Destiny (Jenlisa)

By lesyeuxdenini_23

110K 8.9K 373

Tentang seorang Lalisa yang hidup pas-pasan mendapat beasiswa disekolah yang elite, menjadikannya sering dibu... More

Part 1
Part 2
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16

Part 3

6.6K 594 8
By lesyeuxdenini_23

Sore kala itu menjadi teman Lalisa yang berjalan menyusuri jalan sambil menendang dedaunan yang berjatuhan.

Lisa pov

Huh, aku berjalan menjauh dari sekolah. Aku sengaja tidak naik busway untuk mengirit uang jajanku. Tapi aku tak sendirian, aku ditemani mentari sore dan dedaunan yang ada dibawah kakiku. Saat melewati taman, aku berinisiatif duduk ditaman itu sambil menyaksikan matahari terbenam.

Aku duduk di kursi taman yang kosong. Sejenak aku menutup mataku, merasakan hembusan angin menerpa wajahku dan sinar mentari yang menghangatkan wajahku. Tiba-tiba mataku terasa gelap walaupun aku menutup mataku, tapi aku bisa merasakan sinar mentari itu menembus kelopak mataku. Perlahan aku membuka mataku dan tersenyum. Ternyata ada sahabatku yang sedang berdiri di depanku sambil tersenyum dan membawa 2 buah cup minuman hangat.

Lisa pov end

"Hai Lisa, kau sedang apa duduk sendirian disini ? Udara hari ini cukup dingin jika dirasa. Ini aku bawakan minuman hangat untukmu" Chaeyoung duduk disebelah Lisa dan memberikan satu cup minuman hangat itu kepadanya.

"Gumawo, Chaeng-ah" ucap Lisa sambil menerima cup itu dari Chaeyoung. "Hmm, aku sedang menikmati angin dan ingin melihat matahari terbenam, Chaeng" jawab Lisa pada sahabatnya itu.

"Jinjja ? Kenapa kau tak mengajakku Lisa-yaa ?"  Chaeyoung berucap sambil mempoutkan bibirnya.

"Mian, aku kira kau sudah dijemput oleh supirmu tadi" Lisa meminta maaf sambil menatap Chaeyoung.

"Tadinya memang aku sudah dijemput, tapi aku melihatmu ditaman, jadi ya aku ingin menemanimu disini, bolehkan ?"

"Tentu saja boleh, Chaeng. Mengapa tak boleh, hm ?"

"Baiklah aku akan menemanimu menikmati sunset "

Keduanya saling terdiam menikmati indahnya matahari yang sudah mulai terbenam. Sampai akhirnya Chaeyoung memutuskan untuk bertanya kepada Lisa.

"Hmm, Lisa-yaa"

"Nee, wae Chaeyoung-ah ?"  Lisa mengarahkan pandangannya pada Chaeyoung.

"Mianhe Lisa-yaa saat kau di bully tadi siang aku tak bisa membantumu. Aku benar-benar tidak mengetahui bahwa kau akan di bully oleh gerombolan siswi itu" Chaeyoung berucap dengan menunduk merasa bersalah tidak dapat membantu melindungi sahabatnya itu.

"Gwencana, Chaeng kau tak perlu meminta maaf. Aku tak apa. Aku menerimanya, aku tidak akan membalas perbuatan mereka. Karena percuma saja jika aku membalasnya, aku akan sama seperti mereka, aku tidak mau Chaeng. " Lisa tersenyum dan memegang pundak sahabatnya yang masih menunduk.

"Tapi lain kali jika aku ajak kekantin kau ikut ya, dan kau harus bersamaku saat disekolah, jangan seperti tadi siang. Aku meninggalkanmu dan kau di bully, sebenarnya aku sangat tidak terima kau diperlakukan seperti itu" mata Chaeyoung mulai berkaca-kaca.

"Aku hanya ingin mengirit uang jajanku dengan tidak jajan dikantin sekolah, tapi baiklah Chaeng aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi, bahkan ke alam kuburpun aku akan mengikuti, ekeke" Lisa berucap sambil menghibur Chaeyoung yang sebentar lagi akan menangis. Chaeyoung memang dasarnya mudah sekali menangis, ckckck.

"Aish, bercandamu tidak lucu, Lisa. Kau tenang saja, Li. Aku akan menraktirmu setiap hari jika kau mau ?" Mengubah raut wajahnya tak semurung tadi.

"Bercandaku tak lucu tapi wajahmu kembali ceria Chaeyoung-ah, ahaha. Kau tak perlu menraktirku, aku masih punya uang, Chaeng. Tenang saja"

"Arraseo, terserah padamu saja"

Tak terasa matahari sudah terbenam dan langit sudah menggelap.

"Ayo kita pulang Chaeng, ini sudah gelap pasti orang tuamu akan mencarimu" Lisa berdiri sambil mengajak Chaeyoung untuk pulang.

