It's Love!

By meicellia_

121 2 0

Aku nggak sadar, tentang perasaanku terhadap sahabatku. Kalau dibilang aku nggak peka, memang benar. Sesekali... More

Prolog
It's Not Yet Begun
Do I Like Him?

The Plan

21 0 0
By meicellia_

Maaf baru sempat update ><

Lanjut ya, here we go~

“Lo suka sama Lintang?” tanya Indra hati-hati.

Deg Deg

Gadis itu hanya berdiam. Menatap kosong hal-hal disekitarnya. Bukan salah tingkah. Hanya saja—dia bingung. Karena memang, seumur-umur Audrey tidak pernah merasakan jatuh cinta. Bagaimana menjelaskan apa itu cinta? Audrey tidak tau.

Indra yang menunggu jawaban Audrey akhirnya bingung karena Audrey tak kunjunng menjawab pertanyaannya.

“Drey?” panggil Inda kalau memastikan Audrey baik-baik saja.

“Hah?  Nggaklah, Ndra! Yang bener aja,” jawab Audrey dengan tatapan bingung. “Lagian Lintang selama ini cuma gue anggap sahabat yang sama pentingnya kayak lo dan Vera. Kalian itu berharga. Kebahagiaan kalian itu kebahagiaan gue juga.

 Makanya kalau itu emang bikin dia jadi bahagia, gue pasti jadi orang yang paling seneng diantara orang-orang yang lain. Iyakan?”

Indra kembali menatap Audrey dalam-dalam. Dan membalas jawaban Audrey dengan senyum. Dia mengerti sekali sahabatnya satu ini selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan tanpa diolah dahulu. Lucu sih, kesannya seperti orang yang kelewat polos.

“Yaudah, yaudah gue paham,” jawab Indra. “Lagian, Drey. Cinta itu datang dengan sendirinya. Entah kita mau atau nggak walaupun kita udah bilang pada diri kita kalau kita nggak boleh punya perasaan seperti ini dia akan tetap ngalir. Nggak peduli udah berapa kali menghantam batu karang sekalipun dia bakal terus-terus ada.

Kalau lo pingin tau cinta itu apa, gue nggak bisa deskripsiin lebih lanjut lagi. Manusia itu punya satu titik kelemahan yang nggak bisa ditutupin. Apa? Perasaan dia sendiri. Bahkan manusia itu sendiri nggak bisa deskripsiin perasaan dia sendiri. Hanya sebatas senang, sedih. That’s all. Dan cinta itu terkadang bisa bikin manusia kehilangan akal sehatnya dan membuat manusia itu menjadi orang yang  paling bodoh.”

Audrey mendengarkan Indra dengan seksama. Mencoba mencerna apa yang dikatakan olehnya. Apa itu perasaan yang tidak pernah menghampiri dirinya selama ini. Apa mungkin ia pernah tapi tak sadar?

“Gue selalu berpikir, Ndra. Kenapa Vera selalu bahagia dengan Marvin. Gue juga pingin. Asyiknya mempunyai perasaan kayak gitu. Kenapa gue nggak pernah punya perasaan seperti itu gue selalu berpikir. Dan.. gue nggak kunjung dapet jawabannya,” terang Audrey.

Indra tersenyum. Menikmati kepolosan sahabatnya satu itu. “Lo nggak perlu memaksa diri lo untuk mengerti. Lo akan mengerti nantinya. Aku yakin, Drey.”

“Thanks Dra. Untuk selalu disini saat gue butuh—nggak pun lo selalu ada,” balas Audrey sambil tersenyum.

“Sure,” balas Indra. “Gimana kalo 1 ronde?” tawar Indra sambil memainkan bola basketnya.

“Yuk”

*****                                              

“Buseet mandi dimana lo Drey?” tanya seseorang sesaat setelah aku duduk di singgah sanaku.”

“Mandi apanya? Keringet ini Veraku sayaangg, ih sebel deh,” kataku gemas sambil mencubit pipi Vera. Dia mengerang kesakitan. Lalu balas memukul tanganku.

“Eh, Drey semalem lo belajar Sosiologi nggak?” tanya Vera dengan tatapan berharap.

“Nggak Ver. Kenapa?” jawabku jujur.

“Yes! Bagus kalau gitu,” jawab Vera dengan ekspresi kemenangan. “Nggak apa-apa kok Drey.”

