_____
Mungkin, kali ini dia hanyalah pendatang. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti dia lah yang menjadi penopang?
_____
Gadis itu melangkahkan kakinya dengan tegas menuju setiap lorong hotel yang tampak sepi. Entah mengapa, saat ini pikirannya mulai berkecamuk, firasatnya berkata bahwa Clara, sahabatnya sedang dalam bahaya. Telepon yang sedari tadi ia genggam terus bergetar, mencantumkan nama Rangga disana. Ia tau, pacarnya itu pasti sangat khawatir dengannya yang pergi ke hotel pukul 12 tepat seorang diri. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk menerima telepon darinya. Yang pasti, ia harus menemukan Clara secepatnya dan memastikan bahwa ia baik-baik saja. Semoga semua belum terlambat, batinnya.
Gadis itu menelusuri setiap kamar hotel yang dilewati, mencari letak kamar yang tak kunjung ditemukan. Ya, ini adalah lantai terakhir yang ia jejaki. Berharap kali ini ia dapat menemukan kamar dengan nomor 313 itu.
Tunggu, tempat apa ini? Lantai terakhir hanya berisi beberapa gudang dan sebuah kamar tua yang tampak kosong dengan sisa bangunan seperti sedang direnovasi. Ia menghentikan langkah, terdengar suara gemerisik dari salah satu gudang yang terkunci. Mungkin kah Clara berada didalam? batinnya. Gadis itu lalu menggedor-nggedor pintu tersebut seraya memanggil nama Clara berulang kali. Tak sengaja, ia menginjak sesuatu yang janggal di kakinya. Sebuah kunci? Ia sangat bersyukur karena Tuhan masih setia membantunya. Dibukanya pintu dengan penuh hati-hati.
Ternyata, semua diluar dugaan. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangan, seolah tak percaya dengan pemandangan didepannya. Badannya seolah lemas dan raganya mulai hancur. Dengan cepat is menghubungi pihak kepolisian dengan deraian air mata yang mengucur deras di pipi gadis itu. Dalam hitungan menit, gudang tempat Clara berpulang mulai dipenuhi oleh kerumunan orang dari berbagai penjuru. Tangisan serta jeritan mulai menggema, mengiringi langkah berpulangnya sosok tercinta.
"Aaaaaaa.....," Lagi-lagi, Ghea terbangun dengan bermandikan keringat dingin yang mengguyur tubuhnya. Napasnya tersenggal-senggal disertai rasa sesak di dada mulai menyerangnya untuk kesekian kalinya.
Ah, mimpi itu lagi, batin Ghea.
Sungguh, kejadian satu tahun lalu seolah terus menghantuinya. Mimpi itu selalu datang dan seolah mengingatkannya untuk mengungkap siapa sosok dibalik kematian Clara, sahabatnya itu.
Diliriknya jam dinding mungil disudut kamar. Ia mengerjapkan-ngerjapkan mata tak percaya. Dengan secepat kilat diambilnya handuk yang bertengger di belakang pintu dan bergegas mandi. Bagaimana tidak? Kurang lima belas menit lagi, gerbang sekolah akan ditutup. Sedangkan Ghea masih berada di rumah. Ditambah lagi, Ghea lupa bahwa sejak kemarin kedua orangtuanya pergi ke Bandung. Harusnya, ia bisa berangkat dua kali lipat lebih pagi jikalau ia harus naik kendaraan umum dan rela menghadapi macet untuk sampai ke sekolah.
Argh, hari yang sangat sial, maki nya dalam hati.
Entah mengapa, kesialannya bertambah, sebab tak satupun kendaraan umum yang lewat. Sedangkan waktu tersisa 10 menit lagi untuk bisa sampai ke sekolah tepat waktu. Ghea memutuskan untuk berlari sembari mencari apa saja yang bisa mengantarnya ke sekolah.
Dari arah kejauhan, tampak seorang lelaki yang berseragam sama dengannya melaju dengan motor besarnya.
Oke, ini kesempatan satu-satunya untuk lo Ghea, ujarnya memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Dengan jurus andalannya, ia rentangkan kedua tangannya, berniat menghadang pria itu dan membujuknya untuk berangkat ke sekolah bersama.
