Harusnya kekepin aja Bulan di kamar. Begitu ketemu Mama, langsung, dah, gue jadi bemper. Dua orang itu udah kaya temen lama baru ketemu, ngobrolnya ngga abis-abis. Mending ngobrol biasa, ini bongkar-bongkar aib masa lalu.
Gara-garanya Si Bulan kepo banget sama masa kecil gue. Trus Mama dengan semangat buka-buka album poto. "Nih, waktu bayinya kaya gini, nih," kata Mama, nunjukin poto standar anak bayi, tengkurep bugil di meja. Bayi di poto itu badannya bulet-bulet, kaya balon-balon disusun jadi bentuk orang.
"Ih, chubby banget, ya," Bulan nimpalin gemes.
"Iya, dulu, tuh, Mama ngga nyangka akhirnya bisa kurus juga. Kirain bakal gendut selamanya." Trus mereka ketawa bareng. "Bayangin, diajakin sepedahan tiap Minggu aja, tetep ngga kurus-kurus." Lanjut mereka ngakak berdua.
Gue cuma bisa senyam-senyum serba salah dengerin kaya ginian. Pengen kabur, tapi baru berdiri Mama udah kasih perintah, "Itu ayamnya, kayanya udah mateng. Coba diangkat."
Jiah! Nasib orang ganteng, gini ini.
"Ini waktu kelulusan TK. Dia yang maju ke depan buat pidato perpisahan," kata Mama, masih lanjut buka-buka album.
"O, ya?" Bulan kedengeran takjub banget.
Ha ha. Masa lalu gue ngga semuanya buruk, ada juga hal-hal baik yang diabadikan dalam gambar. Untungnya, hal terburuk ngga terdokumentasi dalam foto mana pun. Sayang, otak adalah penyimpan memori terbaik di dunia. Dia menyimpan kenangan secara multidimensi, dalam bentuk gambar, suara, hingga emosi yang menyertai.
Ayam di wajan warnanya udah kuning kecoklatan menggoda, siap digeprek bareng sambel merah pesenan Bulan.
"Nah, ini pas udah di pesantren. Kayanya kelas dua, deh ini. Udah kurusan," Mama lanjut buka-buka album poto.
"Hmm, mulai seksi," timpal Bulan dilanjut suara kikik tertahan dari mereka berdua.
Yeah, gue udah rutin latihan taekwondo waktu itu. Yang laen latihan seminggu sekali, gue latihan tiap hari.
Geprek ayam di atas cobek. Sengaja keras dikit, biar pada brenti ngegosip.
"Ih, pelan-pelan, dong Mal. Ntar cobeknya pecah, kamu yang ganti," Mama sok-sokan ngancem.
"Beres." Gue tutup album poto, singkirin ke pinggir. Lupain masa lalu, ini waktunya ngisi perut.
Mama sama Bulan kompak ngelirik sadis begitu album poto di depan mereka diganti sama piring isi nasi.
"Makan dulu, kasian Sweety kelaperan." Gue bales ngga kalah sadis.
***
Siang itu kita beneran ke akikahan si bapak jama'ah masjid yang undangannya dikasih pas subuhan tadi. Ternyata namanya Pak Hamid, punya warung bakso di depan perumahan. Ini akikah anak pertamanya setelah menikah hampir sepuluh tahun.
"Wah, barakallah, dikasih cepet, ya. Jadi ga perlu nunggu lama," katanya waktu tahu Bulan lagi hamil dua bulan.
Yeah, emang bawa berkah ni anak. Kalo ngga ada dia, kayanya gue bakal pisah beneran sama Bulan.
Abis dari akikahan, langsung cabut ke rumah sakit buat jenguk Om Hendro. Kali ini gue pinjem mobil Mama lagi. Mobil mewahnya udah dibawa balik sama Mang Salam, sekalian pulang setelah nganter baju ganti buat Bulan.
Tadinya gue nyuruh Bulan tunggu di rumah aja. Lagian ibu hamil juga ngga boleh masuk ruang perawatan. Tapi dia keukeuh, tetep mau ke rumah sakit biar pun nanti cuma nunggu di parkiran.
