Satu hari berlalu. Hari terakhir bagi Adelia untuk mempersiapkan diri karena nanti malam ia akan tampil kembali di depan penonton. Ia mendengar kabar kalau Mendikbud dan jajarannya akan datang menghadiri acara nanti malam. Tentunya setelah mendengar itu Adelia langsung panik. Tapi ia sudah berjanji pada Bhiyan untuk tidak kembali mengecewakan laki-laki itu.
Adelia kini tengah berlatih berdua dengan Bhiyan di aula khusus pelatihan. Keduanya ditonton cukup banyak orang, mulai dari teman sekolahnya sampai anak dari sekolah lain. Sebagian besar yang menonton bukan karena penampilannya, melainkan hanya untuk melihat permainan gitar Bhiyan. Ia mengetahui suatu fakta kalau Bhiyan cukup terkenal di sini. Terkenal dengan kepiawaiannya bermain alat musik. Itu ditunjukkan ketika ada acara festival malam yang diselenggarakan pihak penyelenggara perlombaan. Bhiyan dengan senang hati menunjukkan bakatnya bermain alat musik. Membuat orang-orang kagum dengan permainan gitarnya baik akustik maupun elektrik, piano, drum, saksofon, dan masih banyak lagi alat musik lain yang Bhiyan mainkan. Tentunya membuat Adelia semakin kagum dengan sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian Adelia telah selesai dengan latihannya. Itu latihan terakhirnya. Nanti malam tinggal eksekusi. Tentunya Adelia yakin nanti malam ia akan memberikan penampilan yang terbaik kepada semuanya.
"Kalau lo begini nanti bakalan juara satu entar lo Del. Gue jamin seratus persen!" Puji Daniel yang sedari tadi melihat keduanya latihan bersama Ulrich dan teman-temannya yang lain.
"Tumben lo muji-muji. Biasanya ada maksudnya entar," sindir Bhiyan mendekati Ulrich yang berada di samping Daniel.
"Bener tuh Bhi," balas Ulrich. Ia kemudian berpaling menatap Adelia. "Mendingan lo jauhin ini kadal deh Del, sebelum nantinya lo menyesal."
Adelia tertawa mendengarnya.
"Yailah... salah aja gue di mata lo berdua," rutuk Daniel kesal.
"Mata Ulrich. Mata gue dah gak ada," sambung Bhiyan membuat ketiganya langsung menoleh ke Bhiyan. Menatapnya tidak enak.
"Gue cabut. Merasa jadi manusia hina gue di sini," ujar Daniel begitu dramatis kemudian pergi begitu saja.
"Baperan! Gue cabut ya Bhi. See you entar malam." Ucap Ulrich yang kemudian berlari menyusul Daniel.
Adelia melirik jam tangannya. Pukul dua siang. Masih punya waktu beberapa jam sebelum langit berubah warna menjadi gelap. Ia menoleh menatap Bhiyan.
"Masih punya waktu beberapa jam sebelum malam. Lo mau ke mana Bhi?" Tanya Adelia.
"Lo memangnya enggak capek latihan dari tadi pagi?" Tanya Bhiyan balik. Bhiyan terlihat sedang memasukkan gitarnya ke dalam hardcase yang dibawanya.
Alissa menggeleng, "kalau segini enggak ada apa-apanya buat gue." Balasnya sedikit sombong, menunjukkan deret putih giginya.
Bhiyan jadi tertawa. Ia merangkul gitarnya di punggungnya. Sepertinya hal yang tepat sekarang untuk melatih mental gadis ini.
"Waktu latihan tadi, lo masih grogi gak?"
"Yah... sedikit," ia menggaruk belakang lehernya.
"Lo mau ikut gue? Itung-itung buat latihan mentalnya lo?" Tawar Bhiyan dengan tersenyum.
"Ke mana?"
"Ikut aja dah. Lo tahu tempatnya." Bhiyan langsung menarik tangan Adelia pergi begitu saja. Tidak ada penolakan dari gadis itu. Ia hanya mengikuti Bhiyan saja. Mudah-mudahan dia tidak membawanya ke tempat yang aneh-aneh.
