dari Minho karena Minho dan Sehun yang masih sering menemui Baekhyun saat saat itu. Sebelum Baekhyun hilang kabar.
Tetapi, disisi lain, Chanyeol sendiri yang mengalami jika Baekhyun mengirimkan semua surat dan surat tentang Baekhyun ingin menjual rumah itu.
Kedua pria dewasa disana terdiam setelah sedikit berdebat, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi tujuan kau mencari Baekhyun, untuk apa? Meminta ganti rugi?" akhirnya Jongin buka suara setelah hampir 5 menit mereka berdiam diri.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja," Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto disana. Ponsel itu diberikan kepada Jongin dan Jongin hanya bisa menatap foto itu.
"Darimana kau mendapatkannya? Ini foto terbaru, sepertinya?" tebak Jongin.
"Jika aku mengatakan, aku mendapatkannya dari Hangyul, apa yang kau pikirkan?" Chanyeol menatap kearah Jongin, dan Jongin membelalakkan matanya. Apakah pikirannya sama dengan Chanyeol?
"Jangan bilang selama ini dia.."
"Iya, dia yang selama ini mencaritahu tentang keberadaan Baekhyun dan keluarganya. Dia menyembunyikan fakta itu dariku, untuk alasannya aku tidak tahu kenapa. Dan kau tahu satu fakta lainnya?"
Jongin menatap Chanyeol, menginginkan sebuah jawaban.
"Anak itu, yang disebelah Baekhyun, namanya Jiwon. Dia... Dia salah satu murid beasiswa di program kita,"
Jongin kembali menatap ponsel Chanyeol dan memperbesar fotonya. Mirip sekali senyumannya dengan Baekhyun,
"Dia.. Jiwon? Anak kalian?"
"Bahkan aku tidak tahu Jiwon betul anak aku atau tidak, Jong. Kau ingat Baekhyun pernah berhubungan dengan sahabatnya sendiri?"
"Dan kau percaya itu?" sanggah Jongin. Kenapa Chanyeol ini sangat bodoh? Baekhyun yang dulu sangat mencintai Chanyeol dan bahkan rela berpisah dari keluarganya, tetapi Chanyeol sendiri tidak bisa percaya terhadap pasangannya sendiri.
"Ada buktinya, berupa foto dia bersama orang itu." Chanyeol membuang muka, sedikit malas membahas tentang hal kotor—menurutnya.
"Aku tanya. Kau percaya hal itu? Dibanding ucapan pasangan kau sendiri?"
DEG!
Ucapan Jongin pas mengenai ulu hatinya. Chanyeol menundukkan kepala, sebenarnya dari dulu Chanyeol sangat ragu dengan itu. Tapi, kembali lagi, lagi-lagi Joohyun mempengaruhi dirinya.
"Joohyun yang bilang—"
"Joohyun, Joohyun dan Joohyun. Hubungan kau dan Baekhyun selalu diganggu oleh kehadiran Joohyun, Yeol. Apa kau tidak pernah sadar? Joohyun adalah perusak hubungan kau dengan Baekhyun. Joohyun membuat kau ragu akan cinta Baekhyun!"
"Kenapa kau jadi memarahiku dan menyeret Joohyun kedalam kasus ini!?"
"See!? Kau masih terus membelanya bahkan dia sudah menyakiti dirimu!" Jongin tidak tahan jika tidak membentak temannya ini.
Chanyeol terdiam. Entah kenapa Chanyeol masih tidak menyukai jika ada yang menjelekkan Joohyun seperti itu, buktinya tidak sepenuhnya Joohyun salah dalam masalah ini. Mungkin.
Jongin menghela nafasnya, sepertinya dia sudah berlebihan terhadap reaksinya. Melihat Chanyeol yang terdiam, membuat Jongin sedikit merasa bersalah.
"Baiklah, aku akan membantumu mencari tahu tentang keberadaan Baekhyun, dengan syarat." Jongin memberikan ponsel Chanyeol dan duduk dengan tenang, menyandarkan dirinya pada sandaran sofa.
