"Menurutmu, SMA Bharatayudha bisa memegang posisi juara umum kah, Syarif?"
Alissa dan Bhiyan berdiam diri, menyimak pembicaraan Bunda dan Pak Syarif sembari menyantap makan siang yang disediakan panitia.
"Bicara soal menang bisa dibilang cukup berat. Setiap kontingen SMA yang berlomba begitu ciamik dengan penampilannya. Sulit mengatakan kalau Bharatayudha bisa memegang juara umum." Ujar Pak Syarif.
"Benar. Begitu bagus. Contohnya dari orkestra saja. Setiap Tim Orkestra masing-masing sekolah tampil dengan begitu solid. Seolah-olah mereka telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Begitu matang. Sejauh memerhatikan, aku sama sekali belum mendengar adapun salah satu kesalahan walaupun satu not. Memang pantas dinobatkan sebagai 100 SMA terbaik di Indonesia." Balas Bunda dengan begitu antusias.
"That's right. Walaupun begitu tentunya kami berusaha semaksimal mungkin, memberikan penampilan yang terbaik, dan selalu berfikir optimis."
"Kau benar. Semangat Bharatayudha sejak dulu," Bunda dan Pak Syarif tertawa bersamaan.
Disela-sela reuni dua orang tua itu, Bhiyan mendecak. Mendekatkan kepalanya ke Alissa sembari berbisik.
"Reuni orang tua."
Alissa terkekeh pelan mendengarnya. Geleng-geleng kepala sembari melihat wajah tertekuk Bhiyan perlahan mundur.
Keduanya sudah selesai dengan santap siangnya. Bunda menoleh pada keduanya, memperhatikan sejenak lalu merasa ada sesuatu yang kurang.
"Adelia mana Bhiyan? Bunda belum ketemu sama sekali."
Bhiyan menghela nafas, menggeleng pelan. "Bhiyan enggak tau Adelia sekarang di mana Bun. Semenjak turun dari panggung, Adelia langsung menghilang gitu aja," jelas Bhiyan mengundang kerutan di wajah Bunda.
"Oh... kamu kenal sama Adelia, Hera?" Pak Syarif memotong pembicaraan.
"Yah... baru-baru ini saja. Itupun hanya sekedar dari telepon. Aku sama sekali belum pernah ngeliat wajah dia," jelas Bunda.
Pak Syarif tersenyum lebar, "Kamu bakalan suka sama dia. Bakat dia sama sepertimu. Bernyanyi. Suaranya begitu merdu dan halus," raut wajah Pak Syarif tiba-tiba berubah, sembari menghela nafas. "Yah... anaknya cukup 'trouble' juga di sekolah."
Bunda tertawa pelan. "Kau pikir aku dulu SMA gimana? Bolak-balik masuk kantor BK, panggilan orang tua, karena ngehajar siapa? Kau sama Gerard."
Pak Syarif tertawa sembari menggaruk belakang kepalanya, sementara Alissa terkejut bukan main mendengarnya.
"Seriously!?" Bisik Alissa dengan penuh penekanan di telinga Bhiyan.
Bhiyan tersenyum miring, "makanya itu semua laki-laki di rumah bakalan tunduk sama Bunda. Yang lo liat Bunda marahin gue dulu itu ibarat cuma remah-remah roti."
Alissa menelan salivanya dalam-dalam, melirik Bunda yang tengah tersenyum dengan begitu takut. Bhiyan tertawa pelan kemudian berdiri. Mengeluarkan tongkat, sekalian menggantungkan gitarnya di bahunya.
"Bhiyan mau nyari Adel dulu ya Bun."
"Iya. Hati-hati." Jawab Bunda dengan suara lembutnya.
"Tunggu gue Bhiyan!"
***
"Menurut lo Adel di mana Bhi?" Tanya Alissa. Keduanya tengah berjalan di aula utama hotel. Begitu banyak orang-orang berlalu-lalang keluar-masuk.
"Di kamarnya kali," tebaknya. Alissa hanya bisa mengangguk. Alissa mengerti apa yang terjadi dengan Adelia.
"Menurut lo kacau gak sih tadi Bhi?" Tanya Alissa pelan.
Bhiyan berdeham, "Buat gue ya sedikit, gak tahu kalau buat Adelia gimana."
"Iya sih... gue yang buta nada aja bisa ngerasain. Suaranya bergetar. Beda dari latihan-latihan sebelumnya." Bhiyan mengangguk setuju.
Keduanya melangkah memasuki lift.
"Kamarnya Adel di lantai berapa?" Tanya Alissa.
"Delapan."
Alissa mengangguk kemudian menekan tombol. Pintu perlahan-lahan tertutup, kemudian keduanya terangkat naik perlahan menuju lantai yang dituju.
Bhiyan mengangkat kepalanya, kembali membuang nafas. "Kesalahan gue karena enggak ngajarin satu hal penting untuk Adel."
