Kami Sahabat Sejati [COMPLETE...

By Hanyfazhr

16.9K 2.8K 410

"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina... More

Prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
END
Epilog
KAMI SAHABAT SEJATI 2

Chapter 40

122 39 0
By Hanyfazhr

JEDER!

Suara petir bergemuruh kencang memekik telinga disertai angin bertiup kencang menggoyang-goyangkan tirai kamar Alfia hingga dalam hitungan detik, hujan pun turun dengan derasnya tanpa permisi. Suasana bagai horor, ditambah Alfia yang tengah bercerita membuat Felina, Luna dan Gifta merinding. Bayangin kaki ketusuk kaca itu sakit banget, apalagi terkena kepala.

"Sebenarnya Mamanya Clarissa yang suruh begitu karena---karena apa ya--- Gue lupa jadinya."

"Sebelum dia ngeblock nomer gue, dia sempet bilang suatu hari nanti akan membalas dendam. Tapi yang gue bingungin, kenapa dia dendam sama gue? Emang gue salah apa?" Ujar Alfia ingin menangis sekarang juga.

"Menurut gue Lo gak salah. Tepatnya sedikit egois. Tapi gue gak tau alasannya apa gue nyebut Lo sedikit egois." Jawab Felina dengan bijak.

Alfia merenung, memikirkannya. "Gue pernah dapet kabar kalau Mamanya dia meninggal. Terus dia pindah ke Jerman dan tinggal selamanya disana sama Papanya."

"Lah, dia balik kesini lagi ngapain?" Tanya Gifta.

"Gue juga gak tau, walaupun dia belum dewasa, dia orangnya terlalu nekat." Alfia jadi bingung untuk menjawabnya.

"Kelas enam aja masalahnya rumit banget. Daripada gue pusing dengerin Alfia cerita, lebih baik main Free Fire." Sambung Luna, ternyata sudah memegang ponsel sedari tadi. Walaupun otaknya Luna gesrek, namun ia pro bermain game online. Kata Luna, easy.

"Gue boleh nanya gak?" Tanya Felina.

"Bo---leh sih." Alfia memandang keluar jendelanya, melihat rintikan air hujan yang turun. Lalu ia melanjutkan ucapannya lagi, "Emm-- kalian gak dimarahin sama orang tua kalian kalo pulang telat banget terus hujan lagi?" Tanya Alfia seakan khawatir dengan mereka.

Felina menjawabnya dengan nada santai. "Itu mah gampang." Lalu Felina berdehem sebelum bertanya banyak pertanyaan. "Ayah Lo tinggal di Jerman atau Indonesia setelah kejadian itu? Kenapa Lo bisa tau kalo buku rangkuman Lo diambil sama Clarissa? Kak Iva siapa? Anak perempuan yang ngasih bukti, Lo masih inget gak wajahnya gimana? Menurut Lo nih ya, Clarissa kenapa tau Lo sekolah di SMP Winanta? Dan pertanyaan utama gue, SIAPA YANG NARUH KERTAS DI BUKU DIARY GUE DAN DI LACI. EMANGNYA DIKIRA TEMPAT SAMPAH APA?" Akhir kalimatnya Felina cukup ngegas saat mengingat itu. Felina masih penasaran dengan pelaku yang menulis surat. Felina memilih banyak bertanya daripada nanya satu-satu dulu, mengikuti cara Hany.

"Busyet! Lo nanya banyak banget!" Sahut Gifta.

"Baik. Gue akan jawab semuanya tapi satu-satu dulu." Alfia membuang napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Felina. "Ayah gue dari satu bulan yang lalu ke Jerman buat ngurus perusahaan utamanya disana dan akan pulang delapan bulan lagi." Alfia menjawab pertanyaan pertama dan didapatkan respon terkejut dari mereka.

"Gue yakin Clarissa yang ambil buku rangkuman gue soalnya ada Kak Iva yang ngasih tau. Dia ke sekolah buat ngambil ijazah, tapi berangkatnya kepagian. Katanya Kak Iva dia gak sengaja lihat Clarissa bawa buku dari kelas gue." Jawab Alfia pada pertanyaan dua.

"Kak Iva itu udah gue anggap sebagai kakak gue sendiri. Dulu dia pernah bilang tolong cari adiknya yang seumuran dengan gue sampai ketemu. Ya, gue gak tau sih nama adiknya siapa, karena udah telat juga." Jawab Alfia pada pertanyaan ketiga.