"STOPPP!,"
Sontak pria tersebut berhenti tepat dihadapan cewek tidak jelas itu, sembari melepas helmnya dengan kasar. Shit, satu kata untuk cowok di depannya ini, "tampan". Wajahnya mirip seperti cogan-cogan yang pernah ia lihat di film-film. Bagaimana bisa ia mengahadang seorang pangeran di hari sialnya ini? Sungguh, aura cowok di depannya ini begitu mempesona, tapi terlihat raut wajahnya tampak begitu kesal padanya.
"Eh, lu cari mati apa!" bentaknya.
Gila, nih orang ganteng-ganteng tapi galak. Pengen nampol aja tuh muka. Eh, tapi sayang. Nanti gantengnya ilang, Ghea terus saja membatin.
Melihat cewek itu hanya diam, ia pun membuka suara."Ngeliatnya biasa aja kali. Gue tau, kalo gue ganteng," perkataanya membuyarkan lamunan singkat Ghea.
Cihh, sombong amat nih orang. Pengen banget gue sumpel tuh mulut pake kaos kaki, gerutunya dalam hati.
"Lahh, malah diem," ujarnya seraya memakai helmnya kembali. Berniat hendak meninggalkan cewek tak jelas itu.
"Ehh, tunggu-tunggu. Jangan tinggalin gue dong. Pliss, gue nebeng sama lo ya? Cuman sampe sekolah doang kok. Boleh ya?" Ghea memohon seraya memasang tampang puppy eyes andalannya. Cukup lama cowok sialan itu berpikir, ia mengangguk pelan. Ghea pun berjingkrak senang tak karuan.
Kapan lagi gue bisa dibonceng cowok ganteng sialan pagi-pagi begini, pikirnya.
Akan tetapi, saat Ghea hendak naik ke jok motornya, cowok itu dengan sengaja mengegas motornya dengan cepat. Meninggalkan Ghea yang terus memaki dan menyumpahinya di pinggir jalan seperti orang gila.
Dasar sialan! Liat aja, gue bakal tonjok muka sok kegantengan lo itu!
***
Disinilah Ghea sekarang. Berdiri tegap di hadapan tiang bendera sembari menatap ke atas langit dengan posisi hormat. Sungguh, hari ini matahari seolah enggan untuk menepi. Tak satupun segumpal awan putih yang mau memayungi gadis malang ini. Lagi-lagi, kesialan meyergapnya bertubi-tubi. Dan gadis ini tak henti-hentinya memaki cowok sialan itu berulang kali.
"Awas aja tuh cowok. Kalo sampe gue nemuin lo, bakal gue bonyokin muka lo! Enak aja dia bohongin gue. Dasar cowok pelit! Gak punya perasaan!," Ghea menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Tak terasa, sudah dua jam lebih, kaki mungilnya itu menopang tubuhnya. Wajahnya yang mulus dengan pipi cubby nya itu mulai mengeluarkan rona merah, serta bibirnya segarnya yang berubah menjadi sepucat mayat. Keringat dingin mengucur deras tanpa terasa. Dann..
Brukk!!
Tubuhnya terkulai lemas di atas lapangan yang begitu panas. Sedetik kemudian, matanya terpejam sempurna.
***
Mata Ghea membuka secara perlahan. Kini, ia berada di sebuah ruangan serba putih yang ia ketahui adalah UKS. Tiba-tiba, muncul seorang cowok dengan nampan berisi segelas air lengkap dengan obat-obatan disana. Ghea tampak asing dengan cowok yang satu ini. Bahkan, ia tak pernah melihatnya sama sekali. Mungkin dia petugas UKS. Wajar jika ia tak pernah melihatnya, karena baru kali ini ia masuk ke ruangan berbau alkohol yang sangat menyengat ini.
"Nih, diminum obatnya," seraya menyodorkan segelas air dan sebuah pil yang tak tau apa namanya.
"Eh, gak usah. Gue gak papa kok," Tiba-tiba saja, perutnya bersuara cukup keras tanpa aba-aba. Membuat cowok di sampingnya menahan senyum. Sontak Ghea memegang perutnya yang tak sabaran. Memang, sejak pagi tadi perutnya itu belum ia beri asupan.
