[✔] Cure [Bahasa]

By vocedeelion

59.8K 7.1K 280

Taeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cuku... More

Hak Cipta
Bab 1 :: Cahaya
Bab 2 :: Napas
Bab 3 :: Kopi
Bab 4 :: Mendambakan
Bab 5 :: Manis
Bab 6 :: Badai
Bab 7 :: Lavendel
Bab 8 :: Klinik
Bab 10 :: Bintang
Bab 11 :: Kaca
Bab 12 :: Sentuhan
Bab 13 :: Bersih
Bab 14 : Pandangan
Bab 15 :: Hitam
Bab 16 :: Pertama
Bab 17 :: Bertekuk Lutut
Bab 18 :: Sakit
Bab 19 :: Monster
Penjelasan
Bab 20 :: Ledakan
Bab 21 :: Gelembung
Bab 22 :: Rumah
Bab 23 :: Mentari
Bab 24 :: Pantai
Bab 25 :: Bebas
Bab 26 :: Rusak
Bab 27 :: Kacau
Bab 28 :: Terbelit
Bab 29 :: Janji
Bab 30 :: Terbebas
:: Sekuel - A ::
:: Sekuel - B : Penghargaan ::
:: Sekuel - C : Perjalanan ::

Bab 9 :: Putih

1.5K 230 4
By vocedeelion

Jaehyun menahan napas. Ia menatap lelaki yang kini berbaring di pangkuannya, seketika mengangkat sebelah tangan dan mengusap rambut putih Taeyong secara lembut, menyentuhnya. Lelaki itu tampak begitu rapuh.

Taeyong tidak tersentak sebagaimana yang Jaehyun bayangkan. Tubuhnya hanya berubah kaku dengan tangan meremas kaus yang si pemuda kenakan.

"Bagaimana rasa cemasmu?" Jaehyun bertanya, tidak juga benar-benar menginginkan jawaban.

"Sembilan," Taeyong menggumam. "Tapi aku tidak ingin berhenti."

Namun akhirnya mereka harus.

Jaehyun menggiring Taeyong ke luar melalui pintu samping klinik. Hari sudah gelap dan dingin.

Taeyong mengangkat tudung hoody seiring dengan langkah mereka menuju parkiran kampus. "Terima kasih," ia berbisik sembari membuka pintu mobil.

"Aku akan menghubungimu besok pagi." Jaehyun turut berbisik. Seiring dengan Taeyong yang masuk dan duduk di kursi belakang, mata Jaehyun menangkap pria yang adalah si sopir. "Jadi, pria ini hanya duduk di sini dan menunggumu?"

"Ah, ya. Perusahaan tidak membiarkanku menyetir sendirian." Taeyong tersenyum dan menutup pintu.

Jaehyun kemudian tersenyum sepanjang jalan pulang, seperti apa yang juga Taeyong lakukan.

:::

Ketika mencapai rumah dan merasa aman dalam lingkup lingkaran apartemennya, Taeyong melakukan rutinitas sebagaimana biasa. Mandi. Mencuci rambut. Menyikat gigi. Menggunakan sabun. Mencuci rambut lagi. Menyikat gigi lagi. Sambil melakukan itu, ia memikirkan jari jemari Jaehyun yang mengusap rambutnya secara lembut, membuat ia merasa hangat. Suatu hal baru. Si lelaki ingat rasa ketika tangan Jaehyun berada di tubuhnya, menyentuh dan membuat ia merasa puas dan tidak di saat bersamaan. Taeyong sangat membenci perlakuan itu, tetapi dengan aneh merasa menginginkannya kembali.

Ia menaiki ranjang walau hari belum terlalu larut. Pikiran dan tubuhnya kelelahan. Taeyong sadar bahwa lupa mencuci tangan, tetapi merasa terlalu tak berdaya untuk sekadar peduli. Pertama kali dalam hidupnya, ia melakukan hal seperti itu.

Taeyong bangun keesokan pagi dalam keadaan panik. Apa yang telah ia lakukan? Ia tidak percaya membiarkan Jaehyun melakukan hal-hal semacam itu padanya. Apa yang akan pemuda itu pikir tentangnya? Taeyong lantas menggosok kedua tangan secara terus menerus hingga terluka.

Ia mencoba memakan buah-buahan untuk sarapan tetapi perutnya mengejang. Taeyong merasa bagai manusia kotor, dan membiarkan Jaehyun menyentuh tubuhnya adalah sebuah kesalahan. Lelaki itu lantas menenggelamkan diri pada sofa. Jaehyun pasti merasa amat jijik. Ia membayangkan apakah masih bisa bertemu dengan pemuda itu setelah ini.

Sesaat, ponselnya tiba-tiba menyala.

Hari ini, 9:21 AM
Ayo lakukan yang kemarin. Kumohon?

