Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata Fanfiction
untuk NaruHina Fluffy Days 2020 (NHFD2020)
"A Thousand for Eleventh"
Alternate Universe/Romance
Words count: 1000 kata (hanya cerita)
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
Cover credits to HAL (halsakurajam)
.
.
.
ABJAD
Selamat membaca~
.
Naruto mengajaknya bermain. Katanya, ini permainan yang dulu mereka mainkan saat pramuka. Hinata lupa nama permainannya. Namun, aturannya sederhana. Hinata hanya perlu menebak suatu tempat, datang ke sana, lalu katakan kata sandinya.
"Naruto-kun tidak mengerjaiku, 'kan?"
Si pirang menggeleng kuat-kuat. "Mana mungkin aku mengerjai Hinata. Aku hanya ingin main."
"Baiklah. Aku harus bagaimana?"
"Hinata duduk dulu di sini." Naruto meraih pundak Hinata, menggiringnya duduk di kursi taman. "Sekarang tutup mata, dan tunggu pesan dariku."
"Eh?! Naruto-kun mau ke mana?"
"Aku ada di pos akhir. Pokoknya, Hinata tutup mata saja, ya. Ikuti petunjuk dariku, oke?"
"Ba-baiklah." Hinata menurut patuh.
Beberapa menit menunggu, Hinata tidak tahu ke mana Naruto pergi. Dia hanya mendengar lalu-lalang di taman dan tawa anak-anak kecil bermain.
Ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk. Dari Naruto.
"Selamat datang di permainan H-I-N-A-T-A!!!
Ini akan menyenangkan-ttebayo!"
Satu: makanan kesukaan Hinata.
Hinata mengernyit. Makanan kesukaannya? Tentu saja cinnamon roll. Kalau petunjuk itu mengarahkan pada tempat yang dimaksud, artinya tempat pertama yang harus Hinata datangi adalah toko yang menjual cinnamon roll.
Seingat Hinata, tempat itu ada di seberang taman ini.
Ah, ada!
Dengan antusiasme berlebih, Hinata berlari kecil menuju toko langganannya.
"Oh, Hinata-san. Mau beli berapa?"
Hinata menggeleng sopan. "Hari ini tidak dulu, Bibi. Aku ...." Menggigit bibir, Hinata sedikit malu mengatakan kata sandinya. "Tidak menarik kata-kataku adalah jalan ninjaku."
Hinata meringis. Dia membayangkan Bibi Kurenai akan mengerut bingung atau tertawa aneh. Namun, ketika Hinata meliriknya, Bibi Kurenai malah tersenyum ramah.
Tanpa berkata-kata, dia memberikan secarik kertas ungu kepada Hinata. Kertas kecil itu terlipat rapi dengan dua halaman yang terisi tulisan. Hinata membaca halaman pertama.
H—Hamba
Daripada jadi budak cinta, aku lebih suka jadi hamba cinta. Abdiku tulus, memasrahkan hati dan raga hanya untuk dewiku: Hinata.
Hinata terkikik-kikik. Dia tahu Naruto menggombal. Namun, tetap saja, dia tidak bisa menahan rasa tersipu. Mata Hinata kemudian bergulir membaca tulisan di halaman sampingnya.
Dua: makanan kesukaan Naruto.
Wah! Ini, sih, betulan terlalu gampang.
Berpamitan pada Bibi Kurenai, Hinata bergegas pergi ke Ichiraku-Ramen. Kali ini, Hinata lebih cakap mengatakan kata sandinya.
"Tidak menarik kata-kataku adalah jalan ninjaku."
Berbeda dengan Bibi Kurenai, Ayame menyerahkan kertas ungu itu sambil tersenyum menggoda.
"Hinata-san dan Naruto-san lucu sekali."
"Mou, Ayame-san."
"Hehehe. Aku tidak membaca isinya. Naruto-san melarangku."
"Uhm, terima kasih."
Hinata pun membuka kertas kecil yang sama persis dengan kertas pertama.
I—Imbalan
Kata orang, cinta yang tulus itu tidak pamrih. Tapi kurasa itu bohong. Nyatanya, saat aku mencintai Hinata, aku dapat imbalan. Namanya ... kebahagiaan.
Hinata menutup mulutnya. Astaga, ini memalukan. Dia masih ada di dalam kedai. Dan wajahnya malah memanas begini. Hinata terburu-buru keluar sambil membaca petunjuk selanjutnya.
Tiga: pertama kali bertemu di luar sekolah. Terjebak hujan karena lupa bawa payung.
Terdiam, benak Hinata menebak maksud Naruto. Seingatnya ... oh iya! Tanpa membuang waktu, Hinata bergegas menuju toko komik yang penuh kenangan itu.
"Tidak menarik kata-kataku adalah jalan ninjaku." Secepat ucapannya, secepat itu pula Itachi memberikan kertas ungu Hinata.
"Semangat sekali, Hinata."
"Aku malu, Kak. Sudah, ya. Terima kasih."
