Backsound : Chanyeol - One more time one more chance
_Love Hurt - 43 -
🍂🍂🍂
"Dimana istriku Sehun.."
lirih Chanyeol sekali lagi dengan tatapan sendunya membuat Sehun kembali berhela nafas panjang, lalu ia pun menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit di artikan.
'Apa hyung mengingat Baekhyun hyung?'
"Sebaiknya kita masuk lebih dulu hyung."
Chanyeol mengangguk lemah lalu melangkah memasuki apartemen sang adik. Saat langkah membawanya menuju ruangan tengah Chanyeol melihat sosok Luhan yang duduk di sofa seraya memandang meja dihadapannya dengan sendu.
"Luhan-"
Ketika namanya disebut lantas ia mendongak untuk menatap orang yang memanggilnya. Luhan menahan nafas sesaat melihat Chanyeol yang berdiri dihadapannya saat ini, jujur selama Chanyeol sadar dari masa komanya, Luhan tidak pernah sekalipun datang menjenguknya karena ia memang tak mau bertemu dengan Chanyeol yang menjadi sebab adiknya pergi.
Luhan berdiri lalu segera berjalan ke arah Chanyeol dengan cepat.
Plak!
"Lu!"
Mata Sehun terbelalak saat ia melihat kekasihnya melayangkan satu tamparan di pipi Hyungnya.
"Kau mengingatku?" Tanya Luhan dengan suara bergetar.
Wajah Chanyeol masih menoleh kesamping akibat tamparan dari pria mungil di hadapannya, ia bahkan tidak tau kenapa ia mendapatkan itu?
"Kau mengingatku sedang kau melupakan adikku!!" pekik Luhan
"Lu!" Sehun meninggikan suaranya karena menahan emosi.
"Kau melupakan penderitaan adikku Park Chanyeol!!" air mata Luhan kembali mengalir,
"Bagaimana caranya kau mencari Baekhyunku!!"
"Luhan Hyung!!" bentak Sehun membuat Luhan terkejut karena pertama kali bahkan ia baru mengetahui Sehun bisa meninggikan suaranya.
"ka-kau, membentak ku.." Luhan menggeleng pelan seraya menatap Sehun dengan mata yang penuh air mata.
"Lu, kita sudah membicarakan hal ini bukan? kita akan mencari Baekhyun hyung bersama-sama, ku mohon tolong tahan-"
"Bae..baekhyun.."
Chanyeol berbisik pelan lalu menoleh menatap Luhan dengan kedua mata yang terbelalak seakan terkejut. Sehun pun menatap Chanyeol saat hyungnya menyebut sang istri.
"A-apa..Bae..baekhyun..adalah- I..istriku..?" Tanya Chanyeol dengan suara yang bergetar, hatinya terasa begitu nyeri saat nama itu terus disebut sedaritadi.
Luhan kembali menoleh kearah Chanyeol dan sedikit terkejut karena melihat air mata Chanyeol serta tatapan luka dalam kedua mata bulat tersebut, entahlah, namun Luhan merasakannya.
"Aku mohon.." Bisik Chanyeol masih dengan tatapannya kearah Luhan.
"Bisakah kau bantu aku untuk mengingat semuanya.." Air matanya terus mengalir,
Bahu Luhan bergetar karena menahan isakannya, dengan sigap Sehun memeluk tubuhnya erat dan mengusap punggungnya lembut, tangisnya pun menjadi pecah.
"Aargghh! hiks..hiks.." Luhan menangis keras dipelukan Sehun, ia melupakan janjinya untuk tidak menangis lagi, namun nyatanya Chanyeol yang membuatnya kembali lemah.
Chanyeol terpaku melihat Luhan yang menangis, apakah separah itukah perlakuan dirinya? sebrengsek itu kah dirinya?
Pandangan Chanyeol menurun menatap pijakan dengan gumpalan air mata di bawah matanya sehingga penglihatannya menjadi buram.
Gigi atasnya menggigit bibir bagian dalamnya dengan keras menahan isakan yang ingin keluar dari kedua belah bibirnya.
"Bae..khyun.." bisiknya yang tak didengar oleh kedua pria didepannya.
Ternyata nama itu yang selalu terngiang dikepalanya, nama itu yang membuatnya gelisah selama ini, nama itu yang membingungkan dirinya, mengapa ia merasa sesuatu telah menghilang dari bagian dirinya, saat mendengar nama itu, Baekhyun.
Baekhyun..
Apa yang telah aku lakukan padamu..
Sehun kemudian melirik Chanyeol yang menunduk dengan air mata yang jatuh, ia menghela nafas lalu berbisik pelan pada Luhan,
"Lu, bisakah kau ke kamar dulu? aku akan menyusulmu nanti."
