jangan lupa tinggalin jejak yess! 😻
——
Omar merasa sangat beruntung punya sahabat seperti William dan Jeka, meski mereka sering di anggap aneh, mereka adalah orang yang tulus.
William memutar kursinya menghadap ke Omar yang duduk di belakangnya. “Gimana bro kemarin pergi sama si onoh?”
Jeka menunggu jawabannya.
“Adara?” tanya Omar menyenderkan punggungnya ke tembok karena duduk di bagian pojok. “Gak gimana-gimana, emang lo pada maunya gimana?”
“Ya masa nanya, jadian lah. Mantep bro,” kata William seraya mengacungkan jempolnya.
“Apanya yang mantep?” tanya Omar lagi.
“Govlok lah si William, giliran ditanya apa yang mantep malah kicep,” celetuk Jeka. “Dia tuh baik Mar, gak kayak yang lo bilang. Gua liat dia bertingkah kayak gitu sama lo doang.”
“Kalo menurut lo baik mah pacarin Jek,” ucap Omar.
“Dia sukanya sama elo bukan gua,” balas Jeka.
“Misalnya dia suka sama lo, lo bakal jadiin dia pacar?” tanya Omar.
“Ya iyalah masa gua diemin aja? Gua bukan lo yang galak sama cewek sampe segitunya,” jelas Jeka berhasil membuat Omar tersentak diam.
“Gak pekaan banget buset dah sama cewek. Gua kalo jadi Adara udah berhenti berusaha dapetin perhatian si Omar,” sindir William pada Omar.
“Lo nyindirnya kurang ahli. Terlalu frontal Will,” kata Omar lalu mengeluarkan buku tulis cadangannya.
Mata William melirik buku terbuka yang ada di atas meja Omar. “Kayak kenal sama tulisannya.”
“Iya dia, emang kenapa dah? Lo mau gua bacok Will? Bahas cewek mah gak salah, tapi kalo bahas tuh cewek terus gua jadi males asli.” Omar menutup bukunya dan dia lempar ke kolong meja.
“Ngapain di buka kalo gak ada tugas?” tanya Jeka.
Pertanyaan Jeka tidak Omar jawab, dia sendiri juga bingung kenapa bisa mengeluarkan buku itu dari tasnya.
Ketika jam istirahat, Omar turun ke kantin sendiri karena dua temannya masih mengerjakan tugas dan dikumpul secepatnya. Dia menyender ke gerbang kantin dan matanya melesat pada satu perempuan yang sedang menguncir rambutnya.
Perlahan perempuan itu mendekat.
“Omar? Ngantin bareng yuk!” ajak Adara sambil tersenyum.
“Lo sendiri aja,” tolak Omar singkat.
“Berhubung lo sendiri dan gue juga sendiri, kenapa gak barengan aja? Darin lagi di toilet.”
“Yaudah tungguin.”
“Kalo gitu nunggu Darin dateng, gue disini sama lo ya?”
“Sebebas lo,” cetus Omar.
Adara menganggukkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. “Yaudah lo jadi pacar gue, gue bebas kan kata lo?”
“Yakin lo mau kita pacaran?” tanya Omar menatap mata Adara serius.
“Gak mungkin nolak hehehe,” cengir Adara. Kemudian memeluk Omar erat, “Yes gue jadi pacar lo sekarang!”
Kondisinya banyak sekali orang yang lewat melihat mereka dan semakin percaya bahwa rumor itu benar. Mereka pacaran.
Adara bisa mendengar detak jantung Omar yang begitu cepat, tapi Adara tidak peduli. Dia bisa merasakan hangat begitu memeluknya.
“Gak usah baper, gua gak serius.” Omar menjauhkan tangan Adara dari perutnya.
“Yaahh padahal gue denger lo deg-degan tau,” ledek Adara.
Omar menyipitkan matanya sambil senyum miring. “Detak jantung tuh normal, tau apa yang gak normal? Lo.”
“Tapi tadi yang lewat taunya lo pacar gue, terus gimana dong?” Adara terlihat begitu polos.
“Selagi mereka gak mikir lo pacar gua ya gua gak masalah,” ujar Omar enggan melihat Adara lagi yang masih berdiri tepat di hadapannya.
“Tapi kalo lo pacar gue ya berarti gue pacar lo juga, harus ada timbal balik donggg!” keluh Adara.
“Gak ada timbal balik kan? Berarti kita emang gak pernah pacaran.” Omar masuk ke dalam kantin membiarkan Adara menggerutu kesal akan responnya.
Banyak yang memperhatikan Omar begitu dia masuk ke kantin lalu mereka melihat Adara seakan tidak percaya akan apa yang terjadi pada dua orang itu. Tapi tidak sedikit dari mereka yang pilih berhenti menyukainya. Karena galak dan ketus.
