two side | chensung

By peachearltea

205K 29.2K 4.8K

chenle and jisung. different person but have a same situation. warn-! slow groove, some sensitive and trigger... More

F i r s t
01 - Unilateral Agreement
02 - Back Again
03 - Desired Character
04 - Some Reason
05 - Gift
06 - Group Task
07 - Discussion
08 - Another Side of You
09 - Group Task (2)
10 - Misunderstand
11 - Trapped in Your Eyes
12 - Isn't That Alright?
13 - Bad Day For Us
14 - Group Task (3)
15 - Meaningful Smile
17 - I Did Wrong, Sorry
18 - Confusing Mind
19 - Reciprocal
20 - Not As Expected
21 - Escape
22 - Sweet Laugh
23 - Annoying Situation
24 - Annoying Situation (2)
25 - Should We Call It Mistake?
26 - Relieved
27 - Family Portrait
28 - Warm Feeling
29 - Not Fine As You See
30 - Now, How To Do?
31 - Sincere People
32 - Let Your Mind Tell The Answer
33 - Reverser
34 - Nowadays
35 - Friend, You and Beautiful Day
36 - Step To Change
37 - Under The Night Sky
38 - Rotate The Current
39 - Low Point, In The Same Time
40 - Still On The Same Night
41 - Why Does He Keep Asking?
42 - Not Now, Still Need Time
43 - Finally, Talk.
44 - Troubles
45 - Burn A Side of The Character
46 - Reveal The Truth
47 - Home
48 - Home (2)
49 - After Solved
50 - After Solved (2)

16 - What Did I Do?

4.2K 698 111
By peachearltea


tw // bullying.

.
.
.

Two Side

by varasunshine

.
.
.

chapter sixteen

what did i do?

.
.
.
.
.
.
.

Chenle menghela napas begitu melihat bangkunya dipenuhi oleh coklat dan makanan ringan. Sementara Jeongin di sebelahnya berteriak heboh.

“Demi apa?! Setelah di kantin sekarang kau mendapatkannya lagi di kelas. Aku iri.”

Chenle tidak mengubris, ia melangkahkan kakinya menuju bangku kemudian menatap bingung ke arah makanan-makanan itu.

Apa yang harus ia lakukan dengan semua ini sekarang?

“Nah, apakah kau akan membagi beberapa makanan ini untukku?”

“Ambil saja. Kalau perlu tawari yang lain karena aku tidak mungkin menghabiskan ini sendiri.”

“Kau serius?”

“Tentu saja.”

“Kau memang yang terbaik! Aku tidak akan bosan mengatakan bahwa aku bangga berteman denganmu!”

Chenle menghela napas kembali begitu Jeongin mulai heboh menawari teman satu kelasnya makanan-makanan itu.

Saat ini kelas mereka masih istirahat karena guru Lee datang terlambat.

Olimpiade matematika telah selesai beberapa minggu yang lalu. Setelah hasilnya menunjukkan bahwa ia meraih peringkat satu, entah kenapa orang-orang begitu heboh.

Sebenarnya Chenle tidak merasa keberatan bila seseorang memberikannya hadiah. Tetapi bila sampai membuatnya merasa terganggu seperti sekarang, ia sendiri juga bingung perlu melakukan apa.

Ia hanya bisa mempertahankan diri untuk tetap bersikap ramah walaupun sebenarnya ingin mengumpat.

Ini bukan pertama kali.

Dulu, ketika ia memenangkan olimpiade pada peringkat pertama, murid lain juga memberikannya hadiah seperti ini. Dan sampai sekarang Chenle tidak pernah mengerti kenapa mereka repot-repot melakukan hal tidak berguna seperti itu.

Bahkan sebatas ucapan selamat saja rasanya sudah lebih dari cukup.

Padahal bukan hanya ia yang meraih peringkat tinggi.

Dari tiga orang perwakilan sekolah, ada salah satu yang juga meraih peringkat tiga.

Seharusnya ini yang mereka sorot.

Orang itu bahkan berhasil mengalahkan Guanlin yang sebelumnya berada di peringkat tiga.

Park Jisung.

Si kutu buku itu sedang larut dalam kegiatannya sendiri tanpa memperdulikan kelas yang ricuh akibat Jeongin.