"Lho kok suruh nyari? Emang gak tinggal sama ortu dan adiknya?" Tanya Gifta mulai penasaran.

"Kalo gak salah dia tinggalnya kepisah sama adiknya dan papanya. Emm--dia tinggal sendiri di rumah neneknya di Jakarta." Jawab Alfia.

Gifta bertanya kembali, "Kalo boleh tau papanya dan adiknya tinggal dimana?"

"Bali---kayaknya. Tapi itu dulu, sekarang gue gak tau." Alfia menjawab dengan ragu.

"Alfia, jawab dulu dong pertanyaan gue." Sambung Felina penuh mohon.

Alfia mengingat kembali pertanyaannya, untung saja daya ingatnya tidak terlalu buruk. "Gue inget sih wajah anak itu---tapi dulu pas dia ngomong langsung ke gue. Kalo sekarang lupa." Kalau ini mah memang benar ia lupa.

Felina dan Gifta menepuk jidatnya masing-masing.

"Hooh." Luna menguap ketika mendengar ceritaan Alfia macam tengah berdongeng.

"Oke gapapa. Lanjut jawab pertanyaan terakhir dulu." Ujar Felina.

"Buku diary, gak ada yang tau kenapa bisa hilang, gak mungkin juga sih Lo lupa naruh. Teruss---kalau kertas di meja Lo dan Ajeng itu gue dan Gifta yang buat."

"Bukan surat itu. Tapi surat yang pas mau pelajaran olahraga." Ucap Felina.

"Waduh, kita aja naruhnya jam istirahat kedua kalo gak salah ya, Lun?" Tanya Alfia.

"Gak tau ah. Gue ngantuk denger Lo cerita terus." Jawab Luna seenaknya sendiri.

"Udah, Al, gak usah dengerin Luna. Lanjut aja, Al." Alih-alih Gifta berusaha  mempercepat Alfia untuk menjawabnya.

Alfia menggaruk-garuk kepalanya. "Pertanyaannya apa?"

"Menurut Lo, kenapa Clarissa bisa tau sekolah di SMP Winanta?" Ulang Felina.

"Yaaa, kayaknya sih ada orang yang ngasih tau. Oh ya, Gue belum ngasih tau kenapa Clarissa yang sekarang suka nyemprot antis."

"Kenapa? Kenapa?" Tanya Gifta diulang.

"Karena dulu dia dijauhin kan sama temen-temennya,  jadi mungkin aja, sekarang dia yang nganggap orang nabrak dia itu kuman." Jelas Alfia.

"Pantesan." Jawab Felina dan Luna berbarengan.

Kemudian Alfia berdiri dan berjalan melihat hujan dari jendela sambil berkata, "Dan yang paling gue takutin, sasaran dia selain gue adalah Ajeng dan Hany." Jawabnya langsung merubah raut wajahnya.

"Kenapa jadi Ajeng sama Hany?" Gifta ikutan berdiri dan berdiri di samping Alfia.

"Intinya aja Clarissa itu selalu mengikuti kelebihan orang sampai dia jadi posisi yang pertama." Jawab Alfia dengan lantang membuat semuanya keheranan.

"Ohh, begitu." Terpaksa  semuanya menjawab begitu.

"Ngerti?"

"Enggak." Jawab semuanya kompak.

Alfia memutar bola matanya malas. Coba aja kalo Ajeng sama Hany dibolehin kesini. Pasti gue udah kasih tau.

***

Gadis itu dengan cepat menutup tirai kamarnya setelah mengetahui sebentar lagi waktu malam segera tiba. Namun saat sedikit lagi hampir tertutup, ia tidak sengaja mendapati Felina yang keluar dari angkutan umum.

Sebenarnya Hany penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka sehingga  menunjukkan wajah super serius. Kalau saja Anin tidak ada dirumah, sudah pasti Hany sudah pergi diam-diam.

"Aku pingin ke rumahnya Felina kesana, tapi tetep aja gak dibolehin sama Mama." Ujar Hany dengan lesu lalu ia menutup jendela kamar.

Setelahnya Hany berbaring di atas kasur dan mengambil kasurnya. Hany melihat ponselnya sejenak. "Tanya gak ya, tanya gak yaaa."

