double up nih! apakah kalian senang?
vote & komen ya :)
•
•
•
Happy Reading
"Udah gak usah diliatin, gua colok mata lu!" desis Jaemin
Jeno memutar bola malas, "Santai aja kali"
"Yaudah sana lo pergi, gua mau pacaran dulu sama Nara," usir Jaemin
"Nembak juga belum udah nganggep pacar, gak tau diri!" delik Jeno ketus dan Jaemin memutar bola matanya malas
"Udah ah, jadi abang tuh jangan ngerusuh," omel Jaemin dan mau tidak mau Jeno turun dari atap dan kembali ke kantin
Jaemin kembali menghampiri Nara dan duduk disebelahnya, "Nih pesanan kamu!" Jaemin menyodorkan batagor pesanan Nara tadi
Nara menerima sodoran tersebut dan reflek ia menyunggingkan senyumnya samar, "Makasih, Na" jawab Nara
Jaemin mengerutkan keningnya bingung, "Na?"
"Oh enggak, nama lu Na Jaemin kan jadi gua manggil lu Na tadi, kenapa? gak biasa ya?" tanya Nara tidak enak
Jaemin tersenyum lebar, "Na? panggilan yang bagus, yaudah mulai hari ini kamu manggil aku Na aja gak apa-apa, anggap aja panggilan sayang," kekeh Jaemin
"Panggilan sayang mata lo!" delik Nara, ia mendengus kasar, bisa-bisanya Jaemin berkata seperti itu, dasar playboy
"Gak apa-apa hehehe," kekeh Jaemin
Nara membuka bungkus batagor tersebut dan mulai memakannya dengan lahap, bahkan di depan Jaemin sekalipun ia tidak malu sama sekali
Nara makannya sangat lahap karena satu potongan batagor besar bisa masuk ke dalam mulutnya sekaligus
"Pelan-pelan makannya, entar keselek loh," tegur Jaemin, ia gemas melihat Nara yang makan batagor dengan lahapnya
Nara terkekeh dan tersipu malu, "Kebiasaan Na, gua emang makannya begini, kalo gak suka yaudah." sarkas Nara
Jaemin menggeleng pelan, "Aku suka kok, kamu gak munafik."
Mereka terlarut dalam acara makan mereka karena perut mereka sudah benar-benar lapar dan tidak sadar bahwa bel sudah berbunyi tanda untuk masuk kembali ke kelas
"Eh Na, udah bel tuh ayok kita balik," ajak Nara dan Jaemin mengangguk pelan
Mulut Jaemin masih mengunyah siomay yang berukuran besar sehingga mulutnya terlihat sangat penuh, membuatnya imut dan gemas
"Kunyah dulu tuh," ujar Nara dan Jaemin mengangguk seperti anak kecil
"Udah Nar, ayok kita turun," ajak Jaemin dan akhirnya mereka turun dari atap ke bawah dan pergi menuju ke kelas masing-masing
••••
Nara baru saja sampai di depan kelasnya, tetapi ia sepertinya sudah telat, karena jarak kelas kimia dengan atap memakan waktu yang cukup lama
Ia melihat kelas kimia yang sekarang sudah ada guru berserta teman-temannya yang sudah duduk, ia yakin ia akan di hukum oleh guru kimianya
Tok! Tok!
"Permisi Bu," ujar Nara sopan, sontak sang guru kimia pun menengok ke arahnya
"Nara? kamu darimana aja? kok baru masuk ke kelas ibu?" tanya Ibu Dania tajam, selaku guru kimianya
"I-itu bu, abis d-dari—dari toilet iya, saya mules bu jadi telat masuk ke kelas," jawab Nara berbohong
Tidak mungkinkan jika ia mengatakan bahwa ia baru saja turun dari atap, bisa-bisa kena omel Ibu Dania
"Alasan aja kamu, udah sana kamu cari guru piket dan tulis surat izin," suruh Bu Dania dan Nara mengangguk kikuk
Nara keluar dari kelasnya dan berjalan menuju tangga dan turun ke bawah, ini semuanya gara-gara ia berada di atap bersama Jaemin
Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Jaemin karena dirinya juga mengaku kalau sangat senang berada
di atap
"Ah elah, apes banget sih gue," gerutu Nara dan ia sudah berada di lantai satu lalu masuk ke ruang guru dan mengambil surat izin
Tidak sengaja, ia bertemu dengan Jaemin yang berada di ruang guru juga, "Na Jaemin?" gumam Nara
Sontak Jaemin menengok ke sumber suara dan ia menatap Nara balik, "Loh Nara? kamu kok disini?" tanya Jaemin bingung
"Disuruh minta surat izin gara-gara telat masuk, lo sendiri?"