Alissa menoleh, bertanya, "Apa itu?"
Laki-laki itu hanya diam sembari menunjukkan seringainya. Membuat Alissa sedikit sebal. Untuk apa ia memberitahu kalau ia tidak memberi tahu maksudnya!
Lift berdenting. Pertanda keduanya telah tiba di lantai tujuan. Pintu perlahan terbuka. Keduanya melangkah keluar menuju kamar Adelia.
"Maksud dari 'kesalahan gue' yang tadi itu apaan?" Tanya Alissa kembali karena merasa tidak terima karena tidak dijelaskan.
"Mental. Gue lupa ngelatih mental dia," Alissa diam. Itu ternyata. "Gue merasa mental Adelia sudah terlatih karena sering ikut lomba. Selama latihan juga, dia enggak pernah nunjukin gejala itu, hingga pada akhirnya kemarin... gue tau semuanya."
"Pastinya lo tau sendiri kalau mental itu enggak bisa dilatih dalam satu malam. Perlu waktu dan pengalaman. Itu yang bisa dijadikan patokan buat ngelatih mental," sambung Bhiyan kembali.
Alissa hanya bisa diam, sedikit menundukkan kepalanya. Yang dia dengar dari Bhiyan itu benar semuanya. Jarang-jarang sekali dia mendengarkan kata-kata seperti itu dari Bhiyan.
Alissa mengangkat kepalanya. Seketika ia ingat sesuatu. "Kamar Adelia nomor berapa Bhi? Entar udah kelewatan dah?" Ujarnya kemudian memutar kepalanya ke belakang.
"Di depan. Ada Caca sama Luna di depan pintu kamar Adelia."
Adelia langsung menatap ke depan. Benar saja. Tampak Caca dan Luna tengah berdiri di depan sebuah pintu. Keduanya terlihat memukul-mukul pintu dengan raut panik. Melihatnya, Alissa langsung berlari mendekati keduanya meninggalkan Bhiyan di belakang.
Caca dan Luna tersadar dengan kehadiran Alissa. Namun keduanya langsung berpaling, kembali memukul-mukul pintu.
"Del! Bukain pintunya!" Pekik Luna dengan suara lantangnya.
"Adel kenapa?" Tanya Alissa meminta penjelasan.
Caca menghembuskan nafasnya dengan berat. "Kecewa sama penampilannya tadi," jelasnya. Terlihat Caca begitu tertekan sekali.
Alissa mengerti. Berpaling pada Luna yang sedari tadi memukul-mukul badan pintu sembari menyebutkan nama Adelia.
"Coba lo bujuk Adel keluar Sa. Gue takut kalau sampai dia kenapa," pinta Caca penuh harap. Namun Alissa cuma bisa menggelengkan kepalanya.
"Kalau lalian berdua aja enggak bisa, apalagi gue."
Caca mendecak, "Dicoba dulu kek."
Alissa tetap diam. Beberapa saat berselanng, ia tersadar dengan Bhiyan yang telah berada di sampingnya. Luna langsung berhenti menggedor pintu.
"Gimana dia?" Tanya Bhiyan pendek.
"Ya gitu." Sambar Luna kemudian memutar bola matanya.
Bhiyan menunjukkan seringainya. Ia melangkah mendekat ke pintu. Tangannya mengetuk beberapa badan pintu berwarna cokelat gelap itu.
"Del... gue Bhiyan," Ucapnya sedikit kuat agar Adelia bisa mendengarnya.
Hening beberapa saat namun pada akhirnya Adelia menyahut walaupun suaranya tidak begitu jelas.
"Gue lagi pengin sendiri Bhi! Tinggalin gue!"
Bhiyan diam. Membuang nafas. Ia membalikkan badan. "Dia lagi pengin sendiri dulu," mendengarnya membuat Caca dan Luna mengeluh kesal. "Lo berdua tenang aja. Mendingan lo berdua makan siang aja dulu. Sebisa mungkin gue bakalan bujuk Adel keluar dari kamarnya."
Caca dan Luna saling tatap. Mengangguk mengerti.
"Gue minta tolong sama lo ya Bhi," pinta Caca dengan penuh harap.
"Iya Ca. Lo tenang aja. Sebisa mungkin bakalan gue bujuk Adel buat keluar."
Caca dan Luna akhirnya pergi meninggalkan Bhiyan dan Alissa di depan pintu kamar Adelia. Menyerahkan tanggung jawab kepada Bhiyan seutuhnya. Keduanya berharap Bhiyan bisa untuk membujuknya.
Bhiyan kini berpaling ke arah Alissa. "Lo mau di sini aja?"
Alissa mengerutkan dahi mendengar ucapannya. "Maksud lo apaan? Gue ninggalin lo di sini gitu? Kalo lo diculik gimana? Gak ada lagi dong teman yang sering traktir gue jajan."
"Pas lo lari tadi, Demian telepon gue kalau dia lagi di bawah sama Bunda."