Sehun mengusap lembut belakang rambut Luhan seraya menepuknya pelan. Lalu ia mengecup kening kekasihnya untuk membuatnya lebih rilex,
"Apakah aku sejahat itu?" Sahut Chanyeol berbisik dengan mengangkat wajahnya perlahan.
bibir tebalnya bergetar pelan saat menatap Luhan yang beralih menatapnya dengan air mata yang mengalir.
"Apakah aku.."
Satu tangannya mengepal erat, tatapannya kali ini menjadi terlihat seakan ia tengah terluka dalam.
"Apakah aku berlaku tak baik pada istriku.." ucapannya bergantung
"Sehun-ah, tolong beritahu semuanya yang tidak aku ketahui, aku mohon.."
Luhan menatap Chanyeol dengan pandangan yang seakan tengah menilai sikap pria tinggi itu.
"Luhan-"
Luhan segera mengalihkan wajahnya ke belakang Sehun saat Chanyeol ingin berbicara dengannya sehingga Chanyeol terpaku sesaat mendapat respon tersebut.
"Baiklah, Lu. kau bisa masuk ke kamar dulu, kau harus tenangkan pikiranmu."
'Apa yang mereka lakukan..' batin Chanyeol namun ia pikir ini bukan yang tepat untuk menanyakan hal itu.
Luhan pun melepas pelukan lelakinya, ia melangkah lunglai ke arah kamar Sehun, sampai ia memasuki ruangan itu Sehun pun tetap mengawasinya.
Blam
"Hyung, sebaiknya kita duduk dulu." Sehun segera melangkah cepat ke sofanya lalu duduk dengan sedikit cemas, diikuti oleh Chanyeol yang seakan telah putus asa.
"Jadi, apa hyung sudah mengingatnya?" tanya Sehun.
Chanyeol mendongak lalu menatap Sehun seraya menghela nafas pelan.
"Aku hanya mendengar sebuah nama yang tak asing Sehun. Aku.."
Telapak tangan Chanyeol menyentuh bagian dadanya dan berusaha keras untuk tidak kembali mengalirkan air matanya.
"Aku merasa sesak tiap kali mengingat nama itu Sehun, Baek..ah tidak, kalian menyebutnya Baekhyun bukan?" Lirih Chanyeol saat diakhir menyebut nama itu.
Sehun kembali menghela nafas dan mengerjabkan kedua matanya cepat, ia begitu bimbang saat ini karena apakah ia harus menjelaskan tentang Baekhyun pada Chanyeol? tapi jika di ingat kata Dr.Kim, Sehun menjadi ragu untuk melakukannya.
"Sehun, apa benar aku memiliki istri dan dia adalah Baekhyun..?" Tanya Chanyeol dengan perlahan.
Tek
Chanyeol meletakkan cincin perak diatas meja kaca milik Sehun seraya menatapi cincin itu.
"Ini miliknya kan? jikapun ini milikku, cincin itu tak muat pada jariku.." Bisik Chanyeol tak mengalihkan pandangan dari cincin itu barang sedetik saja.
"Dan lagi aku memiliki cincin yang sama pada jariku saat ini-" Ucapannya menggantung lalu pandangannya beralih ke cincin yang ia pakai saat ini.
Chanyeol terdiam sejenak memandangi cincin yang ia kenakan saat ini di jari manisnya.
'Kapan kau akan melepas cincin ini Chanyeol.'
'Tunggulah beberapa waktu lagi sayang, aku akan segera melepas cincin ini dan memakai cincin pernikahan kita.'
'benarkah?'
'tentu saja, apa kau tak mau?'
"Aakkhhh..." Chanyeol meringis perlahan sembari meremas rambutnya karena merasa kepalanya mulai sakit kembali.
'Tentu saja aku mau!'
'Hahaha'
Chanyeol menggeleng cepat sembari memukul kepalanya berulang kali, Sehun sedari tadi sudah sigap memegangi pundak Chanyeol.
"Aarrghh!! Pergi!!" teriak Chanyeol
Bruk
Chanyeol kehilangan keseimbangan lalu terjatuh meringkuh dilantai seraya terus berteriak dan kesakitan.
"Astaga-"
Luhan yang mendengar suara kegaduhan pun akhirnya keluar kamar lalu mendekat kearah Sehun yang panik melihat Chanyeol.
"Lu, aku mohon siapkan mobil, kita akan ke rumah sakit." Ujar Sehun menatap Luhan dengan tatapan memohonnya.
Luhan mengatur nafasnya dengan menatap Chanyeol yang meringkuh dilantai dan meringis diiringi oleh isakan.
"Ba-baik." Luhan segera berlari ke keluar Apartemen untuk menyiapkan mobil yang diminta Sehun.
Persetan dengan rasa bencinya terhadap Chanyeol, Luhan masih memiliki hati nurani untuk tidak membiarkan seseorang tengah sekarat. Lagipula, Chanyeol lah yang harus bertanggung jawab atas hilangnya Baekhyun, jadi ia harus sembuh dari penyakit aneh itu bukan?