"Kau harus percaya pada diri sendiri. Informasi yang aku berikan itu sepenuhnya apa yang terjadi, bukan sebuah tebakan. Dan, sekarang Baekhyun ataupun keluarganya bukan siapa-siapa kau lagi, jadi jangan gegabah."
Chanyeol melihat kearah Jongin, sedikit tidak setuju. Apa maksudnya jangan gegabah?
"Jika kau setuju, aku akan mencarinya mulai hari ini. Jika tidak aku tidak masalah," Jongin kembali meminum minumannya. Dan menunggu respon dari Chanyeol.
"Baiklah, baiklah, aku setuju. Setidaknya dapatkan informasi mengenai keberadaan Baekhyun saat ini."
Untuk sekarang, menyetujuinya lebih mudah. Untuk kedepannya, lihat saja nanti.
"Itu masalah gampang, mencari keberadaan seseorang adalah keahlianku sejak dulu." Jongin menaikkan alisnya sebelah, dan mengeluarkan ponselnya dari kantong. Menghubungi seseorang yang dia butuhkan.
Chanyeol yang melihat itupun mencoba meyakinkan dirinya, jika mengetahui keberadaan Baekhyun dan keluarganya dia tidak boleh gegabah. Harus tetap tenang dan tetap menjadi Chanyeol yang biasa saja.
- - d e s t i ny - -
Baekhyun dan Luhan menunggu kedatangan Jiwon setelah membeli eskrimnya lagi, Luhan ingin sekali bertanya tentang masalah kertas hasil checkup tadi.
"Baek?"
"Hm? Ada apa Lu?" Baekhyun yang sedang melamun sedikit terkejut dengan panggilan Luhan,
"Aku ingin bertanya padamu, tapi jangan marah atau tersinggung ya?"
Baekhyun mengangguk ragu, menebak dalam hati apa yang akan ditanya Luhan padanya.
"Aku tadi tidak sengaja melihat kertas hasilnya checkup rumah sakit, apa kau sakit?" tanya Luhan.
Baekhyun menyembunyikan raut wajah gugupnya dan memilih untuk tersenyum saja.
"Hanya itu? Kk, aku tidak sakit, Lu. Hanya merasa tidak enak badan, lalu aku mengecek diriku kerumah sakit. Apalagi aku mau berangkat ke Seoul besoknya," Baekhyun tidak berbohong tentang dia mengecek dirinya karena ingin ke Seoul. Tetapi berbohong karena sebenarnya Baekhyun sakit.
"Syukurlah kalau kau tidak sakit, Baek. Aku sangat khawatir denganmu." Luhan merasa lega, ternyata sahabatnya ini tidak sakit.
Baekhyun hanya tersenyum dan kembali melihat kearah dalam. Jiwon lama sekali, pikirnya. Tidak lama setelah itu, Jiwon keluar dengan dua cup eskrim ditangannya yang berkemasan. Tidak seperti tadi.
"Maafkan aku pa, paman. Antriannya cukup lama," ungkap Jiwon.
"Tidak masalah, Jiwon. Jika sudah selesai, kita pulang?"
Baekhyun mengangguk dan diikutin dengan Luhan dan Baekhyun berdiri dari tempat duduknya. Ketika akan melangkahkan kakinya, Baekhyun merasa ingin buang air kecil.
"Ehm, Lu, kau dan Jiwon duluan saja ke mobil. Aku mau ke toilet sebentar."
"Jiwon temani ya pa?"
"Tidak perlu nak, papa hanya sebentar." Baekhyun meninggalkan Luhan dan Jiwon berdua. Dan Jiwon menatap papanya khawatir, takut terjadi apa-apa dengan papanya.
"Ji? Ayok ke mobil? Papamu bisa sendiri, percaya padanya, dia bukan anak kecil lagi." Jiwon mengangguk dan ikut Luhan berjalan kearah mobil mereka yang tadi diparkiran.
