Flashback
Niall POV
Sial! Dimana kamu berada Angel? Aku terus menyusuri jalanan porak poranda namun sepi ini. Langit mulai mendung menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Kulihat sisi kanan dan kiri jalanan. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya ada beberapa mayat hidup berjalan tak tentu arah disana. Sampai akhirnya suara perutku yang nyaring membuatku sangat ingin berhenti untuk mengisi perut.
"Hmm, dimana Walmart?"
Mobilku terus berjalan. Dan akhirnya aku menemukan Walmart, bangunan yang mungkin masih penuh dengan makanan. Aku memberhentikan mobil tepat didepan pintu masuk Walmart. Kuambil sebuah pistol dan mengantunginya dikantung celanaku. Serta sebuah pisau yang cukup tajam. Dari luar, Walmart ini sepi. Tak ada zombie. Lalu aku masuk kedalam. Dengan cekatan dan hati-hati, aku sampai dideretan rak yang menyediakan makanan ringan.
Saat sedang menyantap makanan ringan ini, aku merasa seseorang menepuk punggungku. Namun, aneh. Perlahan tapi pasti, suara erangan muncul tepat dibelakang telingaku. Zombie. Aku memutar kepalaku perlahan hanya untuk berhadapan dengan seorang zombie perempuan dengan wajah hancurnya. Aku menjauh darinya. Zombie itu mengejarku.
BUK
Tanpa melihat-lihat, aku menabrak zombie. Zombie itu berusaha meraihku namun dengan cepat aku tancapkan pisauku tepat dikepalanya. Suara zombie yang terjatuh itu terdengar nyaring di Walmart ini. Suara erangan dan langkah kaki yang diseret mulai terdengar. Sial! Posisiku sekarang sangat jauh dari pintu keluar. Zombie-zombie itu mulai berdatangan entah darimana. Dan jumlah mereka sekirannya ada sepuluh atau lebih.
"What a great day! Dammit!"
Aku berlari menjauhi zombie-zombie itu. Namun zombie sudah berada dimana-mana. Aku benar-benar terperangkap. Salah satu zombie benar-benar dekat denganku. Segera kusambut dengan tusukan dikepalanya. Begitupun dengan zombie lain yang berani mendekat padaku. Tapi aku tidak bisa diam, karena mereka terlalu banyak.
Aku nekat menerobos gerombolan zombie itu. Membanting tubuh mereka yang berani menyentuhku. Entah aku berada dimana. Mereka masih saja mengejarku, seakan-akan aku ini makanan terlezat. Seberkas cahaya disebelah kiri membuatku menuju kesana. Ternyata itu pintu belakang. Kubuka dan aku segera berlari.
"Sial, zombie dimana-mana!"
Lapangan parkir belakang Walmart ini penuh dengan mobil-mobil yang sudah usang. Dan zombie dimana-mana. Aku mengendap-endap melewati zombie-zombie yang berkeliaran. Pisau sudah kupegang dengan erat jika ada yang mendekat. Pasti ada jalan disamping Walmart yang menuju halaman parkir didepan. Tapi, saat aku menuju jalan disamping, jalanan itu ditutupi oleh pagar yang terbuat dari kawat-kawat.
"Kenapa hari ini begitu sial huh?!" Ucapku sarkas.
Kebetulan pagar kawat itu tidak terlalu tinggi. Dan kebetulan ada mobil yang terparkir tepat disamping pagar kawat itu. Aku langsung saja memanjat mobil yang rongsok itu dan menggapai atas pagar. Karena suara yang ditimbulkan saat aku menaiki mobil rongsok itu, para zombie mulai mendekat. Sangat dekat. Aku berhasil menaiki pagar kawat ini dan kemudian melompat. Yes!
"Hey zombie-zombie jelekkkkk!" Aku menjulurkan lidahku pada mereka.
Saat aku berbalik, tiba-tiba saja....BRUK!
Pagar kawat yang berdiri itu ambruk dan sialnya lagi, pagar itu menimpa tubuhku. Aku tersungkur diatas aspal yang untung saja tidak panas. Suara petir mulai terdengar dan tiba-tiba saja hujan mulai turun. Zombie-zombie itu segera mengejarku yang tertimpa pagar. Aku merayap berusaha membebaskan diri dari pagar.
BRUK
BRUK
BRUK
"OMG GET OUTTTT YOU UGLY ZOMBIES!!!!!"
Beberapa zombie menindihku dan berusaha menggigitku. Saat aku sudah terbebas dari pagar itu, tiba-tiba beberapa zombie menarik kakiku dan aku menariknya sekuat tenaga tanpa melihat kebelakang.
OUCH
Tiba-tiba kakiku terasa sangat sakit. Seperti dagingku terkoyak. No, it can't be. Aku segera berdiri dan belari dengan pincang menuju mobil. Namun, ada sebuah mobil lagi yang tak asing terparkir disamping mobilku. Itu mobil Harry? Aku mengintip kedalam mobil, tidak ada siapa-siapa.
"Harry!!!" Aku berteriak.
"HARRRYYYYY!!!!"
Suara derap kaki membuatku menoleh ke sumber suara. Benar saja. Harry ada disini. Bersama Liam dan Louis. Mereka pasti mengejarku.
"Niall!"
Mereka bertiga berlari kearahku dan kami melakukan group hug. Kami berempat tidak peduli dengan hujan yang membahasi kami.
"Cairan apa ini?" Liam bertanya, pandangannya kebawah.
"I guess it's my blood." Ucapku.
Louis melihat kakiku dan matanya membesar, ditambah dengan mulutnya yang menganga lebar. Harry dan Liam juga melakukan hal yang sama setelah melihat kakiku. Memang lukanya sangat lebar dan tampaknya dalam. Darah terus mengalir dari lukaku ini.