🍂
Lagi-lagi Chanyeol terbaring diatas ranjang inap, ia menghela nafas seraya mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, ia telah berusaha mencoba untuk mengingat seseorang yang selalu menghampiri memori ingatnya. Namun ia sempat bingung, mengapa di apartemen Sehun yang ia dengar adalah suara wanita?
Siapa wanita itu? dan kenapa ia menjanjikan sebuah cincin pernikahan padanya?
Ceklek
Sehun memasuki ruangan Chanyeol diikuti oleh Luhan dibelakangnya yang hanya memberinya tatapan kosongnya.
"Hyung, kau sudah sadar? Ah, tadi kau pingsan di mobil saat perjalanan menuju ke-"
"Siapa wanita itu Sehun-ah.." Bisik Chanyeol masil menatap keluar
Sehun mengerutkan dahinya bingung, ia rasa ia tak membawa seorang wanita.
"Apa maksud mu Hyung?" Tanya Sehun seraya melangkah mendekati ranjang Chanyeol.
"Siapa wanita yang aku janjikan untuk ku pakaikan cincin Sehun-ah."
Chanyeol mengubah posisi menjadi duduk lalu menoleh kearah Sehun dan memandangi sang adik dengan tatapan sendunya.
Sehun dapat menangkap dengan jelas jejak air mata di pipi kanan Chanyeol.
"Wa-wanita? siapa maksud hyung-"
"Sunbin." Ujar Luhan.
Sehun terpaku saat Luhan menyebut nama itu, bertepatan pandangannya terus tertuju ke arah Chanyeol yang saat ini beralih menatap Luhan disamping Sehun.
"Wanitamu, Sunbin."
Anehnya saat Luhan mengatakannya, ia tak menampilkan ekspresi apapun, biasanya ia akan mengatur nafas untuk menahan amarahnya, namun kali ini tidak.
"Su-sunbin.."
Dengan perlahan pandangan Chanyeol menurun menatapi lantai, kenapa nama itu sedikit membuatnya merasa hampa, bukan karena alasan nama itu namun seakan nama itu yang membuatnya menjadi hampa?
Ada setitik rasa yang tak nyaman saat mendengar nama itu, seakan..
ia tak mau mendengarnya
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan? aku akan menjawabnya." Ujar Luhan lagi dengan pelan.
"Lu,"
"Diamlah Sehun, aku bermaksud baik untuk membantu Chanyeol mengingatnya, kau lupa dengan apa yang Dr.Kim katakan tadi?" ucap Luhan tanpa menatap Sehun dan terus memandang Chanyeol yang menatap kearah bawah.
"Tapi ini terlalu cepat Lu, kita biarkan Chanyeol hyung beristirahat dulu. Hyung sebaiknya kau istirahat, jangan terlalu memikirkan hal itu, aku akan mengantar Luhan pulang terlebih dahulu."
"Apa-"
Sehun segera menarik tangan Luhan dan membawanya untuk keluar dari ruang inap Chanyeol. Membiarkan pria tinggi itu tetap melamun dengan berbagai macam memori ingatannya yang saat ini tengah berkecamuk di kepalanya.
"Siapa Sunbin-"
Chanyeol menggeleng pelan lalu menangkup kepalanya sendiri dan menunduk.
"Tidak mungkin.." Lirihnya
"Tidak.."
Bibirnya bergetar, Chanyrol menahan air matanya saat ia mulai berfikir jernih dan menerka lebih dalam sekarang, tentang apa yang ia lakukan selama ini.
"TIDAK MUNGKIN!!!" Jeritnya dengan suara bassnya yang begitu besar itu.
Buk
Buk
Buk-
Chanyeol memukul sisi ranjangnya dengan keras, isakan kembali keluar dari bibirnya, sisi telapak tangannya menjadi membiru akibat hantaman yang ia lakukan di sisi ranjangnya.
kedua tangannya kembali meremat rambutnya dengan keras, kedua kakinya menekuk seakan ia menahan depresinya, selang infus yang tertancap di punggung tangannya tak mampu menghalangi apa yang ia lakukan itu.
"Tidak.."
"Apa aku melakukannya.."
Bisik Chanyeol tak peduli air matanya jatuh mengenai selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
Tubuhnya pun semakin membungkuk dengan kedua tangan yang masih meremat rambutnya, tak peduli rambut hitamnya akan rontok atau tidak.
"Hiks.."
Isakannya mulai terdengar, bahunya gemetar pelan karena isakan tersebut.
🍂
Sehun menarik tangan Luhan hingga sampai parkiran Rumah Sakit,
Luhan segera memasuki mobil saat Sehun membukakan pintu mobilnya, begitupula dengan Sehun.
Sehun menghela nafas pelan lalu memainkan jarinya di stir mobilnya,
"Jika Chanyeol hyung sudah baikan, kita akan menjelaskannya," Ujarnya memecah keheningan.
