Title : Heart Beat
Genre : Romance
Cast :
Bae Irene as Choi Irene
Oh Sehun as Oh Sehun
Park Chanyeol as Park Chanyeol
Cerita ini terinspirasi dari drama korea 'Born Again'
Ada yang tahu?
Itu bagus banget dan aku suka, sampe bikin nih cerita hehe..
Oke yuk
.
.
.
Musim gugur nampaknya akan tiba dalam waktu dekat. Choi Irene sudah tak sabar menantikannya. Dari empat musim yang sering ia lewati dalam setahun hanya musim gugur yang selalu ia nantikan.
Gadis 24 tahun itu tidak suka musim panas, ia akan selalu mengeluh setiap musim panas datang. Dibanding berjemur di pantai ia lebih menyukai menghabiskan waktu di apartemen untuk menonton film atau drama yang rilis di musim panas. Untuk musim dingin gadis mungil itu juga tidak suka, pasalnya setiap kali salju turun ia akan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan entah itu di butik, apartemen, ataupun rumah Oh Sehun. Ya, lelaki itu tak akan membiarkan tubuh mungilnya kedinginan barang satu detikpun.
Musim semi, hmm memang siapa yang tak suka melihat bunga bermekaran? Sepertinya semua orang menyukainya, Irene bukannya tidak menyukai musim semi ia suka hanya tidak sesuka seperti saat musim gugur tiba.
Hari ini Irene masih berada di butik miliknya. Sekedar menata baju-baju di sana dan mengobrol ringan bersama pekerja di butiknya yaitu Yerim dan Mina.
"Eoni, dia datang!" seru Yerim melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan butiknya.
Irene menatap keluar pintu kaca, benar saja seseorang yang sangat ia kenal turun dari mobil itu menggunakan jaket hitam dan kacamata hitam. Irene tersenyum tipis.
Lelaki bertubuh tinggi memasuki butik setelah melepas kaca mata hitamnya. Senyuman yang menawan menghiasi wajahnya membuat beberapa pelanggan di butik menatap ke arahnya dengan takjub.
"Selamat sore," sapanya pada gadis berambut hitam yang tengah berdiri memegang beberapa potong baju.
Irene, gadis itu tersenyum, "Sore," balasnya.
Sehun mengambil alih baju yang berada di tangan Irene kemudian memberi kode pada Yerim yang berada tak jauh dari mereka. Gadis itu paham lalu segera mengambil tumpukan baju itu dan membawanya ke tempat blouse-blouse berada.
"Jangan bekerja terlalu keras, kau bisa menambah karyawan jika butik ramai," ucap Sehun sembari mengusap pelan bahu sempit Irene.
"Jangan berlebihan, aku tidak apa-apa. Ini butikku jadi aku harus ikut melayani pembeli di sini," balas Irene.
Sehun menghela napas pelan kemudian menarik tangan gadis itu ke arah sofa yang di sediakan di sudut ruangan.
"Ayo kita kencan," ajak Sehun.
Irene tertawa mendengarnya. Lelaki Oh ini benar-benar sangat to the point. Sehun menatap Irene heran.
"Kau yakin Detektif Oh? Apa kasusmu sudah kau selesaikan?" tanya Irene penuh selidik.
Lagi-lagi Sehun menghela napas pelan. Ini malam minggu dan dia sudah lama tak mengajak Irene kencan karena pekerjaannya yang selalu menumpuk. Walau sebenarnya kasus yang ia tangani belum selesai tetapi ia ingin menyempatkan sedikit waktu yang ia punya untuk gadisnya.
"Belum, tapi malam ini aku free. Aku lelah tapi setelah bertemu denganmu rasa lelahku hilang begitu saja," kata Sehun diiringi senyuman tipisnya.
Irene memutar bola matanya, Sehun sedikit tidak cocok mengatakan hal seperti itu. Lelaki itu jarang sekali berkata-kata manis tetapi sering memberikan perhatian dan perlakuan manis untuknya.
"Baiklah,"
***
Irene memegangi dadanya yang terasa sesak. Tangan kanannya mencoba meraih benda apapun yang ada di sekitarnya. Penyakitnya kambuh, ia mencoba berjalan ke dapur untuk mengambil obat.
Suara pintu apartemen terbuka diiringi dengan langkah kaki mendekat.
"Irene, kau di mana?" suara Oh Sehun.
Sehun terkejut melihat Irene kesakitan memegangi dadanya dengan posisi hampir terduduk di lantai.
"Irene-ah,"
Sehun segera menggendong tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar. Tidak tahukah Irene betapa takutnya Sehun setiap kali melihat dirinya kambuh seperti itu.
"Minum dulu,"
Sehun memberikan obat dan air pada gadis itu. Setelahnya ia mengusap pelan puncak kepala Irene.
