Seminggu berlalu setelah perdebatan hebat di kantin, ada oknum tak bertanggung jawab yang merekam aksi tersebut dan tanpa diduga video perdebatan itu viral, bahkan sampai terdengar ke pihak Sekolah.
Sehingga pihak Sekolah meminta agar Nadira beserta Siswi yang terlibat perdebatan itu untuk datang ke ruang BK bersama orang tua mereka masing-masing.
"Ada yang mau kalian jelaskan tentang video yang sempat viral seminggu ini?" Tanya Bu Betty selaku staff kesiswaan di SMA Harapan Bangsa.
"Saya nggak tahu Bu, kenapa video itu bisa sampai seramai itu. Tapi, yang pasti saya merasa melakukan hal yang benar." Jawab Nadira dengan yakin.
"Melakukan hal yang benar? Dengan cara saling siram dan menciptakan keributan di Sekolah?" Tanya Bu Betty kembali.
"Murid baru ini duluan Bu yang berulah." Ujar Maudy membela diri.
"Bohong banget Bu, dia duluan yang siram teman saya. Saya sama teman-teman saya lagi istirahat di Kantin eh si nenek lampir ini datang tiba-tiba dan siram teman saya. Saksinya juga banyak kok Bu." Jelas Nadira yang mendapatkan tatapan tajam dari sang Mama yang berada disebelahnya, karena ucapannya.
"Sebagai teman yang baik, saya bela teman saya dong Bu. Eh dia malah makin menjadi, sampai-sampai jidad saya ini juga jadi korbannya." Lanjut Nadira.
"Benar begitu Maudy?" Tanya seorang wanita yang berpenampilan modis yang duduk disebelah Maudy.
"Iya Mi, tapi kan itu juga karena dia siram Ody, Mi. Ody gak ada urusan sama dia, kenapa dia harus ikut campur urusan Ody coba?" Kukuh Maudy, membela diri.
"Tapi bukan berati kamu sampai buat dia luka kan?" Tanya wanita itu lagi.
"Mami kok malah jadi bela dia sih Mi? Anak Mami disini aku loh Mi." Ucap Maudy sedikit kesal.
"Iya kamu memang anak Mami, tapi kelakuan kamu juga salah sayang. Nggak seharusnya kan kamu berbuat kasar begitu? Apalagi dia ini anak baru disini kan? Seharusnya kamu kasih contoh yang baik dong." Jelas Wanita itu dengan lembut.
"Tante minta maaf ya, atas perilaku anak tante." Lanjutnya lagi.
"Eh? Nggak apa-apa Bu. Saya juga minta maaf sama Ibu dan, siapa namanya? Maudy ya? Tante juga minta maaf ya kalau si Nadira ini sudah buat kamu kesal. Dia memang begitu, kalo menyangkut orang-orang terdekatnya. Ayo Nadira, kamu minta maaf sama Kakak kelas kamu, Dek." Jawab Irene merasa tak enak hati dengan Ibu dari Kakak kelas putrinya, karena meminta maaf kepada Nadira.
Akhirnya Nadira meminta maaf kepada Maudy, meskipun ia merasa kesal karena seharusnya Maudy yang mengucapkannya terlebih dahulu kan? Apalagi atas kejadian seminggu yang lalu itu Maudy tidak ada sama sekali i'tikad baik untuk meminta maaf terhadap sahabatnya, Amanda.
Begitu juga sebaliknya dengan Maudy. Karena paksaan dari Mami-nya itu, mau tak mau pun ia meminta maaf kepada Nadira karena ulahnya yang telah membuat ujung dahi Nadira sedikit sobek.
***
"Kenapa sih Dek? Mama perhatiin kayaknya kamu semenjak keluar dari ruang BK cemberut terus." Tanya Irene, sambil mengenakan seat belt.
"Nggak, Maa. Aku tuh kesal aja Maa sama si nenek lampir itu." Jawab Nadira.
"Nenek lampir? Di Sekolah lo ada nenek lampir yang kayak di Tv itu Dek?" Ucap Bara yang berada disebelah Irene.
"Gak boleh begitu dong, sayang. Kamu nggak boleh ngomong begitu. Masa kakak kelas kamu, kamu sama-samain sama nenek lampir. Kamu juga Bang, Adek kamu mood nya lagi jelek jangan diajak bercanda dulu." Irene menasihati kedua anaknya dengan lembut.
"Sorry, Maa. Bara kan nggak tahu kalau lagi bahas masalah itu, terus gimana tadi? Masalahnya udah clear kan?"
"Iya, udah clear kok." Jawab Irene.
"Gimana nggak kesel coba Maa, dia aja nggak ada i'tikad baik buat minta maaf sama Amanda, apalagi sama Nadira. Eh tiba-tiba tadi Mama suruh aku buat minta maaf sama si nenek lampir. Harusnya kan dia Maa yang minta maaf duluan karena emang dia yang cari masalah. Sampai jidad aku jadi korbannya nih." Kesal Nadira.
"Sekarang Mama mau tanya sama Nadira, emang ada peraturan yang menyebutkan siapa aja yang harus minta maaf duluan? Nggak ada kan. Kita minta maaf duluan itu bukan berati kita salah, sayang. Siapapun yang meminta maaf duluan, meskipun dia sadar dia nggak melakukan kesalahan, itu menandakan dia memiliki hati yang besar. Nadira gak mau punya hati dan jiwa yang besar? Gak mau berbuat baik juga? Lagian kamu juga salah kan, sayang. Kamu juga siram dia loh." Menasihati sambil menghadap belakang, memperhatikan putrinya yang sedang cemberut, duduk tepat dibelakangnya.