"Sama kaya kamu, maaf ya gara-gara aku jadinya kaya—" ucapan Jaemin terpotong
"Gak sepenuhnya salah lo, ini juga salah gua, yaudah ayok kita cari guru piket," ajak Nara dan Jaemin mengangguk
Mereka mengambil secarik kertas kecil yang selalu tersedia di depan ruang guru, surat izin jika melakukan pelanggaran ringan di sekolahnya
"Nar, hari ini yang piket siapa ya?" tanya Jaemin dan Nara mengangkat bahunya tidak acuh
Jaemin menghela nafas dan melihat kertas yang tertempel di depan kaca ruang guru, itu jadwal piket para guru
"Mampus! Bu Elis lagi guru piketnya," umpat Jaemin dan Nara membelalakan matanya
"Yang bener?" tanya Nara memastikan dan Jaemin mengangguk
"Mampus! bisa-bisa kita dihukum dulu lagi," gumam Nara dengan nada gelisah sama halnya dengan Jaemin, ia hanya bisa memijit pelipisnya pasrah
"Yaudah liat nasib aja, ayok kita ke ruang komputer siapa tau ada Bu Elis sana," ajak Jaemin dan Nara mengangguk
Akhirnya mereka naik hingga lantai tiga karena letak ruang komputer berada di lantai tiga, lalu Jaemin mengetuk pelan pintu ruangan tersebut lalu membukanya pelan
"Permisi bu," ucap Jaemin sopan, Bu Elis ternyata ada disana lalu Jaemin menghampiri guru tersebut yang disusul oleh Nara
"Bu Elis, k-kita ada perlu sedikit sama ibu," ucap Jaemin gugup
"Kenapa Jaemin?" tanya Bu Elis sambil menatap siswanya bingung, ada yang tidak beres nih pikirnya
"Ini k-kita t-telat masuk kelas jadi harus minta izin ke ibu karena hari ini jadwal ibu piket," jelas Jaemin sedikit terbata-bata
"Ohhhh! jadi kalian nyamperin saya gara-gara mau minta tanda tangan?" tanya Bu Elis mulai meninggi dan Jaemin dan Nara mengangguk kecil
"Kok kalian bisa telat? tadi istirahat ngapain aja?" omel Bu Elis
Mereka berdua hanya bisa diam dan mendengar ceramah gurunya ini, "Dikasih waktu istirahat, gak dimanfaatin bener-bener, mau jadi apa kalian nanti?"
"K-kita—"
"Ah udah! gak usah banyak alasan, ibu gak mau denger lagi, pokoknya sekarang kalian ke lapangan upacara dan hormat bendera sampai jam pelajaran selanjutnya, baru saya mau tanda tangan," suruh Bu Elis
Mereka berdua hanya bisa pasrah saja, mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan turun ke lapangan upacara untuk melakukan hukuman mereka
"Yah Na, masa dihukum sih?" keluh Nara dan Jaemin diam saja
"Maaf Nar, ini salah gua terus jadi dihukum gini deh," ujar Jaemin meminta maaf
Nara menghela nafas, "Gak usah minta maaf, udah gua bilang ini bukan sepenuhnya salah lo,"
"Tapi tetep aja kamu jadi kepanasan begini," lanjut Jaemin dengan nada yang terdengar sangat khawatir
"Gak apa-apa Na, gua udah biasa kok," jawab Nara meyakinkan lelaki dihadapannya itu
"Kamu yakin? kalau kamu kepanasan bilang aku aja ya biar nanti kamu neduh sebentar," ujar Jaemin dan Nara mengangguk mengerti
••••
Nara sedang membereskan bukunya dan memasukkannya ke tas, bel pulang baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu
"Nar, gua duluan ya soalnya supir gua udau jemput," pamit Siyeon dan Nara mengangguk
"Gua juga ya, soalnya ada acara keluarga jadi buru-buru," lanjut Somi
Mereka berdua meninggalkan kelas dan menyisakan dirinya sendiri lalu ia menggendong tasnya dan keluar kelas
Ia pergi ke gerbang sambil menunggu angkot yang lewat, karena supirnya masih cuti jadi ia tidak bisa diantar jemput, baru saja beberapa hari yang lalu baru saja supirnya cuti, mungkin minggu depan baru masuk lagi
"Mana ya angkotnya? biasanya jam segini lewat," gumam Nara yang terlihat linglung, melihat ke arah kanan dan kiri mencari angkot di jalan
"Nara!" panggil seseorang, sontak Nara menoleh ke belakang dan menatap orang yang memanggilnya
"Na? kok belum pulang?" tanya Nara bingung dan Jaemin tersenyum tipis
"Belum, aku tau kamu belum pulang, hmm pulang bareng aja yuk?" ajak Jaemin
Nara langsung menggeleng, ia menolak tawaran Jaemin, takut merepotkan pria tersebut
"Enggak usah Na, takut ngerepotin," tolak Nara halus
Jaemin tersenyum tipis, "Enggak ngerepotin kok, lagian tebus kesalahan aku tadi."
Nara menghela nafas, "Na, udah gak udah ngerasa bersalah terus, gua kan santai-santai aja dihukum tadi."