"Sudah lebih baik?" tanyanya.
Irene mengangguk pelan.
"Tinggalah di rumahku, aku tidak mau kau kesakitan saat sendirian begini," Sehun menggenggam erat tangan gadisnya.
Namun, seperti biasa respon yang diberikan Irene. Gadis itu menggeleng pelan.
"Baiklah jika tak mau maka menikahlah denganku," pinta Sehun.
Mata Irene membulat, "Sehun....
"Aku mohon, Rene. Bahkan aku selalu menunggu jawabanmu," potong Sehun.
Irene menundukkan kepalanya. Apa pantas gadis seperti dirinya bersanding dengan Detektif Oh Sehun? Pertanyaan itu yang selalu ada dalam benaknya.
"Kau tahu apa jawabanku," ucapnya pelan.
Sehun mengela napas.
"Aku mencintaimu hanya kau yang akan jadi pengantinku," kata Sehun.
Irene menggeleng, setitik air matanya jatuh.
"Kau bisa cari gadis yang lebih baik. Bukan gadis yang sakit-sakitan sepertiku,"
"Bagaimana jika aku mati sebelum memberimu keturunan? Atau jika aku mati sehari setelah kita menikah? Dan bahkan kita tak tahu jantungku bisa saja berhenti besok hiksss,"
Sehun meraih tubuh Irene ke dalam pelukannya. Menangkannya dengan segala kata-kata penenang dengan sapuan lembut di punggung gadis itu.
"Tidak ada wanita lain, hanya Choi Irene yang akan jadi pengantinku. Kapanpun kau mati aku tak peduli, aku akan tetap mencintaimu sampai aku mati menyusulmu,"
Kalimat Sehun justru membuat air mata Irene semakin mengalir. Harusnya ia tak mengenal Oh Sehun. Lelaki itu terlalu baik untuk dirinya.
"Kita tidak pantas menjadi sepasang pengantin Sehun," lirih Irene.
Sehun menatap Irene seolah tak setuju dengan kalimat gadisnya.
"Lalu kita apa?" tanya Sehun.
Irene menghela napas pelan, "Kita adalah sepasang kekasih, sepasang kekasih yang akan saling merindukan sekalipun di kehidupan selanjutnya,"
***
"Ini tuan, foto-foto hasil bidikan kami hari ini,"
Lelaki yang dipanggil tuan itu menerima beberapa lembar foto hasil bidikan anak buahnya. Sosok gadis cantik tergambar dalam foto itu. Helaan napas keluar dari mulut sang lelaki. Sudah dua tahun berlalu tetapi rasa bersalah selalu menghampiri dirinya.
Park Chanyeol, seorang ketua mafia di Seoul. Tak banyak yang mengetahui hal itu. Dua tahun yang lalu kejadian buruk tak sengaja terjadi. Ia dengan tangannya sendiri tanpa sengaja menembak sosok lelaki tepat di hadapan sang ayah.
Namun, sang ayah malah melindunginya membuat pria paruh baya itu mendekam di penjara dan dieksekusi mati. Tak sedetikpun Chanyeol melupakan kejadian itu. Sosok yang ia ketahui bernama Detektif Choi Siwon, telah tiada akibat ulahnya. Yang dirinya ketahui lelaki itu meninggalkan seorang adik perempuan. Dan Chanyeol selalu mengawasi adik Choi Siwon.
"Choi Irene," gumamnya dengan tangan yang mengusap foto gadis cantik.
***
Sehun memijit pelipisnya pelan. Akhirnya kasus yang ia tangani berhasil terpecahkan. Kemampuannya memang tak diragukan lagi, usianya baru 28 tahun tetapi lelaki itu sangat mumpuni menjalankan tugasnya. Baginya keberhasilan yang ia capai tidak akan ia rasakan bila saja dulu sosok seniornya yang selalu mengajarinya.
Choi Siwon, detektif handal di masanya. Sekarang Sehun hanya bisa menemui sosok itu di pusaranya.
"Detektif Oh," salah satu rekannya memanggil.
Sehun menoleh mendapati Kim Jongin berjalan ke arahnya.
"Kami mendapat kabar bahwa anak dari Park Seo Jeon telah mengambil alih posisinya sebagai ketua mafia,"
Perkataan Jongin membuat Sehun mengerutkan kening. Park Seo Jeon lelaki paruh baya pelaku pembunuhan Detektif Choi.
"Siapa? Apa mereka masih beroperasi?" tanya Sehun.
"Sedikit info yang kami dapat, tetapi sepertinya mereka memang masih aktif meski tidak berbuat onar seperti dulu," balas Jongin.
Sehun menghela napas panjang.
"Baiklah gali terus informasi mengenai mereka, lacak keberadaannya juga,"
"Baik,"
Jongin segera bangkit dan keluar dari ruangan.
