cinta MENGAPA gengsi (Complet...

By aninrny_12

105K 6.9K 795

Judul awal "MENGAPA" "Mengapa harus dia yang aku cintai?" "Mengapa aku bertemu dengan lelaki seperti dia?" ... More

P R O L O G
|| 01 || MENABRAK DIA
|| 02 || BERTEMU KEMBALI
|| 03 || DI ANTAR PULANG
|| 04 || PUNYA KEKASIH
|| 05 || TANPA DI SADARI
|| 06 || EGO DAN GENGSI
|| 07 || TIDAK MENYANGKA
|| 08 || SAYA MENCINTAIMU
|| 10 || CALON
|| 11 || MENGKHITBAH
|| 12 || BAR-BAR
|| 13 || PERTUNANGAN
|| 14 || CARA BACA GUNNAH
|| 15 || ENAM HURUF
|| 16 || SAKIT HATI
|| 17 || PENJELASAN
|| 18 || BERTINGKAH KONYOL
|| 19 || SAKIT DAN KECEWA
|| 20 || HAMPIR SAJA
|| 21 || YANG SEBENARNYA
|| 22 || MASIH KESAL
|| 23 || LUSA NIKAH, YUK?
|| 24 || SAYA CEMBURU
|| 25 || MAUNYA PAK TAMPAN
|| 26 || BERMAHAR AR-RAHMAN
|| 27 || YANG BELI MANIS
|| 28 || CANTIK DAN INDAH
|| 29 || A'A ATAU MAS?
|| 30 || MISS YOU
|| 31 || KECELAKAAN
|| 32 || PARAH-PARAH
|| 33 || MANJA BANGET
|| 34 || CINTA DALAM GENGSI
|| 35 || KEKASIH HALAL
|| 36 || OM TAMPAN
|| 37 || PERPISAHAN
|| 38 || RENCANA-NYA
|| 39 || BAHAGIA ATAU SEDIH?
|| 40 || NGIDAM BIKIN KESEL
|| 41 || MENIKMATI PROSESNYA
|| 42 || DATANG DAN KEMBALI
|| 43 || CINTA DALAM DOA
E P I L O G
Ekstrapart || BUNGA TIDUR

|| 09 || TERULANG KEMBALI

2K 150 10
By aninrny_12

Kini gengsi yang mendominasi diriku
-Fildan Filfazsha-

Happy Reading

"Saya mencintai mu"

"Saya mencintai mu"

"Saya mencintai mu"

"Ya ampun! Kenapa kata-kata itu terus terdengar?!" pekik Lesty kesal.

Bohong.

Bohong jika Lesty tidak mendengar Fildan berkata seperti itu. Hanya saja Lesty terkejut saat mendengarnya, dan Lesty hanya ingin memastikan apa yang bosnya katakan.

Dan ternyata? Sudah Lesty tebak, bahwa Fildan hanya bercanda.

Namun tetap aja, kalimat itu terus berputar di kepala Lesty. Dan membuat Lesty bertanya-tanya. Apa maksud Fildan berkata seperti itu?

Apakah Fildan mencintai Lesty?

Cinta? Konyol! Sungguh konyol perkataan Fildan.

Saat setelah percakapan tidak jelas itu. Fildan langsung meminta untuk pulang, dengan alasan sudah larut malam. Dan saat di perjalanan pun, Fildan tidak membuka suara. Diam membisu seakan-akan tak pernah mengucapkan kalimat konyolnya.

Dan gara-gara itu, malam ini Lesty sulit untuk tidur.

🍀🍀🍀

Bodoh.

Kata itu yang pantas untuk Fildan saat ini. Fildan merutuki kebodohannya. Kenapa bisa-bisanya dirinya kebablasan dan mengacaukannya!

Gara-gara kurang pengalaman.

Pengalaman?

Fildan tidak mempunyai pengalaman dalam menyatakan perasaannya. Dan saat tadi di taman, itu adalah pengalaman pertama yang sungguh sangat memalukan. Karena sedari dulu Fildan tak pernah pacaran. Dirinya hanya pernah berkomitmen dengan seseorang yang entah sekarang berada dimana. Itu pun, bukan Fildan yang mengajaknya, gadisnya lah yang mengajaknya dan yang mengkhianatinya.

Komitmen yang tidak adanya kepercayaan. Hanya ada pengkhianatan.

"Seharusnya gue tadi bilang sekali lagi. 'Aku mencintaimu, Lesty. Lalu kamu mau jadi pacar aku?' Nah gitu Fildan! Bodoh banget! Gengsi lo ketinggian!" rutuknya. Fildan benar-benar melewati kesempatan kali ini. Kapan lagi coba dirinya bisa berduan dengan Lesty?