***
"Memangnya kita mau ke mana sih Bhiyan? Udah lima belas menitan lebih kita jalan loh... enggak sampai-sampai." Tanya Alissa dengan wajah cemberut. Bhiyan tidak memberitahu tujuan mereka ke mana. Yang mereka lakukan hanya menyusui trotoar kota, meninggalkan hotel yang sudah jauh di belakang. Kakinya sudah terasa pegal, berjalan sedari tadi.
"Tentunya untuk ngelatih mentalnya lo. Supaya lo enggak grogi entar sewaktu tampil," jawab Bhiyan dengan tersenyum.
Mendengar ucapannya membuat jantung Adelia berdegup cepat. Laki-laki di sampingnya ini begitu peduli sekali padanya. Ia tidak bisa membantah Bhiyan kali ini.
Lima puluh meter di depan, keduanya sudah memasuki areal Taman. Tentu saja gadis di sampingnya menjadi bingung. Apa yang akan dilakukan Bhiyan di Taman ini dengannya?
"Kita mau ngapain di Taman?" Tanya Adelia lagi.
"Nge-date."
Adelia mendesis langsung mencubit lengan laki-laki di sampingnya. "Gue serius Bhiyan!"
Bhiyan cuma tersenyum tidak menjawab. Tentu saja membuat emosi Adelia naik.
Keduanya tetap melangkah hingga keduanya akhirnya memasuki areal Musik Jalanan. Dan akhirnya seketika Adelia menyadari maksud Bhiyan membawanya ke tempat ini. Tiba-tiba saja jantungnya mulai berdebar-debar. Langkahnya terasa kian melemah hendak jatuh saja.
"Latihan kita di sini Del."
Tempat yang begitu ramai dikunjungi penonton. Speaker-speaker besar dengan bass yang cukup menggelegar, membuat jantung Adelia ikut berdetak keras. Gak... gak mungkin!
Lama tidak ada jawaban, membuat dahi Bhiyan berkerut. "Are you okay, Adelia?"
"Ki-kita enggak bisa pindah aja gitu? Ja-jangan di sini," ucap Adelia pelan. Suaranya terdengar bergetar.
"Mau ke mana? Satu-satunya jalan untuk ngelatih mentalnya lo ya di sini Del." Bhiyan mulai jengkel dengan Adelia sekarang.
"Ramai banget gitu Bhiyan!" Adelia menaikkan nada suaranya. Ia mulai takut.
"Lebih ramai mana dibandingkan waktu lo lomba? Belum lagi entar malam ramainya bakalan gimana. Satu-satunya jalan ya ini."
Adelia mendesis. Apa tidak ada pilihan lain selain di sini? Melihatnya saja sudah membuatnya takut. Apa jadinya jika dia sudah bergabung?
Bhiyan menghela nafas. "Sekarang gue tanya, lo mau groginya lo itu hilang atau enggak?" Suaranya terdengar begitu serius.
"Ya mau. Tapi apa enggak ada tempat lain atau metode yang lain gitu?"
Bhiyan terdiam. Sesaat kemudian ia buka suara. "Oke kita pindah ke tempat lain. Tapi gue mau tempatnya yang ramai ditonton orang seperti di sini!" Putus Bhiyan membuat Adelia mati kutu. Adelia tidak tahu tempat lain yang ramainya seperti di sini. Adelia diam cukup lama membuat Bhiyan kembali menghembuskan nafas.
"Gue ngelakuin ini demi lo Del. Cara untuk ngelawan groginya lo itu cuma di sini. Di sini tempatnya. Lo bisa langsung bernyanyi sambil interaksi di depan penonton. Tampil di sini enggak begitu buruk. Percaya sama gue."
Adelia menatap Bhiyan yang kelihatannya sudah begitu berharap padanya. Bhiyan benar. Mau sampai kapan groginya hilang kalau tidak ia latih. Tapi rasanya begitu menyeramkan baginya.
Adelia mengepalkan kedua tangannya. Kali ini ia harus melawan ketakutannya itu. Demi dirinya juga demi Bhiyan. Kalahkan takutmu Adelia!
"Oke... gue setuju."
Mendengarnya langsung membuat senyum manis Bhiyan terbit. Laki-laki itu kemudian menarik lengan Adelia pergi ke belakang tempat pertunjukan. Ada meja kosong di sana, tempatnya berada di bawah pohon. Bhiyan mempersilahkan Adelia duduk terlebih dahulu.