"Tetep aja aku ngerasa bersalah, takut kamu pingsan tadi, sepanjang pembelajaran juga kepikiran kamu terus jadinya," jawab Jaemin khawatir
"Gombal tau gak," dengus Nara dan melipat tangannya di dada
"Tapi mau gak nih? duduk di vespa antik ini?" tanya Jaemin sambil menaik turunkan alisnya
"Hmmm, tapi—!!"
"Oke, ayok naik!" potong Jaemin lalu ia mengambil helm cadangan dan memakaikannya di kepala Nara
Nara terdiam, ia menahan kegugupannya saat berada di dekat Jaemin apalagi, laki-laki ini sekarang sedang memakaikan helm di kepalanya
Walaupun Nara belum benar-benar baper dengan Jaemin tapi Nara akui Jaemin sangat pintar dalam mendekati perempuan, membuatnya harus lebih berhati-hati
"Dah helmnya udah kepasang, ayo naik," suruh Jaemin dan Nara menuruti perkataan Jaemin, ia naik ke atas vespa tua milik Jaemin
Nyaman, itu yang dirasakan oleh Nara
Jujur saja ia lebih suka menaiki motor-motor yang tipe tempat duduknya empuk dan nyaman dibanding motor besar yang biasa dipakai remaja-remaja sekarang yang tempat duduknya keras dan tidak nyaman sama sekali
Akhirnya Jaemin menancap gasnya dan motornya pun mulai berjalan
"Na, lu tau rumah gua?" tanya Nara memastikan karena ia baru ingat, Jaemin baru pertama kali mengantarnya dan mungkin saja ia tidak mengetahui letak rumahnya
"Aku tau kok, tenang aja," jawab Jaemin tenang dan Nara mengerutkan keningnya bingung
"Gimana bisa lo tau rumah gue?" tanya Nara bingung
"Apa sih yang gak aku tau tentang lo Nar? aku tau semuanya," jawab Jaemin yang udah mulai mengeluarkan gombalnya
Jaemin sedikit memundurkan kepalanya dan membuat dagu Nara seolah-olah bersandar di bahu Jaemin, benar-benar seperti adegan Dilan dan Milea atau Nathan dan Salma di motor
"Aku kalau suka sama seseorang gak main-main Nar," bisik Jaemin
Nara tertegun mendengar pernyataan hal tersebut, Jaemin seolah-olah meyakinkan kalau dirinya hanya suka dan tertarik dengan Nara, namun Nara juga ragu dan takut dikhianati nanti
Jaemin kembali memajukan kepalanya untuk kembali fokus membawa motornya itu
Tidak lama kemudian motor Jaemin sampai di depan rumah Nara
Nara melepas helm yang tertempel di kepalanya, "Makasih Na." ujar Nara dan Jaemin mengangguk
"Besok aku jemput ya," ujar Jaemin
"E-eh nggak u-usah," sela Nara cepat tapi Jaemin sudah terlanjur menancapkan gas untuk menjauh dari rumahnya, seolah ia memberi tawaran tanpa ingin mendengarkan jawaban
Nara menghela nafas lalu ia masuk ke rumahnya dan sudah terdapat bundanya yang sedang menonton siaran berita siang hari
"Bunda! Nara pulang!" teriak Nara dan melempar tasnya di sofa empuknya itu
Ia duduk di sebelah bundanya yang sedang memakan kuaci sembari menonton siaran berita gosip tentang kehidupan pribadi artis, sungguh membosankan
"Tumben pulangnya cepet?" tanya bundanya heran
"Tadi ada yang nganterin," jawab Nara asal dan menyambar kuaci yang dipegang bundanya, ia juga ingin memakan kuaci
"Siapa Nar?" tanya bundanya
"Temen," jawab Nara singkat dan bundanya mengerutkan keningnya bingung
"Temen? siapa dah perasaan Somi sama Siyeon pake jemputan," tanya bundanya semakin bingung
"Yang telepon kemaren," jawab Nara singkat lalu mengunyah kuaci yang telah ia kupas kulitnya
"O-oh yang namanya teh—hmmm..."
"Jaemin bunda," jawab Nara membantu menjawab
"O-oh cowok?"
Nara mengangguk dan ia langsung bangkit dan berniat masuk ke kamar, "Yaudah Nara masuk ke kamar dulu ya"
Setelah melihat anggukan bundanya, ia meraih tasnya dan masuk ke kamarnya
Cukup melelahkan, ia mengingat kejadian dari pagi tadi hingga siang ini, ia tidak tau kesambet apa tapi kenapa jadi lembut ke Jaemin?
Harusnya ia harus jual mahal biar bisa liat keseriusan Jaemin, apalagi Jaemin tuh tipe cowok setia alias setiap tempat ceweknya ada
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia merogoh kantong celananya lalu meraih ponselnya
Ada permintaan video call
Dari Mark Lee.
Bersambung
•
•
•
Nara sama Mark ada apa ya?
LR.
Playboy, 2020