"Iya sih Maa. Nggak tahu ah, Nadira hari ini pokoknya lagi kesel banget. Nadira mau makan ayam McD ya Maa hari ini." Pinta Nadira.
"Bisa gitu ya, lagi kesel juga masih ada aja maunya." Gumam Bara, yang masih bisa terdengar oleh Nadira.
"Iya, boleh. Tapi sehabis dari Supermarket ya, ada yang mau Mama beli soalnya. Beberapa bahan makanan dirumah habis, cemilan kamu juga udah banyak yang habis." Jawab Irene.
"Oke, Maa."
***
Setelah selesai menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, Nadira membuka ponsel dan terkejut karena menemukan beberapa panggilan video tak terjawab dari sahabatnya.
"Kenapa?! Nggak biasanya lo nelpon gue, panggilan video lagi nih." Nadira menjawab panggilan video dari Vira.
"Yailah, santai kali Bu, nggak usah nge-gas gitu." Jawab Farah, karena saat ini mereka berempat -Nadira, Savira, Farah, dan Amanda- tengah melakukan video call.
"Lagian, nggak biasanya banget kita begini. Video call segala lagi." Ucap Nadira.
"Tau nih si Vira, gue juga baru banget selesai mandi ehh ada panggilan video dari dia. Mau ngapain sih Vir?" Tanya Amanda yang terlihat sedang mengoleskan lip balm di bibirnya.
Savira tertawa kecil. "Gue kepo sama masalah lo yang dipanggil sama Bu Betty Nad. "
"Eh iya, gimana tadi lo Nad? Si Kak Maudy nggak nge drama kan tadi di ruang BK?" Sahut Farah.
"Ya gitu deh." Jawab Nadira.
"Ya gitu deh gimana Nad? Gue nggak ngerti nih." Ujar Amanda.
"Dari awal si nenek lampir itu ngotot banget katanya gue duluan yang cari masalah sama dia. Ya gue nggak terima lah, apa-apaan coba dia. Padahal kan dia duluan yang cari perkara, siram si Amanda, eh dia tetap aja ngotot katanya gue yang salah disini. Sampai akhirnya nyokap dia ngomong dan nasihatin si nenek lampir. Awalnya dia protes waktu dinasihatin sama nyokapnya, tapi akhirnya ngaku juga dia kalo salah."
"Kalian tau nggak, nyokapnya si nenek lampir anggun banget, baik hati, udah gitu modis banget cuy stylenya. Nggak kayak anaknya yang kelakuannya astaghfirullah banget." Lanjut Nadira.
"Gue sih belum pernah lihat nyokapnya si Kak Maudy, tapi kata orang-orang sih baik banget orangnya." Ujar Farah.
"Ya iyalah, seorang Farah mah gosip apa sih yang nggak dia tahu." Canda Amanda
"Manda kalo ngomong suka bener deh." Ucap Vira, lalu mereka berempat tertawa.
"Yang nggak gue suka tadi tuh, Mama maksa gue banget buat minta maaf sama si Maudy. Ya, gue nggak mau lah. Dia aja nggak ada minta maaf, minta maafnya sama Amanda, masa gue disuruh minta maaf duluan sama dia."
"Terus gimana?" Tanya Vira.
"Ujung-ujungnya gue juga yang minta maaf sama dia duluan. Kalau bukan karena Mama gue yang suruh, gue juga ogah minta maaf duluan sama dia. Tapi, ya karena gue anak yang berbakti, sholehah, baik hati dan tidak sombong, yaudah gue minta maaf duluan sama dia." Jawab Nadira.
"Gue mau nanya deh sama kalian, tadi pas mau pulang kok gue ngelihat ada si cowok pembawa sial sih, lagi nunggu si Maudy sama nyokapnya. Awalnya gue kira gue salah lihat, tapi pas gue lihat lagi mereka masuk kedalam mobil si cowok pembawa sial itu. Mereka saling kenal apa gimana?" Lanjut Nadya.
"Maksud lo, siapa?" Tanya Amanda.
"Itu loh cowok yang gue bilang selalu bikin sial setiap ketemu sama dia." Jawab Nadira.
"Oh, Kak Azka?" Ujar Vira.
"Ya mana gue tahu, nama dia siapa." Sewot Nadira.
"Iya si Kak Azka yang Nadira maksud nih pasti." Ucap Farah.
"Mereka memang saling kenal Nad, Kak Azka sama Kak Maudy itu sepupuan. Nyokapnya Kak Maudy itu adik dari bokap Kak Azka. Jadi Kakek mereka yang punya SMA Harapan Bangsa." Lanjut Farah.
"Padahal Kakek dia yang punya Sekolah, bukan si nenek lampir itu. Tapi gayanya udah kayak dia aja yang punya Sekolah, amit-amit deh. Oh iya, tadi lo bilang si cowok pembawa sial itu sama si nenek lampir sepupuan kan ya? Pantes aja sih, gak heran lagi gue. Kelakuannya aja sebelas-duabelas, sama-sama bikin orang darah tinggi." Oceh Nadira dengan kesal.
Semingguan gak update cerita, gak terasa udah hari senin lagi aja ya🥺
Selamat beraktivitas buat teman-teman semua🥰
Semangatt!💙