“Chenle, kau benar tidak apa-apa bila ini semua habis?” Jeongin menghampirinya.

“Tidak apa-apa. Aku sudah bilang barusan.”

Jeongin tertawa sebelum kembali ke tempat duduknya.

Chenle merasa lelah sekarang. Belum lagi ini hari kamis, di mana ia perlu mengikuti perkumpulan klub sialan itu.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang itu akan mengajaknya membicarakan hal yang tidak penting.

Sampai detik ini ia sudah sangat lelah menjadi orang yang ramah. Kalau boleh jujur, ia ingin bertukar posisi dengan Jisung.

Mereka sama-sama meraih peringkat tinggi, tetapi kenapa hanya ia yang dirusuhi orang-orang?

“Chenle.” Panggil Jeongin.

“Apa?”

“Jisung meraih peringkat ke tiga bukan?”

“Iya.”

“Wah, itu berarti dia meningkat. Tahun lalu ia tidak masuk peringkat tiga tertinggi bukan?”

“Iya.”

“Katanya Guanlin sekarang tidak menempati peringkat tiga tertinggi, apa itu benar?”

“Iya.”

Chenle menjawab sekenanya. Masa bodoh dengan sikap ramah, ia terlalu lelah sekarang.

Selama perkataannya masih terdengar sopan, semuanya bisa terkendali.

“Ada yang ingin aku bicarakan, kebetulan sekali keadaan sedang ramai, mereka pasti tidak akan menaruh fokus ke sini.”

“Apa itu?”

Jujur saja, setelah kejadian di ruang kesehatan berlalu, Jeongin memang tidak pernah mengungkitnya lagi. Dan Chenle berharap anak itu tidak akan melakukannya.

Semoga saja apa yang dimaksud bukan itu.

Bisa-bisa ia kelepasan lagi karena sedang lelah sekarang.

“Kau satu kelompok dengan Jisung saat pelajaran sejarah bukan? Apa kalian mengerjakan tugas kelompok di luar sekolah?”

“Iya.”

“Apa kau pernah melihatnya pergi ke suatu tempat?”

Chenle awalnya terkejut, tetapi ia dapat mengontrol ekspresi wajahnya dengan baik, “Tempat apa?”

Jeongin sedikit memajukan wajahnya, membuat Chenle tersentak karena tiba-tiba anak itu mendekat.

“Rahasiakan ini terlebih dahulu.” Bisik Jeongin sembari melirik ke kiri dan ke kanan untuk mengawasi.

“Aku sebenarnya tidak sengaja diajak kekasihku pergi ke suatu tempat. Tetapi tenang saja, kita ke sana hanya untuk mencari seseorang lalu pergi. Tetapi kau tahu apa yang menarik?”

Oh tidak, jangan bilang Jeongin memang pergi ke arena.

“Sebentar-sebentar, tempat seperti apa yang kau kunjungi?” tanya Chenle hati-hati.

“Bar.” Jeongin mengecilkan suaranya.

Chenle diam-diam menghela napas lega, ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika Jeongin melihatnya di arena. Semuanya akan menjadi kacau.

Tetapi tunggu, apa yang menarik?

“Baiklah, selanjutnya apa?”

Jeongin menggigit bibirnya sebelum berkata, “Aku menemukan Jisung yang penampilannya jauh berbeda dengan sekarang. Sungguh, aku tidak menyangka ia ternyata anak yang seperti itu.”

Chenle benar-benar menampilkan wajah terkejut sekarang.

Ia tahu si kutu buku itu anak nakal ketika berada di luar. Hanya saja ia tidak menyangka Jisung memang sejauh itu sampai bermain ke tempat seperti bar.

“Kau serius? Bukankah anak di bawah umur dilarang masuk?” tanya Chenle.

“Eum ... sebenarnya memang seperti itu. Aku sempat bertanya pada kekasihku dan rupanya dia mengenal Jisung. Ia bisa pergi ke sana juga karena memiliki akses khusus dari seseorang.”

“Maksudmu?”

“Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti. Tetapi kekasihku bilang mereka bisa masuk ke tempat itu karena ada Kun.”

Oh tidak, ia tidak salah dengar bukan?

“Kun?” Ulang Chenle.

“Iya.”

“Siapa dia?”