Luhan hanya diam seraya mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Lu.." Sehun menyentuh jemari Luhan untuk meminta pengertiannya.
"Aku mengerti." Ujar Luhan singkat.
"Baiklah, aku akan mengantarmu-"
"Kerumah ku." potong Luhan dengan suara datarnya.
Sedang Sehun mengalihkan pandangannya dan menghela nafas sekali lagi, Luhan tengah merajuk.
"Baiklah, kau pasti merindukan Eomma Byun." Sehun melepas pegangannya pada jemari Luhan lalu menyalakan mesin mobilnya.
Sedang Luhan hanya diam tak menanggapi ucapan lelaki yang lebih muda darinya itu.
Drrtt
Drrtt
Sehun mengambil ponselnya di saku celana.
"Eoh Eomma,"
"..."
"Hyung baik-baik saja, hanya disarankan menginap sehari, besok akan pulang."
"..."
"Hm, aku mengerti."
"..."
"Aku sedang mengemudi Eomma, nanti ku telepon kembali, aku tutup."
Sehun menekan bulatan merah lalu meletakkan ponselnya di samping stirnya yang kosong.
"Lu, apa kau lapar? kau ingin makan dulu?"
"Chanyeol sedang menunggumu." Tanggap Luhan dengan sedikit malas.
"Besok aku akan menjemputmu, kau beristirahatlah, Oke?"
"Hm."
Sehun menyunggingkan senyum tipisnya melihat sikap merajuk kekasihnya, menggemaskan.
Skip
Mobil Sehun berhenti disebuah mansion mewah milik keluarga Byun, Luhan segera membuka pintu mobil dan keluar dengan langkahan yang cepat.
Sehun pun segera mengejar Luhan sampai memasuki mansion ia menarik tangan Luhan untuk masuk kedalam pelukannya.
"Aku bukan tak mau Chanyeol hyung mengingatnya, hanya saja melihat ia kesakitan tadi benar-benar membuatku tak tega Lu, tunggulah beberapa waktu lagi, oke?" ujar Sehun pelan.
"Maaf, aku yang memang tak sabaran saat Dr.Kim mengatakan jika Chanyeol ingin mengingatnya sangat baik jika kita membantunya untuk mengingatnya. aku hanya terlalu memikirkan Baekhyun.." Lirih Luhan.
"Aku yakin, Baekhyun hyung baik-baik saja, Lu. Baekhyun hyung adalag orang yang baik, ia pasti dikelilingi oleh orang yang baik saat ini, percayalah padaku.."
Sehun mengusap lembut rambut pirang Luhan dengan sesekali mengecupi keningnya.
'Aku harap apa yang aku katakan adalah kebenaran saat ini.'
🍂
Kyungsoo melihat hasil potret yang ada di tangannya saat ini. ia sesekali menghela nafas karena merindukan sosok yang ada di potret.
Grep
"Kau merindukanku?"
Kyungsoo memukul tangan Kai yang melingkar di perutnya,
"Apa kau belum mendapatkan informasinya?" Tanya Kyungsoo pelan seraya mengusap potret bagian lelaki yang sama mungil dengannya.
"Aku sedang berusaha sayang, Jongdae juga sedang berusaha, kau tau bukan Minseok dan Jaemin begitu merindukan Baekhyun, aku pun juga."
Kyungsoo menggeleng pelan lalu memejamkan matanya perlahan.
"Apakah Baekhyun hyung baik-baik saja? siapa yang akan menjaganya disaat ia tengah hamil.." Lirihnya
Jongin terdiam mendengar ucapan Kyungsoo, apa ia salah dengar? tapi-
"Apa maksud mu Kyung?"
Jongin melepas pelukannya lalu memutar pundak Kyungsoo agar ia menghadap kearahnya. Sedang Kyungsoo hanya diam dengan tatapan yang terkejut.
apa ia baru saja membuka rahasia Baekhyun pada tunangannya itu?
"E-eoh, apa?" Kyungsoo menatap ragu kearah Jongin yang saat ini mengerutkan dahi salah satu tanda bahwa ia tengah serius.
"Apa Baekhyun hyung Hamil?" tanya Jongin dengan cepat.
Kyungsoo menelan salivanya paksa, ia menurunkan pandangannya lalu menggigit bibir bawahnya, apa ia beritau saja Jongin tentang kehamilan Baekhyun?
Kyungsoo menghela nafas lalu mengangguk pelan seraya kembali menatap Jongin.
"Eoh, Baekhyun hyung tengah hamil saat ini Jongin.." lirih Kyungsoo
Jongin melepas genggamannya pada bahu Kyungsoo lalu memundurkan langkahnya, ia merasa linglung saat ini,
Baekhyun hamil?
Jongin menggeleng pelan, jadi selama ini Baekhyun menyembunyikan kehamilannya? itu kah alasan mengapa ia pernah bertemu dengan Baekhyun di minimarket dengan berdiri dihadapan rak susu ibu hamil?