Baekhyun yang berjalan kedalam kedai, melihat isi dalam kedai ini sudah sangat sangat mewah. Sudah lama rasanya dia tidak mencium aroma eskrim yang manis seperti ini, aromanya sangat khas.
Melihat kearah sekitar, tidak menemukan tulisan toilet. Baekhyun bertanya pada pelayan disana, dan pelayan itu menunjukkan letak toiletnya.
Setelah selesai dari urusannya, Baekhyun keluar dari toilet menunduk merapihkan bajunya dan tidak sadar bertubrukan dengan seseorang.
"Oh, maaf."
"Maaf—"
"Ah tidak, aku yang minta maaf karena tidak melihat jalan," ucap Baekhyun melihat seseorang didepannya dengan heels yang sedikit rendah.
Baekhyun sedikit mengangkat kepala dan melihat orang didepannya ini. Sedangkan orang didepannya ini terlihat sangat terkejut melihatnya.
"Baekhyun?"
"Kak Soyou, kan?"
"Astaga! Baek! Kau kemana sajaa?!" Wanita yang bernama Soyou itupun memeluk Baekhyun dengan erat, sedangkan Baekhyun hanya tersenyum.
"Astaga. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi disinii!!" ungkap Soyou bahagia. Baekhyun hanya tersenyum.
"Aku juga senang melihat kakak disini, bagaimana kabarmu, Kak?" tanya Baekhyun. Soyou ini salah satu kakak tingkatnya ketika dikampus, dan Soyou ini juga adalah temannya ketika didalam organisasi.
"Aku baik. Sangat baik, bagaimana dengamu?"
"Baik juga,"
Soyou menatap Baekhyun bahagia, entah kenapa rasanya seperti menemukan adiknya yang tidak lama ia temui. Soyou mengajak Baekhyun duduk disalah satu kursi di dalam kedai, Baekhyun lupa jika Luhan dan Jiwon menunggunya didalam mobil.
"Kau sibuk?"
"Hm tidak, tapi aku sedikit terburu-buru. Karena Luhan menungguku,"
"Ah kau bersama Luhan? Apa Chanyeol sibuk? Aku jarang sekali melihatmu dan Chanyeol bersama disebuah majalah atau dimanapun,"
Baekhyun tersenyum maklum, memang tidak banyak yang mengetahui mereka telah berakhir.
"Aku dan Chanyeol sudah lama berpisah kak," ucap Baekhyun sedikit lirih.
Soyou menatap Baekhyun tidak percaya. Dan sepertinya Soyou telah salah bicara.
"Ah, maafkan aku. a-aku tidak tahu kau d-dan Chanyeol—"
"Tidak masalah kak, memang tidak terlalu banyak yang mengetahui aku dan Chanyeol berpisah."
Soyou mengangguk paham dan melihat kearah Baekhyun, bagaimana bisa kisah cinta adiknya ini berakhir seperti itu. Bahkan Soyou yakin Baekhyun dan Chanyeol akan selalu bersama sampai akhir.
"Baiklah, karena kau terburu-buru, bagaimana jika kau memberikan kontakmu? Karena aku ingin banyak bercerita padamu," Soyou menyerahkan ponselnya pada Baekhyun, yang mau tidak mau Baekhyun mengetikkan nomor nya disana.
"Aku senang bisa bertemu denganmu disini, Baek. Aku kehilangan kontakmu,"
Baekhyun tersenyum dan mereka berdua beranjak dari tempat duduk. "Baiklah, kak Sooyou, aku pulang dulu."
"Hm, baiklah Baek. Hati-hati dijalan, sampaikan salamku pada Luhan."
Soyou tidak tahu jika mereka sudah memiliki anak, dan Baekhyun tersenyum pamit pulang duluan.
Baekhyun berjalan keluar dari kedai, belum jauh ia melangkah dari pintu kedai itu sebuah panggilan menginterupsinya.
