“Huah! Kasur! Puja kasur ajaib!” seru Radith sambil menghempaskan tubuhnya keatas kasur setelah melemparkan backpack nya ke ujung ruangan. Sambil tiduran tangan kirinya sibuk berkutat dengan HP nya, rutinitas normal. “Mau kemana kita?”
“Ke gunung!” jawabku menirukan suara Dora the Explorer sambil membongkar isi tasku, menarik keluar sepotong celana pendek lalu dengan buru-buru aku mengganti celana jeansku dengan celana pendek dan merebahkan tubuhku dikasur sebelah. Rasanya aneh tiduran menggunakan celana panjang apalagi yang berbahan jeans.
“Tiffany sama Alcazar, lo milih mana?”
“Hmmph?” tanyaku sambil bergumam, membenamkan separuh wajahku ke dalam bantal. Separuh dari jiwaku sudah bersama dengan Iwasa Mayuko di alam mimpi.
Radith beranjak dari kasurnya, menggeserku dengan pantatnya dan dengan seenaknya merebahkan tubuhnya disampingku, membuatku sedikit tergusur. Dengan semangat ia menunjukkan layar HP nya tepat didepan wajahku. “Coba liat deh. Katanya si Alcazar ini lumayan tapi kalo diliat dari wesitenya, Tiffany lebih oke. Iya ngga?”
Sambil menyipitkan mata, aku berusaha keras memahami apa yang ia maksud. Setelah seharian disiksa dengan keliling Pattaya untuk memuaskan hasrat belanja May dan Radith yang membuatku merasa lebih seperti babu daripada... teman, sulit rasanya bagiku untuk membuka mata dan memaksa otakku untuk bekerja.
Website dengan warna dominan pink dan hitam yang dipenuhi dengan kilau-kilau yang akan berbunyi bak tongkat sakti ibu peri dengan berbagai wajah cantik nan elegan bertebaran dibawahnya. Apa ini? Theater? Ballet? Ah, pasti bukan... ini terlalu biasa untuk seorang Radith dengan seleranya yang luar biasa.
“HOH! KABARET SHOW?” tanyaku antusias begitu otakku mulai bisa menerjemahkan rangkaian gambar venue dan wanita-wanita cantik berpakaian seksi yang sangat khas. Aku langsung terduduk dengan semangat, rasa kantukku dan Iwasa Mayuko tiba-tiba lenyap entah kemana.
Radith mengangguk dengan girang, merasa ditanggapi. “Nanti malem, kita nonton yuk. Mumpung ada si May, jadi anak-anak bisa sama dia, kita bisa seneng-seneng dengan tenang.”
“Yey!” Aku dan Radith langsung ber-high five ria dan menari ala tarian minta hujan suku indian sambil melepas kaos dan mengibas-ibaskannya untuk merayakan rencana kami. Wajah-wajah cantik para penari kabaret langsung memenuhi pikiranku. “Eits, tunggu. Rasanya ini terlalu normal deh buat lo. Pasti ada yang aneh disini,” kataku sambil menghentikan jogetanku secara tiba-tiba.
Radith hanya menyeringai, “Banci, Bim. Kabaretnya isinya banci semua hehehe.”
Dengan kesal aku langsung menggeplak kepalanya menggunakan kaosku sebelum kukenakan kembali. “Tuh kan! Ngga beres lo ah, males gue.” aku mendorongnya menyingkir lalu kembali merebahkan tubuhku.
“Lo liat deh, mereka ngga keliatan kaya banci kok! Kayak cewek tulen! Lo liat deh si preview nya,” ujarnya berusaha menyodorkan HP nya didepan mataku lagi. maaf aja, kali ini ngga mempan!
“No way!”
“Ayolah, masa udah jauh-jauh sampe Thailand tapi ngga nonton yang kayak gini sih. Rugi banget lo, apa bedanya coba kalo gitu sama Indonesia? sekali-kali harus lah cobain yang ngga bisa ditemuin di tempat lain. Ya? Ya?”
“Udah gila lo! Periksain sana! Ato lo periksa diri lo sendiri gih!”
Radith memanyunkan bibirnya, dan mulai dengan aksi serangan grepe-grepe nya yang langsung membuatku geli dan langsung berusaha menyingkir sejauh mungkin sebelum ternodai.
