Chrissie's pov
Aku dan Luke sudah duduk di sofa rumah Liz. Perasaan kami saat ini adalah Takut,Resah,dan Gelisah. Entah apa yang akan Liz lakukan pada kami.
"Jelaskan semuanya dari bait pertama sampai bait terakhir!"Bentak Liz.
Aku menelan ludahku. Berusaha memberi kode untuk Luke agar ia saja yang menjelaskannya.
"Chrissie ini Salah satu Murid di Camp ku,Mom. Jadi,kau jangan curiga seperti itu,dong. Dia anak baik. Jadi,ceritanya di mulai saat kami pergi ke taman kota. Aku yang menggajaknya. Saat di taman kota, Chrissie memutuskan untuk pulang duluan dengan Bus. Tapi,saat aku ingin menaiki Bus yang Sedang Chrissie tumpangi,Bus itu sudah jalan duluan. Alhasil,Chrissie pulang sendiri. Tapi,Chrissie belum tau seluk beluk Aussie,mom. Ia saja tidak tau jalan Taman kota menuju Camp dan akhirnya,ia salah naik bus. Ia malahan naik bus jurusan Darwin hingga ia menemukanmu dan kau bawa ia kesini. Iya,kan?"Jelas luke panjang lebar.
"Iya. Chrissie kau yang lanjutkan," Balas Liz.
"Semalam,Aku memberikan pesan ke Luke. Aku memberitahu alamat rumah ini untuk menjemputku. Aku juga tidak enak padamu bila aku terlalu lama tinggal disini,Liz. Lalu,Luke datang kesini. Tapi semalam ia sudah menyuruhku untuk kembali ke Sydney tapi aku menolak karna aku melihat luka sayatan di lengan luke. Aku langsung menggobatinya. Karna capek,aku langsung tertidur di kasur Luke. Tanpa tau apa yang Luke lakukan. Tapi,kami bersumpah demi apapun, kami tidak melakukan yang tidak-tidak,"Sambungku.
Liz mengganguk,"Aku punya beberapa pertanyaan."
"Kalian pacaran?".
"Tidak,kami musuh bebuyutan,".
"Ingat,Benci bisa menjadi Cinta," Tegur Liz."Dan aku akan ya,kalian taulah, Aku mendukung Kalian,".
Benarkah telingaku yang mendengar kata-kata dari Liz? Dia mendukungku dan Luke anak kesayangannya? Alias anak bungsunya itu? WHAT THE HELL!
"Lalu, bagaimana bisa kau ada di kamar Luke? Aku sudah memperingatimu,Chriss,"Ujar Liz menggintimidasi.
"Maafkan aku Liz,aku penasaran dengan anakmu yang sangat kau rahasiakan itu. Jadi,aku ke kamar Luke. Tapi,saat aku ingin keluar,Ben dan Jack sudah duluan menggunci pintunya. Sungguh,maafkan aku karna lancang,"Kataku.
Liz mengganguk.
"Aku suka dengan kalian berdua,".
Maksudnya?
"Maksudmu apa,mom?".
"Apa ya? Kurasa kalian cocok,".
Aku menautkan alisku,"Maksudmu?".
"Kapan Lucas kau akan menyatakan perasaan? Aku Shippers kalian!"Seru Liz.
Mati kita luke.
*
Aku dan Luke sudah duduk di bus menuju Sydney setelah menggalami banyak sekali rintangan. Rintangan dari Liz. Kalian tau? Luke dipaksa menyatakan perasaan padaku? Gila bukan?
"Chrissie Beverly Standfield,dengan rasa yang tulus, aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Maukah kau menjadi pacarku?"Tanya Luke.
Lol.
"Yeah,Luke. I want to be your Girlfriend. Forever and Always," Balasku.
Luke pun memelukku karna dipaksa Liz dan yang kurasakan saat ia memelukku adalah rasa menjijikan juga ingin muntah setiap menggingat momen sakral bagi Liz itu.