***
Irene berjalan menyusuri trotoar. Benar dugaannya musim gugur telah tiba. Dia sangat menyukai suasana seperti ini. Hari ini ia akan mampir ke sebuah rumah makan yang dulu sering ia kunjungi bersama mendiang kakaknya. Ia ingin makan tteobeokki dan kimbap yang dijual di sana.
Sehun sedang bertugas jadi dia tidak perlu khawatir untuk pergi kemanapun sesuka hatinya. Ia merapatkan mantel berwana cream yang dipakainya. Saat akan menyeberang jalan ia merasa seperti ada sepasang mata yang mengawasinya. Saat menoleh ke kanan ke kiri dan ke belakang ia tak melihat ad orang yang mencurigakan. Mungkin hanya perasaannya saja.
Setelah membeli makanan yang djinginkan Irene segera pulang ke apartemennya karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Saat berjalan dari halte menuju ke gedung apartemen yang cukup sepi dua orang pria menghadangnya. Irene sedikit takut lalu mundur.
"Jangan takut, Nona. Kami tak kan menyakitimu jika kau menyerahkan dompetmu pada kami," kata salah seorang dari mereka.
Irene menggeleng sembari memeluk tas nya. Tiba-tiba kedua lelaki itu mencoba memgambil tas nya.
"Jangan! T-tolong! Aw..
Irene terjatuh kala tasnya berhasil direbut. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Ayo!"
Saat hendak berlari salah satu preman itu tiba-tiba tersungkur akibat seseorang menendangnya dari belakang.
"Siapa kau? Beraninya ikut campur!"
Bugg
Seseorang yang menendang preman tadi kini memukul rekannya juga. Akhirnya perkelahian terjadi di sana. Beberapa orang yang melewati jalanan tersebut mendekat dan melerai.
"Jangan berani-berani mengganggu seorang gadis lagi!" bentak sosok lelaki tadi pada dua preman yang sudah terkapar.
Beberapa orang telah mengetahui kejadian dan melaporkan preman tersebut.
Lelaki itu membawa tas milik Irene dan menghampiri gadis yang masih terduduk sembari memegangi dadanya.
"Kau tak apa?"
Irene dapat melihat bayangan sosk tinggi itu. Lelaki itu kini berjongkok untuk melihat keadaan Irene.
"S-sakit,,," rintih Irene.
"Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?"
Irene terus memegangi dadanya. Dengan sigap lelaki itu membawa tubuh Irene ke dalam gendongannya. Ia segera berjalan ke arah mobil yang terpakir tak jauh dari tempat mereka berada.
***
Sehun tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah rumah sakit yang sudah sering ia kunjungi. Sesampainya di sebuah kamar ia melihat Irene yang terbaring di sana.
"Irene-ah,"
Nampaknya Irene sudah sadar meski wajahnya kini pucat. Gadis itu tersenyum tipis.
"Kau tak apa? Mengapa bisa terjadi?" tanya Sehun khawatir.
"Tidak apa-apa tuan, untung saja orang yang menolong Nona Choi segera membawanya ke sini," ucap seorang perawat yang ada di sana.
Sehun merasa lega, ia tak tahu bagaimana nasib Irene jika tak ada yang menolongnya saat berusaha dicopet.
"Aku baik-baik saja, Sehun," ucap Irene pelan.
Sehun mengangguk masih menggenggam jemari mungil gadisnya.
"Lalu di mana orang yang menolongmu?" taya Sehun penasaran.
"Sepertinya dia sudah pergi," jawab suster karena Irene masih belum bisa bicara banyak.
Sehun mengangguk paham.
"Aku harus berterima kasih padanya," gumamnya dengan tangan yang masih mengusap kepala Irene lembut.
***
Sehun berjalan dengan tidak fokus karena teringat perkataan dokter di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Irene harus segera mendapatkan donor jantung jika tak ingin kondisinya makin melemah atau bahkan sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Lelaki itu sangat bingung, dia mungkin bisa mencari dan melacak pelaku dalam kasus yang ditangani selama ini namun ia tak bisa mencari orang yang mau mendonorkan jantungnya pada Irene. Ia selalu mengingat perkataan Choi Siwon sebelum lelaki itu wafat, bahwa Sehun harus terus menjaga Irene. Gadis itu tak punya siapa-siapa lagi, hanya Sehun yang bisa menjaganya.
Kedua orang tua Irene bahkan sudah meninggal saat gadis itu masih SMA. Oleh karenanya Irene sempat terpuruk saat kakak satu-satunya yang ia miliki harus pergi.