“Kampret lo! Jangan deket-deket! Syuh syuh!” usirku yang sambil memeperkan tubuh ke tembok, dan cepat-cepat bersembunyi di dalam gorden. Sejak di Thailand dan melihat begitu banyak fenomena krisis gender, percintaan sesama jenis dan perubahan perilaku Radith yang makin ‘liar’ aku jadi parno sendiri.
“Kabaret?”
“NO!”
“Gue cium lho!” ancamnya sambil memonyongkan bibirnya dan sukses membuatku muntah. “Becanda, amit-amit juga sih ciuman sama cowok.”
“Dith, denger ya, lo mau gimana juga gue TETEP GAK MAU!”
Radith menatapku dengan tatapan cengok. “Gak mau di cium atau gak mau ke kabaretnya?”
“DUA-DUANYA!!!!”
***
Jujur saja, kemegahan stage dengan kapasitas 1000 orang itu masih membekas di otakku. Luar biasa, mungkin sebanding dengan harga yang dibayarkannya. 500 Baht! Ini setara dengan uang belanja bulananku! Lighting yang gemerlapan, kostum yang indah, panggung yang megah, dan para lady-boy yang kecantikannya (mirisnya) melebihi wanita asli berpadu menjadi satu dalam sebuah panggung pertunjukkan berdurasi 90 menit.
Menakjubkan sekaligus mengerikan. Aku butuh pencerahan untuk mengembalikan seleraku. Para banci itu masih terus menghuni otakku. Durasi 90 menit sudah cukup menyiksaku ditambah rayuan Radith yang memaksa untuk ‘berfoto-bersama-banci’ setelah pertunjukkan. Heran, kenapa sih dia bisa begitu girang dengan hal seperti ini?
Aku menyandarkan kepalaku di pintu kamar yang ditempati May, Dhanu dan Dhina sambil mengetuknya pelan. Butuh waktu sekitar 10 menit sampai aku mendengar kenop pintu diputar. Mungkin dia sudah tidur. Wajar, aku tahu ini sudah lewat tengah malam tapi aku butuh May untuk menyegarkan otakku sebelum para banci itu menginvasi mimpiku.
“Udah tidur?”
May mengusap-usap telinganya, wajahnya tampak berminyak, sepertinya ia baru saja mengenakan pelembab atau apalah itu namanya. “Nyaris. Anak-anak itu susah banget disuruh tidur. Huft.”
“Kan udah kubilang,” kataku sambil menyeringai membayangkan May yang pasti kelimpungan dengan dua bocah hiperaktif itu. Perlu trik khusus untuk menghadapi mereka berdua.
“Jadi, ada apa? Mau masuk?”
Aku menggeleng pelan. “Coba sini liat aku. Liat mataku, terus senyum dong. Tolong senyum semanis yang kamu bisa.”
May mengangkat alisnya sambil menatapku dengan tatapan aneh.
“Oke, aku tahu ini aneh. Tapi, please... liat aku, dan senyum. Masa depan orientasiku bergantung padamu, May! Kumohon!”
May tertawa. “Berlebihan. Kamu kenapa sih?” tanyanya sambil menahan tawa dan mencoba berpose sambil tersenyum manis, menyembunyikan rasa gelinya. Lesung pipi yang menghiasi wajah mungilnya membuatnya semakin terlihat manis. Bulu matanya yang lentik dan lebat, ternyata memang asli bukan hasil makeup. Bibirnya yang mungil menyunggingkan senyum dengan bentuk yang sangat lucu dan menggemaskan.
Aku sampai terharu. Mungkin ada satu-dua lady-boy yang lebih cantik dari May di Cabaret Show tadi, tapi paling tidak aku tahu May masih tetap yang nomor satu bagiku. Yang asli memang lebih oke! Aku menutup kedua mataku sambil tersenyum, “Hue, terima kasih! Udah cukup senyumnya, terlalu manis aku bisa kena diabetes.”
May tertawa lagi. “Kamu emang aneh deh...”
Aku hanya menyeringai tanpa membalas perkataannya. Aku terlalu mengantuk untuk menanggapi. Mungkin bagi beberapa orang, memang ini aneh. Tapi untukku yang selalu memimpikan kejadian atau orang ‘termenarik yang kutemui sebelum tidur’ atau ‘terakhir kutemui dan kupikirkan’ hal ini sangat penting. Aku tidak mau menghabiskan tidurku dengan memimpikan para banci itu sekalipun kuakui mereka cantik. TIDAK!