Aku mulai mengernyitkan alis. Ada apa dengan sahabatku ini tiba-tiba bertanya tentang pelajaran? Padahal biasanya dia paaaaling malas kalau diajak bicara tentang itu. Ah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Ah! Ulangan Sosio ya hari ini?” tanyaku pada Vera yang masih dengan tatapan kemenangannya.

“Itu, sih gue udah belajar dua hari yang lalu,” jawabku jujur sambil memakan roti isi yang kubeli di kantin. Vera mengubah ekspresinya. Seperti ekspresi yang mau membunuh, aku hanya cekikikan.

Menit-menit terakhir kami saat istirahat di hentikan dengan dobrakan meja tepat mejaku. Ya mejaku. Aku menatap seseorang yang tega mengganggu menit-menit terakhir istirahatku dengan tatapan ill-feel. Oh orang ini.

“Audrey Maudia Afiandi!!” bentak orang itu yang dibalas dengan bentakan balik sahabatku.

“Ada apa nona sok cantik?! Bisa santai nggak ngomongnya!” balas sahabatku dengan raut wajahnya yang mengeras.

“Heh, misi ya. Gue nggak lagi ngomong sama lo. Gue ngomong sama Audrey. Udah minggir deh kapten nggak becus, nggak usah halangin gue,” katanya sambil menghempaskan tangan sahabatku yang menghalanginya. Aku menatapnya dengan tatapan datar—seolah sudah biasa sudah diperlakukan seperti ini.

“Ada masalah apa sih, Na?” tanyaku yang benar-benar bingung dengan kelakuan manusia satu ini.

“Nanya lagi! Elo masalahnya kutu kupret!” bentaknya balik yang membuat murid sekelas menatap kami. Duh jadi malu kan. “Tadi gue udah mau makan sama Indra, coba nggak ada lo. JELAS-JELAS SEKARANG GUE NGGAK AKAN ADA DISINI!!” bentak perempuan itu lagi.

Aku hanya mendesah pasrah. Nana ini adalah ketua club cheers sekolah kami. Selain wajah dan body nya yang oke, dia juga salah satu most-wanted-girl di sekolah ini. Tapi sayangnya—dia bego. Nggak apa-apalah. Tuhan itu MahaAdil. Dia selalu  menargetkan cowok-cowok keren di tim basket apalagi kedua sahabat gue—Lintang dan Indra.

“Loh terus urusannya sama gue apa, sih?” jawabku dengan nada sedikit menantang.

“Ya gara-gara lo! Coba lo nggak ada, Indra pasti nggak akan ninggalin gue sendiri dan malah asyik main dengan cewek bodoh kayaklo!” jawabnya kasar.

Helo. Bego? Sebentar, bukannya dia justru lebih bego dariku? Nilai akademiknya juga aku lebih tinggi. Ada apa dengan perempuan ini.

“Yaa... Lu tinggal main basket aja biar Indra tertarik trus lo diajak main deh,” jawabku asal. Sebenarnya udah sering Nana ngelakuin hal kayak gini. Karena kebal, jadi ya mending aku diemin.

“Bukan gitu yang gue maksud, nenek!! Lo jauhin aja Indra udah bikin gue tenang deh, kalo Lintang juga iya, gue bahagia malah,” balasnya dengan suara yang meninggi.

Sekejap seluruh penjuru kelas menatap kami dengan tatapan bingung. Malu juga lama-lama. Tapi kalau si Nana yang udah mulai, sih mana berani ada yang hentiin.

“Na, lo ada masalah apaan, sih?” tanya seseorang yang sekejap membuat kami menoleh ke arah sumber suara.

“E—eh? Lintang?” jawabnya sambil mengimut-imutkan suaranya. “Itu loh Lin, tadi aku dibentak sama Audrey gara-gara aku ngelarang dia deketin Indra karena aku suka sama dia. Eh malah dibentak sama Audrey,” jawab Audrey dengan nada memelas dan pura-pura cemberut. Tunggu—what? Aku bentak Nana? Segera aku menatap Nana dengan tatapan bingung.

Lintang hanya mendecak sambil geleng-geleng. Jangan-jangan dia percaya dengan perkataan Nana?

