DO.NA [End]โœ“

Por sssnnn28

166K 15.7K 1.2K

Cinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam k... Mรกs

1. DO.NA
2. DO.NA
3. DO.NA
4. DO.NA
5. DO.NA
6. DO.NA
7. DO.NA
8. DO.NA
9. DO.NA
10. DO.NA
11. DO.NA
12. DO.NA
14. DO.NA
15. DO.NA
16. DO.NA
17. DO.NA
18. DO.NA
19. DO.NA
20. DO.NA
21. DO.NA
22. DO.NA
23. DO.NA
24. DO.NA
26. DO.NA
25. DO.NA
27. DO.NA
28. DO.NA
29. DO.NA
30. DO.NA
31. DO.NA
32. DO.NA
33. DO.NA
34. DO.NA
35. DO.NA
36. DO.NA
37. DO.NA
38. DO.NA
39. DO.NA
40. DO.NA
41. DO.NA
42. DO.NA
43. DO.NA
45. DO.NA
44. DO.NA
46. DO.NA
47. DO.NA
48. DO.NA
49. DO.NA
50. DO.NA
51. DO.NA
52. DO.NA
53. DO.NA
54. DO.NA
55. DO.NA [END]

13. DO.NA

2.9K 291 12
Por sssnnn28


Tampak Yuna tengah menunggu angkutan umum di halte. Dengan mengeratkan tasnya sambil tengok kanan kiri.

Di sebrang sana, Yuna melihat Imel dan Wiesda tengah menatapnya dengan tajam seolah membunuh. Yuna dengan cepat menunduk. Yuna takut jika mereka berdua memata-matai nya lalu melaporkan kepada Kila.

"Hei!"

Yuna terperanjat kaget saat pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang. Yuna lantas menghadap ke belakang melihat siapa orang yang telah membuat jantungnya hampir copot.

Yuna melihat senyuman dari bibirnya. Yuna ikutan tersenyum saat ada perempuan yang mau dekat dengan nya.

"Yuna Yui kan?" Tampilan perempuan itu sama seperti dirinya. Tapi, bedanya dia tidak memakai kacamata. Hanya berpenampilan rambut yang di kuncir dua. Suaranya yang khas seperti suara anak kecil.

Cantik, mancung, putih, hampir sempurna. Walaupun penampilannya seperti itu tapi dia tidak terlalu pendiam seperti Yuna.

"Iya. Aku Yuna"

"Kenalin, aku Dita kelas XII IPA 2. Kelas kita sebelahan ko. Salam kenal" tangan Dita memberikan kode agar Yuna menyambut tangannya dengan baik.

Perlahan, Yuna mengangkat tangan kanannya lalu menyambut baik tangan Dita "Salam kenal juga" jawab Yuna dengan menampilkan senyumannya lalu menghadap ke jalan.

"Kamu mau jadi temen aku?" Dita melangkah maju sejajar dengan Yuna. Yuna menoleh ke samping untuk melihat Dita yang sangat ramah menurut Yuna.

"Teman?" Tanya Yuna memastikan jika Dita tidak bercanda.

Dita mengangguk antusias "Iya"

Tidak ada jawaban dari Yuna, dirinya malah menunduk dan memalingkan wajahnya ke arah Imel dan Wiesda yang tetap menatapnya.

"Nggak mau yah? Yah sayang banget" wajah Dita berubah drastis menjadi sedih.

"Aku mau ko jadi temen kamu" Jawaban Yuna berhasil membuat Dita menjadi riang lagi. Dita meloncat-loncat bak anak kecil yang di kasih hadiah permen.

Dita memeluk Yuna kencang membuat Yuna merasa tercekik.

"Maaf kelewatan peluknya" Dita melepaskan pelukannya lalu menampilkan giginya.

"Nggak pa-pa ko. Aku seneng sekarang aku punya temen juga"

"Kalau aku banyaaaak temen tapi masih ditangguhkan hehe"

Yuna menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Dita yang tersirat jika dirinya juga tidak mempunyai teman.

Yuna berfikir apakah orang yang terlihat cupu tidak bisa mempunyai teman? Apakah hanya perempuan cantik yang sangat di hormati dan di sanjung? Ternyata perempuan cantik lebih di sukai walaupun tidak punya moral.

"Kamu nggak di jemput?" Tanya Dita.

Yuna hanya menggeleng tanpa berbicara.