"P-permisi,"
Baekhyun berhenti dan membalikkan badannya. Menatap sosok didepannya itu, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sedangkan sosok didepannya hanya berdiam diri saja setelah memanggilnya seperti itu.
"Apa benar k-kau t-tuan Byun B-Baekhyun?"
Baekhyun masih bergeming menatap sosok didepannya itu, jantungnya masih berdegup sangat kencang. Baekhyun tidak tahu harus bagaimana, Baekhyun bingung. Baekhyun ingin pergi dan lari dari sosok didepannya ini, tetapi kakinya seakan-akan membeku. Tidak bisa bergerak.
Sosok itu berjalan mendekati Baekhyun, dan Baekhyun ingin pergi secepatnya. Tidak mau dihampiri oleh orang didepannya ini, bukan tidak mau, hanya belum siap.
"Benarkan? Anda tuan Byun Baekhyun?"
Lidah Baekhyun kelu, tidak bisa menjawab ataupun bergerak dari tempatnya. Ini semua terlalu cepat untuknya.
"B-bukan. Mungkin kamu salah orang, saya permisi."
GREP!
Tangan Baekhyun tertahan olehnya, tetapi Baekhyun tidak sanggup untuk lebih lama disini. Baekhyun menghempaskan tangan orang itu dan pergi cepat dari hadapannya.
"T-tunggu dulu!"
Baekhyun mengabaikan panggilan dan teriakan dari orang itu, tepatnya anaknya sendiri, Jackson. Bagaimana bisa Jackson menemukan dirinya secepat ini? Dan Jackson tidak boleh tahu kalau dia adalah papanya. Tidak, Baekhyun tidak akan memperbolehkan Jackson mengetahui keberadaannya.
Jika Jackson tahu, maka pasti Chanyeol akan tahu. Dan Chanyeol kembali mengusik kehidupan tenangnya selama ini.
Luhan melihat Baekhyun berlaripun segera keluar dari mobil dan datang menghampiri Baekhyun.
"Baek—"
"A-ayo kita pergi, Lu." Baekhyun melepaskan pegangan Luhan dan masuk ke dalam mobil, mengabaikan pandangan Jiwon yang bingung dengan papanya.
Jiwon pun melihat kearah luar, melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari mobilnya mereka. Luhan yang segera masuk dan menjalankan mobilnya, meninggalkan Jackson berdiam diri disana sendirian.
"Papa!!" teriak Jackson melihat mobil mundur untuk bersiap pergi.
"Papa... Aku tahu itu pasti papa...hiks..." Jackson menatap nanar mobil yang sedikit kencang menjauhi kedai eskrim itu. Tidak pernah menangis selama ini, dan ini pertama kalinya lagi ia menangis.
Rasanya sakit ketika seseorang yang kita cari, ternyata tidak ingin kehadiran kita. Tidak ingin melihat ataupun menganggap kita ada.
Walaupun awalnya Jackson ragu itu papanya atau bukan, tetapi dari batin dan hatinya sendiri mengatakan kalau itu adalah papanya. Papa yang selama ini ia cari bersama Hangyul, dan papa yang teramat ia rindukan.
Jackson mengabaikan perhatian sekitarnya, karena ada yang lebih sakit daripada yang lainnya. Hatinya. Jackson berjalan menjauhi kedai itu, dan mengirimkan senior dan sahabatnya pesan, kalau dia akan pulang duluan karena Daddynya yang mencarinya.
Jackson berjalan terus, sedikit merasakan hatinya yang terus-menerus tersayat. Entah bagaimana rasanya, yang Jackson tahu itu sangat nyeri. Jika memang itu papanya yang ia cari, kenapa papanya tidak mau melihat kearahnya? Kenapa tidak ingin berbicara padanya? Kenapa papanya menjauhinya? Banyak pertanyaan yang terputar dikepala Jackson.
Paman Hangyul. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya saat ini, dan ia harus memberitahukan kalau dia sudah menemukan papanya.