"A-apa Chanyeol tau?" Jongin menatap Kyungsoo yang menghapus air matanya dengan jarinya.
Kyungsoo mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Da-dan dia tetap akan menceraikan Baekhyun hyung setelah tau apa yang terjadi pada Baekhyun hyung?" Bibir Jongin bergetar.
Kyungsoo kembali mengangguk pelan.
Jongin membuka bibirnya tak percaya dengan apa yang ia tau saat ini, ia menyisir rambutnya ke belakang seakan menahan teriakan.
Jadi Baekhyun lebih menderita dari yang ia tau selama ini?
Astaga betapa bodohnya kau Kin Jongin, dimana otakmu selama pria mungil itu ada disekitarmu? apa kau tak melihat tanda diperutnya yang begitu jelas terlihat semakin membesar?
itulah pikiran Jongin saat ini.
"Kenapa kau baru memberitauku Kyung, apa aku tak berhak mengetahuinya?" Ringis Jongin
"Aku bahkan mengetahui itu dengan tak sengaja Jongin, tidak ada yang mengetahui kehamilan Baekhyun hyung terkecuali aku dan Chanyeol."
Jongin terdiam dan hanya ingin mendengarkan penjelasan dari tunangannya itu.
"Baekhyun hyung sengaja tak ingin memberitau hal ini karena ia tak mau kebahagiaan Chanyeol hancur hanya karena perceraian ditunda, sebelumnya mereka membuat kesepakatan untuk bersama selama sebulan, aku yakin kau sudah tau itu bukan? oleh karenanya ia tak memberitau siapapun agar kehamilannya tak menghambat proses perceraian.." Pelan Kyungsoo dengan air yang terus mengalir.
"Bedebah, Saat ini Chanyeol telah melupakan Baekhyun hyung, seberapa banyak ia torehkan luka pada Baekhyun hyung namun dalam sekejab ia melupakan semua itu? kenapa Tuhan tak adil pada Baekhyun hyung.."
"Jadi aku mohon Jongin, temukan Baekhyun hyung.." Kyungsoo sedikit merengek dengan genangan air matanya.
Jongin mengangguk cepat,
"Aku akan lebih berusaha untuk mencari Baekhyun hyung, aku harap ia baik-baik saja."
Drrtt
Drrtt
Jongin mengambil ponselnya yang tersimpan disaku belakang celananya.
Sehun's Calling~
"Hallo Sehun."
"..."
"Benarkah? karena ia mengingat Baekhyun hyung?"
"..."
Jongin mendengar suara Sehun yang sepertinya tengah menjelaskan sesuatu.
"Lalu bagaimana dengan Luhan hyung saat ini?"
"..."
"Baiklah jika begitu, aku akan kesana."
"..."
"Hm, aku tutup."
Jongin menjauhkan Ponselnya lalu menatap Kyungsoo.
"Chanyeol mengingat nama Baekhyun hyung, Kyung."
"A-apa?"
"Kita harus kesana melihat keadaannya."
Kyungsoo mengangguk lalu menghapus air matanya dengan cepat.
"Aku mengganti pakaianku dulu."
Jongin hanya mengangguk pelan menanggapinya.
Skip
Ceklek
Jongin memasuki ruangan kamar bernomor 14, saat masuk kedalam ia melihat Sehun yang duduk dikursi samping ranjang Chanyeol, pria tinggi itu tengah tertidur.
"Eoh kau sudah datang?"
"Hm, bagaimana keadaannya?"
"Dr.Kim mengatakan jika ia yang menginginkan untuk mengingat sesuatu maka aku harus membantunya untuk mengingatnya."
"Baguslah dengan begitu ia akan mengingat Baekhyun hyung dan harus pergi untuk mencarinya." Ujar Kyungsoo.
Sehun hanya terdiam menanggapi ucapan Kyungsoo dan hanya memandangi Chanyeol yang tengah tertidur.
"Aku melihat telapak tangannya membiru," ucap Sehun.
"Apa?"
"Ketika ia mengalami sakit kepala yang begitu hebat, ia akan terjatuh meringkuh ke lantai lalu memukul-mukul lantai dengan genggaman telapak tangannya, mungkin itu yang mengakibatkan telapak tangannya membiru." jelas Sehun dengan kalimat singkat.
"Sungguh menyedihkan." singkat Jongin.
"Sepertinya ia mulai mengingat Baekhyun hyung." ujar Sehun
"Walau hanya sebatas nama dan suara.." lanjut Sehun.
Ucapan Sehun adalah yang terakhir terdengar sebelum keheningan mulai menyergab.
'Kau harus mengingat semuanya Chanyeol, kau harus merasakan penyesalan yang begitu dalam, kau harus merasakan sakit ketika rasa bersalah itu menghampirimu, kau harus..'