"Yaudah, gue beliin lo makanan ya, kasian tuh perut lo. Pasti, lo belum makan 'kan, sejak pagi?,"
"E-eh, gak usah. Gue bisa ke kantin sendiri kok. Mendingan lo urus tuh, pasien yang lain. Lo petugas UKS 'kan?," Sedetik kemudian, cowok di depannya itu hanya diam keheranan. Ghea menggigit bibir bawahnya, apa ada yang salah dengan perkataanya?
Tiba-tiba, gelak tawa yang keluar dari mulut cowok itu pecah seketika. Ghea menautkan kedua alisnya, bingung dengan cowok yang satu ini.
Lalu, cowok itu berhenti tertawa seraya mengulurkan tangan di hadapan Ghea dan berkata, "Kenalin, gue Arka Rafael Adrelino kelas XII IPA 2. Dan gue murid baru disini. Mungkin, sekitar tiga hari yang lalu. Dan satu hal yang perlu lo tau, gue BUKAN PETUGAS UKS," Arka sengaja menekan kata petugas UKS dalam perkataanya, sembari menahan senyum melihat cewek di depannya gelagapan karena malu.
"Hah? Bukan petugas UKS? Terus, kenapa lo disini? Peduli amat lo," ujar gadis itu dengan ketus.
"Ah, elah. Orang peduli bukannya terima kasih kek, udah di angkatin kesini juga," Cowok itu melirik ke arah cewek yang ditolongnya.
"Iya, iya maap. Ya tumbenan aja gitu ada cowok kayak lo yang tiba-tiba nolongin gue. Kita kan juga gak saling kenal. Btw, thanks ya," Ghea menyunggingkan senyum kikuk di hadapan cowok itu. Ia merasa sangat bersalah karena mencurigai cowok itu.
"Fine. Oh iya, nama lo?,"
"Oh, gue Ghea Andara, kelas XII IPA 1. Oke, kalo gitu gue balik ke kelas duluan, ya. Sekali lagi, makasih," Ghea berniat meninggalkan cowok itu. Tapi langkah kakinya tertahan, mendengar cowok itu kembali tertawa. Entah kenapa, cowok ini gemar sekali tertawa.
"Apa lo bilang? Mau balik ke kelas?," Ghea mengangguk dengan polosnya. "Lo tau sekarang jam berapa? Sekolah udah bubar, kali. Lo sih, pingsan kelamaan," seraya melanjutkan gelak tawanya.
"Hah? Berarti, lo dari tadi nungguin gue dong. Hayo ngakuu..," Ghea memicingkan mata ke raut muka cowok yang sejengkal lebih tinggi darinya itu.
Itu karena gue khawatir sama lo. Gue gak mungkin ninggalin lo sendirian.
"Woy!! Malah bengong!," Sentakan Ghea berhasil membuyarkan lamunan Arka.
"Ih, kepedean banget lo! Gu-gue hari ini ada eskul teater, terus gak sengaja ngeliat pintu UKS ke buka. Ya udah gue kesini. Ternyata, lo masih di dalem. Gue juga punya rasa kemanusiaan kali, kalo mau ninggalin cewek sendirian,"
"Ya udah, yuk gue anterin pulang," Sekejap kemudian, Arka menarik pelan tangan Ghea lalu menggenggamnya untuk pulang bersamanya.
DEG!
Seketika Ghea terkejut dengan Arka yang menggenggam tangannya begitu saja. Ghea seolah terhipnotis, sampai-sampai ia pun hanya diam, tak berani mengelak. Dengan santainya, Arka berjalan sembari menautkan jemarinya ke dalam jemari Ghea. Seakan mereka sudah saling kenal sejak lama.
🌊🌊🌊
Art/nothes :
Hollaaa!!
Gimana sama first story ku kali ini?🤔🙄
Pendek sih, tapi gapapa lhaa🤪
So, semoga kita bisa bertahan sampai akhir!!😉
Bismillah, Here we go!👋
.
.
.
Impossible. 8 Maret 2020