Hari ini, 9:23 AM
Ya, tentu

Hari ini, 9:24 AM
Kedai kopi jam dua siang? Keadaan tidak terlalu ramai setelah waktu makan siang

Hari ini, 9:25 AM
Aku akan ke sana

:::

Jaehyun merasa senang. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Taeyong nantinya. Yang ia tahu hanyalah bahwa untuk sekali saja, tidak menunggu terlalu lama adalah hal yang lebih baik. Jaehyun akan membuat lelaki itu menghadapi segala hal sekarang.

Pemuda itu tiba di kedai kopi pukul 1:55 siang dan terkejut ketika mendapati Taeyong sudah di sana lebih dulu, menunggunya, duduk di sudut yang menjadi tempat favorit mereka. Lelaki itu mengenakan kupluk dengan kaus hitam dan ripped jeans combo, tetapi hoody dan maskernya terlepas.

"Hei." Jaehyun tersenyum, memamerkan lesung pipitnya.

"Hei. Aku sudah memesankan flat white-mu." Taeyong balas tersenyum.

"Bagaimana bisa?" tanya Jaehyun.

"Apa maksudmu dengan 'bagaimana bisa'? Ten ada di konter ketika aku masuk dan aku memintanya untuk membawakan minuman favoritmu ketika kau datang." Keterkejutan Jaehyun memberikan rasa bangga bagi Taeyong.

"Aku sudah bilang, ini pasti berhasil untukmu."

Taeyong tersenyum lembut sembari memandang tangannya yang penuh akan luka lecet. Jaehyun menyadarinya. "Taeyong, tanganmu tampak buruk hari ini. Apa aku yang membuatmu begini?"

Taeyong menggelengkan kepala. "Tidak. Aku melakukannya karena diri sendiri. Segala yang kupikirkan pagi ini adalah bagaimana aku yang sudah mengontaminasi tubuhmu. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Bagaimana kalau kau sakit?"

Jaehyun terkejut. "Aku? Taeyong, kau tidak mengontaminasiku. Ketika kau mencemaskan hal-hal seperti itu lagi, aku mau kau menghubungiku. Ingat apa yang kukatakan dengan menjadi kuat?"

Taeyong mengangguk.

Ten datang dan tersenyum pada mereka. "Satu flat white, satu long black. Jangan menghabiskan gulaku hari ini, teman-teman." Ia berkedip ke arah mereka sembari melangkah pergi.

"Ha!" Jaehyun hanya tertawa dan menambahkan empat gula ke dalam cangkirnya. Taeyong tersenyum dan melakukan hal yang sama. Mereka duduk dalam kesunyian.

"Jaehyun." Taeyong adalah satu-satunya yang mulai memecahkan keheningan itu. "Aku sangat ingin kau mencoba menciumku." Ia merona dan memandang ke arah kopi yang belum tersentuh di hadapannya. "Apa kau pikir aku akan bisa melakukan itu?"

"Tidak. Kau belum siap." Jaehyun melihat wajah Taeyong yang berubah sendu. "Taeyong," ia berkata lembut, "apa kau akan meminum kopinya?" Taeyong memandangnya dan mengangkat bahu. "Bisakah kalau aku meminumnya lebih dulu?" Si lelaki langsung menggeleng. "Ketika kau bisa berbagi minuman dari gelas atau botol yang sama denganku, saat itulah kutahu kau siap."

Jaehyun menjulurkan tangan dan mengusap lengan Taeyong. "Kau sudah banyak berkembang. Lihat. Aku yakin kau bahkan tidak percaya akan membiarkanku melakukan ini." Ia melihat si lelaki tersenyum. "Aku sangat bangga dengan perkembangan ini. Banggalah pada dirimu sendiri. Sekarang cepat minum kopinya dan kita pergi ke toko buku."

"Dan taman?" Si lelaki cacat memandang pada cangkir kopinya.

"Ya, jika kau mau."

Jaehyun akan melakukan apa pun yang diinginkan Taeyong. Namun, tak ingin lelaki itu tahu; belum.

Taeyong mengambil napas panjang, lalu menyesap kopinya sebelum kembali menjauhkan benda itu ke arah meja. "Ayo."

:

Toko buku tampak lebih sibuk daripada terakhir kali.

"Bagaimana rasa cemasmu?" Jaehyun membukakan pintu bagi Taeyong.

"Sembilan. Aku merasa lebih kuat daripada kemarin. Memang sedikit merasa oleng tapi yakin itu karena kopi," balas Taeyong. Jaehyun mengingatkan diri untuk kembali membicarakan masalah ini nanti.

Mereka mendekati rak bagian belakang di mana segala hal bagus berada.

"Jika aku menemukan sesuatu yang kusuka, maukah kau mengambilkannya untukku?" Mata cokelat besar Taeyong menatap pada Jaehyun. Bagaimana pemuda itu bisa berkata tidak?