"Kalau gitu nanti bareng aja sama aku pulangnya. Rumahnya emang dimana?"

"Nggak usah Dita. Aku bisa pulang sendiri ko, lagian kan ngerepotin juga"

"Nggak ko, Yui"

Panggilan apalagi itu? Apakah Anu, Una dan Yuna tidak cukup? Betapa beragamnya panggilan.

"Nggak pa-pa. Aku pulang sendiri aja"

Mobil hitam dengan merek ternama berhenti di hadapan Dita. Sopir itu turun lalu menyapa Dita.

"Non udah nunggu lama?"

"Nggak ko Pak. Ayo Yui bareng sama aku"

Yuna lagi-lagi menolak karena tidak enak dengan Dita. Apalagi mereka baru kenal, Yuna tidak mau ada orang tahu tentang rahasia kesedihannya di rumah.

Sopir membukakan pintu untuk Dita. Dita beruntung masih bisa bahagia dengan keluarganya, betapa pengertian sampai-sampai Dita di jemput agar selamat.

"Yaudah deh, aku pulang duluan yah. Dah Yui" Dita masuk ke mobil dan melambaikan tangannya pada Yuna.

Yuna membalas lambaian tangan Dita.

Di sebrang sana nampak Imel dan Wiesda iri. Wajah mereka terlihat sangat kesal, kaki di hentakkan dan memiringkan bibirnya.

"Kenapa pake acara Yuna punya temen segala sih!" Cetus Imel dengan mulut andalannya yaitu nyinyir.

"Iya. Kenapa perempuan itu nggak temenan sama kita aja. Dia kan kaya, di jemput nya aja pake mobil mewah" jawab Wiesda sambil mengipasi wajahnya dengan kipas berwarna pink.

"Mmm tapi kalo kaya kenapa jemput nya cuma pake mobil? Kenapa nggak pake helikopter?" Pikir Imel.

"Kalo di jemput pake helikopter, mendaratnya dimana, Mel?"

"Ya kan bisa di lapangan utama. Sekolah kita kan paling terluas. Nggak sombong yah" Imel menyibakkan rambutnya.

"Nggak boleh sombong. Dosa kata nenek gue juga. Nggak baik" Wiesda memicingkan matanya dengan menggoyangkan jari telunjuknya ke wajah Imel.

"Daripada disini, panas, kulit gue bisa tutung. Mendingan kita nunggu di sana aja tuh. Sopir gue lagi otw" lanjut Wiesda sambil berjalan dengan memainkan kipasnya.

"Padahal kan ini sore. Orang adem juga. Beda alam mungkin" gumam Imel lantas mengikuti Wiesda dari belakang.

Yuna melihat jika teman Kila sudah tidak ada disana. Yuna lantas duduk di halte dan membuatnya merasa bingung karena ada mobil yang berhenti di hadapannya.

Yuna melihat kanan kiri sudah tidak ada orang. Mobil ini kenapa ada disini. Yuna mengabaikannya dengan membuka tasnya untuk mengambil buku novelnya.

Yuna merasa ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Yuna mendongakkan kepalanya menatap siapa yang berhasil menghalangi dia membaca.

"Lo ngapain?" Redo meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil tengok kanan kiri melihat situasi.

Yuna meletakkan novelnya di samping lalu berdiri terlihat sejajar dengan Redo karena bantuan tinggi keramik halte.

"Nunggu angkot" jawab Yuna.

"Bareng gue aja yuk"

"Nggak. Duluan aja. Bentar lagi juga angkot lewat"

"Lo peramal yah?"

"Hah?"

"Lo bisa meramal sesuatu yang belum tentu terjadi? Kalo gitu ramal gue dong. Gue pengen tahu siapa perempuan yang berhasil buat gue jatuh cinta. Bisa?"

Yuna langsung gelagapan saat di tanya masalah itu oleh Redo. Lagian, Redo jail banget sih jadi orang. Tuh kan, Yuna jadi malu ehm.

TIN TIN

Klakson mobil berhasil membuat Yuna dan Redo terkejut. Terlihat dua upil gajah tengah menunggu Redo yang lama.

"REDO AYO! GUE PENGEN PULANG. UPIN IPIN UDAH MULAI TAYANG NIH. NANTI GUE KETINGGALAN" Sakri berteriak kencang membuat Nais yang tertidur langsung terbangun.