Rasa sejuk tempat ini sepertinya kalah dengan panasnya diri Adelia yang sekarang. Begitu takut sampai-sampai bulu halusnya meremang serta keringat dinginnya mulai bermunculan.
"Enggak usah panik. Bawa santai aja." Kalimat wejangan dari Bhiyan yang sebenarnya tidak diperlukan Adelia. Gadis itu mendesis sebal karenanya.
Sementara itu Bhiyan terlihat tengah menelepon seseorang yang tidak Adelia ketahui. Dari nada bicaranya Bhiyan terdengar begitu akrab sekali. Mungkin sahabatnya.
Beberapa menit berselang, seorang pria dewasa menghampiri keduanya. Ia menarik bangku dan duduk begitu saja. Tersenyum begitu lebar menatap Bhiyan.
"Apa kabar Lae? Lama aku tak jumpa kau." Bhiyan dan pria dewasa itu saling bersalaman serta melakukan tos.
"Baik Bang Be," balas Bhiyan.
Pria dewasa yang dipanggil Bhiyan Bang Be tersebut menoleh pada Adelia. Membuat Adelia menjadi canggung, memaksakan tersenyum. Ia ingat sekarang. Dia Pria yang menawarkan minuman pada Bhiyan dahulu.
"Cantik hallet kau dek. Kalah Demian kau bikin bah!" Adelia tersindir atas ucapan Bang Be. Dari cara bicaranya dia sepertinya orang Batak. (Hallet/Hamlet = Pacar) *kalau salah boleh dikoreksi ya :)
"Bukan lah Bang," jelas Bhiyan ramah. "Namanya Adelia. Temanku."
Bang Be terlihat kecewa atas apa yang diucapkan Bhiyan barusan. Ia menoleh pada Adelia kemudian menjulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
"Nama Abang Ronny Nainggolan. Panggil aja Bang Be."
Adelia tersenyum membalas juluran tangannya tersebut. "Adelia Bang."
"Bang Be ini yang bertanggung jawab sama pertunjukan ini. By the way Bang Be juga temannya Demian dari zaman kuliah. Orang Batak asli. Kalau bicara soal suara, Bang Be jagonya." Mendengar ucapan Bhiyan membuat Bang Be tertawa.
"Maklum. Orang Batak selain suaranya tinggi-tinggi, harus jago nyanyi." Keduanya serta Adelia ikut larut dalam tawa. Keduanya begitu akrab sekali.
"Kau sekarang ke sini mau ngapain?" Bang Be kini bertanya.
"Biasa. Jadwal."
Bang Be langsung menepuk dahinya. "Alamak! Rabu sekarang ya? Lupa pula aku Dek. Maklumlah sering lupa, enggak ada ngingatkan."
Bhiyan tertawa. "Makanya jangan bekawan sama Demian, Bang Be. Kan jadi ketularan."
"Ketularan apa?"
Mereka langsung menoleh. Tiba-tiba saja Demian sudah berdiri di samping Bhiyan. Membuat ketiganya terkejut. Bhiyan yang tahu itu Demian langsung tutup mulut, tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Aih... makjang... lama gak ku tengok kau bah Yan. Ngapain kau di sini?" Bang Be langsung menyapa Demian. Laki-laki itu langsung duduk.
"Biasa Be, nyari yang gak ada." Bang Be tertawa dengan lebar kembali mendengarnya. "Lo sama Adel ngapain ke sini?" Tanya Demian beralih pada Bhiyan.
"Biasa, nyari yang gak ada."
Adelia dan Bang Be tertawa bersama, sedangkan Demian mendesis mencoba mengontrol tangannya agar tidak memukul kepala Adiknya itu.
"Jadi Bang Be, masih lama lagi kah? Atau setelah ini ada yang ngantri?" Tanya Bhiyan kembali menyadarkan Bang Be dengan tujuan Bhiyan.
"Tunggu bentar." Ia mengambil buku catatan di dalam tas selempang yang ia kenakan. Membolak-balik halaman demi halaman dengan mulut bergumam menyebut hari Rabu.
"Ah... kebetulan enggak ada. Habis inilah kau ya Lae. Palingan sepuluh menit lagi selesai," jelas Bang Be pada Bhiyan. Ia kemudian memasukkan kembali buku catatan itu kembali ke dalam tasnya.