Jackson mengeluarkan ponselnya kembali dan mencoba menghubungi Hangyul.
"Halo, paman?" suara Jackson terdengar serak di sambungan Hangyul.
'Jack, are you okay? Ada apa?'
"Apa paman sibuk? Aku ingin memberitahu sesuatu."
Lama respon dari Hangyul, mungkin sedang mengecek jadwal atau yang lainnya. Jackson tetap menunggu.
'Tidak terlalu, tetapi sedikit lagi pekerjaanku selesai. Kau mau dijemput atau diantar temanmu?'
"Bisakah paman menjemputku? Aku ingin memberitahu kalau aku menemukan papa.."
'M-maksudmu, Jack?'
Jackson menghela nafasnya, entah kenapa hatinya masih sangat nyeri dan sangat sesak.
"Aku bertemu dengan papa Baekhyun, dan aku ingin bertanya banyak padamu. Bisakah paman menjemputku?"
'Baiklah, paman akan segera kesana. Kirim alamatmu sekarang.'
Jackson memutuskan sambungan dan mengirimkan lokasi dia saat ini, halte bus yang sedikit jauh dari kedai eskrim tadi. Menyandarkan punggungnya pada sandaran dihalte bus itu, dan memejamkan matanya. Mungkin saat ini ia terlihat sangat menyedihkan, tapi nyatanya memang benar. Jackson sangat sedih ketika mengingat kejadian yang belum lama ini, papanya menolak untuk berbicara padanya.
. .
"Baik, aku tunggu sampai malam ini." Jongin memutuskan sambungannya dan kembali meminum minumannya.
"Nanti malam aku sudah bisa mengirimkan data yang didapatkan, jika tidak mungkin besok pagi."
"Baiklah, terima kasih, Kim."
Jongin menganggukkan kepalanya.
"Jika benar Jiwon itu anakku, maka aku sudah bertemu dengannya tadi."
"Uhukh—Kau serius!?" Jongin lagi-lagi tersedak, wibawa yang tadi hilang dalam sekejap jika dia sudah terkejut seperti ini. Chanyeol hanya mendengus.
"Iya. Dia bersama Hangyul di kampus, awalnya aku ingin melampiaskan emosiku pada Hangul karna melihat foto itu, tapi anak itu menarik perhatianku."
"Hangyul lagi Hangyul lagi, dia seberapa pengaruhnya bagi kehidupan kau, Yeol?" Entah kenapa, Jongin tidak menyukai kehadiran Hangyul untuk mencampuri urusan pribadi sahabatnya ini.
"Dia yang menemani dan membantuku mengurus perusahaan sampai sekarang, Jong. Jika tidak ada dirinya, maka aku akan kesusahan."
"Untuk masalah perusahaan aku bisa memaklumi, tapi untuk masalah pribadi kau sendiri, apa itu tidak berlebihan?"
"Menurutku tidak, karena Jackson juga sudah menganggapnya sebagai pamannya sendiri dan aku menganggapnya seperti sodaraku sendiri."
"Berlebihan sekali kau menempatkan Hangyul, Yeol."
Chanyeol menyeritkan dahinya mendengar perkataan Jongin. Berlebihan? Bukankah jasa Hangyul pada dirinya itu sangat banyak? Kenapa Jongin bilang itu terlalu berlebihan?
"Berlebihan? Apa maksudmu?" tanya Chanyeol tidak setuju.
"Gini," Jongin memposisikan dirinya serius dalam hal ini, sebenarnya ia sudah sangat lama ingin memberitahu Chanyeol tentang masalah ini.
"Aku tahu, Hangyul banyak membantumu dalam mengurus perusahaan dan beberapa urusan pribadi lainnya, aku benarkan?" Chanyeol menganggukkan kepalanya.