Sesuai perkiraan, jalanan penuh mobil. Meski libur, Jakarta tetep aja kaya gini. Cuma beda lokasi doang. Kalo hari kerja di area perkantoran, pas weekend gini di daerah mal sama gedung-gedung pertemuan. Jadi rada parno kalo udah ada janur kuning melambai, alamat kejebak macet, dah. Sialnya, peringatan janur kuning ini baru keliatan kalo udah deket dari lokasi kejadian.
Tarik rem tangan sambil meregangkan punggung. Kayanya bakal parkir agak lama di sini. Antrean mobil keliatan panjang banget mengular.
Baru aja mau merem, merehatkan mata, tiba-tiba Bulan manggil, "Sayang."
Ngga jadi merem gue.
"Kamu ngga marah, kan?"
Marah? Macet gini? Kesel, iya.
Blom sempet jawab, mobil di depan udah jalan. Gue lepas rem tangan supaya bisa ikut beringsut ke depan. Lumayan, nambah jarak tiga meter sebelum pasang rem tangan lagi.
Bulan tiba-tiba numpangin tangan di punggung tangan gue yang masih menggenggam rem tangan. "Kamu ngga marah karena aku ngga mau nunggu di rumah, kan?"
Konyol banget Bulan. "Ngga-lah. Ngapain marah. Enakan gini daripada di jalan sendirian." Ngga seratus persen bener juga. Gara-gara dia ikut, jadi terpaksa naik mobil, kasian kalo panas-panasan naik motor. Akibatnya kena macet parah, nah, bagian ini yang bikin kesel.
"Abis, kamu diem aja dari tadi. Biasanya, kan, udah nyetel lagu apa gitu?"
Hhh! "Yah, kamu, kan, udah beda sekarang. Aku ngga punya playlist murottal."
"Yah, mau setel yang lain juga ngga pa-pa, sih."
"Beneran? Kamu lagi ngapalin, kan? Ntar apalannya rusak kalo denger lagu."
Gue lirik, dia manyun sambil bersedekap. "Kamu ngeledek!" ujarnya kesal.
"Emang." Trus lepas rem tangan lagi karena mobil di depan keliatan mulai jalan.
"Kenapa, sih, kamu sinis banget sama Islam?"
"Ngga cuma Islam." Pasang rem tangan lagi. "Semua agama langit sama aja. Kebetulan yang paling aku tahu, ya, Islam."
"Huh! Kamu, tuh, bukti nyata kalo berilmu belum tentu beriman."
Gawat, kayanya mulai nyesel udah rujuk, nih. Matanya keliatan mikir keras sementara tangan masih terlipat di depan dada.
Tiba-tiba Bulan noleh langsung menyerang dengan tatapan. "Ini pasti gara-gara depresi yang pernah kamu omongin itu, kan?"
Eits! "Kenapa nyambung ke situ?"
Bulan diam, kembali melontarkan pandangan melewati jendela di hadapan. Mobil di depan udah jalan lagi, ngga banyak, cuma maju dua meter.
"Tapi aku bener, kan?" kejarnya lagi.
Hhh! Masih lanjut ternyata. "Ngga." Tarik rem tangan lagi.
"Ngga?" Bulan kedengeran mendengkus keras. "Ngga apanya? Kamu depresi, trus marah sama Allah? Trus nolak Dia sebagai Tuhan? Gitu?"
"Ngga!" Udah kesel banget, tapi masih berusaha nahan suara biar ngga terlalu nge-gas. Cukup kaki aja yang nginjek-nginjek pedal gas.
"Apa yang ngga?" suaranya juga mulai meninggi.
"Aku ngga marah sama Tuhan."
Bulan mendengkus, meremehkan. "Trus ...."
"Aku ngga mungkin marah pada sesuatu yang ngga ada."
Bulan merapatkan bibir. Gue tantang matanya yang seolah siap menerkam. "Bo'ong!" tegasnya singkat.
"Apanya yang bo'ong?"
Dia narik napas lalu miringin badan ke gue. "Mana yang bohong? Pernyataan bahwa kamu sedang berusaha merasakan keberadaan Tuhan atau Tuhan itu ngga ada?"
Sialan! Bulan makin pinter bersilat lidah. Gue ga bisa nahan senyum dibikinnya. Dua pernyataan yang saling menegasikan, dan dua-duanya gue yang ngomong.