Hinata keluar toko komik Itachi sambil membaca kertas selanjutnya.
N—Nol
Nol itu artinya kosong.
Sepuluh itu artinya sempurna.
Sama seperti aku. Hanya nol tanpa kamu sebagai satu.
"Apa, sih, Naruto-kun." Hinata tertawa. Dia harus segera menyelesaikan permainan ini, atau wajahnya akan jadi kepiting rebus.
Empat: Hinata tidak suka kalau aku lama-lama di sana.
Oh! Kalau ini, Hinata tahu. Dia memang sering jengkel kalau Naruto main di sana terlalu lama.
Masalahnya, ketika Hinata sampai di sana, yang sedang bertugas menjaga game center adalah Kiba. Kiba itu usil. Hinata saja digoda habis-habisan sebelum bisa mengambil kertasnya. Untungnya, setelah sepuluh menit menjahili, Kiba mau juga memberikan kertas itu pada Hinata.
"Sampaikan salamku untuk Naruto, ya."
Hinata mengangguk-angguk. Dia melangkah keluar game center sambil membaca kertas.
A—Alasan
Aku tidak takut menangis. Aku hanya takut jadi alasan Hinata menangis.
Aduh! Sampai kapan, sih, Hinata harus dibikin merona begini. Sudah tahu hatinya lembek. Sekarang malah dipancing untuk meleleh. Bisa-bisa dia betulan lumer.
Lima: benang merah.
Membacanya, hati Hinata yang semula malu-malu, sontak menghangat. Tidak perlu berpikir lagi. Jawabannya jelas.
Sayangnya, ketika Hinata tiba, toko kain itu tutup. Tidak ada siapa-siapa. Hinata bingung. Apa Naruto lupa? Atau toko ini tutup setelah Naruto menitipkan kertasnya? Ketika memikirkan itu, Hinata melihat kertas ungu familier, terselip di pintu toko yang tertutup.
"Oh, ini."
T—Tempat
Di mana pun tidak masalah. Asalkan bersama Hinata, itu adalah tempat yang istimewa.
Sudut-sudut bibir Hinata terangkat. Perasaannya saja, atau dua pesan terakhir Naruto memang lebih pendek? Sambil terkikih-kikih, Hinata membaca petunjuk selanjutnya.
Enam: mengantar Hinata pulang.
"Eh?" Hinata mengerjap. Dia tidak mengerti petunjuk yang dimaksud. Kalaupun ada yang terlintas di benaknya, Hinata sangsi. "Coba saja, deh." Meski ragu, Hinata memutuskan untuk datang ke sana.
"Tidak ada siapa-siapa." Halte sangat sepi. Bus juga belum datang. Hinata pesimistis bisa menemukan sesuatu di sini. Daripada bosan menunggu, Hinata memutuskan untuk membeli sesuatu di mesin penjual.
Lalu, mata Hinata membola. Dia teringat sesuatu. Cepat-cepat Hinata mendekati mesin penjual, dan mengintip ke belakangnya.
"Ada!"
Itu adalah wadah rahasia milik Naruto. Dulu, Naruto selalu memasukkan makanan ke dalamnya sebagai persediaan untuk Kyuubi, kucing liar yang hobi kawin.
Kertas ungu itu terlipat rapi di sana. Hinata mengambilnya. Membacanya perlahan. Terlebih, sedikit berdebar.
A—Alkisah
Satu hal yang paling kuinginkan ketika menulis alkisah adalah menjadikannya pengantar dalam guratan-guratan hikayat tentang betapa indahnya perjalanan kasih aku dan kamu hingga menjadi kita.
Hinata tersenyum.
Dasar, Naruto-kun.
Hinata lalu menengadah ketika sebuah bus tiba di halte. Keenam kertas yang sudah didapatnya, dia pegang seraya berjalan memasuki bus.
"Jadi, bagaimana?" Seorang pria tiba-tiba duduk di samping Hinata. "Dari semua huruf itu, mana yang paling Hinata suka?"
"Semuanya konyol, Naruto-kun."
Naruto tertawa. "Sekarang, coba tanya aku."
"Tanya apa?"
"Seperti tadi."
"Uhm, dari semua huruf itu, mana yang paling Naruto-kun suka?"
"N dan H."
"Nol dan hamba?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Naruto dan Hinata."
Wajah Hinata memerah.
"Karena bagiku, tidak ada yang lebih indah selain melihat namaku bersanding dengan nama Hinata."
Mou! Hinata tak peduli lagi. Dia langsung menarik lengan kukuh Naruto dan bersandar nyaman di sana.
Dasar, suaminya ini. Sudah punya buntut dua, masih saja tukang gombal.
(Selesai)
.
Terima kasih sudah mau mampir membaca. Senang sekali bisa ikut berpartisipasi meramaikan event NaruHina. Semoga suka, ya. Membuat 1000 kata benar-benar tantangan. Tapi aku menikmatinya. Terima kasih banyak.
Selamat Hari Fluffy NaruHina!!!