"Ah ya kajja. Kau kuantar pulang ya"

"Tapi.." belum selesai Lisa berbicara, sudah dipotong Chaeng yang mengatup bibir Lisa dengan telunjuknya.

"Sstt, tidak ada penolakan. Kajja"  Chaeyoung menarik tangan Lisa menuju mobilnya. Mau tidak mau Lisa harus pulang diantar Chaeyoung.

~

Sesampainya didepan rumah Lisa. Chaeyoung turun disusul Lisa.

"Gumawo Chaeng sudah mengantarku pulang. Aku jadi merepotkanmu" Lisa sedikit membukuk dan tersenyum dengan manis.

"Ish, gwencana Lisa-yaa, aku ini sahabatmu. Kau tak perlu berterima kasih" Chaeng tersenyum membalas ucapan Lisa.

"Mau mampir dulu Chaeng ?"

"Lain kali saja, Li. Aku pulang dulu yaa" Chaeng masuk mobilnya.

"Baiklah. Hati-hati dijalan nee"

"Nee, anyeong" sambil melambaikan tangannya lewat jendela.

"Anyeong" Lisa membalas lambaian sahabatnya itu.

Click
Krriett

Suara pintu terbuka dan menampilkan Lisa yang masuk dengan tersenyum.

"Aku pulang !" Seru Lisa saat memasuki rumah.

"Noona !" Kedua adiknya itu menghampiri Lisa dan memeluknya.

"Kenapa pulang telat noona ? Kami menghawatirkanmu" Leo berucap dan masih memeluk noonanya.

"Mian, tadi noona ingin melihat matahari terbenam bersama denga teman noona" Lisa mengelus kedua rambut adiknya.

"Aku kira noona tidak pulang karena malas melihatku dan hyung bertengkar" kali ini Louis yang bersuara dengan melengkungkan bibirnya. Dan mengundang tawa Lisa yang sedang memeluk keduanya itu.

"Hahaha, yang benar saja. Noona tidak akan malas dan bosan melihat kalian berdua bertengkar" Ucap Lisa sambil mengacak-acak rambut adiknya "Eomma dimana, Leo ?" Lisa bertanya karena tidak melihat Eommanya sejak tadi.

"Eomma belum pulang bekerja Noona. Mungkin eomma akan pulang malam lagi"

"Ah ya arraseo, noona mandi terlebih dahulu ya. Nanti noona akan membuatkan kalian berdua makan malam"

"Okey, Noona" ucap semangat dari kedua adiknya. Lisa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

~

Didalam rumah yang mewah nan megah, seorang gadis bermata kucing sedang merenungkan perkataan sahabatnya tadi siang, tentang ia yang harus mulai menerima keputusan kedua orang tuanya yang akhirnya berpisah dan membuat dirinya semangat untuk menjalani ini semua.

"Hufft"  gadis itu hanya menghembuskan nafasnya dan menutup matanya.

Tok
Tokk
Click

"Jennie, ayo makan malam. Mommy sudah memasakan masakan kesukaanmu" mommy nya masuk dan duduk dipinggir ranjang anaknya dengan tersenyum.

Jennie membuka matanya dan menatap mata mommy nya dengan sendu. Tiba-tiba Jennie memeluk mommynya sangat erat dan menangis.

"Hikss hikss. Maafkan Jennie Mom yang sudah mengacuhkan mommy selama ini" Jennie semakin mengeratkan pelukannya kepada mommy nya.

"Sudah sudah, tidak apa Jennie-yaa. Mommy yang minta maaf karena tak memberitahumu dahulu kalau mommy akan berpisah dengan daddymu waktu itu" ucap mommy nya sambil mengelus-elus punggung anaknya. Disaat mommynya ingin melepas pelukannya, Jennie menahannya dan berkata

"Jangan lepaskan dahulu, Mom. Aku masih merindukan pelukanmu"

"Arraseo, peluk mommy selama yang kau mau sayang"
Jennie tersenyum didalam pelukan mommnya. Sudah lama Jennie tidak memeluk mommynya sejak berpisah dengan daddy nya.

~

Beberapa hari kemudian. Lisa selalu bersama Chaeyoung saat disekolah. Dan Chaeyoung selalu melindungi Lisa yang hampir setiap hari akan dibully oleh Momo dan teman-temannya. Lisa sangat berterima kasih kepada sahabatnya yang sangat baik kepadanya.

"Chaeng, aku toilet sebentar ya" Ucap Lisa saat mereka sedang berjalan menuju kelas.

"Perlu kutemani, Li ?" Chaeyoung menaikan kedua alisnya.

"Tak perlu, Chaeng. Aku sendiri saja kau masuk duluan ya"

"Baiklah, jangan lama-lama yah"

"Nee" Lisa tersenyum kemudian berjalan menuju ke toilet.

Di dalam toilet, Lisa sedang membasuh tangannya. Saat melihat cermin Lisa terkejut melihat Momo dan ketiga temannya sedang berdiri dibelakangnya.