Paling tidak kemungkinan aku memimpikan May alih-alih banci kabaret itu menjadi lebih besar setelah aku melihat senyumnya.
“Ah, Ray... besok mau pergi sama aku?” tanya May malu-malu. “Aku udah reservasi buat Bungy Jumping untuk dua orang, tapi kalau kamu ngga mau...”
“AKU MAU!” ujarku cepat memotong perkataannya dan kaget sendiri dengan volume suaraku yang tidak terkontrol. “Aku mau,” ulangku dengan suara yang lebih pelan dan normal.
“Beneran?” tanyanya antusias sambil bertepuk tangan pelan. “Ah, aku sengaja reservasi buat kamu juga sebagai... yah, anggaplah rasa terima kasih aku mungkin? Kamu udah ngasih aku kerjaan. Eh, ehm, aku ngga ada maksud yang lainnya lho. Jangan mikir aneh-aneh.”
“Iya, aku tau...” bisikku sambil menyeringai. Well, aku cukup tahu ini bukan sekedar rasa terima kasih. Memang, sebulan ini dia ku ‘pekerjakan’ sebagai pengasuh Dhanu dan Dhina mengingat jadwal kerja Radith dan aku yang mulai menggila. Tapi, pasti ada alasan lain bukan? Hey, yang menggajinya bukan hanya aku, tapi Radith juga dan dia hanya memesan tiket UNTUKKU!
“Mereka bakal ngejemput kita jam 9 pagi. Mungkin sebaiknya kita tidur,” katanya masih menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang merona merah.
Aku mengangguk setuju, meregangkan tubuhku yang lelah sambil menguap. “See ya...”
“See you tommorow, Ray. Nice dream.”
***
Langit begitu cerah, burung-burung yang entah dari spesies apa berterbangan dengan riang. Angin sejuk menerpa wajahku semakin lama semakin kencang seiring dengan lift yang membawaku semakin tinggi menuju puncak menara Bungy Jumping. Pemandangan Pattaya dari ketinggian 60 meter yang begitu mengagumkan tampak semakin buram seiring dengan detak jantungku yang semakin kencang.
Aku berusaha menguatkan dan memberanikan diri, menggeser tubuhku duduk di kursi yang disiapkan sebelum melompat. Beberapa kru sibuk memasang tali dan pengaman di kakiku, sedangkan aku hanya pasrah dengan pikiran kosong.
Bodoh! Aku baru menyadari dan mengingat arti dari Bungy Jumping setelah semuanya terlambat dan aku terlanjur sampai di lokasi. Ego ku menolakku untuk terlihat lemah dan memaksaku untuk terus maju menghadapi salah satu ketakutan terbesarku: ketinggian. 60 METER DARI DATARAN! Whoa! Ini diluar kemampuanku, tapi aku tidak bisa mundur lagi. Gengsi.
“Lihat! Bagus banget ya pemandangannya!”
“Ha?” tanyaku mencoba memusatkan pikiranku pada hal lain sambil menatap May.
“Pemandangannya! Bagus!” kata May sambil menunjuk sekeliling. “Lihat! Itu hostel kita, keliatan dari sini!”
Aku menelan ludah, melihat ke arah yang ditunjuk May. Semakin aku berusaha melihat, semakin banyak keringat dingin yang mengalir. Aku segera menunduk, menelungkupkan kedua tanganku di wajah.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanya May sambil menatapku khawatir.
Aku menggeleng pelan. “Ngga kok, nyiapin diri aja. Aku agak... tegang. Kamu ngga apa-apa loncat bareng sama aku?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Ini adalah pertanyaan penting, tidak mungkin aku tidak melakukan kontak fisik dengannya sekalipun hanya sentuhan sederhana ketika melakukan loncatan bersama-sama. Hey, sekalipun loncatnya berdua, talinya kan cuma satu.