Jongin terus menatap Chanyeol yang tengah tertidur dengan satu kepalan tangannya, ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang Chanyeol pikirkan sebelum ini.
Bagaimana mungkin pria ini tetap akan menceraikan istrinya yang sudah jelas ia tau bahwa istrinya tengah hamil? apakah otaknya telah ditutupi oleh Cinta yang begitu gelapnya?
Dan lagi kecelakaan itu akibat Chanyeol mencari Baekhyun? jadi semua ini salah Baekhyun? persetan, ini semua memang pantas untuknya. ( Saat oprasi dokter mengatakan jika Chanyeol terus menggumamkan nama Baekhyun )
Saat ia mengingatnya, ia akan merasakan apa yang seharusnya ia rasakan sejak Baekhyun menghilang, ya, Chanyeol harus merasakan apa yang Baekhyun rasakan dulu, tidak, Chanyeol harus merasakan sakit yang lebih dari Baekhyun. Jongin yakin jika Tuhan saat ini tengah merancang semuanya dengan apik, ya, Jongin yakin itu.
"Apa orang tua mu sudah tau prihal Chanyeol saat ini?" Suara Jongin memecahkan keheningan untuk beberapa saat.
"Hm, sudah, mereka hanya khawatir jika keadaan Chanyeol hyung bertambah buruk." jawab Sehun pelan.
"Sehun-"
"Apa Chanyeol mengingat tentang Sunbin?" Lanjut Kyungsoo.
"Ah, aku belum memberitau kalian, Hyung mengingat sesuatu sebelum kami membawanya kemari, aku juga tak tau ia mengingat apa namun saat ia sadar, ia bertanya padaku siapa wanita yang ia janjikan untuk ia pakaikan cincin kelak. Aku berfikir mungkin ingatan yang muncul tadi adalah tentang dirinya dan Sunbin." Jelas Sehun
"Jadi ia melupakan Sunbin juga?" Tanya Jongin
"Sepertinya begitu, entahlah mengapa yang ia lupakan hanyalah sebagian dari permasalahan hatinya, setelah yang lainnya ia mengingat semuanya." Sehun menghela nafas karena merasa heran.
"Tapi ia hanya mengingat peran kita saja, kita belum tau apakah ia mengingat seluk beluk tentang kita bukan?" ujar Jongin.
"Ah, kau benar Jongin." Sehun membenarkan ucapan sang sahabat.
"Tapi beruntungnya ia masihlah sama seperti sebelumnya tentang pekerjaan di perusahaan." sahut Jongin lagi.
"Hm, kau benar." Sehun sedikit menaikan ujung bibirnya seraya menggelen pelan.
'Jadi Chanyeol juga melupakan Sunbin..' batin Kyungsoo
"Dan lagi kenapa Kyungsoo hyung berhenti dari perusahaan?" tanya Sehun heran.
"Kau ini bodoh atau apa? cepat atau lambat ia akan menjadi istriku, aku tak mungkin membiarkannya lelah bekerja, lagipula kekayaanku sudah cukup untuk menghidupinya, benar kan sayang?"
"Ck, pandai sekali kau merangkai kalimat Kim Jongin-ssi."
"Hei sudahlah, aku yang bertanya kenapa kalian menjadi ribut? Chanyeol hyung sedang istirahat sebaiknya kita keluar terlebih dahulu, ayo."
Sehun berdiri lalu membenarkan selimut Chanyeol, setelahnya ia beranjak pergi meninggalkan dua sejoli itu.
"Sejak kapan Sehun menjadi romantis pada Hyungnya sendiri?"
Kyungsoo segera beranjak pergi mendahului Jongin saat mendengar kalimat itu dari tunangannya, membuat Jongin menampilkan wajah datarnya.
🍂
Kyungsoo melihat keluar jendela dimana dibawah sana terlihat jalan raya yang di buat untuk mereka yang berkendara. Entah apa yang ia pikirkan namun tatapannya mengatakan jika ia tak benar menatapi jalanan itu.
"Sehun-ah, kenapa Baekhyun sangat sulit ditemukan? apa ia tak merindukan yang disini?" ujar Kyungsoo pelan.
"Setidaknya ia beritau kita kemana ia akan pergi, tapi kenapa ia pergi begitu saja?" lirih Kyungsoo.
"Haahh, aku pun juga tak mengerti mengapa Baekhyun hyung begitu sulit untuk dicari hyung, apakah ini berupa hukuman darinya karena kita tak pernah membantunya? kita selalu membiarkan ia menderita-"
"Tidak Sehun-ah, itu keinginan Baekhyun, ia melakukannya karena ia memiliki sebuah alasan."
"Dan itu karena ia begitu mencintai Chanyeol hyung yang begitu brengsek." Bisik Sehun.
"Namun si brengsek itu mencintai orang lain yang sebenarnya tak pantas ia perjuangkan." Sahut Jongin seraya merangkul Kyungsoo dari samping.