Lesty yang menjadi sekretarisnya hanya akal-akalan Fildan untuk selalu dekat dengan Lesty. Karena hanya cara itu yang terpikir di dalam otak Fildan.

Dan sekarang pertanyaannya, apakah Lesty mendengar ucapan Fildan saat itu tidak? Jika iya. Sungguh Fildan akan sangat malu saat bertemu dengan Lesty.

Sedang asik merutuki kebodohannya. Suara sang Bunda menginstruksinya.

"Fildan Keluar. Temui Bunda diruang keluarga" suruh Lita yang berada di luar kamar Fildan. Saat ini Fildan sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.

"Fildan capek. Pengen istirahat" balas Fildan dengan posisi yang tak berubah. Hanya duduk di bibir ranjang dengan mata terpejam.

"Terserah. Kalau kamu gak mau bicara sama Bunda malam ini. Jangan nyesel kalau minggu depan kamu nikah!" ancam Lita.

What! Mata Fildan yang sedari tadi terpejam, kini terbuka lebar-lebar saat mendengar kalimat yang Bundanya ucapkan. Bundanya tak pernah bermain-main dalam ucapannya, karena itu Fildan segera membuka pintu kamar yang tadi ia kunci.

Ceklek!

Saat pintu kamar telah terbuka. Terlihatlah Bundanya yang sedang berdiri dengan tangan di lipat di dadanya. Sungguh Bundanya terlihat menyeramkan malam ini.

"Kita perlu bicara" kata Lita lalu melangkah kakinya meninggal Fildan yang sedang di landa kebingungan yang kentara.

"Ada apa dengan Bunda?" batin Fildan bertanya-tanya.

"Ada apa, Bun?" tanya Fildan to the point saat dirinya sudah duduk di samping Lita.

"Kita akan mengkhitbah sahabat Bunda"

APA?! Sahabat Bunda? Apakah kalimat itu tidak salah?

Jika anak sahabat Bunda, masih bisa di toleransi. Tetapi ini? Sahabat Bunda? Semuda apa sahabat Bundanya ini?

"Gak, Bun! Apa-apan sih khitbah-khitbah. Emang Bunda kira, khitbah itu ngajak makan doang" tolak Fildan dengan tegasnya. Namun bukannya kecewa, Lita malah tersenyum tipis melihat respon anaknya.

"Terserah. Mau tidak maunya kamu. Bunda akan tetap mengkhitbah sahabat Bunda untuk kamu"

"No, Bun! Setua itukah Fildan harus mengkhitbah sahabat Bunda?" tanya Fildan mulai frustrasi. Kenapa Bundanya ini sangat keras kepala? Lagian umur dirinya itu belum terlalu tua untuk melajang.

"Kamu pikir sahabat Bunda tua, HAH?! Dia masih muda!" omel Lita yang tidak terima jika sahabatnya di katai tua.

"Lah jika tidak tua, kenapa dia bersahabat sama Bunda? Apa perawan tua?"

"Dasar! Kamu ngatain sahabat Bunda gitu lagi, Bunda gak segan-segan malam ini nikahin kalian!" kesal Lita membuat Fildan bingung.

Apa apa dengan Bundanya. Fildan terus bertanya-tanya. Tidak mungkinkan jika Bundanya berteman dengan seseorang yang seumur dengan Fildan? Pasti sahabat Bundanya itu sudah cukup umur.

"Emang siapa sih? Lagian, yang Fildan tau sahabat Bunda itu udah pada nikah, masa iya Fildan nikah sama janda" dengan gemasnya Lita melayang cubitan di paha Fildan.

Mulut anaknya ini kenapa kalau berbicara main ceplas-ceplos seperti ini?

Lagian Lita juga tidak ingin anaknya menikah dengan Janda. Kecuali itu memang takdir anaknya yang menikah dengan janda, dan tentunya itu pilihan anaknya maka Lita akan mendukungnya.

"Kamu mungkin kenal gak kenal sama dia. Bunda baru ketemu sama dia itu sekitar beberapa hari yang lalu. Terus Bunda memutuskan untuk menikah kalian bulan depan, kalau gak, akhir bulan ini" kali ini Fildan ingin mengumpat Bundanya. Otak Bundanya ini sudah tidak sehatkah? Kenapa memutuskan hal yang penting tentang masa depan anaknya dengan seenaknya saja?

Bahkan seseorang yang akan di nikahinya itu baru beberapa hari bertemu dengan Bundanya.

Fildan langsung tertawa. Fildan menganggap bahwa ini lelucon Bundanya, yang hanya menakuti dirinya, karena sampai sekarang, dirinya yang tidak pernah mengenalkan seorang perempuan sebagai pacarnya.

"No, Bun! Bunda kenapa, memutuskan semuanya secara sepihak? Dan ini sangat mendadak"

"Bunda jatuh cinta sama gadis itu. Dan Bunda yakin dia bisa dampingi kamu yang tingkat gengsinya selangit!"