“Tenang, aku ngga akan kenapa-kenapa kok,” kata May sambil tersenyum. “Ayo,” katanya sambil menarikku berdiri. Wow! Ada apa ini? Dia yang biasanya menghindari kontak fisik secara ekstrim tiba-tiba MENARIK TANGANKU atas inisiatifnya sendiri! Jangan-jangan dia bukan May, tapi alien yang menyamar menjadi May dan ingin menginvasi Bumi! Gawat!
Seorang intruktur mulai menghitung mundur dari angka 10 dengan menggunakan bahasa Thailand. Setelah beberapa bulan belajar bahasa Thailand secara intensif harusnya aku sudah bisa mengerti hal-hal sederhana seperti angka. Tapi, saat ini otakku sudah membeku ketakutan dan mogok bekerja sehingga di telingaku daripada menghitung mundur ia hanya terdengar seperti meneriakkan kata ‘Capcay’ berulang-ulang.
Brugh!
Aku merasa tubuhku didorong dan ditarik dalam waktu yang hampir bersamaan. Tubuhku terasa ringan, kontras sekali dengan angin yang berhembus sangat kencang menerpa tubuh dan wajahku. Pedih, membuatku terpaksa menutup mata. Perasaan yang cukup familiar...
Satu persatu bayangan itu muncul bagaikan untaian roll film jadul yang diputar kembali.
Kaki yang diikat dan tubuh yang tergantung terbalik...
“Pikirkan kesalahan kalian disini! Kalian baru dilepas setelah kalian kapok! Mengerti?!” kata lelaki itu dengan nada keras sebelum meninggalkanku dan adikku dalam keadaan tergantung terbalik di balkon. Kedua kakiku diikat kencang dengan menggunakan seutas tali tambang pada pagar balkon, tangan kananku menggenggam erat tangan Rei yang juga tergantung dalam posisi yang sama.
“Aku benci dia,” gumam Rei pelan, aku bisa merasakan kemarahannya pada pria yang kami panggil Ayah itu. “Lihat saja suatu hari nanti!”
“Aku juga,” kataku menanggapi. Sekalipun aku lebih tua 10 menit dari Rei, tapi aku bukan Rei yang bisa meluapkan emosinya dan nyaris tidak memiliki rasa takut sama sekali. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan suatu hari nanti untuk membalas ini.
Sinar matahari ini...
Hampir tiga jam kami tergantung dalam posisi seperti ini. Musim panas membuat sinar matahari jauh lebih jahat dibanding dengan musim lainnya. Sinar matahari yang menerpaku benar-benar merupakan siksaan sendiri. Keringat membanjiri tubuhku, rasa haus dan pusing yang teramat sangat membuatku menangis.
“Hey, diamlah. Kita tidak boleh kalah dari mereka!” Rei mengguncangkan tanganku. “Ingat, kita harus terlihat lebih kuat dari yang mereka kira!”
Aku mengangguk mencoba menghentikan tangisku. Ya, dia benar. Mereka harus tahu bahwa kami bukan sekedar anak 7 tahun belaka yang bisa mereka siksa seenaknya! Tapi, makin lama aku merasakan genggaman tangannya melemah. Darah segar mengalir dari hidungnya membuatku berteriak panik memanggil orangtuaku. Mungkin kali ini kami harus menyerah...
Tubuhku terpelanting naik beberapa meter setelah mencapai titik terendah yang bisa dicapai oleh tali yang mengikat kedua kakiku dan May. Aku bisa mendengar teriakan kegirangan May. Sepertinya ia benar-benar mengeluarkan stressnya. Tapi, genggaman tangan dan suara tawanya bahkan tidak bisa mengusir bayang-bayang yang muncul terus dikepalaku.
Aku mencoba membuka kedua mataku, berharap itu bisa mengusir bayangan masa laluku. Tapi, pemandangan dan perasaan ini mengingatkanku pada hal lainnya...
***
“Hey! Ayo kita main ayunan!” seru Radith sambil menunjuk sebuah kain selendang ditangannya. Sepertinya permainan India-India-an terlalu membosankan baginya yang terlihat sekali sangat terpaksa mengikutinya atas ajakan adik-adiknya dan Ceren.
“Ayo!” seru Rei dan Dimas dengan semangat. Sepertinya mereka berdua juga terpaksa mengikuti para cewek ini bergoyang menirukan adegan di film Bolywood yang sedang booming.
“Hey! Tapi kan kita belum selesai!” protes Sescha, salah satu adik tiri Radith yang seumuran dengan kami.