“Na,” panggil Lintang dengan wajah tampannya sambil tersenyum. Nana sekejap memandang Lintang dengan aura berbunga-bunga. “Kalau lu cari masalah lagi sama Audrey, gue bakal suruh Indra buat bilang ke papanya biar kelompok cheers lu nggak diijinin latihan di lapangan sekolah lagi dengan kata lain lu dan kelompok cheers lu nggak boleh latihan di sekolah ini,” tantang Lintang. So pastilah. Siapa yang nggak tau kalau Indra anak kepala yayasan sekolah ini. Sekarang Nana hanya menganga ria karena perkataan Lintang.

“Skak mat,” ejek Vera dengan senyum mengejek.

“Eh, Na. Udah yuk cabut aja,” kata salah seorang dari geng Nana yang juga anggota cheers sambil menarik lengan Nana supaya menjauh dari kami.

Fyuh. Lega rasanya. Jelas aja Nana langsung tercengang begitu. Nana itu ketua team cheers di sekolah kami. Popularitasnya tinggi sampai kesekolah-sekolah lain. Sayangnya kecentilannya yang juga tinggi membuat kebanyakan perempuan risih jika mendekati Nana. Baguslah aku tidak harus berurusan dengan perempuan macam dia.

“Mana ucapan makasihnya?” tanya seseorang.

“Hah?” kataku memalingkan kepalaku ke arah Lintang, masih bingung dengan perkataan Lintang.

“Iyaa basa basi kek. Bilang makasih ya Lintang udah di tolong atau apa kek,” ejek Lintang.

“Ih, nggak ikhlas nolong banget sih,” kataku sambil menatap Lintang dengan tatapan kesal.

Lintang hanya tertawa, lalu mengacak-acak rambutku. “Iya iya bercanda, Drey. Emang ada masalah apalagi lo sama Nana?,” tanyanya sambil menarik kursi ke sebelahku.

“Kita sendiri juga mana tau masalahnya kali Lin. Tiba-tiba nyelonong terus ngelabrak Audrey. Udah tau Audrey lemot, masih aja di labrak,” balas Vera dengan ekspresi datar tapi dengan nada mengejek.

“Ini lagi kupret satu,” kataku sambil menyenggol lengan Vera. Vera hanya cengar-cengir.

*****

“Satu ronde lagi ya! Baru kalian boleh pulang. Ohiya yang kalah, keliling lapangan 15 kali. Indra, awasin anggotamu,” kata seseorang sambil menepuk pundak Indra.

“Siap coach. Guys, 5 menit lagi kita udah kumpul dilapangan ya!” katanya yang dibalas dengan sorakan mantap dari anggota lain.

Sore ini, gue dan Indra mengikuti latihan pra-final  buat                 H-3 besok. Udah dari dua jam yang lalu, tapi lelah nggak kerasa. Malah  rasanya nggak kepingin berhenti. Keringat sudah mulai bercucuran dari pelipis gue. Walaupun udah pukul setengah lima, tapi kayaknya udara panas dari lapangan out-door ini sama sekali nggak berubah. Agak menyebalkan memang.

“Oi Lin,” panggil seseorang sambil menepuk pundak gue.

“Oi?” jawab gue lalu memalingkan wajah ke arah sumber suara yang sekarang sudah berada di sebelah gue. “Lho? Kapan lo balik? Udah nggak apa-apa tanganlo?”

“Barusan gua dari RS pas kontrol terakhir, gips gue boleh dilepas ya walaupun belom boleh ngelakuin gerakan yang berlebihan seenggaknya udah bolehh balik juga lumayanlah,” jawabnya.

“Eh, Lex? Kapan dateng?” kata Indra yang tiba-tiba datang menghampiri. “Apa kabar?”

“Bosen abis gila. Di rumah kaga boleh ngapa-ngapain. Tiap minggu kontrol, itu-itu aja rutinitas gue”. Alex ini salah satu anggota tim inti basket. Saat pertandingan beberapa bulan yang lalu, tangannya cedera dan diperkirakan  dia harus  hiatus selama 3 bulan.

Alex ini blasteran Australi-Jawa. His dad came from Syndey and his mom from Bandung. Dia populer di sekolah kami, bukan karena permainan basketnya—karena dia adalah player paling disegani di sekolah.

“Iya, bosen nggak bisa nggodain cewek. Bisa-bisa perawat rumah sakit lo godain lagi, Lex,” ejek Indra. Mampus lo.

