RAIN

By nrmyntyptri

5.4K 189 22

"Oyy.. ! Lo manusia apa bukan ?" Teriak seseorang yang tidak jauh dari belakangnya. Dengan cepat, Naiara meng... More

Prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
Chapter 70
Chapter 71
Chapter 72
Chapter 73
Chapter 74
Chapter 75
Chapter 76
Chapter 77
Chapter 78
Chapter 79
Chapter 80
Chapter 81
Chapter 82
Chapter 83
Chapter 84
Chapter 85
Chapter 86
Chapter 87
Chapter 88
Chapter 89
Chapter 90
Chapter 91

Chapter 25

77 2 0
By nrmyntyptri

Hal yang seharusnya aku hindari akhirnya menghampiriku kembali, hingga tak bisa tuk menolaknya lagi.

Dengan kondisi Caesar yang sudah babak belur, tidak memungkinkan lagi baginya untuk mengendarai mobilnya sendiri. Hingga tak ada pilihan lain selain Rania terpaksa ikut mengantarkannya pulang.

Mau bagaimana pun hal itu terjadi karena kesalahan dari mereka berdua. Sudah seharusnya juga mereka berdua yang harus menghadapi Marlene Julia.

Dengan jalan yang terhuyung-huyung, Rania membopong Caesar masuk ke dalam rumah.

Marlene Julia yang tengah asik menonton tv, ketika melihat kedatangan Caesar dalam keadaan babak belur seperti itu pun shock melihatnya. Ia begitu panik tanpa tau apa yang harus dilakukannya terhadap putranya itu.

"Caesar, apa yang terjadi sama kamu ? Bagaimana kamu bisa luka-luka begini ? Siapa yang udah bikin kamu seperti ini nak ? Bilang sama mami."

"Tante tenang dulu ya, tante. Nanti aku bisa jelasin. Tapi kita harus obatin Caesar dulu, tante."

"Ya, ya sudah kita bawa ke kamarnya saja." Dengan tubuh yang gemetaran, Marlene Julia memanggil para art-ny untuk segera membawa Caesar ke dalam kamarnya.

Marlene Julia masih terlihat khawatir dan panik. Tak ada hentinya dia mondar-mandir sembari memegang ponselnya untuk menghubungi dokter keluarga mereka agar segera datang mengobati anaknya.

"Caesar, kamu tahan ya. Sebentar lagi dokternya datang."

Seketika, ia baru menyadari akan kehadiran Rania di rumahnya. "Heh, kamu ! Ngapain kamu masih dekat-dekat sama anak saya ?"

"Mi, jangan marahin Rania. Dia gak salah." Tangan Caesar memegang tangan maminya, mencegah untuk memarahi Rania.

"Caesar.. Mami kan udah sering bilang sama kamu. Gak boleh berhubungan lagi sama dia !" Menunjuk ke arah Rania. "Kamu berantem sama Aline juga pasti karena perempuan ini, kan ?"

"Mi.. Anaknya lagi sakit, juga. Mami malah ngomel-ngomel."

"Trus apa ? Kamu bisa jelasin, kenapa anak saya bisa babak belur seperti ini ?" Tanyanya kepada Rania.

"Se.. Sebenarnya.. Sebenarnya tadi Arvin mergokin kita berdua, tante. Trus, dia ngehajar Caesar sampe kayak gini. Mm-ma.. Maafin aku tante."

PLAK !

Tidak segan-segan bagi Marlene Julia untuk melayangkan tangannya ke wajah Rania.

"Itu akibatnya karna kamu sudah berani mengacaukan hubungan Caesar dan Aline."

PLAK !

"Dan ini untuk kamu yang sudah berani mendekati anak saya lagi !"

Lagi-lagi tangan Marlene melayangkan tamparannya ke wajah Rania. Hingga terlihat memerah di kiri kanan wajahnya.

"Maafin aku, tante. Ini semua salahku."

"Ini semua memang salah kamu. Sekarang kamu pergi dari sini !" Marlene menunjuk ke arah luar mengarahkan Rania agar segera pergi dari rumahnya. "Saya gak sudi melihat kamu ada di hadapan saya. Pergi !"

Dengan butiran bening yang mengalir deras membasahi wajahnya, Rania pun segera pergi meninggalkan rumah itu. Ia benar-benar sedih atas caci makian yang Marlene Julia lontarkan kepadanya.

"Mami gak habis pikir sama kamu. Apa sih yang perempuan itu miliki sehingga kamu masih berhubungan sama dia ? Ingat Caesar.. Kehidupan gak cuma modal cinta doang. Biasa apa kamu hidup dengan cinta ? Kamu gak akan bisa apa-apa !"

"Kamu juga harus bisa memikirkan masa depan yang lebih baik. Tapi bukan sama dia ! Karena kehidupan yang sudah jelas-jelas terjamin dengan layak sudah ada di depan kamu. Tanpa kamu perlu susah-susah tuk banting tulang lagi."