“Tapikan kita lagi istirahat,” balas Radith sambil memanyunkan bibirnya. “Ayo guys kita main ayunan!”katanya lagi sambil berlari menaiki tangga.
Dengan gerakan yang cukup lincah, ia memanjat salah satu sisi lemari disebelah jendela, memasukkan bagian tengah selendang yang ia lipat menjadi dua sama panjang ke celah ventilasi dan melemparkan kedua ujungnya kebawah setelah menarik bagian tengahnya membentuk semacam tali gantung.
“Oke, caranya sederhana. Masing-masing ada yang megang dua ujung selendang ini, satu orang bakal megang bagian tengah ini dan ngegantung satu orang sisanya bakal ngedorong. Jadi deh ayunan!” katanya menjelaskan.
Kami bertiga bertepuk tangan kegirangan. Untuk ukuran anak 11 tahun, ia memang sangat jenius. Terlepas dari fakta bahwa sejauh ini dia sudah 2 kali loncat kelas, bagi kami dia adalah orang yang tidak pernah berhenti memberikan ide permainan yang 'beda'. Jenius!
“Oke, seperti biasanya, kita undian.” Ia membuat empat buah kertas kecil yang berisikan posisi dan nomor urut, melipatnya kecil-kecil dan meminta kami untuk mengambilnya. “Oke, aku jadi yang ngedorong, Dimas sama Bima bakal megang talinya.”
“Rei,” kata Rei sambil meralat. “Aku yang bakal megang talinya.”
“Ah, kalian keliatan sama aja,” katanya sambil mengibaskan tangannya. Khas sekali, ia akan mencoba cuek ketika salah. “Kamu, gantungin leher kamu disitu. Nanti kuayunin.”
Aku mengerutkan kedua alisku. Gantungin leher? What the hell, dia mau minta aku bunuh diri?
“Kamu pegangin talinya pake kedua tangan, jadi ngga bener-bener ngegantung. Pokoknya gimana deh, yang jelas asal bisa diayunin aja,” katanya sambil mendorongku maju, memanjat bagian bawah jendela dan meraih tali ditengah. “Kalian berdua, jaga kekuatannya ya. Kalo kekencengen nariknya, dia bisa kegantung lehernya, kalo terlalu kendur dia bisa jatoh.” Radith memberikan instruksi pada dua orang pemegang tali sekaligus pemegang kehidupanku saat ini.
“Mas, kalo kamu mati kecekek lumayan kamarnya jadi punyaku seorang nanti,” celetuk Rei menggodaku. Kurang ajar memang.
Aku meraih lengkungan tali itu, pas sekali di leherku. Aku berjinjit sedikit, memegang bagian bawahnya untuk menyangga agar leherku tidak tercekik dan memberikan sedikit tenaga pada lenganku untuk mengangkat tubuhku masih dalam rangka agar tidak tercekik. “Oke!” kataku setelah merasa posisiku lumayan aman.
Radith segera mendorongku, tubuhku terayun keluar-masuk dari celah jendela. Pemandangan dari lantai dua, dan hembusan anginnya benar-benar menyenangkan membuatku berteriak kegirangan. Aku menekuk kedua lututku, agar kakiku tidak terantuk bagian bawah jendela. Radith mendorongku semakin kencang seiring dengan teriakan kegiranganku yang semakin keras seolah menyemangatinya mengeluarkan kekuatannya.
Entah siapa yang memulai, beban dikedua lenganku terasa sangat ringan. Kain selendang yang menegang menyanggaku di jendela terasa sangat lemas, terlepas begitu saja. Tubuhku melayang, angin berhembus kencang menerpaku dari bawah, perasaan aneh yang ditimbulkan gravitasi membuat jantungku berdebar semakin kencang. Aku hanya bisa melihat langit yang tampak semakin jauh dengan cepat sebelum akhirnya aku merasakan tubuhku membentur atap dan terguling jatuh.
***
“Ray? Ray?”
Samar-samar ditengah terpaan angin dan gravitasi aku mendengar suara May memanggil namaku. Tangannya menggenggam tanganku yang basah oleh keringat semakin erat. Pandanganku semakin tidak fokus, semuanya buram dan akhirnya gelap.