"Bagaimana bisa kakimu luka?" Tanya Liam.
Aku menggeleng. "Nanti aku ceritakan," Aku menuju mobil. "Ayo pulang sebelum malam tiba."
Louis memutuskan untuk bersamaku dan ia yang menyetir mobilnya. Kemudian kami melaju pergi. Rasa aneh dikakiku sangat menyebalkan. Rasanya kakiku mati rasa. Apa tadi aku digigit zombie? SHIT. By the way, aku ingin bertanya pada Louis.
"Lou, bagaimana kalian bertiga menemukanku di Walmart?" Tanyaku penasaran.
"Kamu ini manusia dengan perut karet jadi setiap 10 menit sekali pasti kamu ada ditempat yang ada makanan. Dan tempat yang masih menyimpan makanan ya Walmart." Ujarnya.
Aku mengangguk.
"Louis, bisa kita berhenti dan menginap disuatu rumah? Lagipula malam sudah tiba dan aku tidak mau pulang dengan luka ini."
"Bagaimana dengan Angel?" Tanya Louis.
"Dia pasti baik-baik saja."
Louis memberhentikan mobil dipinggir jalan. Kemudian kami keluar dari mobil. Mobil Harry tepat berada dibelakang. Aku masuk didalam mobilnya, begitupun dengan Louis.
"Ada apa? Bensinnya habis?" Tanya Harry.
Louis menggeleng. "Ayo mampir ke salah satu rumah, kita perlu membersihkan luka Niall."
Liam yang menyetir lalu berbalik arah menuju rumah-rumah yang berada dipinggir jalan. Kami melihat rumah yang paling aman untuk ditinggali. Dan rumah itu berada dipaling ujung jalan. Liam dan Harry masuk duluan untuk mengecek isi rumah apakah benar-benar aman. Lalu setelah memastikan kalau aman, kami semua masuk kedalam. Dan langsung menuju lantai atas, memasuki kamar yang memiliki jendela yang langsung bisa melihat kejalanan.
"Aku mau lihat lukaku," Aku berdiri dan membuka kancing celana jeans-ku, dan juga resletingnya. Kulepas dari kakiku, meninggalkanku hanya dengan celana pendek or should I say my boxer.
Aku melihat luka di pergelangan kakiku. Benar saja, kulitku robek. Tapi untung saja tidak terlalu lebar dan darahnya pun sudah berhenti mengalir. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah darimana dan bagaimana luka ini bisa ada? Apakah aku digigit zombie? Atau luka karena benda tajam atau semacamnya?
"Kamu belum menggunakan suntikan itu? Obat pencegah zombie?" Tanya Louis.
Mendengar itu, mataku membesar.
DANG!
Aku menggeleng perlahan. "Belum."
TAK!
TAK!
TAK!
Tiga jitakan mendarat dikepalaku.
"KENAPA KAMU BELUM MENGGUNAKANNYA NIALL JAMES HORAN?!!!!!!" Liam berbicara sangat nyaring, almost screaming.
"A-aku lupa Liam!"
"Ceritakan bagaimana kamu mendapat luka ini?!" Tanya Harry.
Aku menceritakan dari awal bagaimana aku ke Walmart lalu ada zombie lalu sampai aku terjatuh tertimpa pagar plus zombie. Bagaimana zombie menarik kakiku dan tiba-tiba sudah ada luka dikakiku yang entah aku tidak tau apa karena digigit zombie atau bukan.
"Niall! You are my best mate! I don't want to lose you!" Harry tiba-tiba memelukku erat.
"I'm not going anywhere Harry."
"Promise? You're not going to be a zombie?" Harry menitihkan air mata.
"Dasar alay! Kalau itu aku nggak tau Haz."
Aku menjitak kepala Harry. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Terakhir kali aku melihat Harry menangis karena ia homesick. Saat itu kami berada di Amerika dan ia jatuh sakit. Dan sekarang, melihat Harry menangis didepanku membuatku sedikit sedih. Liam dan Louis pun memiliki ekspresi yang sama, sedih. Apakah aku benar-benar akan menjadi zombie?
"Guys, tolong jangan beri tau Angel ya."
"Tapi dia berhak tau Ni," Kata Louis. "Kamu mau Angel shock karena melihatmu tiba-tiba berubah menjadi mayat hidup?"
Liam menjitak kepala Louis. "He's not going to be a zombie! Pasti ada obatnya! Ayah Angel pasti sedang berusaha membuat obat! Aku yakin itu!"
"I doubt that." Gumamku, lirih.
Louis berjalan kearah jendela dan membuka gorden. Ia melihat keluar jendela sampai akhirnya ia berbalik. "Guys, Angel's here!"
"Bagaimana dia menemukan kita?" Tanya Liam.
"Mobil Niall kan diparkir dipinggir jalan dan Angel pasti melihatnya." Kata Louis.
"Guys, ingat ya jangan bilang kalau aku digigit zombie. Bilang saja aku terkilir." Ucapku memohon. Mereka menatapku dengan kurang keyakinan, namun akhirnya mereka mengangguk. Aku memakai celana jeansku kembali dan berselimut untuk menutup kakiku.
Flashback off(?)
-
HAI READERS TERCINTA YANG SANGAT SAYA SAYANG DAN CINTAIN *PROKPROKPROK*
DI CHAPTER INI HANYA MENYAJIKAN PLESBEK NYA NIALL YAKKKK;) SEMOGA SUKA DENGAN CHAPTER INI, JANGAN KECEWA DULU BECAUSE THERE'S STILL ONE MORE SURPRISE(?) *APASIH*-_-
DON'T FORGET TO COMMENT AND VOTE! LOTS OF LOVEEEEEEEEE XOXOXOXO