Tak terasa ia sudah hampir sampai di lantai 7, dimana apartemen Irene berada. Pintu lift terbuka memperlihatkan sebuah pemandangan yang menurut Sehun mencurigakan. Ia melihat sosok tinggi dengan pakaian hitam berdiri di depan unit milik Irene. Namun, saat dirinya keluar lift dan berjalan kesana sosok itu pergi menjauh begitu saja.
Sehun tak bisa mengejar, sosok itu menghilang di pertigaan koridor mungkin ke arah tangga darurat. Sehun menghela napas, meyakinkan mungkin saja hanya orang asing yamg lewat.
Masuk ke dalam apartemen Sehun melihat Irene yang duduk di sofa depan televisi sambil meminum obatnya.
"Sudah makan?" tanya Sehun.
Irene mengangguk.
"Sehun," panggilnya membuat Sehun yang meletakkan makanan di atas meja mengalihkan pandangan.
"Hmm kurasa ada yang sedikit aneh,"
"Maksudnya?"
"Sejak kejadian aku hampir dirampok, sebelumnya aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Dan juga beberapa hari ini saat aku ke butik aku merasa seperti ada yang mengawasi butik,"
Penjelasan Irene membuat Sehun tertarik dan duduk di samping gadis itu.
"Tadi malam ada yang memencet bel tetapi saat aku buka tak ada orang dan di depan pintu ada bingkisan isi makanan," Irene menunjuk sebuah paper bag coklat yang tergeletak di atas single sofa.
Sehun mengambilnya, isinya makanan ringan dan beberapa biskuit ditambah susu kotak besar. Sehun mengernyit heran siapa yang mengirim seperti ini untuk Irene.
"Rene, aku akan menginap malam ini. Untuk memastikan bahwa orang itu tak berniat jahat padamu," ucap Sehun akhirnya.
Irene menatap Sehun lalu mengangguk.
***
Tidak terjadi apa-apa semalam. Tidak ada orang yang berkunjung ataupun meninggalkan makanan di depan pintu apartemen Irene. Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Sehun sudah pergi sejak pagi karena harus segera ke kantor.
Irene telah bersiap ke butik, ia sudah rapi dengan mengenakan celana jeans biru panjang dan blouse putih dengan hiasan pita di bagian kerahnya. Setelah mengambil tas ia berjalan keluar.
"Selamat pagi eoni," sapa Yerim yang sudah berada di dalam butik.
"Pagi, Yerim-ah," balas Irene tersenyum.
Tak lama Mina datang dengan nafas terengah-engah.
"Eoni, maaf aku terlambat hosh, hmm aku harus mengantarkan buku adikku lebih dulu yang tertinggal tadi," Mina berkata dengan raut bersalah.
Irene terkekeh, ia tidak pernah keberatan dengan karyawannya yang terlambat asal dengan alasan yang mendesak.
"Tak apa, Mina,"
"Oh iya eoni, ada yang mencarimu tadi di luar," tunjuk Mina ke arah luar.
Irene mengernyit karena tak ada siapa-siapa disana, hanya beberala orang yang berlalu lalang.
"Eoh, tadi pria itu di sana," kata Mina ikut bingung.
Irene kemudian berjalan keluar butik. Menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada orang. Jujur saja ia sedikit bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Gadis itu segera menepis pikiran-pikiran negatifnya.
***
Satu bulan kemudian...
Sehun mendapatkan berkas mengenai informasi tentang sosok Park Chanyeol. Jongin dan Taemin sudah sejak beberapa minggu lalu menyelidiki kelompok mafia tersebut dan berhasil menggali informasi di dalamnya.
"Kalian yakin Park Chanyeol tidak berbuat onar selama ini?" tanya Sehun.
Jongin dan Taemin menggeleng pelan.
"Sejauh ini tak ada kasus apapun yang mereka lakukan, Pak," kata Jongin.
"Baiklah, sebaiknya kalian awasi dia. Tidak menutup kemungkinan mereka melakukan hal yang fatal lagi sepertj dulu," perintah Sehun.
"Baik,"
Setelahnya kedua anak buah Sehun pergi dari ruangannya. Lelaki Oh itu memijit pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Beberapa hari ini ia harud lembur bahkan jarang menghubungi Irene.
Ah iya sebaiknya Sehun menghubungi gadis itu sekarang. Ia mencoba menelepon kekasihnya. Sepertinya Irene masih sibuk di butik sehinggal panggilannya pun tidak diangkat.
Setelah meletakkan ponselnya kembali di atas meja kerjanya Sehun mulai serius dengan berkas-berkas yang menjadi tugasnya minggu ini. Namun, tak lama Jongin membuka pintu ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Sehun heran.
"Berita buruk,"
Sehun mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti.
"Park Chanyeol berulah dan... dan... korbannya adalah Choi Irene," ucap Jongin diakhiri nada pelan.
Sehun langsung berdiri dari tempatnya duduk mendengar nama kekasihnya disebut. Ia menatap tajam pada Jongin.