"Hallo anak manis, sudah lama kita tidak bersenang-senang ya. Kemana pelindungmu itu, hm ?" Momo berucap dengan smirknya kepada Lisa.
Lisa dengan cepat membalikan badannya dan merasa takut melihat senyum Momo yang sangat mengerikan.

"Ma-mau apa kalian ??" Lisa bertanya dengan gugup karena ketakutannya.

"Owh, its easy gurl. Kami hanya rindu bersenang-senang denganmu. Haha. Tzuyu, tangkap gadis ini !" Momo mengubah raut mukanya menjadi lebih menyeramkan.

"Siap" Tzuyu mulai menggenggam lengan Lisa, tapi Lisa mengelak dan Tzuyu tidak bisa menahan tangannya. Tak lama Sana ikut menahan tangan Lisa dan menyeretnya kedinding tembok yang terletak diantara dua bilik yang ada didalam toilet. Lisa mulai menangis ketakutan, takut mereka akan membuat Lisa terluka.

"Hikss hikss"

"Diam gadis kampung!" Sentak Jihyo sedangkan Momo dan Tzuyu membawa ember yang berisikan air.

"Jebbal, jangan sakiti aku, hiks" Lisa memohon dan merasa sangat-sangat takut.

Momo yang muak mendengar tangisannya pun melempar gayung tepat di kepala Lisa dan menyebabkan luka di keningnya.

"Ahh, sakit. Ampuni aku, jebbal . Aku hanya ingin bersekolah, tidak lebih, hiks hikss" Lisa menahan perih di keningnya yang terluka akibat lemparan dari Momo.

"Tempatmu bukan disini, kampungan !" Sana berbicara dan mengangkat ember berisikan air itu dan menyiramkannya ke badan Lisa.

Byurr

"Hahaha, sudahlah tinggalkan dia disini sendiri" Jihyo mengajak teman-temannya yang sedang menetarwakan Lisa yang basah kuyup.

"Di-di-dingin, hrrr" Lisa menggigil kedingan karena kondisi badannya yang basah.

~

"Ji, perutku mulas. Aku ke toilet dulu ya" ucap Jennie sambil memegangi perutnya.

"Kau kebiasaan sekali jika dijam olahraga pasti perutmu mulas, ckckck" Jisoo menggelengkan kepalanya.

"Tidak sering, Ji. Ah, aku sudah tidak tahan. Bye Jisoo" Jennie berlari dan tak lupa meminta izin kepada seonsaengnim.

Jennie berlari sekencang mungkin. Dan saat membuka toilet Jennie membulatkan matanya ketika melihat orang yang tidak asing sedang menangis sambil memeluk lututnya dengan sangat menggigil. Yah, Jennie ingat, dia adalah gadis yang waktu itu menghalangi jalannya saat digerbang sekolah. Jennie seakan lupa dengan rasa mulasnya dan mulai mendekati Lisa. Tanpa basa basi Jennie menarik lengannya dan tentu saja membuat Lisa terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Sejenak Lisa menatap mata kucing itu yang hanya dibalas dengan tatapan yang datar. Tak sengaja Jennie melihat luka di kening Lisa, dengan cepat  menarik Lisa keluar dan membawanya ke loker. Ia membuka loker dan mengeluarkan uniformnya.

"Ini, pakailah" Jennie memberikan uniformnya kepada Lisa.
"Tapi bagaimana denganmu ?" Lisa ragu menerima uniform yang diberikan Jennie.
"Kau tak lihat aku memakai kaos olahraga ? Dan ini juga jam terakhir. Cepat pakailah" Jennie mengambil tangan Lisa dan memberikannya.
Lisa menunduk melihat uniform yang Jennie berikan untuk di pakai olehnya. Tak lama setelah itu Jennie kembali menarik lengan Lisa dan membawanya ke UKS.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hi. Bagaimana ? Apa kalian menikmati cerita yang author bikin ? Semoga kalian suka dengan cerita author yah. Maaf kalo ada kata yang typo. Bye bye readers :*

Continue Reading

You'll Also Like

64.7K 5.3K 52
[21+] Menjadi lesbian sejak SMA, Lisa mulai merasa bosan karena dia di anggap sebagai atasan di sebuah hubungan. Mungkin karena perawakan, wajahnya...
22.5K 1.8K 32
Lisa sangat marah ketika dia tidak bisa bergabung dengan tim tari di sekolah barunya karena mereka hanya menerima laki-laki sebagai anggota. Dia akhi...
82.3K 5K 45
Sebagai mahasiswi sastra tingkat akhir, Jennie Kim adalah gadis yang dikenal semua orang. Dia seksi, cantik, karismatik, dan nyaris sempurna. Memang...
535K 43.1K 57
LOVE AND BETRAYAL 1 Lisa adalah seorang perempuan yang baru saja lulus kuliah di Thailand. Pada suatu hari ketika Lisa kembali pulang ke Korea untuk...
Wattpad App - Unlock exclusive features