" Udah bangun Lun? " tanya tante Freya.
Freya Gayatri, tante cantik yang sudah membesarkan dan menemani Luna dari masih kecil hingga saat ini. Tante Fre seorang CEO perusahaan advertising terkenal di Jakarta. Setelah kepergian mama dan papa Luna, Freya memang sudah berjanji akan membesarkan dan merawat Luna. Baginya, Luna sudah seperti anaknya sendiri yang harus ia jaga dan lindungi.
" Kita udah sampe mana tante? " tanya Luna pada tante Fre yang sedang menyetir mobil dan duduk persis disebelahnya.
Luna Ayunindya, Luna artinya bulan dan Ayunindya artinya gadis cantik yang diberi kelebihan. Begitulah arti nama Luna, sesuai dengan dirinya yang memang memiliki kelebihan luar biasa, dan lahir pada saat bulan purnama.
---
" Tadaa... ini rumah baru kita sayang. Sini ikut, tante tunjukin kamar kamu yang udah di design sesuai dengan yang kamu mau " ucap tante Fre kepada Luna pada saat mereka telah sampai dirumah barunya, di Bogor.
Luna memang sering berpindah-pindah rumah. Luna sendiri tidak tahu penyebab utamanya. Tante Fre selalu bilang bahwa Luna butuh suasana baru dalam hidupnya. Namun baru kali ini Luna pindah sejauh ini, meskipun baginya hal ini bukan perkara besar karena dia memang tidak pernah punya teman. Hidupnya hanyalah sekolah dan rumah, kalau sempet paling dia menghabiskan waktu di tempat penyewaan buku dekat rumahnya. Luna memang tidak mau banyak berinteraksi dengan siapapun, karena baginya ujung-ujungnya teman-temannya juga hanya akan menganggap dia aneh. Hal itu menjadi trauma tersendiri baginya.
Waktu TK, dia pernah memiliki teman disekolahnya, dia sering bermain bersama, makan bekal bersama, bahkan menunggu dijemput bersama-sama. Namun, 2 minggu setelah kedekatan mereka temannya kecelakaan saat dijemput mamanya dan tidak selamat. Luna benar-benar tidak tahu bahwa temannya sudah meninggal karena Luna masih terus bertemu dengannya disekolah. Guru dan teman-temannya sudah berusaha memberitahu bahwa adel, temennya sudah meninggal karena kecelakaan. Namun Luna tetap bersikukuh bahwa Adel selalu bersamanya. Hal itu membuat orang tua murid menjadi khawatir anaknya akan ketularan aneh seperti Luna, banyak orang tua murid yang protes dan mengancam akan memindahkan anaknya jika Luna tidak segera keluar dari sekolah itu. Kelebihan Luna itu membuatnya harus pindah TK selama 2x.
Tidak berhenti disitu, semenjak kepergian papa dan mama Luna. Luna semakin tidak terkontrol, ketika ada yang mengejeknya seorang yatim piatu dan menyakiti hatinya, ia memiliki kekuatan yang bisa menyakiti temannya. Suatu waktu ketika Luna masih kelas 2 SD temannya Erick, iseng meledeknya yatim piatu. Luna marah dan tak terima, tiba-tiba saja Erick terlempar kearah pintu kelas yang menyebabkan Erick harus dirawat dirumah sakit karena kepalanya bocor akibat hantaman keras saat terlempar. Orang tua Erick beserta orang tua murid yang lain meminta Luna untuk dikeluarkan sekolah karena dianggap dapat membahayakan banyak siswa.
Hal yang sama terjadi lagi saat Luna kelas 4 SD di sekolah barunya, namun akhirnya ia harus dipindahkan lagi. Tante Fre, sebagai wali orang tuanya pun tidak bisa tinggal diam. Tante Fre mulai mengajari Luna untuk menahan emosi dan mengendalikan kelebihannya. Tante Fre selalu ada untuknya, bermain dan mengajari Luna sampai tumbuh menjadi anak yang terlihat normal dimasa akhir sekolah dasarnya. Luna pun dapat mengakhiri masa SMP nya dengan baik dan terus menjadi juara 1 di kelasnya. Meskipun Luna tak banyak memiliki teman namun tante Fre tetap senang karena Luna tetap bisa bersosialisasi tanpa mencelakakan orang lain, dan yang paling penting Luna tidak harus pindah sekolah lagi, hihihi.
---
BOGOR,
menjadi tempat terakhir bagi Luna dan tante Fre. Baginya, masa masa kelamnya di Jakarta harus dikubur rapat-rapat dan memulai masa pendewasaan Luna di kota hujan ini. Tante Fre juga sudah tak perlu banyak ke kantor karena sekarang semua pekerjaannya sudah diatasi oleh para ahlinya di bidang mereka masing-masing. Meskipun setidaknya seminggu 2-3 kali tante Fre harus menengok kantor, tapi baginya kenyamanan Luna adalah prioritas utama. Luna harus bisa memiliki teman untuk masa depannya, kalau bisa teman hidup hahaha.
" gimana kamu suka gak sama kamarnya? " tanya tante Fre yang melihat ekspresi Luna tidak sesuai dengan ekspektasinya.
" tante... maaf ya karena Luna kita harus sering pindah-pindah " jawab Luna sedih
" gapapa lun, kamu kan tahu kalo tante memang suka suasana baru. Lagian ini tempat terakhir kita pindah kok. Kita akan menetap disini terus.. "
" beneran tante???!!! " jawab Luna penuh kegirangan
" bener dong, asal Luna jangan nakal " bales tante Fre gemes melihat tingkah laku Luna yang kegirangan.