"Lo berdua mau ngamen?" Tanya Demian yang mengerti maksud kedatangan keduanya ke tempat ini.
Bhiyan mengangguk. "Buat latihannya Adel. Lo mau ikutan juga?"
"Boleh tuh," jawab Demian cepat.
"Tapi lo jangan nyanyi," sindir Bhiyan tak kalah cepat. Membuat Bang Be tertawa keras kali ini. Adelia menyimak, sembari tertawa kecil.
"Benar kata Adek kau Yan. Pergi nanti semua orang yang di sini kalau kau nyanyi."
Raut Demian menjadi keruh. Ia mencoba sabar menghadapi dua setan ini.
"Yaudah Bang Be. Kita ke sana dulu ya," ucap Bhiyan pamit. Adelia berdiri, tersenyum tipis pada Bang Be sebagai tanda perpisahan.
"Be... gue cabut!"
"Yoi Yan!"
Mereka memilih mendekat di belakang speaker. Di depan mereka beberapa orang dari sebuah grup tengah tampil dengan membawakan beberapa lagu yang sekiranya bisa menghibur orang-orang di tempat ini.
Melihat banyaknya orang-orang yang menonton semakin membuat Adelia nerveous. Perasaanya mulai tidak enak. Ia mulai membayangkan hal-hal yang buruk akan terjadi kedepannya.
"Coba rilekskan pikiran lo. Tampil di sini enggaklah buruk. Percaya sama gue." Ujar Bhiyan yang sudah entah keberapa kalinya ia ucapkan. Adelia cuma bisa mengangguk, mengikuti saran Adelia.
"Entar malam katanya Bunda mau datang," ujar Demian disela-sela kepanikan Adelia.
Bhiyan mengangguk. "Lo sendiri enggak mau datang? Mana tau lo ketemu jodoh di sana."
Demian menyeringai. "Ngapain gue datang kalau dah tahu hasilnya gimana." Ia membuat Bhiyan tertawa pelan.
Demian melirik Adelia yang kelihatan begitu aneh sedari tadi. Kedua tangannya terlihat meremas ujung bajunya begitu kuat, memperlihatkan pinggirnya yang mulai kusut. Sepertinya ia mengerti apa yang sedang dialami gadis itu.
Ia baru beberapa hari mengenal Adelia karena kerap melihat gadis ini selalu latihan bersama Adiknya. Anaknya baik dan manis. Itu kesan pertamanya ketika melihat Adelia.
"Del," panggil Demian.
Adelia yang mendengarnya langsung menoleh. Termasuk Bhiyan.
"Iya Bang?"
"Lo tau siapa Nelson Mandela?"
Pertanyaan Demian mengundang kerutan di dahi Demian. Tentu saja dia tahu siapa Nelson Mandela hanya saja ia penasaran kenapa Demian menanyakan hal itu kepadanya.
"Mantan Presiden Afrika Selatan."
Demian mengangguk.
"Dia pernah berkata, ‘Saya belajar bahwa keberanian tidak akan pernah absen dari ketakutan. Tetapi mereka berhasil menang atas itu. Orang berani bukan mereka yang tidak pernah merasa takut, tapi mereka yang bisa menaklukkan rasa takut itu'."
Adelia seksama mendengarkan ucapan Demian, begitu pula dengan Bhiyan.
"Lo ngerti maksudnya?" Tanya Demian sekali lagi.
Adelia menggeleng, tidak tahu.
"Rasa takut itu pasti dirasakan oleh setiap orang. Kamu cuma perlu berani mengambil sikap untuk melawannya. Mengganti ketakutan dengan keberanian. Yakin kalau kamu memiliki suatu kekuatan untuk melakukannya."
"Kadangkala, seorang pemberani tetap memiliki rasa takut di waktu dan kondisi tertentu. Namun, rasa takut tersebut bisa ditaklukkan oleh rasa berani di dalam diri seseorang. Intinya, berusahalah untuk melawan rasa takut."
Adelia terpana mendengarnya. Ia tidak menyangka Demian bisa berucap seperti itu. Sekarang ia paham dengan ucapan Nelson Mandela itu. Keberanian dibutuhkan untuk melawan ketakutan. Adelia sudah mendapatkannya.