"Apa? Apa maksudmu?" tanyanya tak santai.
"Iya, Pak. Choi Irene menjadi korban penyekapan mafia yang dipimpin Park Chanyeol,"
Sehun segera berlari keluar dari ruangannya dengan tergesa. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju butik Irene. Sesampainya di sana ia melihat Yerim dan Mina yang berdiri di luar sembari berbicara pada dua orang polisi yang Sehun kenal.
"Yerim, Mina, dimana Irene?"
Kedua gadis itu terkejut melihat kehadiran Detektif Oh.
"Bagaimana bisa Irene... Irene...
"Orang itu, sudah memgawasi butik ini sejak beberapa minggu yang lalu," jawab Mina akhirnya.
Sehun menatapnya tak mengerti, meminta penjelasan lebih.
"Aku pernah bertatap muka dengannya dan ia mencari Irene eoni," lanjutnya.
Setelahnya Mina tak dapat melanjutkan ceritanya. Dia terlalu takut membayangkan sosok yang menyekap Irene saat ini. Yerim segera mengelus punggung rekannya itu.
"Detektif Oh, menurut keterangan saksi Nona Choi Irene diculik sekitar pukul 7 pagi tadi," seorang polisi yang ada di antara mereka mulai menjelaskan.
Sehun mengepalkan kedua tangannya. Akan ia tangkap si brengsek itu dan ia jebloskan ke penjara.
"Kami akan segera mencari keberadaan Nona Choi Irene," lanjut polisi tadi.
Sehun tidak bisa berpikir saat ini. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa pada Irene, ia merasa tak becus menjaga gadis itu.
"Irene-ah, kau dimana?" racaunya.
***
Irene menatap bingung ruangan sekelilingnya. Seingatnya ia tadi dibekap oleh seseorang dan pingsan begitu saja. Tetapi ia heran kenapa sekarang bisa terbaring di atas temapt tidur di sebuah ruangan bernuansa abu-abu dan cukup elegan. Ia yakin pemilik rumah ini pasti orang kaya.
Tak lama pintu kamar terbuka menampilkan sosok pemuda tinggi bertubuh atletis dengan setelan jas hitam. Irene mengernyit heran seakan pernah melihat wajah itu. Pemuda itu mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" tanyanya.
"Kau siapa? Aku di mana?" tidak menjawab Irene malah balik bertanya.
"Aku Park Chanyeol,"
Irene membulatkan mata tidak percaya. Park Chanyeol?
Nama itu sangat tidak asing. Park Chanyeol putra dari Park Seo Jeon pembunuh kakaknya.
Irene memundurkan tubuhnya mencoba menjauh dari pemuda di depannya. Chanyeol mengulum senyum tipis di bibirnya.
"Tak perlu takut, Choi Irene," katanya.
Irene menggeleng pelan, "Kau, apa yang kau mau dariku?" tanya Irene sedikit bergetar.
Chanyeol tersenyum miring.
"Kakakmu menyebabkan ayahku dihukum mati," balasnya.
"Tapi ayahmu yang membunuh kakakku," kata Irene dengan tajam.
Chanyeol menatap Irene, gadis di depannya ini ternyata berani membalas perkataannya.
"Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa juga?" lanjut Irene.
Chanyeol mendekat ke arah Irene. Tangannya menelusuri wajah gadis itu yang menurutnya sangat cantik.
"Kalau begitu aku juga akan membalasnya lagi dengan nyawamu,"
Irene membulatkan mata. Menepis tangan Park Chanyeol dengan jijik.
"Asal kai tau Nona Choi Irene. Aku lah yang menembak Choi Siwon, aku yang menembak kakakmu bukan ayahku!" kata Chanyeol diakhiri teriakan.
Irene sangat terkejut mendengarnya. Jantugnya, ia kini memegangi dadanya. Terkejut dengan pernyataan lelaki psikopat di hadapannya.
"Kenapa? Kau terkejut?" tanya Chanyeol.
"D-dasar k-kau....
"Hahahaha gadis bodoh!"
"Ayahku terlalu menyayangiku dia rela berkorban untukku," lanjut Chanyeol.
Ia bangkit berdiri dan menatap ke luar jendela. Menerawang menatap langit tanpa mempedulikan gadis yang masih kesakitan memgangi dadanya di atas tempat tidur.
"Dan kalian," tunjuknya pada Irene.
"Kau harus mengganti semuanya, termasuk juga Oh Sehun,"
Wajah iblis Chanyeol semakin nampak. Irene menggeleng lemah kala mendengar nama Sehun disebut-sebut.
"Ya detektif Oh bodoh itu, dia tak tau apa-apa dan malah membuat ayahku menerima hukuman matinya. Kalian harus membayarnya," katanya tajam.