"Tentang Sunbin, aku begitu bersyukur jika anak yang dikandungnya bukan anak Chanyeol hyung,"
"Hm, itu sesuatu yang melegakan." Ujar Jongin.
"Kenapa Chanyeol hanya melupakan Baekhyun hyung dan Sunbin?" Heran Kyungsoo seraya mengerutkan dahinya.
"Aku pun juga heran tentang itu, apa yang Tuhan rencanakan untuk Chanyeol hyung.." Sehun menghela nafas pelan.
---
Chanyeol membuka kedua matanya perlahan saat merasakan sinar matahari masuk kedalam retina mata bulatnya, ia mulai mengerjabkan matanya untuk membiasakan sinar tersebut.
"Hyung kau sudah bangun?"
Chanyeol menoleh kesumber suara dan melihat Sehun yang tengah membereskan keperluan Chanyeol semalam.
"Hari ini kau pulang, kau tau? eomma sangat khawatir padamu."
Chanyeol hanya diam menanggapi ucapan Sehun, ia beralih duduk diranjangnya lalu memijat pelipisnya pelan.
"Bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Chanyeol
"Semua baik-baik saja hyung, hanya saja ada beberapa masalah dengan klien di China tepatnya di Beijing, mereka sepertinya kurang puas dengan hasil rapat kemarin. Sepertinya kau harus mengurusnya hyung, aku ingin saja membantu namun aku belum ahli dalam hal ini." Jelas Sehun dengan kalimat singkatnya.
"Begitukah?"
Chanyeol terlihat berfikir sejenak lalu ia meraih ponselnya di meja dan menelpon seseorang.
"Sekretaris Jo, Pesankan tiket penerbangan ke Beijing sekarang, aku sudah mendengar prihal Perusahan Xiao,"
"..."
"Hm, kau juga bersiaplah."
"..."
Chanyeol segera mematikan ponselnya setelah mendengar jawaban dari Sekretaris Jo.
"Hyung, kau bahkan baru saja keluar dari rumah sakit." heran Sehun
"Aku sudah merasa lebih baik, jika kau khawatir, ikutlah denganku."
Chanyeol segera beranjak lalu membenarkan pakaiannya. Sedang Sehun nampak berfikir, pasti tidaklah sebentar disana karena ini urusan bisnis.
"Baiklah aku ikut, itung-itung mencari pengalaman agar aku paham dalam berbisnis." putus Sehun lalu melanjutkan membereskan barang Chanyeol.
---
Chanyeol memasuki kamarnya dengan menenteng sebuah tas yang tak besar, ia meletakkan tas itu lalu berbaring di ranjangnya dengan terlentang.
sejenak ia memejamkan matanya lalu merogoh saku celananya dan meraih cincin yang sempat dikembalikan oleh Sehun.
Tangannya terangkat untuk melihat cincin itu dengan pandangan sendunya.
"Apa aku telah membuat kesalahan?" bisiknya entah pada siapa.
Chanyeol beranjak dari ranjangnya lalu mendekati nakas untuk mengambil kotak cincin yang menjadi tempat cincin yang ia pegang saat ini. Kemudian ia meletakkan cincinnya dengan apik, sebelum menutupnya ia sempat mengusap cincin itu pelan.
🍂
Saat di bandara Chanyeol dan Sehun duduk di kursi yang tersedia untuk menunggu penerbangan selanjutnya, Sehun pun menyempatkan diri untuk menelfon Luhan,
"Halo Lu,"
"Kau mengingkari janjimu."
"Maaf Lu, bukan aku mengingkari, ada urusan mendadak dari perusahaan, ada masalah dengan klien Beijing dan kami harus kesana untuk menyelesaikan semuanya. Aku tak mungkin membiarkan Chanyeol hyung pergi sendiri bukan?"
"Terserahmu sajalah." ketus Luhan
"Sayang, jangan marah hm? aku akan membelikan sesuatu untukmu, bukankah kau ingin boneka rusa? aku akan membelikanmu disini, bagaimana?"
"Kau sangat menyebalkan Park Sehun!"
Sehun yakin saat ini pasti Luhan tengah memajukan bibirnya.
"Ya ya ya, aku juga sangat mencintaimu Lu." Sehun terkekeh pelan.
"Apa-apaan kau ini, sungguh bodoh."
"Sepertinya penerbanganku akan segera tiba, aku akan menelfonmu kembali, jaga dirimu baik-baik hm?"
"Kau juga, awas saja kau tidak segera menelfonku saat sampai!"
"Iya sayang, aku tutup ya? Aku mencintaimu."
"Hm, aku juga."
Sehun segera menjauhkan ponselnya dari telinga lalu mematikan sambungan, senyuman masih tersungging di bibirnya.
"Dari Luhan?" Tanya Chanyeol
"Iya hyung, kenapa?"