"Jadi, jangan sampai keberanian lo itu kalah sama ketakutannya lo, Oke?"
Adelia tersenyum lebar, mengangguk mengerti. "Makasih Bang Ian."
"Sama-sama," Demian mengacak-acak rambut Adelia seraya membalas senyumnya.
Bhiyan menghela nafas lega. Ia berharap Adelia benar-benar menemukan inti dari yang Demian ucapkan padanya. Semoga saja.
Penonton terlihat ramai bertepuk tangan dengan sorak-sorai. Sepertinya pertunjukan dari grup tersebut sudah usai. Saatnya giliran mereka.
"Lo yang main cajon atau gue?" Tanya Demian memastikan.
"Lo aja," jawab Bhiyan pendek, mendapat anggukan kepala dari Demian.
Adelia menarik nafas panjang. Mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ini waktunya!
Ketiganya melangkah maju ke stage. Bhiyan langsung dibantu oleh Demian untuk mengatur sedemikian gitarnya agar terhubung ke pengeras suara. Dengan rasa gugupnya Adelia duduk di bangku yang disediakan. Sebuah mikrofon aktif sudah mengarah padanya. Kembali ia merasakan jantungnya berdegup cepat.
Perlahan ia melihat penonton berangsur-angsur surut, namun ia tidak yakin dengannya karena mereka pasti akan kembali dengan dua kali lipat lebih banyak seperti waktu itu. Adelia menelan salivanya.
Lima menit kurang yang dibutuhkan untuk mengatur input dan output. Bhiyan sudah mengatur nada senar gitarnya. Begitu pula Demian yang sepertinya telah ready menabuh box yang ia duduki.
"Buka pakai intro yang biasa," ucap Demian pada Bhiyan yang mendapat anggukan darinya.
Tunggu dulu. Sepertinya Adelia lupa sesuatu.
IA AKAN MENYANYIKAN LAGU APA!!
Adelia berusaha memanggil Bhiyan untuk bertanya namun suara tabuhan cajon serta petikan gitar Bhiyan memotongnya terlebih dahulu. Membuat Adelia semakin panik.
Ia menarik nafas panjang, sembari terus mengingat kata-kata Bhiyan. Rilekskan pikiran....
Telinganya kini menikmati tabuhan serta petikan nada gitar yang terdengar begitu harmonis. Penonton perlahan berdatangan satu-persatu, menyaksikan bahkan merekam. Beberapa saat di bagian intro, Bhiyan akhirnya buka suara diiringi petikan gitarnya serta tabuhan ringan dari Demian.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali lagi dengan saya Bhiyan Adiaksa yang kembali hadir untuk menghibur Rabu sore teman-teman semua yang ada di Taman yang kita cintai ini."
Adelia melihat Bhiyan begitu terampil sekali dalam berucap. Tidak gugup sama sekali.
"Saya tidak sendiri kali ini karena sudah ditemani oleh dua orang, yang pertama Abang saya, Demian Adiaksa yang berumur 27 tahun yang kebetulan masih sendiri. Tentunya pekerjaannya mapan dan siap untuk berkeluarga. Bagi siapapun yang ingin mendaftar silahkan datangi Demian."
"Sialan!" Desis Demian dengan kesalnya mendengar ucapan Adiknya itu. Adelia berusaha menahan tawanya. Beberapa penonton juga ikut tertawa karena ulah Bhiyan.
"Dan satu lagi sahabat saya Adelia Maudy Dinata yang nanti malam akan mengikuti perlombaan vokal solo." Adelia menjadi canggung karena semua orang beralih menatap dirinya. "Mudah-mudahan acaranya sukses serta teman saya menerima hasil yang terbaik. Amin...."
Adelia tersenyum lebar. Menatap wajah laki-laki dari samping yang tengah memperlihatkan senyum terbaiknya. Bhiyan laki-laki yang baik. Dia tahu itu.
"Sebagai pembuka kami akan membawakan lagu Tanya Hati dari Pasto. Selamat menikmati."
Adelia tahu lagu itu. Dia cukup menguasainya.
Petikan Bhiyan dan tabuhan Demian berhenti. Adelia menarik nafas panjang, mengontrol rasa gugupnya.