Setelah itu Chanyeol meninggalkan Irene sendirian yang masih kesakitan.
"Hiksss... Hiksss.. O-ppa, S-sehun t-tolong a-aku,"
Gadis itu akhirnya pingsan karena tak bisa menahan rasa sakitnya.
***
Chanyeol menatap tubuh mungil Irene yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Jauh di lubuk hatinya ia tak mau menyakiti gadis itu barang seincipun. Tetapi rasa dendam di htinya masih menguasai dirinya saat ini.
Perlahan mata bulat Irene mulai terbuka. Gadis itu mengerjap berkali-kali. Kemudian terkejut melihat Chanyeol yang menatapnya dengan datar.
"Akhirnya kau bangun juga," ucap lelaki itu.
"Istirahatlah, aku tak akan mengganggumu,"
Setelahnya Chanyeol keluar dari kamar. Irene menatapnya tak mengerti.
***
Malam harinya di kediaman mewah Park Chanyeol mendadak suasana menjadi genting saat sekelompok polisi mengepungnya. Rupanya kepolisian telah menemukan sosok ahli waris dari Park Seo Jeon itu.
Adu jotos terjadi antar pihak kepolisin dengan anak buah Park Chanyeol.
"Park Chanyeol keluar kau!"
Sebuah suara yang sangat Irene terdengar ditelinganya. Irene yang dikunci di kamar mencob membuka pintunya dengan susah payah.
"S-sehun, Sehun!" teriaknya.
Di lantai bawah sosok Park Chanyeol muncul di depan para polisi yang sudah mengepung dengan menodongkan pistol ke arahnya. Wajah lelaki itu tampak tenang walau anak buahnya sudah terkapar tak berdaya artinya tidak ada yang melindunginya lagi.
"Diman Choi Irene?" tanya Sehun.
Chanyeol tersenyum tipis.
"Aku tanya di mana Irene?" suara Sehun meninggi.
Sementara itu beberapa polisi menggeledah beberapa ruangan termasuk kamar Irene. Dengan segera gadis itu keluar dengan dituntun oleh salah seorang polisi.
"Irene!"
Sehun segera mendekatinya dan memeluk gadis itu.
"Kau tak apa? Apa ada yang sakit?" tanya Sehun khawatir.
Irene menggeleng pelan, gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada Sehun.
"Aku tak menyakitinya," suara Chanyeol membuat semua orang menatapnya termasuk Sehun.
Sehun mengernyitkan dahi. Ia mempererat pelukannya pada Irene kala dirasa tangn gadis itu meremas erat kemejanya.
"Kau tenang saja Oh Sehun, aku tidak menyakitinya sedikitpun," lanjut Chanyeol dengan senyuman tipis.
"Tangakap dia!" suruh Sehun kemudian polisi yang mengeoung segera memborgol Chanyeol.
Sedangkan Irene nampak lemas dan takut. Sehun kemudian menggendongnya ala bridal style. Ia harus segera membawa gadisnya ke rumah sakit.
***
Sehun menggenggam erat tangan mungil Irene. Mata gadis itu maaih terpejam. Dokter bilang keadaannya baik-baik saja dan hal itu membuat Sehun bernapas lega. Sehun berjanji tidak akan lengah lagi dalam menjaga Irene kali ini. Ia tak mau terjadi sesuatu yang membahayakan Irene seperti kejadian ini.
"S-sehun," lirih Irene.
Lelaki yang tengah menunduk itu kini menatap ke arah gadis yang terbarin i ranjang rumah sakit.
"Irene, kau sudah bangun. Ada yang sakit? Aku panggilkan dokter ya?"
Irene menggeleng pelan dan menahan tangan Sehun yang hendak beranjak. Sehun mengerti lalu kembali duduk di kursi samping tempat tidur Irene.
"Sehun,"
"Ya, sayang?" lelaki itu dengan setia menggenggam tangan mungil gadisnya.
"Bukan Park Seo Jeon yang menembak oppaku," kata Irene.
Sehun mengernyit mendengarnya. Hendak bertanya tetapi Irene terisak lebih dulu.
"Hikss,, Park C-chanyeol, d-di yang m-menembak o-ppa hiks...."
Bagai tersambr petir di siang hari Sehun sungguh terkejut mendengarnya. Park Chanyeol? Lelaki psikopat itu yang membunuh Choi Siwon?
"D-dia sendiri yang bilang padaku," lanjut Irene.
"Sial," umpat Sehun lalu beranjak.
"Sehun mau ke mana?" tanya Irene yang kini mencoba bangkit.
"Memberi pelajaran lelaki itu,"
"J-jangan! Hukum saja dia, aku mohon hiksss, j-jangan tinggalkan aku s-sendiri di sini hikss,"
Kalimat Irene membuat Sehun sadar. Ya, memang Chanyeol akan mendapat hukumannya nanti, itu pasti. Dan sekarang ia harus menjaga Irene lenih dulu.