"Fiuh. Untung rintangan Freak dari mom itu sudah kita jalani ya,gak,Chriss? Kau tau,aku selalu ingin tertawa jika mengingat tragedi sok dramatis tadi,"Ujar Luke padaku.
"Ya,sama. Aku lega,deh,kita sudah dapat menjalankan semua ini dan dapat kembali ke Camp. Aku gak sabar mau ketemu Clarice lagi,"balasku kepada Luke. Luke hanya menggaguk.
"Tapi,setiap aku ingat Camp,aku teringat akan Molly. Sedang apa Molly disana ya? Apakah dia sedang tersenyum? Atau sedang sedih?"Luke mulai berkhayal soal Molly yang membuatku terdiam dan rasanya perasaanku kembali sesak.
"Maafkan aku,Aku bel--".
"Ya,tak apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu memaksakan," balas Luke. Tumben ia baik.
Aku hanya dapat tersenyum dan mengganguk.
"Oya,soal momen gila itu jangan dijadikan kenyataan,ya. Status kita masih single. Tadi bukanlah sebuah pernyataan perasaan dariku. Aku hanya dipaksa dan aku terpaksa,"Kata Luke. Aku mengganguk.
"Ya,aku tau itu. Aku juga tidak mau Taken dengen lelaki Freak sepertimu," Balasku.
Luke terkekeh."Apalagi aku. Aku juga tidak mau taken denganmu karna kau sangat baku dan terlalu polos. Huh!".
"Jadi, kau mencari yang tidak polos?" Tanyaku. "Seperti Bethany yang sangat tergila-gila dengan Harry?"
"Enggak kayak Bethany juga kali,Chriss. Tapi,seperti mantan pacarku namanya Aleisha. Kau mau lihat fotonya?"Tanya Luke.
Luke pun menyodorkanku foto Aleisha mantan pacarnya. Aku hanya dapat tersenyum sambil menatap lekat foto itu.
"Nah,Cantikkan Aleisha 100% dari kau,kan,Chriss,"Ujar Luke.
Aku hanya tersenyum tipis dan tidak menggubris Luke.
"Hey,kenapa tidak jawab?"Tanya Luke."Envy,ya?".
Aku menggeleng,"Siapa yang Envy? Idontcareabouther,".
"Apa? Kau bicara apa?"Tanya Luke."Ayolah,bicara yang benar!".
Aku mendengus,"Kau pikir saja ya,sendiri. Aku bicara apa tadi,bye!".
Aku langsung memasang Earphone ku ke kedua telingaku. Mulai kucari lagu yang ingin kudengar.
*
Kami berdua sampai di camp dengan perasaan senang bukan main. Terlebih lagi,aku ingin dengar sedikit cerita dari Clarice yang katanya ikut Summer Party. Entah kesan dan pesannya apa.
Tokkk..tok..tok..
Aku dan Luke menggetuk pintu Flat bersamaan. Seketika,seorang perempuan berambut Blonde yaitu Clarice keluar dengan mata bengkak?
"Ya ampun,kau kenapa,Clar? "Tanyaku panik ketika melihat matanya.
"I'm fine. Come in,"Jawab Clarice.
Aku dan Luke pun memutuskan untuk masuk kedalam Flat. Kali ini,aku dan Luke kembali berpencar. Luke akan mencari Teman-temannya sedangkan aku,aku akan menemani Clarice.
"I miss you a lot,Chriss,"Ucap Clarice sambil memelukku.Aku membalasnya dengan kecupan kecil di pipinya.
"Me too,".
Aku dan Clarice pun berjalan kearah kamar Clarice bersama-sama untuk sekedar berbicara soal keadaan kami selama 3 hari ini.
"Jadi,bagaimana Summer party mu?"Tanyaku.
Seketika wajah cerah Clarice berubah menjadi muram dan kaku. Hey,aku tak tau mengapa itu dapat terjadi. Rasanya, ia tidak ingin menggungkitnya.