"Sementara perempuan itu ? Dia punya apa ? Dia gak punya apa-apa. Selama ini dia cuma parasit di hidup kamu. Modal cinta doang itu gak cukup ! Apalagi bibit bebet dan bobotnya, kita aja gak tau. Keluarganya juga gak jelas asal-usulnya. Jelas dia gak selevel sama keluarga kita. Dan mami gak mau punya penerus asal-asalan kayak begitu."

Tidak ada hentinya Marlene Julia mengomeli sang putra.

Caesar hanya bisa mendengarkan maminya konser tanpa menjawabnya. Kalau dia menjawab, maka akan semakin panjang lagi durasi omelannya. Yang ada, lukanya malah semakin tambah sakit mendengar omelan maminya itu.

"Dan satu lagi. Secepatnya kamu harus temui Aline dan keluarganya. Mami gak mau gara-gara masalah ini, mereka membatalkan pernikahan kalian. Mengerti kamu !"

"Mm !"

Marlene Julia pun keluar dari kamar Caesar. Hari ini dia benar-benar sudah dibuat kesal atas apa yang sudah dilakukan oleh putranya itu.

***

"Vin.. Ini, bukannya jalan menuju rumah kamu ya ?"

"Emang iya."

"Kita mau ke rumah kamu ?"

"Cuma mampir."

"Ooh.."

Mendengar respon kepolosan Naiara, membuat Arvin tertawa geleng-geleng kepala.

Kini, mobil yang dikendarai Arvin sudah memasuki gerbang dan berhenti tepat di depan rumahnya.

Kedatangan mereka malah disambut oleh Nesya Callista. Yang sepertinya akan pergi setelah menemui orangtuanya Arvin.

"Eh, ada 4L." Menyapa Naiara dengan fake smilenya. "Emang gitu sih kalo jadi parasit. Suka ngikutin kemana tuannya pergi. Ntar kalo udah habis hartanya, baru deh pindah lagi cari tuan baru."

Wajah Naiara hanya datar menatapnya. Ia sengaja mengabaikan ucapan gadis itu. Tak begitu penting unttuk ditanggapinya. Sedang malas juga untuk berdebat. Buang-buang tenaga saja.

"Lo ngapain di sini ?" Tanya Arvin.

"Ya ketemu nyokap lo lah. Bentar lagi kan pertunangan kita bakalan dilanjutin."

"Pertunangan ?"

"Ya iya. Pertunangan kita."

Nesya sengaja berbicara seperti itu di depan Naiara. Ia ingin melihat reaksi Naiara.

"Lo dengar ya, Nes.. Sampai kapanpun, gue gak akan pernah mau tuk ngikutin perjodohan itu. Ngerti lo !"

"Gak usah kayak anak kecil deh. Lo tuh udah gede, Vin. Lo gak bisa ngelakuin hal semau lo terus. Lo pikirin juga kek orangtua lo. Jangan cuma bisanya lari dari masalah ! Trus sembunyi, sok ngambek, minggat dari rumah. Basi tau nggak !"

Naiara hanya diam, tak ingin ikut campur. Ia mencoba mengerti keadaan Arvin. Hanya memperhatikan saja betapa kesalnya wajah seorang Arvin karena diungkit masalahnya oleh Nesya.

"Mau gimanapun lo ngehindarinya, perjodohan itu juga bakalan terjadi. So.. Tunggu aja."

Nesya tersenyum puas, berasa menang diatas awan. Akhirnya bisa membuat Arvin tak bisa berkutik dihadapannya.

Ingin rasanya Arvin membalas perkataan Nesya, tapi Naiara mencegahnya.

Daripada emosinya meluap kembali, Arvin pun segera masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Nesya. Dengan sengaja ia menabrakkan bahunya ke bahu Nesya.

"Dasar bocah !" Ia juga segera pergi dari rumah Arvin, memasuki mobilnya.

***

Sepasang suami istri tengah berbincang di dalam kamar mereka. Keduanya terlihat serius.

"Papa yakin, akan melanjutkan pertunangan Arvin sama Nesya ?"

• Adela Aloysius

"Demi menyelamatkan perusahaan kita. Papa yakin, Arvin pasti mau. Mama kan tau, saat ini hanya orangtuanya Nesya yang bisa bantu papa. Karena satu-satunya jalan untuk mengalahkan Ganendra Group ya hanya dengan mendekati sekutu mereka satu-persatu."

"Iya. Tapi mama gak yakin. Setelah kejadian yang sebelum-sebelumnya. Mama gak mau berpisah lagi dari Arvin, pa."

"Mama tenang aja. Arvin gak akan bisa tuk menolaknya lagi."

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tanpa mengetuk, Arvin langsung masuk begitu saja ke dalam kamar kedua orangtuanya.

"Arvin.. Kamu baru pulang sayang ?" Adela segera menghampiri putranya.

"Apa benar, papa mau melanjutkan pertunangan aku sama Nesya ?"