"Elah brisik banget sih titisan terompet! Ganggu gue tidur aja. Gue capek udah piket. Udah gede juga masih nonton upin ipin" racau Nais menutup telinganya.

"Bodo amat! Daripada gue nonton bokep yang jelas-jelas berdosa"

Redo kembali menatap Yuna yang tengah melihat Sakri dan Nais di mobil.

"Yakin nggak mau pulang bareng gue? Gue nggak akan pulang kalo lo nggak ikut. Gimana?"

Pilihan konyol yang di berikan Redo membuat Yuna mengangguk pasrah karena merasa kasian dengan kedua temannya Redo yang ingin pulang.

Redo tersenyum senang "Nah gitu dong. Ayo"

Redo membukakan pintu mobil dengan senang hati "Sakri lo keluar! Biar Yuna di depan" titah Redo yang membuat Yuna terkejut.

"Aku duduk di belakang aja" kata Yuna.

"Nggak nggak! Lo di depan. Dua bayi dugong udah terbiasa duduk di belakang bahkan pernah di garasi juga" jelas Redo.

Alhasil, Sakri turun dari mobil dan menyapa Yuna "Hai Anu, cepetan masuk. Film kesukaan gue udah tayang nih" Sakri pindah ke belakang dan duduk di samping Nais.

"Lo ngapain sih di samping gue Sak? Sempit tau nggak"

Pletak

Sakri memukul bahu Nais "Emang badan lo sebesar apa? Sebesar pohon beringin? Badan kayak pohon toge aja ngerasa terganggu" sindir Sakri.

"Pedes banget ngomongnya kayak tetangga julid di pinggir rumah gue"

Redo menghembuskan nafas beratnya melihat keributan mereka yang akan kembali terjadi. Yuna melirik ke arah Redo.

Redo menancap gas untuk mengantarkan Sakri dan Nais dulu.

Di perjalanan Sakri dan Nais saling melempar tatapan tajam seperti musuh gara-gara masalah Sakri duduk di belakang bersamanya.

Jadi, di mobil cukup kondusif. Tenang, hanya ada alunan musik yang mengiringi perjalanan.

Setelah mengantarkan Nais dan Sakri kini hanya Yuna dan Redo yang berada di mobil. Mobil berhenti di pinggir jalan entah karena apa.

Redo sedikit melirik Yuna yang tengah menatap jendela mobil.

"Na" panggil Redo pelan.

Yuna langsung menoleh ke arah Redo "Apa?"

"Rumah lo dimana?"

Yuna ingin tertawa tapi tidak bisa. Melihat wajah Redo yang memelas saat menanyakan rumah Yuna. Apa Redo lupa ingatan atau daya ingatnya lemah?

"Lurus aja. Nanti belok kiri" jawabnya dengan senyuman kecil.

"Senyuman lo buat pankreas gue bergetar Na. Bayi gajah, tolongin kembaran Angga Yunanda ini dong"



Jangan lupa vote and comment oke 😉😍

NOTE!!

JANGAN COMMENT NEXT, AYO BERI SEMANGAT AUTHOR SUPAYA CEPAT UP. KASIH KESAN SAAT MEMBACA PART INI

Seguir leyendo

Tambiรฉn te gustarรกn

1.9M 79.4K 73
[PART LENGKAP] #1 IN KISAH REMAJA [22/02/2022] Galang Pramudya, ketua The Lion di SMA Elang, yang terkenal ganas dalam menghabisi musuhnya. Tapi beru...
7.1M 288K 78
Nah ini nih kisah Kinara perempuan yang sangat cantik, baik, dan ceria tentunya. Yogi adalah Most wanted SMA Karta Wijaya yang selalu membuat heboh...
11.3M 1.2M 76
๐๐€๐‘๐“ ๐Œ๐€๐’๐ˆ๐‡ ๐‹๐„๐๐†๐Š๐€๐! Squel dari cerita : RENAVEL ๐Ÿšซ๐Š๐€๐‹๐€๐” ๐Œ๐€๐” ๐‡๐„๐๐€๐“, ๐‰๐€๐๐†๐€๐ ๐‰๐€๐ƒ๐ˆ ๐๐‹๐€๐†๐ˆ๐€๐“๐Ÿšซ Cerita solf pr...
16.1M 1.5M 70
"Papaaaaa!!" Sontak mata Damares membulat sempurna saat gadis kecil itu meneriaki nama 'Papa' menatap mata mungil itu. Ranayya menjadi mengingat apa...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas