PELARIAN
Hana merebahkan dirinya setelah sampai di sebuah kamar hotel yang disewanya. Ia cukup lelah hari itu setelah berjalan kesana kemari untuk menjalankan rencananya.
Ia puas! Sangat puas! Setelah berhasil mendorong Nina dan membuat Wanita sial itu pendarahan di ujung anak tangga terbawah. Ia bahagia sekali, karena cita-citanya terwujud dengan mudah. Kini Nina pasti sudah kehilangan bayinya, dan Irham benar-benar tak menyisakan kenang-kenangan apapun untuk wanita itu.
"Aku menang Nina! Kamu sudah kalah! Mas Irham hanya milikku, dan kamu tidak boleh memilikinya!," gumamnya pada diri sendiri.
Hana bangkit dari ranjang dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyanyi sambil mandi untuk mengekspresikan kebahagiaannya karena telah berhasil mencelakai Nina. Ia yakin sekali, kalau saat ini Nina sedang menangis histeris karena harus kehilangan kenang-kenangan terakhir yang Irham berikan padanya.
HAHAHAHAHA!!!
"Dia pasti sedang terpuruk saat ini!," Hana meyakini hasil perbutannya dengan bangga.
Usai mandi dan membersihkan diri, Hana keluar dari kamar hotel itu untuk makan malam di restoran yang terletak di lantai satu. Ia berjalan dengan riang karena hatinya sedang berbunga-bunga.
"Mas Irham hanya milikku..., Nina sudah kalah..., aku benar-benar memenangkan segalanya...," ia bersenandung sambil melangkah masuk ke dalam restoran itu.
Seorang pelayan mendekat pada Hana sambil membawakan buku menu. Hana menerima buku menu itu dan melihat semua menu yang tertera di sana.
"Saya mau pesan Nasi Goreng dan Sate Kambing ya Mbak," ujar Hana.
Pelayan tersebut mencatat pesanan Hana dengan cepat.
"Apalagi Mbak pesanannya?," tanya Pelayan tersebut.
"Minumnya Jus sirsak, tolong es batunya agak banyak ya Mbak dan jangan terlalu banyak gula," jawab Hana, lengkap.
"Baik Mbak, pesanannya akan segera diantar," ujar Pelayan tersebut.
Hana kembali bersenandung seperti tadi, di wajahnya tersungging senyuman yang sangat bahagia. Ia tak pernah sebahagia itu sebelumnya. Bahkan ketika Rena mencoba untuk selalu membahagiakannya dengan memenuhi semua keinginan Hana, nyatanya Hana tak sebahagia ketika dirinya bisa menyakiti Nina secara langsung.
Televisi di restoran itu menyala sejak tadi, acara yang menampilkan berita terpampang jelas di sana. Hana akhirnya ikut memperhatikan layar televisi itu saat semua orang terlihat serius menatap ke sana.
"Ya, jadi tersangka pembunuhan sadis di Surabaya ini memiliki komplotan yaitu Puteri kandungnya sendiri yang bernama Farhana Dianika atau lebih dikenal dengan panggilan Hana. Hari ini setelah Ibunya tertangkap dua hari yang lalu, dia akhirnya beraksi sendiri di rumah sakit dan mendorong anak dari korban pembunuhan sadis di Surabaya," jelas AKBP Herman Wijaya - Polisi yang mengusut kasus pembunuhan sadis di Surabaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Pak?," tanya seorang reporter wanita.
"Jadi siang tadi, anak korban pembunuhan sadis di Surabaya itu hendak pulang, tersangka Hana ini tiba-tiba muncul entah darimana lalu mendorong korban sehingga terjatuh dari tangga di lantai dua dan terguling hingga ke lantai satu," jelasnya.
"Jadi bagaimana Pak kondisi terkini anak korban pembunuhan sadis di Surabaya?," tanya salah seorang reporter Pria.
"Kondisi saudari Athanina Sadiqa Nissa saat ini Alhamdulillah sudah membaik. Tim medis di rumah sakit segera mengambil tindakan darurat untuk menyelamatkan saudari Nina dan juga bayinya melalui operasi caesar. Saat ini saudari Nina sudah dalam tahap pemulihan, sementara bayinya masih berada di dalam inkubator karena terpaksa harus dilahirkan secara prematur akibat pendarahan yang terjadi setelah saudari Nina terjatuh," jawabnya.
Hana terpaku di tempatnya duduk dengan perasaan hancur akan kegagalan yang dihadapinya. Ia benar-benar tak menyangka jika Nina dan bayinya akan selamat. Semua itu terjadi di luar dugaannya. Itu berarti, Nina masih memiliki kenang-kenangan dari Irham dan Hana sudah kalah telak dari wanita itu.
"Sialan kamu Nina!!! Berapa banyak sih nyawa yang kamu punya???," geram Hana pelan, agar tak ada yang mendengar suaranya.
"Apa yang ingin Bapak sampaikan untuk seluruh masyarakat Indonesia?."
"Jadi, dihimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia di bagian manapun, di daerah manapun, jika kalian melihat Wanita yang ada di dalam foto ini maka silahkan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian terdekat. Jangan coba-coba untuk menangkapnya sendiri, karena tersangka Hana ini sama berbahayanya dengan tersangka Rena alias Ibu kandungnya. Jangan sampai, jika ada yang mencoba menangkapnya sendiri dikhawatirkan dia akan menyerang menggunakan kekerasan," himbau AKBP Herman.
Foto Hana pun terpampang jelas saat ini di layar televisi itu, Hana pun bergegas keluar dan memakai tudung hoodie yang ia pakai untuk menutupi wajahnya agar tak ada yang menyadari.
Pelayan yang tadi melayani Hana pun mengenali wajah itu. Ia segera berbalik dan menatap meja yang kini sudah kosong.
"Ya Allah!!! Dia tadi di situ!!!," teriak pelayan tersebut.
Semua orang menatapnya dan juga meja yang telah kosong yang ditunjuknya.
"Di mana Mbak? Di mana?," tanya salah seorang pengunjung.
"Di meja itu Pak, dia pakai hoodie abu-abu seperti gambar yang ada di televisi itu," jawab Pelayan itu lagi.
"Oh, dia baru saja keluar. Buru-buru sekali kelihatannya," ujar seorang Wanita yang duduk di dekat meja itu.
Beberapa orang segera keluar dari restoran itu dan mencari sosok Hana yang telah melarikan diri. Namun mereka tak menemukannya. Hana tak kembali ke kamar hotelnya, ia memilih untuk segera pergi menaiki sebuah bus yang lewat di depan halte tak jauh dari gedung hotel berbintang tersebut.
Ia kembali menutupi wajah menggunakan masker, kacamata hitam dan juga topi. Hoodie yang tadi ia kenakan telah dibuang, sehingga ia hanya mengenakan kemeja hitamnya saja. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh karena harus membuka masker dan topinya di luar rumah sakit, seharusnya ia tahu kalau di sana juga ada CCTV yang bisa merekamnya.
Bus itu terus berjalan keluar dari daerah Ibukota. Entah menuju kemana, Hana hanya bisa terus mengikuti kemana kakinya akan melangkah. Rena sudah tak ada di sisinya, dan ia tak punya tempat untuk kembali pulang.
* * *