"Maafkan aku, Rene-ah," ucap Sehun memeluk tubuh ringkih Irene.
"Hiksss,,," isak Irene.
***
Satu bulan kemudian...
Irene menghadiri persidangan yang akan menentukan hukuman yang diterima oleh sosok Park Chanyeol. Singkat saja pada akhirnya Chanyeol dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Irene menghembuskan napas lega.
Park Chanyeol yang memakai baju tahanan tengah digiring oleh polisi untuk kemudian dibawa ke rumah tahanan. Tak jauh dari itu Irene berdiri bersama Sehun menyaksikannya.
"Semua sudah berakhir. Jangan khawatir lagi," bisik Sehun.
Irene mendongak menatap Sehun di sampingnya. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk pelan.
***
Binar bahagia tak bisa hilang dari ajah Irene, bagaimana tidak sebab dokter Kim mengatakan bahwa ia rumah sakit telah menemukan donor jantung untuk dirinya. Sehun ikut tersenyum bahagia. Setidaknya setelah Irene operasi nanti ada kemungkinan gadis itu tak akan menolak lamarannya kesekin kali.
"Terima kasih banyak, dokter," ucap Irene.
"Ini sudah menjadi tugasku, nona Choi,"
Kemudian dokter Kim menatap Irene dan Sehun secara bergantian.
"Apa kalian tidak berencana untuk menikah secepatnya?" tanya Dokter Kim pada sepasang kekasih di depannya.
Irene mengerjapkan matanya, bingung dengan jawabn yang akan ia ungkap.
"Ah itu, y-ya kami akan memikirkannya. Yang terpenting kesembuhan Irene lebih dulu," jawb Sehun.
"Aku punya kenalan seorang pastur di sebuah gereja yang tak jauh dari Busan. Tepatnya di desa Gamcheon. Aku sering pergi ke sana jika libur. Aku hanya memberi saran saja pada kalian," kata Dokter berusia 40 tahun itu.
Irene tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, terima kasih informasinya, Dokter," ucap Sehun.
Kemudian Sehun dan Irene segera keluar dari ruangan bernuansa putih itu.
"Bagaimana?" tanya Sehun saat mereka berjalan di koridor.
Irene mengangkat sebelah alisnya.
"Dengan saran Dokter Kim,"
"A-ahh i-itu emm....
"Aku harap kau tidak menolaknya kali ini," kata Sehun.
***
Seminggu sebelum operasi dijadwalkan, Irene memutuskan untuk menerima lamaran Sehun. Artinya mereka benar-benar akan menikah di sebuah gereja di Desa Gamcheon. Kini Irene berada di perjalanan tentu saja bersama Sehun yang kini menyetir mobil miliknya.
Sedari tadi Sehun tak hentinya menggenggam tangan gadisnya sesekali mengecupnya. Irene tersenyum melihat perlakuan calon suaminya. Permikahan mereka hanya akam dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja. Keluarga Sehun akan menyusul mereka nanti.
"Fokuslah pada jalan, Sehun," ucap Irene.
Sehun terkekeh mendengarnya. Saat melewati jalanan dengan pepohonan di kanan-kirinya tiba-tiba Sehun mengerem mendadak. Ia dikejutkan oleh sosok yang tergeletak di tengah jalan.
"Astaga ada apa?" Irene terkejut pasalnya ia hampir saja membentur kaca.
"Sepertinya ada yang tidak beres. Kau tunggu di sini saja, jangan turun, oke?"
Irene mengangguk paham. Sehun mengeluarkan pistol miliknya yang ia simpan di dashbor mobil kemudian memasukkannya ke saku belakang celananya. Lelaki itu turun dari mobil dan melihat sosok pria terkapar di depan mobilnya. Irene merasa jantungnya berdegup kencang saat ini. Ia pikir kenapa ada orang yang pingsan di tengah jalan sepi sendirian.
Dengan perlahan Sehun mendekati sosok yang tak sadarkan diri di tengah jalan berniat hendak memeriksanya.
DORRR
Irene terkejut bukan main mendengar suara tembakan yang memekakan telinga. Jantungnya berkali-kali berdegup kencang manakala melihat Sehun yang terduduk di jalan.
"Sehun!!!!!!" teriaknya.
Ia segera keluar dari mobil melihat punggung kekasihnya tertembak. Namun saat hendak menghampiri Sehun sebuah tangan kekar menariknya.
"Sehun!!!!" teriaknya.
Sehun yang meringis kesakitan menoleh mendapati Irene di sekap oleh pria bertubuh besar. Jika Sehun tidak salah menduga pasti itu orang-orang Park Chanyeol.
"I-irene..." lirihnya.