--
Seminggu setelah kepindahan mereka berdua ke Bogor, Luna harus kembali memulai masa sekolahnya. Kali ini, Luna bukan lagi seorang anak SD atau SMP yang harus diantar tantenya ke sekolah. Meskipun nilainya bagus dan bisa memilih sekolah dimana pun karena tantenya yang kaya, Luna memilih untuk bersekolah di sekolah yang biasa saja. Dia juga memilih untuk sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, yang bisa langsung kerja nantinya. Padahal jika Luna memilih SMA yang bagus dan terkenal sekalipun di Bogor tantenya mampu saja untuk membiayai.
Kecintaan Luna dengan dunia seni dan make up, membawanya kejurusan F&B. Eitss.. bukan Food and Bakery loh tapi Fashion and Beauty yang memang sudah ia impikan dari dulu. Ya tidak kalah sih, dengan mukanya yang cantik dan parasnya yang menarik. Sejak SMP, Luna memang sudah pintar dalam memilih pakaian untuk tantenya, juga lebih pintar menggunakan makeup dibanding tantenya. Namun ketika bersekolah, ia memilih untuk terlihat kalem dan tak menonjol. Tantenya tahu sekali kalau Jakarta sudah tidak nyaman dan aman untuk pendewasaan dirinya, karena masa lalu yang membuatnya takut untuk bertindak.
Hari ini, Luna sudah siap menggunakan seragam putih abu-abunya. Ia juga menggunakan sedikit polesan makeup di wajahnya, meskipun yang digunakan hanya tone up cream, bedak, dan liptint saja membuatnya terlihat imut dan mempesona. Wajah cantiknya sudah lama ia sembunyikan dengan ketakutan masa lalu. Lagi pula, karena jurusan yang sudah ia pilih setidaknya ia juga harus terlihat bisa makeup kan hehehe.
Luna menuruni anak tangga, dan menuju meja makan untuk sarapan. Disana sudah terlihat tante Fre sudah duduk menunggu ponakan satu-satunya sambil membaca koran dan menyeruput teh hijau untuk kesehatan yang selalu diminumnya pada pagi hari.
" pagi tante cantik " sapa Luna bersemangat.
Baru kali ini, Freya melihat ponakannya begitu bersemangat untuk sekolah dan tentunya dengan makeup diwajah polosnya yang hampir saja tidak disadari oleh Freya.
" Cieelah anak SMK udh cantik aja nih " ledek tante Freya
" Ihh apasih tante " jawab Luna malu-malu yang menambah kesan menggemaskan diwajahnya.
" awas loh nanti banyak yang naksir di sekolah " lanjut tante Freya yang terus meledek ponakan satu-satunya itu.
" Ih apasih tante " balas Luna kesal sambil melahap meat toast yang menjadi sarapannya.
--
Setelah sarapan dan berpamitan, Luna langsung berangkat kesekolahnya. Masih sama dengan visi nya dulu, bahwa ia tidak mau terlihat menonjol maka ia memilih untuk diantar hanya sampai dekat sekolahnya karena ia masih tidak tahu angkutan umum yang harus ia naiki. Kalau mobil saja mobil mewah tantenya ini masuk gerbang sekolah, sudah pasti dia akan menjadi sorotan satu sekolah.
" Ayahu, ayok anterin ke sekolah tapi jangan sampe masuk sekolahnya ya yahu sampe deket sekolahnya aja. Yang warung kemarin waktu aku daftar ulang. inget kan? "
" Inget atuh sayang " sahut Pak Rusdi, yang sudah menjadi pengantarku kemana-mana. Aku memanggilnya Ayahu karena dia sudah seperti ayahku sendiri. Ayahu itu singkatan dari Ayah Rudi sedangkan istrinya Luna panggil Ibuni karena nama istrinya Ayuni. Rumah di Bogor ini juga salah satu dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan pak Rusdi ke tante Fre. Karena Pak Rusdi orang Bogor dan sudah 10 tahun sama tante Fre, Pak Rusdi dan keluarganya juga tinggal satu rumah dengan Luna. Pak Rusdi sudah bekerja dari umur dia masih 20 tahun dan sampai sekarang umurnya sudah 30 tahun. Anaknya juga baru 1 masih umur 5 tahun, istrinya suka bantu-bantu dirumah dan pastinya jadi temen ngobrol tante Fresetiap hari.
Diperjalanan senin pagi ini, seperti biasa jalanan macet dan ramai. Banyak anak yang berseragam dari putih merah sampai putih abu-abu sama dengan Luna berlalu lalang diatas motor.
" Udah sampe Lun, percis di depan warung yang kemarin"
Luna yang melamun pun tersadarkan dengan ucapan Ayahu. Pikirannya sedang melayang-layang. Ia takut tak diterima lagi dengan lingkungannya, atau dia harus berpindah lagi. Luna benar-benar tak mau hal itu terjadi lagi di dirinya.
" e..eh iya ayahu, salim dulu " pinta Luna sambil mengulurkan tangannya ke Ayahunya yang berada di sampingnya. Kemudian Luna turun dari mobil dan mulai berjalan ke arah sekolahnya yang sudah tidak jauh dari pandangannya.