"Kau memanggilnya dengan sebutan sayang?" Sehun melihat kerutan didahi Chanyeol.
Sehun terdiam sejenak lalu mengerjabkan matanya cepat mencoba mencerna sesuatu.
"Kalian memiliki hubungan?" Ekspresi Chanyeol kali ini terlihat begitu bingung dan juga heran, ia seakan berkata 'apa kau bercanda?'
Saat Sehun ingin menjawab ucapan Chanyeol, tiba-tiba pengumuman penerbangan terdengar begitu keras di telinganya.
"Kita bicarakan ini nanti Sehun, ayo bersiap." Chanyeol segera beranjak dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Sehun yang terdiam.
Skip
Chanyeol dan Sehun berada di ruang VIP, merekapun segera duduk dengan Sekretaris Jo yang duduk dibelakang merekan.
"Aku merasa lelah."
Chanyeol menyandar pada kepala kursi lalu memejamkan matanya, Sehun yang ingin bertanya lebih lanjut tentang apa yang mereka bicarakan tadipun mengurungkan niatnya.
"Tidurlah Sehun,"
"A-ah, Ya hyung." Sehun menjawab dengan gugup lalu ikut menyandarkan punggungnya pada kursi.
'benar yang dikatakan Jongin, Chanyeol hyung tidak mengingat lebih dalam tentang kami.'
'Apa di ingatan barunya ini ia juga membenci kaum Gay? entah kenapa ekspresinya sungguh terlihat jelas tadi.'
Sehun mulai merasa cemas, apakah Chanyeol akan kembali membenci Baekhyun setelah tau istrinya adalah seorang Pria?
Bagaimana saat ingat nanti, Chanyeol menolak untuk mencari Baekhyun namun beralih mencari Sunbin? karena yang ia tau Sunbin mengandung anaknya bukan anak Taejoon.
Apakah Tuhan setega itu pada Baekhyun? jika memang itu terjadi Sehun tentu tidak akan diam seperti yang lalu-lalu.
Sehun menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya perlahan, memikirkan itu semua mampu membuatnya merasa mengantuk.
🍂
Suara bising begitu terdengar jelas di bandara China, banyak warga China yang berlalu lalang dengan menyeret koper-koper mereka.
Chanyeol melangkah seraya memakai kacamata hitamnya, dengan beberapa orang yang berpakaian hitam tengah menyeret koper-kopernya dibelakangnya saat ini.
Chanyeol menunduk untuk memainkan ponselnya yang ternyata saat ini tengah berkirim pesan dengan Eomma Park.
Namun entah mengapa tiba-tiba sesuatu menabrak dirinya sehingga ponsel hitamnya terlepas dari tangannya yang besar.
Prak
Dengan reflek Chanyeol semakin menunduk melihat ponselnya yang terjatuh.
" Duìbùqǐ xiānshēng!! "
"Baixian cepatlah!! Kris ge sedang menunggu!!"
"Ya tunggu aku."
Chanyeol menoleh kearah seseorang yang baru saja menabraknya,
'Suara itu'
"Astaga aku membuatmu berlari, maafkan aku Baixian perutmu tidak apa kan-"
"Iya tidak apa, Zi."
Chanyeol membuka kacamatanya dan terus menatap punggung sedikit lebar itu dalam rangkulan pria tinggi disampingnya. Ia terpaku beberapa saat sebelum suara Sehun menyadarkan dirinya.
"Hyung, kau baik-baik saja? apa aku terlalu lama di toilet?"
Sehun tak sengaja melihat kebawah lalu mata sipitnya mendapati ponsel Chanyeol yang tergeletak di lantai.
"Eoh hyung, ponselmu kenapa bisa jatuh?" Sehun meraih ponsel Chanyeol lalu membersihkan debu dari layar ponselnya.
Sedang Chanyeol terus menatap kearah yang sama tanpa memperdulikan ucapan Sehun.
"Hyung-"
"Suara itu Sehun.." Ujar Chanyeol memotong ucapan Sehun.
"Suara? kau kembali mendengar suara-suara itu hyung? kali ini apa?" Cemas Sehun.
Chanyeol menyentuh dadanya dengan telapak tangannya, matanya memanas, ia kembali merasakan sesak itu.
"Hyung sebaiknya kita cepat ke Hotel, kau harus beristirahat."
Sehun menarik lengan Chanyeol pelan yang beruntungnya sang empu hanya mengikuti saja.
'Suara itu..'
•
•
L
O
V
E
•
•
H
U
R
T
•
•
T
B
C
•
•
bagaimana?
Maaf baru bisa up, jaringan kurang mengenakan, aslinya mau di up malming kemarin tapi karna jaringan lemot akhirnya gue perpanjang:v dan ter up lah malem selarut ini :v
hayoloh siapa yang begadang sampe dapet notif dari gue:'
moga kalian menikmati nextnya ini ya:v see u next Chap~
_Chanbaekrealpark-