“Tumben lo ngerti, Ndra,” balasnya sambil cengar-cengir. “Tapi nggakk lah, gua mau serius sekarang.”

“Serius monyet lo serius. Udah berpuluh-puluh kali lu ngomong kaya gitu buset,” tambah gue nggak mau kalah. Iyalah walaupun pengalaman berpacaran gue 0% seenggaknya gua juga pernah suka sama orang.

“Lah, itu orangnya! Drey!” hem? Drey?

Gadis yang sedang duduk di tribun itu, menengok ke sumber suara. Masih dengan senyum yang mengembang ia berlari pelan menghampiri kami yang sedang duduk-duduk di tengah lapangan.

“Loh?? Alex?? Ngapain kamu di sini??” wait Drey. Ada apa dengan ‘kamu’?

“Hei babe. Aku kangen kamu makanya aku kesini,” jawabnya.

“Jijik ih! Gombal! Gimana tanganlo? Udah agak mendingan?” tanya Audrey khawatir. Yailah Drey orang kayak gitu kenapa di khawatirin. Masih ada segudang perempuan yang mau khawatirin dia kali.

“Hem udah nggak apa-apa sih. Kemungkinan besar minggu depan gue udah sekolah. Kenapa? Kangen sama rival main basket nih?”

“Iya dikit sih. Abisnya kalau main sama Indra atau Lintang, yang ada mereka malah ngerjain gue bukannya main.”

Mereka berdua melanjutkan percakapan akrab mereka sedangkan Indra sudah meneguk habis air mineral di botolnya. Jatah gue, Ndra. Mereka berdua sebenarnya memang akrab. Entah karena Audrey yang terlalu polos atau bagaimana—mereka jadi akrab. Padahal Audrey tau sendiri kalau Alex itu playboy kelas kakap di angkatan kami.

 “Udah 5 menit nih. Mulai latian ya?” tanya Indra sambil berdiri. Aku hanya mengangguk. “Guys ayo kumpul. Makin cepet mulai makin cepet pulang”

Aku bangkit berdiri diikuti oleh Audrey dan Alex yang sudah berjalan sambil mengobrol ke arah tribun.

Kenapa feeling ku jelek ya? batinku.

*******

“Girls! Ayo semangat! Pertandingan tinggal 3 hari! Yang serius latihannya!” kata Nana dengan rambut panjang yang diikat kuda.

“Uh Gi, berat banget nih nggak kuat”

“Heh! Yang disana! Latihan bukan ngobrol,” bentaknya.

“Ta..tapi kak ini si Mion kayaknya gain weight deh. Dia makin berat lo,” tambah Gia dengan tubuh yang sudah bergetar. Sedangkan Mion sedang ketakutan di atas sana.

“Ah! Kalian ini berat badan saja tidak bisa di jaga! Sudah bubar latihannya! Mion ikut aku, ayo jalan girls. Kita nggak punya banyak waktu,” kata Nana itu diikuti anggota-anggota gengnya.

Fani langsung merebahkan badannya di atas rerumputan. Diikuti oleh Gia yang hanya duduk-duduk.

“Duh! Kak Nana tuh kenapa sih? Lagi PMS kali ya? Kok sensitif banget sih iih! Sebel aku,” rajuknya sambill menendang-nendang tanah.

“Aku dengar dia habis melabrak Kak Audrey, tapi dia malah digalakin sama Kak Lintang,” kata Gia menjelaskan.

“Haaah?? Serius? Oh my God mereka tuh cucok bangeeett,” kata Fani dengan mata berbinar-binar. Gia hanya mendecak. “Ehh—Gia marah yaa?? Maaf deeh. Abisnya mereka berdua keliatan udah bener-bener klop banget sih.”

“Nggak kok. Emang bener yang kamu bilang,” lanjut Gia lemas. Sejujurnya ia sudah cukup lelah menderngar gosip kalau Kak Lintang dan Kak Audrey itu pacaran. Gia tau itu salah tapi justru itu yang membuat perasaannya tidak menentu. Dia sakit hati.

“Eh—GIA KAMU HARUS LIAT LAPANGAN SEKARANG JUGA!!” kata Fani sambil berdiri jinjit dari tempatnya. “Kak Alex, Gi! Si Bule udah masuk!”

Gia yang penasaran. Kembali dari tempatnya lalu memperhatikan lapangan. Ternyata benar. Mereka berempat—Alex, Lintang, dan Indra—tentu saja dengan Audrey.