"Ponsel menurut kamu gimana?" Hany bertanya kepada ponsel yang jelas itu benda mati.

"Besok aja deh di Sekolah." Hany menjawab pertanyaannya sendiri.

Hany menaruh ponsel di sampingnya lalu menatap langit-langit kamar. "Clarissa... Siapa dia? Kelihatannya Alfia sangat mengenal dia." Mulailah banyak pertanyaan yang bermunculan di otaknya ketika mengingat perdebatan antara Alfia dan Clarissa di kelas.

Anehnya, Alfia sempat menuduh Clarissa.

***

Keesokan harinya di Sekolah pada pelajaran Agama, Ajeng terduduk di kursinya dengan tenang sambil melihat para sahabatnya yang tengah melepas sepatu. Ajeng tau kalau mereka ingin menyusul murid yang lainnya di masjid. Mereka yang beragama Islam mengikuti sholat berjamaah sekarang.

"Ajeng, kita mau sholat dzuhur dulu. Lo di kelas aja ya, jangan kemana-mana." Felina menaruh sepatunya di lantai lalu mengambil mukenanya dari dalam tas dan tak lupa mengambil buku serta alat tulis. Setelah selesai Felina berdiri di depan pintu bermaksud menunggu.

Ajeng menyahuti, singkat. "Iya."

Alfia menutup resleting tasnya sambil memegang mukena, sesudah itu Alfia memberi pesan kepada Ajeng. "Jeng, kalo Clarissa ngomong macem-macem sama Lo  jangan percaya ya." Alfia merasa takut jika Clarissa berhasil memengaruhi Ajeng. Apalagi Ajeng, orangnya mudah dipengaruh.

Alis Ajeng mengernyit dan bertanya, "Emangnya Clarissa gak sholat? Bukannya dia Islam kan?"

"Dia Islam. Tapi tadi gue denger dia bilang gak ikut sholat di masjid." Tambah Alfia mengingatkan Ajeng supaya berhati-hati.

Hany yang lagi duduk di lantai langsung berdiri. "Kenapa Ajeng gak boleh percaya sama omongannya Clarissa?" Tanyanya.

"Duh, Han, jawabannya panjang! Kapan-kapan deh kita jelasin!" Sahut Gifta.

Hany menjawab. "Oke."

"AYO GUYS KITA KE MASJID! Yahhh kasian Ajeng sendirian di kelas." Luna meledek Ajeng habis-habisan. Kemudian semuanya telah pergi dari kelas.

"Bodoamat, gak denger. Kuping gue lagi dijemur langsung mampet." Ucap Ajeng asal.

Hanya ditemani suara detakan jam dinding, ditambah lagi suara meja digeser berhasil membuat Ajeng takut. Suara meja ini sepertinya dari meja pojok belakang dekat jendela. Ia ingin menengok ke belakang, tapi ia memilih mencari aman yaitu tidak menengoknya. Lo pasti berani, Jeng. Lo inget kan suara ketawanya kayak apa. Mba kunti aja takut sama gue. Ajeng menenangkan dirinya, padahal aslinya ia ingin keluar kelas.

Pintu kelas terbuka sehingga menimbulkan suara, tanpa sadar Ajeng berkata, "Ampun mbak kunti! Gue janji gak bakal ngikutin suara ketawa Lo lagi!"

"Maksudnya apa Lo ngatain gue mbak kunti?!" Suara bernada tinggi terdengar, Ajeng mulai menaikkan kepalanya.

"Clarissa...kenapa Lo gak ke masjid?" Tanya Ajeng.

"Lagi halangan!" Jawab Clarissa lalu ia mengambil kursinya, ditarik dan didekatkan ke meja Ajeng. Lalu Clarissa mendudukinya.

"Lo ngapain kursinya di deketin ke meja gue?" Tanya Ajeng, muncul perasaan tak enak.

"Gue ngajak ngobrol Lo lah!" Jawab Clarissa. Pandangannya tertuju kepada empat kipas angin dinding lalu ia mengucapkan sesuatu. "Nama Lo Ajeng kan? Tolong nyalain kipas angin dong, gue gerah." Suruhnya.

"O-gah. Nyalain aja sendiri." Tolak Ajeng, ia sedang malas berdiri.

Clarissa tersenyum sinis. "Gue semprot mata Lo pake antis, mau?"