"Bagian awalnya biar gue aja dulu. Entar itu lo langsung masuk," bisik Bhiyan di samping kanan belakangnya namun malah membuat Adelia panik.
"Lo yakin? Lo kan enggak bisa nyanyi!" Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu. Selama latihan ia belum pernah mendengar Bhiyan bernyanyi. Bhiyan sendiri yang mengatakan dirinya tidak bisa bernyanyi. Hal itu nyata ia tunjukkan ketika Bhiyan bernyanyi di depan kamarnya untuk membujuknya keluar.
Bhiyan menyeringai tanpa menjawab. Detik berikutnya Bhiyan mulai memetik senar gitarnya. Membuat Adelia menggigit bibir bawahnya. Membuat semua pikiran berkecamuk di kepalanya. Tenang Adelia, ingat kata Bang Ian, batinnya dalam hati.
Sebentar lagi Bhiyan selesai dengan bagian intro. Adelia memejamkan matanya rapat-rapat, telunjuk kanannya sudah ia gunakan untuk menyumbat telinganya. Sial!
"Tuhan tolonglah... Hapus dia dari hatiku...."
Adelia terus mengumpat hingga telinganya menangkap hal yang aneh. Ia terpaku sesaat, kemudian melepaskan telunjuknya. Memfokuskan indera pendengarannya dengan suara yang cukup merdu itu.
Detik berikutnya ia menolehkan kepalanya ke arah Bhiyan. Membuat gadis itu terpana tidak percaya dengan yang ia dengar sekarang. Suara Bhiyan begitu bagus!
"Kini semua percuma... Takkan mungkin terjadi..."
Sungguh Adelia merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Jadi selama ini laki-laki berbohong kalau dia tidak bisa bernyanyi padanya? Yang di depan pintu itu juga cuma setingan? Sumpah! Ia ingin meminta penjelasan dari laki-laki itu.
"Kisah cinta yg selalu aku banggakan..."
Bhiyan terlihat menolehkan kepalanya ke arah Adelia, laki-laki itu tersenyum lebar. Membuat Adelia menjadi kesal. Detik berikutnya ia melihat Bhiyan menganggukkan kepalanya. Sepertinya sudah waktunya bagi Adelia untuk masuk.
Tunggu dulu. Kepalanya tiba-tiba blank, lupa dengan liriknya. Lalu kenapa semua orang menatap dirinya?
Adelia kembali menjadi panik, tidak tahu harus melakukan apa-apa.
"Kau hempas semua... rasa yang tercipta untukku...."
Bhiyan bernyanyi kembali membuat Adelia langsung menoleh. Ia terselamatkan kali ini. Adelia memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam. Berulang-ulang mengingat apa yang Demian ucapkan untuknya tadi.
"Tanpa pernah melihat... betapa ku mencoba... jadi yang terbaik... untuk dirimu...."
Adelia membuka matanya, melihat setiap tatapan menoleh padanya. Tunggu dulu... mereka semua tersenyum pada mereka. Ia melihat Bhiyan. Laki-laki tersenyum sembari mengangguk. Saatnya ia bernyanyi. Semangat Adelia!
"Oh mengapa... tak bisa dirimu... yang mencintaiku... tulus dan apa adanya."
Adelia menjadi takjub dengan dirinya sendiri. Suaranya tidak berubah. Jantungnya tidak terasa berdebar-debar, ditambah dirinya tidak merasa panik.
"Aku memang... bukan manusia sempurna... tapi ku layak di cinta... karna ketulusan... kini biarlah... waktu yg jawab semua..."
Perlahan ia melihat ke arah penonton. Mereka tampak begitu menikmati. Beberapa dari mereka ada yang ikut bernyanyi.
"Tanya hati ku...."
Ia menoleh pada Demian, laki-laki itu mengacungkan jempolnya sembari tersenyum. Ia beralih menatap Bhiyan lagi. Laki-laki itu tersenyum lebar padanya, yang kemudian dibalas senyuman bahagia dari Adelia.
"Lo bisa ngalahin rasa takut lo Del!"
(Tanya Hati - Pasto)
Bersambung...
By the way, lagu di atas salah satu lagu favorit saya. Ada yang suka juga, enggak?
Entah-entah kita jo....
:")