“Mereka dengan Kak Audrey lagi-lagi?” kata Gia setengah berbisik dengan sorot  mata kecewa. Entah mengapa belakangan ini kalau melihat Kak Audrey bersama dengan Kak Lintang atau Kak Indra rasanya sesak. Belum lagi sama Kak Alex.

Nggak mungkin aku iri, batin Gia.

“Hem? Kamu ngomong apa Gi?” tanya Fani karena kata-kata Gia kurang jelas.

“Nggak apa-apa. Aku menyesal aja dulu aku lebih milih bajingan Moses itu—padahal di depan mataku ada laki-laki sebaik Kak Lintang,” katanya sambil duduk kembali dan melipat kakinya dan menyandarkan dagunya di kedua lututnya.

“Yaampun Gi. Jadi intinya kamu menyesal, gitu?” taya Fani dengan nada sedikit ditinggikan. “Kamu tau konsekuensinya deket sama Kak Lintang ‘kan. Kak Audrey, Kak Nana, Kak Indra, dan Kak Vera. Yaampun kamu mau di labrak mereka?”

Gia mengernyitkan dahinya. Lalu melengos, “Ya nggak gitu maksud aku. Sekarang emang aku lagi nyesel banget kenapa waktu Kak Lintang lagi ada masalah sama Kak Audrey, aku malah nggak bergerak apapun dan sekarang aku bener-bener nyesel, Fan... Gimana dong aku nggak tau harus gimana.” Mata Gia mulai berkaca-kaca sedangkan Fani dibuatnya panik.

“Duh Gia—jangan nangis! Hastaga aku kelepasan Maaf Giaa,” kata Fani sambil memeluk Gia.

“Lagian Kak Audrey itu kok kayak cewek gatel gitu, sih? Ya ngerti sih dia cantik tapi main sama cowok-cowok terus. ‘Kan jadi nggak enak di lihat,” ejek Fani untuk menghibur Gia. “Oh Gia! Gimana kalau sekarang kamu aja yang ajak ngobrol Kak Lintang?”

Gia mengernyitkan kedua alisnya. Menatap sahabatnya dengan tatapann bingung. “Are you serious, Fan? Nggaklah!” jawab Gia mantap.

Fani tersenyum usil. “Kamu yakin? Nanti kalau Kak Audrey end up pacaran sama Kak Lintang nyesel loh?” tambah Fani yang membuat sekujur tubuh Gia menegang. “Rela nggak?”

Gia hanya menggeleng lalu menunduk kesal. Sebenarnya dia tidak merelakan Kak Lintang dengan Kak Audrey mengingat Kak Lintang dulu pernah menyukainya—bahkan sampai menyatakan perasaannya pada Gia. Sayangnya saat itu dia belum membuka perasaannya untuk siapapun kecuali untuk mantannya—Moses. Dan beginilah mereka sekarang.

Fani tau betul sahabatnya. Kalau dia sedang merajuk, berarti ada kemungkinan dia benar. “Gia! Kita ada Leadership camp kan 2 bulan lagi??” kata Fani sambil menggoncangkan tubuh Gia. “Kesempatan Gi, you have to go after him,” kata Fani meyakinkan dia.

Gia tampak sedang berpikir. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Fani hanya tersenyum melihat sahabatnya kembali pada akal sehatnya.

“Kamu harus mengajariku bagaimana caranya, Fan.”

Thanks for reading! ^^

Tunggu update selanjutnya ya

Continue Reading

You'll Also Like

40.1K 1.8K 11
Desain cover by @dlff_hk @frzlfirmansyah Pernah merasakan jatuh cinta? Ya, sebuah perasaan yang sulit diterjemahkan kata-kata. Perasaan dengan ribuan...
1.2K 127 32
Aku telah membuka semua pintu dan melepas merpati-merpati itu pergi. Tanpa pesan, tanpa persinggahan. Melintasi taman paling rindu, dimana kau bunuh...
Lovakarta By Ayii

Teen Fiction

900K 95.4K 71
[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan pa...
9.7K 716 27
[ON GOING] *Fiksi Remaja [15+] Lebih dekat karena pertemuan. Hadirnya tidak terduga mengisi bagian dari kisah nyata dunia. Aku kira hanya...
Wattpad App - Unlock exclusive features