"Iya-iya, gue nyalain." Dengan terpaksa Ajeng berdiri dan menyalakan semua kipas angin disini. Begitu saja kok menyuruh-nyuruh orang. "Udah tuh." Jawab Ajeng, duduk ditempatnya semula.

Clarissa memulai obrolannya. "Gue peringatin Lo, Jeng. Hati-hati dengan Alfia." Ujarnya berusaha memanas-manasi.

Apalagi Ajeng justru terpengaruh. "Emang kenapa?" Tanyanya serius.

"Dulu gue sama Alfia sekolah Sdnya samaan. Juga dulu gue temen deketnya dia, selalu belajar bareng. Selama empat atau berapa tahun lah gue punya buku rangkuman yang pentingggg banget." Clarissa diam-diam senang ketika melihat Ajeng mulai percaya dengan ceritanya ini. "Suatu hari buku gue hilang. Dan ternyata ada orang yang diem-diem lihat  kalau Alfia yang ngambil. Dulu dia suka bully orang juga, sampe-sampe gue dibully." Dia memasang ekspresinya sedih.

"Terus masalahnya apa sama gue? Gue gak percaya Alfia suka bully orang." Tanya Ajeng.

"Lo punya buku rangkuman penting gitu, emm gak diboleh dibaca orang lain?"

"Punya sihhh." Ajeng pasti akan marah kalau ada yang mengambil bukunya tanpa bilang-bilang.

"Hati-hati diambil Alfia. Takutnya rangking Lo turun terus dimarahin sama nyokap Lo deh."

Ajeng sedikit lagi hampir mempercayainya. Tapi tiba-tiba pesan dari Alfia terngiang-ngiang di telinganya, Jeng, kalo Clarissa ngomong macem-macem sama Lo jangan percaya ya.

Ajeng langsung menggeleng. "Gak peduli! Baca buku aja gue juga bisa." Jawab Ajeng santai.

"Dengerin gue, Jeng--"

"Diem! Gue mau tiduran." Ucap Ajeng menaruh kepalanya di atas meja. Menganggap dia sebagai angin yang numpang lewat aja.

***

Hany melipat mukenanya sembari mendengar ocehan dari Luna. Setelah selesai Hany ikut bergabung dengan mereka.

"Han, Lo nanti kalo Pts jangan pura-pura budek ya." Peringat Luna, padahalkan masih lama.

"Tau nih." Nimbrung Alfia.

"Masih seminggu lagi, udah pada bikin peringatan aja." Sambung Felina yang tidak mengerti jalan otak Luna dan Alfia.

"Udah ketauan nih siapa yang dapet rangking satu, dua sama tiga." Tambah Gifta melirik Hany dan Felina. Seandainya kalau ada Ajeng sudah lengkap.

"Tapi... aku masih ragu." Ucap Hany pelan sambil menundukkan kepalanya.
Ia merasa takut karena di Smp jauh lebih berbeda dari Sd. Bisa jadi saja rangkingnya turun drastis.

"Gue juga gak yakin." Sahut Felina.

Alfia menambahkan lagi, "Oke. Lihat aja nanti. Kalo kalian dapet juara, traktir kita ya." Pintanya.

"Ulangannya aja belum. Udah minta traktiran." Protes Felina.

Sementara Hany tidak menjawab dan memilih untuk diam.

Tbc

Kamis, 7 Mei 2020

Continue Reading

You'll Also Like

DOUBLE SARA By hi

Teen Fiction

6.1K 1.2K 27
(Follow sebelum baca plagiat itu gak bakal maju!!) Sara Aleza Geordio cewek manis yang duduk di sekolah SMA Putri Merpati yang masih duduk di kelas 1...
2.1K 279 46
Aiska Vania rela pindah dan tinggal bersama seseorang yang ia benci, ayah sambungnya, demi satu sekolah dengan sahabatnya--Rilan Aryandi--yang dulu p...
201 21 23
"Nyokap lo itu Alycia kan? Iya, dari keluarga si paling tersakiti kan." Hinaan terus diberikan kepada Jessica Veteryan, gadis yang memiliki wajah yan...
868 141 45
pernah mendengar kisah perpisahan tanpa air mata? atau pernah mendengar kisah perpisahan yang sangat berat? ini tentang sebuah kelas yang sedang kom...
Wattpad App - Unlock exclusive features