"My L-lips,".
"Hah? Bibirmu kenapa? Kepentok kayu atau apa gitu? Lalu bengkak lagi?"Tanyaku. Clarice menggeleng dan langsung saja memelukku dengan tangisan khasnya.
"Aku minta maaf. Aku bodoh. Aku bodoh,"Ujar Clarice. Aku yang tak mengerti apapun hanya dapat menggelus rambut Blonde nya sambil terus bertatapan heran.
"Kenapa? Cerita saja padaku! Aku takkan katakan ini pada mom," Ucapku yang membuat Clarice kembali berani untuk menatapku.
Clarice terdiam. Tangannya sudah memegang bibirnya dengan sentuhan yang menandakan bahwa ia tidak suka dengan objek yang ia sentuh. Lalu menjalar ke lehernya hingga perutnya. Whats wrong with her?
"Apa yang terjadi padamu?"Tanyaku.
Clarice mulai menceritakan tentang summer party itu mulai dari paksaan Harry si biadab itu kepada Clarice hingga Cutting yang Clarice lakukan dengan dua buah Cutter milik Harry.
"He takes your First kiss,hm?" Tanyaku.
Clarice mengangguk dalam tangisannya yang semakin menjadi.
"Kenapa kau melakukan Cutting? Itu menyakitkan,"Tanyaku.
"Aku tak punya cara lain. Aku lebih baik mati dari pada harus--".
"Stop it,Clarice! Aku tau,ia sudah mendapatkan First kiss mu tapi,kau masih Virgin,kan? Nasi Sudah menjadi bubur,Clar. Yang jelas, kau masih Virgin dan itu tidak terlalu buruk. Kau masih istimewa,kok," Hiburku.
"Istimewa bagaimana Chriss?"Tangis Clarice.
"You are still Virgin. Kau masih istimewa. Tapi ingat satu hal,jika aku dengar bahwa Harry atau siapapun melakukan hal yang lebih dari ini,aku akan laporkan kepada mom,"Ancamku.
Clarice terdiam,"I need you to save and Protect me. Please Chrissie,".
Aku mengganguk,"I will,".
"Promise me?"Tanya Clarice.
Aku mengganguk dan menggaitkan jari kelingkingku pada jari Kelingking Clarice.
"I'm promise to you, Clarice Standfield,"
"Oya,bagaimana dengan Darwin? Seru tidak? Ibunya Luke ? Maksudnya, Calon mertuamu, Chriss,"Tawa Clarice. Aku mendengus.
"Semuanya baik. Aku suka disana. Tapi,aku benci saat Liz menyuruh Luke untuk menyatakan perasaan padaku dengan bahasa yang baku. Aku selalu tertawa saat mengingat momen itu,"Seketika aku dan Clarice tertawa bersama dengan bahagia dan lepasnya. Serasa tidak ada beban di kehidupanku dan juga dirinya.
Malam pun tiba menjemputku dan Clarice. Hari ini,aku tidak tidur sendiri. Tapi bersama Clarice di kamarku. Katanya,ia membutuhkanku dan sangat rindu akanku. Sekarang,ia sudah terlelap. Satu hal yang ingin kutahu. Luka bekas cutting. Entah mengapa,aku penasaran sekali pada lukanya.
Aku pun membuka sedikit piyama yang ia pakai di bagian perutnya. Seketika,sebuah goresan yang sudah kering terlihat jelas disana. Aku bergidik ngeri saat melihatnya begitu pula luka di lehernya.
This is the reason why i should protect her as i can .
To be continue..
*semoga panjang. Amin.. Oya,Dini hari gini (?) Aku mau tanya aja buat kalian,Plisss jawab ini penting banget. Kalian lebih suka Story pake Lo-Gue atau Aku-Kamu,plisss jawab,aku butuh banget jawaban kalian.makasih
Vomments? /^~^\