Seorang pria dengan pistol di tangannya datang entah dari mana menghampiri tempat kejadian itu.
"Detektif Oh," ucapnya.
"S-siapa kau?"
"Kau tak perlu tahu siapa aku," balas pria itu tersenyum miring.
"Apa maumu?" tanya Sehun menahan sakit di punggungnya. Bahkan darah sudah menetes dari sana.
"Gadis itu," tunjuk sang pria.
Irene yang mendengarnya meronta-ronta minta dilepaskan. Ia berusaha menginjak orang yang menahannya.
"Brengsek!" umpat Sehun.
"Berikan gadis itu padaku maka kau selamat,"
Sehun berdecih.
"Tidak akan pernah," balas Sehun.
DORRR DORRR
Tembakan kembali terdengar bukan hanya sekali tapi dua kali.
"Sehunnnnn!!! Hikss..."
Sehun tertembak di bagian perut tetapi juga berhasil menembak pria di depannya sehingga pria itu terduduk karena peluru menghunus kakinya.
"Detektif Oh sialan!" umpat pria itu bersiap menarik pelatuknya lagi.
Sehun sudah tidak kuat lagi sejujurnya. Darah merembes keluar dari perutnya dan rasanya sangat ngilu. Ia masih memegang pistol miliknya.
Namun, belum sempat si pria tadi menekan pelatuknya entah kekuatan dari mana Irene berhasil lepas dari cekalan penjahat lalu segera berlari ke arah Sehun.
DORR DORR DORR
Bukan, bukan Sehun yang menjadi sasaran si pria tadi tetapi Irenelah yang kini tertembak sebanyak tiga kali. Sehun terkejut menyaksikan kejadian tepat dihadapannya.
"Irene-ah!"
Bruk
Tubuh Irene terjatuh di pangkuan Sehun.
"I-irene... I-irene,"
Irene mencoba menahan sakit di jantungnya yang tertembak tapi tidak bisa, ini sangat menyakitkan.
"S-sehun..." lirih Irene pelan.
Air mata Sehun tumpah begitu saja melihat gadis yang amat ia cintai terbaring lemas di atas pangkuannya.
"S-sehun...."
"Irene-ah j-jangan! J-jangan pergi sayang!"
Dengan sisa tenanganya Irene mencoba berbicara walau sulit. Tangan gadis itu mencoba meraih wajah Sehun walau keduanya kini sudah dilumuri darah mereka sendiri. Sehun menggenggam tangan Irene yang mmebelai pipinya.
"S-sehun a-aku m-mencin-taimu..."
Tangan Irene melemah, diikuti seluruh tunuh gadis itu. Perlahan jantungnya berhenti berdetak.
"Irene-ah hiksss aniya, j-jangan tinggalkan a-aku sayang hiksss...."
Sehun memeluk erat tubuh Irene dengan sisa tenanga yang ia miliki. Menghiraukan rasa sakit di punggung dan perutnya.
"Pasangan tragis," gumam pria penembak tadi yang menyaksikan adegan di depannya.
DORR DORRR
Suara tembakan itu mengakhiri segalanya. Dua buah peluru kembali menghunus tubuh Oh Sehun di dada bagian kirinya.
"Kita adalah sepasang kekasih, sepasang kekasih yang akan saling merindukan sekalipun di kehidupan selanjutnya,"
Kalimat yang selalu diucapkan Irene terngiang jelas di benak Oh Sehun.
"Ya, kita memang sepasang kekasih, Rene. Sepasang kekasih yang akan saling merindukan,"
***
Di lain tempat seorang lelaki dengan pakaian tahanan tampak merenung. Matanya melihat ke arah luar jendela sebelum kembali menatap sebuah kursi yang berada tak jauh darinya. Perlahan ia berjalan menuju kursi berwarna cokelat yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sebuah kertas yang terlihat sedikit usang. Setelah puas menatap tiga kalimat di dalamnya ia menjatuhkan kertas itu sembarangan ke lantai. Perlahan ia berdiri di atas kursi dan menarik tali yang sudah ia ikat.
BRARKKK
Suara kursi terbalik terdengar cukup keras membuat penjaga di luar mengecek ke dalam.
"Ya Tuhan! Pak Park Chanyeol menggantung dirinya!"
"Jika aku tak bisa memilikimu maka tak ada orang lain yang bisa memilikmu juga,"
Choi Irene, saraghae....
***
END
Hai hai gimana?
Kurang panjang gak? Ini udah 4.400an kata btw 😂😂
Semoga kalian suka ya gaisss
Ini emang cerita terinspirasi dari drama korea tapi dibuat beda meski endingnya semua mati.
Oke deh jangan lupa VOTE COMMENT nya gaissss
Silakan kalo ada kritik saran, terbuka kok.
Thank u.....