"Kenapa gak Bunda aja yang nikahin dia?" dengan gemas Lita langsung mengeplak bibir putranya yang dengan seenaknya berbicara seperti itu. Dan Fildan hanya bisa ngeduh. Sungguh bibir terasa berdenyut saat ini. Belum tadi paha yang sudah mendapat cubitan sayang Bundanya, kini bibirnya yang menjadi korban.

"Oke. Tenang Fildan. Saat ini kamu sedang berbicara dengan wanita yang kamu cintai dan hormati" batin Fildan memenangkan dirinya, yang hampir saja meluapkan kekesalannya terhadap wanita yang sedari dulu di cintai dan di hormatinya.

"Kamu itu!" kesal Lita pada anak sulungnya.

"Apaan sih, Bun. Lagian Fildan udah punya calon kali" dengan santainya Fildan berkata seperti itu. Dan itu membuat Lita tersenyum mengejek.

"Serius?" tanya Lita dengan nada mengejek, membuat ego Fildan tersentil.

"Iya! Fildan udah ada calonnya" tanpa pikir panjang lagi, Fildan membalasnya.

"Oke buktikan! Jika dalam seminggu ini kamu gak bawa calon yang kamu maksud. Bunda akan mengkhitbah sahabat Bunda buat kamu" putus Lita membuat Fildan was-was.

Pertanyaan besarnya, siapa yang akan menjadi calonnya?

Siapa yang harus Fildan kenalkan pada Bundanya?

"Tuhan, tolong kirimkan bidadari untuk hambamu ini" batin Fildan berdoa.

🍀🍀🍀

Pagi ini cukup cerah, tidak alasan untuk Lesty bolos kerja. Jujur saja saat ini Lesty sedang tidak ingin masuk kerja. Alasannya hanya satu yaitu tidak ingin bertemu dengan bos nya.

Namun keinginan itu harus Lesty enyahkan, kareka pagi ini Lesty harus berangkat ke kantor menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Fildan.

"Assalamualaikum" suara itu. Suara yang untuk saat ini, tidak ingin Lesty dengar.

Seakan tak pernah mengalami hal yang konyol, Fildan menyapa sekretarisnya ketika mereka berpapasan di lobi kantor.

Awalnya enggan untuk membalas salam Fildan. Tetapi saat melihat sikap Fildan yang seperti biasanya saja, Lesty memutuskan untuk bersikap biasanya juga. Berpura-pura bahwa dirinya tidak mendengar apa yang Fildan katakan.

"Waalaikumsalam, pagi Pak"

"Hari ini jadwal saya apa saja?" tanyanya seraya berjalan mendekati Lesty.

Saat ini posisi Lesty memang sudah sedikit lebih jauh dari Fildan. Dengan Lesty yang sebentar lagi akan membuka pintu masuk dan Fildan yang baru menaiki undakan tangga kecil.

"Hm. Saya belum menyusun semuanya. Tapi nanti jam 10 ada rapat"

"Baiklah. Kamu juga akan ikut dengan saya"

"Baik, Pak" untuk hari ini Lesty tidak akan membantah perintahnya bosnya. Lagipula memang tugasnya untuk menuruti setiap perintah yang keluar dari mulut Fildan.

"Mari masuk"

Fiks! Hari ini sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Hari ini seakan keduanya merasa canggung. Bahkan saat akan masuk kantor pun, Fildan dengan bodohnya mempersilakan masuk Lesty.

Aneh.

Dan keanehan itu membuat Lesty tersenyum geli. Dan Fildan kini sedang mati-matian menahan gugupnya. Jujur saja saat ini Fildan merasa dirinya bodoh dan tentunya sangat memalukan.

Kemana sikap arogan dan dingin yang melekat pada diriya?

Seketika sikap itu sirna saat dirinya bertemu dengan Lesty.

Why?

Apakah pengaruh Lesty sungguh besar bagi Fildan?

...

"Pak, meeting 10 menit lagi" kata Lesty saat sudah di persilakan masuk kedalam ruangan Fildan.

"Hm. Nanti saya menyusul. Kamu sudah menyiapkan semuanya?" kata Fildan dengan mata yang tetap fokus pada layar laptop.

"Udah. Kalau begitu saya izin keluar" ucap Lesty mengakhiri pembicaraan singkat ini.

10 menit kemudian. Fildan kini tengah berada di ruang meetingnya yang tentunya di temani oleh Lesty dan beberapa karyawan yang bersangkutan dengan kerjasama kali ini.

Fildan akui kemampuan yang Lesty miliki. Buktinya sekarang Lesty dengan santainya menjelaskan kerjasama yang akan perusahaan mereka jalani.