Jeongin kembali menggigit bibirnya. “Mungkin ini akan terdengar buruk dihadapanmu. Tetapi jujur saja, kekasihku memang anak yang nakal. Kun itu pemegang kendali di sebuah arena yang selalu kekasihku datangi. Tetapi tenang saja, aku bukan anak yang nakal, aku tidak mengikuti kebiasaan buruk kekasihku, waktu itu saja aku tidak tahu kekasihku sedang mencari orang di bar.”

Chenle menghela napasnya. “Lalu sekarang apa?”

“Apanya?”

“Setelah mengetahui hal itu, apa yang akan kau lakukan?”

Jeongin mengerutkan dahi, “Tidak apa-apa, aku hanya memberitahumu.”

“Lalu kau akan menyebarkannya pada orang lain?”

“Hah, untuk apa? Aku tidak mungkin melakukannya, itu sama saja aku menyebarluaskan perilaku buruk seseorang. Ah tetapi aku juga memberitahumu, maka dari itu tolong jaga rahasia ini untuk kita berdua saja ya?” Jeongin memasang wajah memelas.

Ternyata pemikirannya selama ini tentang Jeongin yang tidak bisa menjaga mulut itu salah. Ia sedikit merasa bersalah sekarang.

Chenle tersenyum, “Tenang saja, aku bisa menjaga rahasia.”

“Hah ... leganya aku, terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, aku baru dengar kau memiliki kekasih.” Ujar Chenle.

Ia perlu memancing anak ini untuk mengatakan nama kekasihnya. Itu yang Chenle perlukan.

Wajah Jeongin terlihat berbinar, “Aku sebenarnya sudah lama ingin menceritakannya padamu, tetapi aku takut kau merasa tidak nyaman karena ia anak yang nakal.”

Chenle terkekeh palsu, “Jangan karena aku merupakan siswa teladan kau memiliki pemikiran seperti itu.”

“Hehe, aku hanya takut. Kekasihku sebenarnya bukan berasal dari sekolah yang sama dengan kita, ia juga satu tahun lebih tua. Namanya Hwang Hyunjin, dia sangat tampan.” Wajah Jeongin terlihat memerah setelah selesai bicara.

Chenle memutar otaknya untuk mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu.

Hwang Hyunjin ...

Renjun melempar bukunya sembarangan, bahkan hampir mengenai kepala Adiknya.

“Heh! Kau ini kenapa sih?” Tanya Chenle sambil menatap Renjun dengan sinis.

“Aku membenci teman-teman Kun! Mereka orang yang tidak berotak! Berani sekali menggodaku di depannya sambil cengengesan!”

“Lalu Kak Kun tidak marah?”

“Ia hanya tertawa! Ah sialan memang Hwang Hyunjin dan Lee Jeno, aku ingin mematahkan leher mereka!”

Chenle ingat.

Orang itu temannya Kun.

Kenapa dunia rasanya sempit? Ia harus berhati-hati mulai sekarang. Jangan sampai orang bernama Hyunjin itu menemukannya ketika berada di arena.

Tetapi, bagaimana bila ia sudah pernah melihatnya?

Tunggu—memangnya ia mengenalnya?

Astaga, kepalanya mulai terasa pusing karena memikirkan perkiraan buruk yang akan terjadi setelah mengetahui hal ini.

---

Chenle baru saja izin dari klub sialan itu. Baiklah, lebih tepatnya berpura-pura pergi ke toilet.

Jujur saja, sebelum pembina hadir untuk menjelaskan tentang bintang-bintang yang tidak berguna itu, ia sudah direcoki oleh Daehwi yang terus menanyakan tentang olimpiade.

Dan yang lebih membuatnya tidak nyaman adalah tatapan tidak bersahabat Guanlin.

Baiklah, mereka memang tidak pernah terlibat obrolan lagi semejak makan malam di restoran itu, tetapi ia tidak mengerti mengapa tatapannya terasa sangat menjengkelkan.

Sebenarnya ada satu hal yang lebih penting saat ini.

Mencari kutu buku itu, Park Jisung.

Ia perlu menanyakan perihal Hwang Hyunjin dan juga memberikan beberapa ancaman lagi padanya.

Chenle sudah memutar ke tempat yang sekiranya dikunjungi oleh anak itu. Meskipun ia merasa sedikit ragu karena bisa saja Jisung sudah pulang.