**
Aku mendengar suara gaduh, jeritan ngeri dan tangisan. Rei. Dia menangis memanggil namaku. Hey, aku masih hidup dan aku tidak apa-apa. aku membuka mata, tapi gelap. Aku tahu tubuhku diguncangkan, tapi aku tidak merasakan apa-apa selain rasa takut. Aku ingin berteriak, namun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku.
**
Aku mencoba membuka mataku. Silau. Sambil mengerjapkan mata, sedikit demi sedikit bayangan itu menjelma menjadi sosok gadis yang aku cintai, May yang langsung menyongsong, memelukku dan menangis.
“Bodoh! Kenapa ngga bilang kalo phobia tinggi?” katanya keras disela tangisnya sambil terus memelukku.
Aku mendorongnya pelan, tangan kananku memegang dahiku. Kepalaku pusing dan masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. May yang anti kontak fisik memelukku? Apa jangan-jangan kami sudah menikah makanya mau kontak fisik dan aku lupa? Ah, itu mustahil sepertinya. ALIEN!
“Kamu pingsan karena takut,” kata May menjelaskan sambil membantuku duduk. Whoa, memalukan sekali, aku bisa merasakan wajahku memerah.
“Kamu pingsan udah lima hari sampe demam dan mengigau, aku takut kamu kenapa-kenapa soalnya...”
Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku, merasa malu. Harga diriku rasanya hancur berkeping-keping. Pingsan karena takut disebelah cewek yang disukai adalah hal paling bodoh dan memalukan yang pernah aku perbuat.
“Radith cerita semuanya, kenapa kamu takut tinggi dan dia ngerasa bersalah banget,” kata May menjelaskan hal yang sebenarnya aku sudah tahu dari dulu. Wajar dia merasa bersalah, dan aku tidak merasa keberatan dengan itu. Paling tidak, itu jadi salah satu kekuatanku untuk 'mengontrol' kegilaannya.
“Trus dimana dia?”
“Surfing sama anak-anak dari tadi pagi,” kata May menyentuh dahiku. “Aku yang ngejaga kamu dari kemarin. Kamu udah ngga papa?”
Aku mengangguk pelan. “Tenang aja, aku baik-baik aja kok.” Selain malu, aku baik-baik aja.
May tersenyum tipis sambil menatapku sendu. “Kamu tau, aku bingung sama perasaan aku sendiri. Aku takut kamu kenapa-kenapa...”
“Aku juga,” kataku dan langsung buru-buru kuralat. “Maksudku, aku juga takut kamu kenapa-kenapa.”
“Jujur, aku seneng banget waktu kamu ngikutin aku diem-diem tiap aku ke Chatuchak, kamu sering merhatiin aku tiap dikelas. Lucu liat kamu langsung malu-malu kalo kuliat balik,” kenang May sambil tertawa. “Aku seneng ternyata perasaan aku ngga bertepuk sebelah tangan.”
OH YEAH!!!!
“Kamu nembak aku?” tanyaku menggoda sambil menyeringai jahil berusaha menahan tampang girangku.
“Aku ngga bilang gitu kok. Aku cuma bilang, aku sayang kamu jadi kamu jangan kenapa-kenapa ya,” kata May memalingkan wajahnya, tidak berani menatapku. Owh, lucu sekali ingin kupeluk rasanya. “Bukan berarti aku mau jadi pasangan kamu.”
“Owh, jadi gimana tuh?” Bagiku, itu udah setara dengan nembak aku.
“Kamu baik banget, aku yang... ah, aku ngga pantes buat kamu, Ray. Tapi aku sayang kamu, aku ngga mau jauh-jauh dari kamu. Mungkin... bisa biarin aku ada dideket kamu sampai kamu ketemu sama orang yang terbaik buat kamu? Aku pengen ngejaga kamu.”
“Harusnya aku yang bilang gitu,” gumamku sambil tertawa kecil. “Aku ngga ngerti mau kamu, tapi aku juga mau kamu ada disisi aku terus.”
May menundukkan kepalanya, sepertinya menahan malu. Aku mencondongkan tubuhku, mendekatkan bibirku di telinga kanannya dan berbisik, “I love you, May. Sekarang, besok dan mungkin selamanya...”
May tersenyum kecil dan menatapku sebelum membuka bibir mungilnya dan berkata. “Me too.”