"Ternyata kamu sudah bertemu Nesya."

"Kenapa sih, setiap bisnis yang kalian lakukan, selalu aja melibatkan anak-anak kalian ? Tanpa berpikir kalau anaknya juga punya hak tuk memilih pilihannya sendiri."

"Papa gak suruh kamu tuk terlibat. Tapi kamu sendiri yang datang ke papa tuk minta bantuan. Apa salah, papa juga minta bantuan ke kamu ?"

"Pa.."

"Kalau kamu gak bisa menuruti kemauan papa. Setidaknya kamu bertanggung jawab dalam perusahaan kita. Karena kehidupan para karyawan saat ini tergantung dari keputusan kamu, Arvin.__Kamu tau kan, akhir-akhir ini saham kita mengalami penurunan drastis yang secara tiba-tiba ?"

Arvin masih tidak bisa berkata-kata.

"Rekan-rekan bisnis papa juga tiba-tiba memutuskan untuk gak mau bekerjasama lagi dengan perusahaan kita. Dan satu-satunya yang masih mau, cuma Julia. Dengan syarat, menjodohkan anak-anaknya dengan anak-anak papa."

"Iya, tapi kenapa harus dengan perjodohan sih, pa ? Apa gak ada cara lain ?"

"Cara lain, cara apa maksud kamu ? Memangnya kamu bisa, mengembalikan perusahaan kita seperti normal lagi dalam seminggu ? Sementara target orang-orang itu selanjutnya perusahaan kita. Kamu mau, kehilangan semua yang susah payah papa bangun selama ini untuk kalian ?"

Arvin terdiam.

"Papa yakin, kamu juga pasti ingin menyelamatkan teman kamu itu kan ? Kalau perusahaan kita berhasil terselamatkan, maka papa juga bisa membantu menyelamatkan teman kamu dari mereka."

Pilihan yang begitu berat untuk Arvin. Ia ingin melindungi Naiara, tapi di sisi lain ia juga harus membantu sang papa untuk menyelamatkan perusahaan mereka.

"Vin.. Mama tau keputusan ini sulit buat kamu. Tapi kamu juga gak mau kan membiarkan perusahaan keluarga kita hancur ?"

"Tapi ma.."

"Mama mohon ya sama kamu.. Untuk kali iniii aja. Ikutin apa kata papa kamu. Ya ?" Sembari mengelus-elus rambut sang putra. Berusaha membujuknya, agar putranya itu mau mengikuti keinginan mereka.

Tak ada pilihan. Hal yang selalu Arvin hindari di dalam hidupnya. Bersusah payah dia mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya terhadap kedua orangtuanya, tetapi hasilnya sama saja. Pada akhirnya, dia tidak akan bisa untuk menghindarinya lagi.

Naiara yang menunggu Arvin di luar kamar juga terlihat gelisah. Menunggu hasil perbincangan antara anak dan kedua orangtuanya itu.

Tidak lama setelah menunggu, akhirnya Arvin keluar. Wajahnya terlihat lesu tak berdaya. Langkah kakinya melangkah begitu saja melewati Naiara, seolah mengabaikan keberadaan gadis itu yang sedari tadi menunggunya.

Lalu menuruni anak tangga, diikuti Naiara dari belakang.

Naiara sendiri masih belum berani untuk menanyainya. Hanya bisa mengikuti kemana langkah kaki pria itu pergi.

***

"Secepatnya kamu harus meyakinkan Arvin, agar dia mau melakukan pertunangan dengan Nesya. Aku gak mau anak-anakku terkena masalah oleh keluarga itu."

"Iya pa. Papa tenang aja. Mama yakin, Arvin gak akan bisa menolaknya."

"Tetap saja papa masih khawatir. Bertahun-tahun papa menyembunyikan Arvin dari mereka, dan terpaksa mengasingkannya. Tapi apa ? Pada akhirnya keluarga itu kembali menemukannya."

"Tapi, apa papa yakin cara ini akan berhasil ?"

"Mau bagaimana lagi. Sekalipun papa harus membohongi anak-anak papa. Yang terpenting keluarga kita aman."

***

*Maaf kalau tulisannya typo dll.^^

Continue Reading

You'll Also Like

2.6K 200 23
"Seharusnya ini cinta bukan benci tapi kamu sendiri yang membuat cinta ini menjadi benci, Masa masa itu masih tajam di ingatanku kak, disaat kita sal...
71.3K 8.6K 36
Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabi...
1.1K 71 10
Heyy salam kenal yee.. gue baru pertama kali nulis di wp nih jadi maap kalo kaga sebagus yg lain. ------------------------- Evania Kalyca Nur Elysia...
1.7K 996 36
Mahyra segera berlari, untungnya ia tak pergi jauh. Ia masuk ke dalam gedung, melewati koridor. Sial, kelasnya berada di lantai tiga. Ia menunggu den...
Wattpad App - Unlock exclusive features