Tetapi ia belum pergi ke satu tempat.

Gudang yang sudah tidak terpakai.

Sebenarnya cukup berisiko, tetapi Chenle juga sudah muak berlama-lama di perkumpulan klub itu.

Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk.

Ketika ia sampai di depan toilet, ia melihat Jisung yang hendak berbelok ke gudang belakang.

Ketemu!

Chenle refleks berlari sebelum lelaki itu benar-benar sampai ke sana. Lagipula kenapa ia pergi ke tempat seperti ini lagi sih?”

Jisung seketika berhenti ketika mendengar seseorang berlari di belakangnya.

Siapa yang pergi ke sini juga?

“Nah bagus tetap berhenti!” Ucap Chenle.

Jisung mendengus begitu mendengar suara yang ia kenal. Tanpa mempedulikannya ia lanjut melangkah.

“Sialan, nerd satu itu.” Umpat Chenle begitu melihat tindak kurang ajar yang dilakukan kutu buku itu.

Chenle tetap melangkah hendak mengikuti Jisung, tetapi begitu mendengar suara pukulan, ia terdiam di balik tembok.

Sudah ia duga.

“Aku tidak ingin banyak berbicara karena kau pasti tidak akan menjawabku! Culun sialan!”

/Bugh

“Bos sepertinya kau terlalu kelewatan, jangan—”

“Diam! Gara-gara si culun ini aku yang sedang sakit sempat terabaikan hanya gara-gara ia mendapat peringkat ke tiga!”

/Bugh

“Memangnya apa yang bisa kau banggakan dari hal seperti itu hah?! Sialan memang!”

Chenle meringis.

Ia tidak habis pikir mengapa Jisung malah pergi ke sini lagi.

Dan juga, ia tidak mengerti kenapa orang yang bicara itu membawa peringkat yang Jisung dapatkan dari olimpiade.

Memangnya apa yang salah?

Sebaiknya ia tidak berlama-lama berada di sini. Mungkin lain kali saja bertemu dengan Jisung.

Namun, ketika berbalik dan hendak melangkah kakinya tidak sengaja menyenggol tong sampah di belakang.

Sial.

“Heh! Siapa di sana!”

Jisung berdecak sebelum tangannya dengan tiba-tiba melayangkan pukulan pada orang yang hendak memeriksa.

Kenapa siswa teladan itu belum pergi?

Bodoh, kalau begini ia juga yang akan repot.

“Berani-beraninya kau!” Orang itu membalas pukulan Jisung.

Setelahnya Jisung tidak melawan lagi. Semua orang yang berada di sana mulai melayangkan pukulan pada tubuhnya. Bahkan kacamata yang ia gunakan terjatuh.

Hyungseol tersenyum mengejek melihat Jisung yang kesakitan, “Ini yang akan kau dapatkan bila melawan, culun. Sayang sekali di sini tidak ada cctv, aku penasaran siapa orang yang membuatmu berani melawanku.”
























To Be Continued ...

---

terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca! 💚💚

jangan bosen-bosen sama cerita ini ya, soalnya kisah mereka itu masih panjang kalau dijabarin lagi huhu (╥﹏╥). kebiasaanku kalau nulis cerita ya begini deh :(

dan satu lagi, ada yang suka nomin gak? mampir ke work yang sebelah yuk 😆

—with love, varadea.

Continue Reading

You'll Also Like

8.5K 513 10
"Ji-" "Sayang, you're enough for me." !js top !cl bot cw // bxb, mpreg, marriage life, ageswitch tw // childhood trauma homophobic DO NOT INTERACT, t...
42.6K 2.8K 14
Menceritakan bagaimana kisah seorang siswa yang tinggal dalam 1 ruangan yang sama dengan berbagai tragedi butterfly era. ❝ [ Warning!! ] ❞ ⚠ Jichen/C...
41.8K 2.3K 26
I'm missing you, what the hell did I do? COMPLETED . . . . GS! 20+ Curses, harshwords, mature and explicit contents. DON'T LIKE DON'T READ. May, 2022...
Moon By cuwi

Fanfiction

4K 368 8
"The moon it's beautiful, isn't it?" Story about ChenJi Just CHENJI!! Inget! Not JiChen
Wattpad App - Unlock exclusive features