Beberapa jam kemudian.

Akhirnya Lesty sudah bisa bernafas lagi. Jujur saja berada di dalam ruang meeting membuatnya sulit bernafas. Terlalu gugup, namun untungnya Lesty masih bisa menyembunyikan kegugupannya.

Saat Lesty akan beranjak dari temannya. Suara Fildan tiba-tiba menginstruksi dirinya.

"Lesty. Makan siang bersama" ujar Fildan yang entah lebih kepada pertanyaan apa lebih tepat kepada pernyataan?

Dengan ekspresi yang di buat-buat Lesty membalasnya. Dan kebetulan saat ini hanya tinggal mereka yang berada di dalam ruang meeting.

"Bapak mengajak saya makan siang? Wah wah keajaiban dunia" kekeh Lesty tanpa mempedulikan ekspresi Fildan yang tiba-tiba datar.

"Ada hal yang perlu saya bicarakan" ujar Fildan lalu beranjak meninggalkan Lesty.

Lesty yang tidak ingin di tinggal, langsung menyusul Fildan.

"Pak. Kalau saya tidak mau bagaimana?" tanya Lesty seraya menyamakan langkahnya.

"Mau tidak maunya kamu. Kamu tetap harus mau" apa-apa ini. Ini namanya pemaksaan.

"Lah kok bapak maksa sih?"

"Terserah saya dong. Lagipula jika saya tidak ada hal yang harus bicarakan dengan kamu. Saya juga malas untuk makan bersama" dan sekarang Fildan membuat Lesty kesal setengah mati.

Apa-apa ini. Sepenting apa sih pembicaraan yang akan mereka bahas?

"Terserah deh. Tapi makan saya, Bapak yang bayar" kata Lesty lalu berjalan lebih cepat dari Fildan agar bisa lebih dulu sampai di kubikelnya.

"Ck. Ck. Sekretaris tidak tahu diri" cibir Fildan. Dan untungnya Lesty tidak mendengar cibiran tersebut. Jika Lesty mendengarnya sudah Fildan pastikan ada terjadi percekcokan.

Namun dari balik itu semua. Fildan mereka senang. Senyum yang jarang ia tampilkan di luar rumah. Kini sering terlihat.

...

"Pak. Mau ngomong apa sih?" tanya Lesty membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Saat ini mereka sudah berada di restoran yang dekat dengan kantor.

"Makan dulu" suruh Fildan dan bertepatan dengan itu, pesanan mereka datang.

Dengan khidmat Lesty menyantap makanannya. Lesty bahkan tidak mempedulikan Fildan yang sedari tadi menatapnya.

"Les" panggil Fildan sepertinya, Fildan ingin memulai pembicaraan mereka.

"Hm" sahut Lesty tanpa mengalih dirinya dari makanan yang kini tersisa setengah.

"Jadilah pacar saya" dan saat itu juga Lesty yang tengah makan tersedak, membuat tenggorokannya terasa sakit.

Uhuk! Uhuk!

"Bapak bicara apa?"

"Minumlah" suruh Fildan seraya menyodorkan minum Lesty kepadanya.

Setelah minum, kondisi tenggorokannya lebih baik. Namun tidak dengan kondisi jantungnya. Jantung berdetak tidak seperti biasanya.

"Tadi bapak ngomong apa?" tanya Lesty lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.

"Tidak. Lupakan saja"

Untuk kedua kalinya. Fildan mengulangi kesalahan dan menciptakan pengalaman yang begitu memalukan.

####

•revisi

Oke. Gimana dengan part ini?

APAKAH LESTY AKAN MASUK KEDALAM KISAH CINTA FILDAN?

Jangan lupa

VOTED and COMMENT.

29 Maret 2020
By. Aninuraeni

Continue Reading

You'll Also Like

3.3M 180K 67
[CERITA LENGKAP] ☁☁☁ "KENAPA HARUS SAHABAT GUE?!!" "Sorry" "Semuanya udah terlambat, asalkan lo tau rasa sakit yang gue rasain berkali-kali lipat. L...
26.3K 2.1K 32
Menunggu? Menunggu untuk apa? Menunggu untuk siapa? Benar-benar membingungkan! Cinta itu datang tiba-tiba. Perasaan tumbuh dengan sendirinya. Ini k...
64.8K 4.6K 42
Judul awal 'Menanti Cinta Mu' Menikah itu harus karena cinta bukan? Namun tidak dengan pernikahan yang di alami oleh pasangan ini! Mereka menikah k...
72.1K 1.7K 53
SEBAGIAN PART DI PRIVATE. SILAHKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠ Proses Revisi 🗂 "BANGS*T" umpatnya, "dan lo semua bilang sama si ketos sialan itu gak usa...
Wattpad App - Unlock exclusive features