"Lalu, aku tidak permasalahkan hal itu. Terserah kau bagaimana mau menanggapinya, tapi Yeol, memberikan kepercayaan atau bercerita tentang kehidupanmu dengan Baekhyun itu tidak baik, apalagi dia sudah mencapai titik dia mencari—"
"Apa maksudmu? Kenapa seolah-olah kau selalu mencurigai Hangyul?" sanggah Chanyeol.
"Nope. Aku hanya tidak suka ketika orang asing mengusik kau seperti itu. Artian mengusik disini, dia sudah kelewatan batas. Sampai mencaritahu sendiri tentang keberadaan Baekhyun, kau paham pointnya?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya. Tetap tidak paham dengan maksud Jongin, bagaimanapun Hangyul sudah menjadi orang kepercayaannya.
"Jika aku mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya, apa kau akan percaya?"
"Apa?"
"Apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa Hangyul dan Joohyun mempunyai hubungan?"
Chanyeol menatap Jongin tidak percaya, dan menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah kemana-mana, Jong."
"Whatever. Terserah padamu saja, Yeol." Jongin menyerah. Terserah Chanyeol mau lebih mempercayai sahabatnya sendiri atau orang terpercaya.
Chanyeol menatap Jongin yang berani-beraninya mengatakan jika Hangyul dan Joohyun mempunyai hubungan? Maksudnya hubungan disini untuk menjahati dirinya dan Jackson? Atau bagaimana.
Awalnya Chanyeol pikir berdiam diri di apartemen Jongin adalah pilihan yang bagus saat ini, ternyata tidak. Jongin malah semakin menambah bebannya, tapi setidaknya ia bisa mendapatkan informasi mengenai Baekhyun dan keluarganya nanti malam. Chanyeol beranjak dan berpamitan dengan Jongin, dan Jongin hanya membalasnya dengan anggukan saja.
Jongin sebenarnya tahu kalau Chanyeol kemari untuk mencari ketenangan, karena jika dirumahnya ada Jackson yang membuatnya Chanyeol tidak bisa terlalu leluasa. Chanyeol itu keras kepala, tidak mau dinasehati. Jongin tidak mau Chanyeol disakitin siapapun lagi, Jongin tidak menyalahkan Baekhyun. Tetapi Jongin menyalahkan kebodohan temannya itu, bagaimana bisa dia tetap membela Joohyun yang secara terang-terangan menyakitinya sendiri.
Menjadi pemilik yayasan atau pewaris yayasan pendidikan tidak mengubah jati diri Jongin. Tetapi mempunyai bawahan dan suruhan yang bisa diandalkan untuk mencari informasi ataupun melakukan hal yang sedikit menyimpang. Tidak ada yang mengetahui tentang itu selain sahabat-sahabatnya, Chanyeol, Sehun dan Minho.
.
.
- - d e s t i n y - -
[ s e e y o u n e x t c h a p t e r ]
Thanks for 1k votes!! ෆ╹ .̮ ╹ෆ
Terimakasih banyak yang sebesar-besarnya untuk readernim dan sidernim yang masih belum meninggal jejak nya hehehe semoga dengan ini aku bisa mengupdate ceritanya lebih cepat dan lebih baik lagii!ෆ╹ .̮ ╹ෆ
Terimakasih atas kritikan dan masukan yang temen2 readernim berikan, aku akan menerimanya dengan baik. Untuk alur ceritanya, maaf jika merasa masih mutar2 disana yaa, aku akan berusaha buat cerita nya tidak membosankan hehehe ෆ╹ .̮ ╹ෆ
Semoga tidak bosan dengan cerita iniii, dan terima kasih sudah setia dengan cerita inii (•ө•)♡ chanbaek bakal ketemu kok, tenang aja. Sedikiiiiiit lagi mereka bakal ketemu, itu Chanyeol udah mulai mencari jejak jejak Baekhyun hehe(◍•ᴗ•◍)
Sekali lagi terima kasih atas vote&comment yang diberikan untuk ceritanyaaa!!ෆ╹ .̮ ╹ෆ
salam hangat,
smileonbaek♡♡