Suara klakson mobil ngalihin perhatian. Jalanan di depan udah mulai lengang. Jarak dengan mobil di depan sekarang sampe lebih lima meter.
Gue beralih ngadep jalanan lagi. Bulan juga balik ke posisinya. "Aku tunggu jawaban kamu. Kelanjutan hubungan kita tergantung dari situ," dia ngasih ultimatum.
Fine! Que sera, sera!
"Agama hanya akan disebut sebagai hasil budaya manusia ketika ngga ada lagi penganutnya."
Ngga ada respon dari Bulan, jadi gue lanjut, "Kaya Zeus, Jupiter, Ra, atau Odin, dulu disembah sepenuh hati oleh pemujanya. Dianggap sebagai kenyataan faktual yang ngga bisa dibantah Sekarang, cuma jadi bagian dari kebudayaan manusia."
Bulan mendecak. "Kamu ngalihin pembicaraan," ujarnya makin kesal.
"Aku lagi ngejelasin pikiranku. Mau denger, ga?"
"Hmmpft! Okay, bring it on!"
"Hhh! Ngga jadi. Males."
"Oke, deh," Bulan ngambil alih pembicaraan lagi, "intinya kamu mau bilang kalo tuhan adalah produk budaya, gitu kan?"
"Exactly!"
"Okay, sip. Lanjut!"
"Jadi ketika aku bilang Tuhan itu ngga ada, maksudnya adalah ngga eksis. Ngerti kan?"
Bulan mengernyit. "Ngga eksis maksudnya ngga beneran ada?"
"Beneran ada. Tapi bukan kenyataan faktual. Dia hanya ada dalam pikiran manusia."
Kali ini baru Bulan manggut-manggut. "Jadi Tuhan itu ada, tapi hanya ada dalam pikiran manusia. Ini semacam pemikiran kolektif, gitu? Karena yang punya pemikiran tentang Tuhan, kan, ngga cuma satu orang?"
"Yap. Semacam gajah merah jambu atau elang berbelalai panjang. Ada, tapi hanya di pikiran kita, pikiranku yang aku transfer ke kamu melalui kata-kata. Begitulah kita mentransfer ide tentang Tuhan."
Kedengeran Bulan narik napas berat. Jalanan mulai lancar. Masih rame, tapi lumayanlah daripada parkir di tengah jalan. "Yeah," desahnya terdengar nyaris putus asa. "Kamu pake pendekatan ilmiah untuk mendekati Tuhan. Kurasa ini bukan cara yang tepat untuk memahami Tuhan. Untuk mengenal-Nya, mungkin. Tapi untuk memahami-Nya, kurasa kamu butuh pendekatan lain."
"Nah! This is what I'm working on." Tinggal satu belokan lagi buat nyampe ke rumahsakit. Lampu lalu lintas udah keliatan nyala merah di ujung sana, tapi antreannya panjang bener! Tarik rem tangan lagi.
"Okay, kesimpulannya, kamu mengakui bahwa Tuhan itu ada, meski hanya dalam pikiran manusia. Yang kamu bilang berusaha merasakan Tuhan itu maksudnya merasakan eksistensi Tuhan. Bahwa Tuhan benar-benar ada, meski ngga ada lagi manusia yang memikirkan-Nya?" Bulan bicara panjang lebar tanpa noleh sedikit pun ke gue.
"Itu dia! Kalo Tuhan bener-bener ada, maka Dia ngga butuh manusia atau siapa pun untuk memikirkannya. Sayangnya ini ngga bisa dibuktikan. Sepanjang sejarah peradaban manusia, selalu ada kata untuk merepresentasikan ide tentang Sang Maha dari segala Maha ini."
Bulan manggut-manggut, matanya mengerling sambil tersenyum. "Okay, welcome to the next level!" ledeknya jail.
"Next level?"
"Kemaren kamu bener-bener nolak segala ide tentang Tuhan. Sekarang kamu menerimanya sebagai hasil buah pikir manusia," ujarnya dengan mata berbinar.
He? Masa?
"Come here and claim your reward," katanya lagi.
Serah! I'd claim her lips anyway.