——
“Makan nasi goreng gila kuy?” ajak William karena di tolak ajakannya sama Darin.
“Dimane?” tanya Jeka sambil memasukkan handphone nya ke saku celana.
“Kagak tau,” jawab William. “Gua juga penasaran, kenapa bisa di namain begitu? Apa yang gila abangnya atau yang makan bisa jadi gila?”
“Khusus lo mah yang makan jadi gila Will,” kata Omar.
“Tapi nih ya, gua pengennya yang bener-bener bikin gila sampe hah huh hah huh!” William meniru gaya orang kepedesan. “Jangan yang cuma waw enak.”
“Ngapain lo Will? Mompa sepeda?” tanya Omar habis melihat tingkah William.
“Bukan lur. Gua lagi nyiptain udara baru buat ngisi balon,” tutur William.
“Gimana Jek?” Omar menoleh ke Jeka lalu menunjuk William. “Anak dong? Ngo.”
“Goblok anjir! Si William emang dongo anaknya!” seru Jeka.
“Udah gak bingung lagi gua,” ujar Omar. Lalu bertanya, “Pada mau makan dimana?”
“Deket rumah lo ada gak? Di bungkus aja nanti makannya di rumah lo Mar, sabi gak?” tanya William.
“Sabi, tapi lo mesti bersihin selesai makan. Mau kagak?” tanya Omar.
“Cuma tiga bungkusan doang perhitungan banget dah,” ucap William.
“Anjing lah Will!” ujar Omar terkekeh.
Tahu-tahu handphone Omar bergetar di tangannya, dia langsung melihat siapa yang menelpon. Langkahnya berhenti kemudian menghela napasnya kasar. Jeka diam di sebelah Omar. Sedangkan William menyadari temannya ada di belakang pun langsung mundur.
“Siapa dah?” tanya William penasaran namun tidak melirik handphone Omar.
Omar mendecak. “Ck, Pak Ali.”
William dan Jeka tidak bisa berkata-kata, mereka tidak berhak untuk ikut campur.
Jempol Omar menyentuh gambar telepon hijau dengan bibir terkatup rapat dan ekspresi datar.
“Halo Omar?”
“...”
“Jawab saya!”
“Iya halo.”
“Saya pulang besok lusa, tolong bersiihin rumah jangan sampe ada kotoran yang sisa di lantai!”
“Saya bukan pembantu, cara Pak Ali nyuruh saya itu bukan layaknya ke seorang anak, Pak.”
“Omar! Sudah berani kamu lancang ke ayah sendiri?”
“Saya bukan lancang Pak. Cuma kasih tau faktanya.”
“Asal kamu tau ya! Saya kerja di luar buat kamu! Hargai saya!”
“Setelah Mama pergi, Pak Ali jadi lebih suka marah-marah. Seandainya Mama dulu gak nikah sama Pak Ali, saya rela gak ada disini sekarang.”
“Mama kamu itu meninggal karena penyakitnya! Kamu egois jadi anak!”
“Ya sakit karena mikirin Pak Ali yang suka pulang satu tahun sekali dan jarang kasih kabar.”
“Saya gak mau tau! Saya pulang, rumah harus bersih dan kamu gak boleh kemana-mana waktu saya di rumah!”
Tanpa bicara lagi Omar langsung mengakhiri teleponnya.
Dia masih ingat jelas bentakan Ali saat masih kecil karena sudah memecahkan vas bunga kesayangan ibunya, padahal yang punya tidak marah. Bahkan Ali sampai memukul kepala Omar pakai tangan kosongnya. Ali memang sangat mudah terbawa emosi. Omar sudah dibesarkan dengan cara yang bisa dikatakan ketat.
Sampai orangtuanya bertengkar di hadapannya, bahkan kata-kata kasar yang keluar dari Ali pun Omar masih hafal. Waktu SD dia tidak sengaja menyebut satu kata kasar yang sama persis seperti Ali, sabetan rotan pun berbekas kemerahan di punggung Omar saat itu.
“Gua emang anggap dia ayah, tapi waktu bilang ini rasanya hampa,” batin Omar.
Lamunan Omar pun buyar ketika William menepuk pundaknya. “Jadi gak bro?” William sengaja agar Omar tidak terlalu memikirkan masalahnya.
“Jadi aja gua mah,” balas Omar santai.
“Anzay!” celetuk Jeka.
Mereka bertiga melanjutkan jalannya keluar dari koridor ke parkiran.
——
Menurut kalian Omar itu anaknya gimana sih ke ibu dan ayahnya?