"Boleh, hanya untuk kali ini. Lain kali kau harus mengambilnya sendiri. Oke?" Taeyong mengangguk. "Dan jangan menatap bokongku hari ini!" Jaehyun tertawa, sementara lelaki itu mengerucutkan bibir.

"Yang itu!" Taeyong menunjuk dengan semangat ke arah manga hitam putih yang tipis.

"Death Note!" Jaehyun mengambil dan membukanya. "Aku sudah membaca semua seri dan seluruhnya sangat bagus!" Taeyong terpesona ketika melihat gambarnya secara jelas.

"Yang itu!" Ia kembali menunjuk yang lain, kali ini lebih berwarna.

Jaehyun membalik lembar demi lembar manga Sailor Moon. "Aku tidak terlalu suka hal-hal berbau sihir wanita." Ia mengerutkan hidung dan Taeyong tertawa. Apakah ini pertama kalinya Jaehyun mendengar lelaki itu benar-benar tertawa? Indah sekali.

Taeyong bagai bocah kecil yang penuh semangat, menunjuk manga satu dan yang lainnya, membuat Jaehyun harus mengambil dan menunjukkan isinya pada lelaki itu.

"Aku akan membelikanmu satu. Aku sudah berjanji." Manik Taeyong bercahaya dalam kebahagiaan. "Akan kupilihkan!"

"Oke." Jaehyun tersenyum padanya.

Taeyong mengamati rak demi rak, mencari sesuatu yang tepat. Matanya memperhatikan beragam manga dan art books, dan seketika maniknya membuka lebar. "Yang itu!" Ia menunjuk pada buku besar ber-hard cover. The Art of Princess Mononoke.

"Aku suka Miyazaki," Jaehyun berkata pelan. Ia mengambil buku tersebut. "Ini adalah film yang indah. Pernah menontonnya, Taeyong?" Si lelaki menggelengkan kepala. "Berjanjilah bahwa kita bisa menontonnya bersama." Kali ini, ia mengangguk.

Mereka melangkah mendekati konter. Jaehyun memindai barcode pada buku dan setelahnya Taeyong meraih dompet dari dalam tas, memindai kartu kreditnya pada alat tersebut dan tersenyum pada Jaehyun seiring dengan langkah mereka menuju luar.

Mereka duduk pada taman di balik semak lavender. Jaehyun menatap buku barunya dan membicarakan mengenai film. Taeyong menyandarkan kepala pada lengan si pemuda dan tersenyum bagai orang mabuk. Ya, dia memang mabuk. Mabuk akan Jaehyun. Mabuk akan kegembiraan. Ia tidak ingin hari ini berakhir.

"Jaehyun, hari ini adalah hari yang terbaik dalam hidupku. Aku merasa hampir mendekati normal." Taeyong mendongak, menatap pada matahari yang bersinar terik. Cukup cepat, membuat wajah meronanya bersinar bagai emas.

Jaehyun merasa dadanya seolah akan meledak. Ia menoleh pada Taeyong. "Aku juga. Aku sangat bangga padamu hari ini dan semuanya menyenangkan. Ini adalah hari terbaik." Pemuda itu berharap dengan seluruh yang ia miliki untuk bisa meraih Taeyong dan menciumnya.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu. Kumohon," kata Jaehyun lagi.

"Apa pun," jawab Taeyong.

"Tolong pastikan kau makan malam hari ini." Jaehyun berkata pelan seiring dengan ia yang meraih Taeyong perlahan.

Taeyong merespons. Ia mendekat dan menenggelamkan wajah di dada Jaehyun, sementara si pemuda mengusap rambut peraknya dengan lembut. Bersama matahari yang terbenam, mereka berharap bahwa hari ini tidak akan pernah berakhir.[]

Continue Reading

You'll Also Like

34.5K 1.1K 24
• ANGEL • Kisah ini menceritakan seorang pria mungil yang lembut dan penyabar; Taeyong, yang dijodohkan dengan Jaehyun-pria dingin dan temperamental...
266K 24.1K 19
Bisakah aku meraihmu kembali setelah aku menghancurkan kepercayaanmu? - Jung Jaehyun - âš  WARNING!!! âš  BXB BOYSLOVE STORY JAEYONG ANGST
14.8K 1.6K 20
Johnny yang memiliki rupa menawan telah berhasil membuat Ten jatuh hati. Membuat Ten memusatkan dunianya hanya pada lelaki Chicago itu. Sayangnya, Jo...
199K 11.2K 32
[Romance] "Cinta seorang Lee Taeyong dengan Jung Jaehyun yang dipenuhi oleh kebahagian dan kesedihan". Jaeyong (Jaehyun & Taeyong) BxB, Bahasa non ba...
Wattpad App - Unlock exclusive features