Alissa tampak terkejut mendengarnya. Perlahan-lahan tangannya naik, meraba belakang lehernya. Tertawa kaku, sembari beberapa kali menatap Bhiyan. Entah apa yang dilakukannya, detik berikutnya Alissa terlihat mengelus perutnya.
"A... aduh. Pe... perut gue kok ja... di gak enak gini ya," ujarnya terputus-putus, sembari terus mengeluhkan sakit di perutnya.
Bhiyan yang sudah paham dengan alasan gadis itu cuma bisa geleng-geleng kepala, kemudian mengusap seluruh wajahnya. Alissa... Alissa...
"Gue enggak apa-apa. Gue sendiri bisa bujuk Adel. Lo boker aja. Buang segala tipu daya lo di WC," ujar Bhiyan dengan jengkelnya.
Alissa tersenyum lebar menampilkan deret putih giginya. Sakit perutnya tiba-tiba saja menghilang dalam sekejap. Mungkin dengan tersenyum, rasa sakit perut bisa hilang begitu saja. Hmm... perlu di coba!
"Gue ke bawah ya Bhi. Jangan marah."
Bhiyan yang sudah begitu jengkel, hendak ingin menggetok kepala Alissa dengan tongkatnya namun gadis itu buru-buru berlari menjauh. Tertawa lebar bak kuntilanak.
Bhiyan menggeleng lemah. Level bucin tingkat galaksi! Gumamnya.
Kembali ke tujuan utama. Ia harus membuat Adelia keluar dari kamarnya atau membukakan pintu saja, itu sudah cukup baginya. Bhiyan kembali mengetuk pintu kamar Adelia.
"Del..."
"PERGI!"
Bhiyan sontak menjauhkan kepalanya dari pintu. "Galak bener kayak Bunda."
Bhiyan mencoba untuk kedua kalinya.
"Del... Adel... main yuk!"
Brakk!!
Bhiyan langsung terperanjat kaget. Suara hantaman dari balik pintu. Entah benda apa yang dilemparkan Adelia. Yang pastinya cukup keras. Ia harap semoga benda itu bukan milik hotel.
Bhiyan mengembangkan senyumnya. Sepertinya tugas ini tidak akan mudah baginya.
Ia memilih duduk bersandar pada pintu dengan gitar yang kini di pangkuannya. Tak menghiraukan jas atau celananya akan kotor maupun kusut. Jemarinya memetik senar satu persatu. Sedetik kemudian ia tertawa. Sepertinya ia akan melakukan hal bodoh sekarang.
"Adelia... kau gadis cantik. Keluar lah dari kamarmu. Aku Bhiyan... ingin bertanya keadaanmu...."
Dengan suara yang fals Bhiyan bernyanyi. Orang-orang yang lalu-lalang di depannya cuma bisa menatapnya heran. Beberapa dari mereka ada yang tertawa. Sialan!
"Adelia... Oh Adelia... keluarlah dari kamarmu...."
"BERISIK!!" Pekik Adelia dari dalam kamarnya.
Bhiyan berhenti memetik gitarnya. Menepuk jidatnya sedikit keras. Membodohi hal yang ia lakukan barusan.
"Lo beneran gak mau keluar kamar? Gue malu banget di sini. Bukain pintunya kenapa—"
Ceklek
Akhirnya Adelia membuka pintu kamarnya. Namun Bhiyan yang sebelumnya bersandar pada pintu harus merelakan kepalanya terantuk ubin lantai kamar Adelia. Suaranya cukup keras. Pasti sakit.
Benar saja Bhiyan sekarang meringis kesakitan. Adelia yang kaget langsung mengangkat kepalanya Bhiyan, membantunya untuk duduk.
"Are you okay? Maaf banget loh!" Adelia menepikan gitarnya Bhiyan terlebih dahulu. Setelahnya gadis itu kemudian mengelus-elus kepala Bhiyan dengan wajah paniknya sedangkan Bhiyan berusaha untuk tersenyum walaupun kepalanya masih terasa sakit.
"Gue enggak apa-apa. Yang penting sekarang lo udah bukain gue pintu. Makasih Del."
Adelia berhenti mengusap kepala Bhiyan. Raut paniknya langsung berubah menjadi raut kesal.
"Suara lo gak enak! Gendang telinga gue mau pecah dengarnya!"
"Terima kasih atas pujiannya. By the way gue malu banget dah diliatin orang, malah diketawain lagi."
Adelia tertawa mendengarnya, "Ya salah lo juga. Ngapain nyanyi-nyanyi gak jelas di depan pintu kamar orang. Suaranya membahana lagi."
Keduanya kemudian larut dalam tawa. Bhiyan bersyukur. Adelia mau membukakan pintu untuknya terlebih lagi gadis itu sudah tidak bersedih lagi. Bhiyan mengangkat tangannya, menaruhnya di puncak kepalanya Adelia.
"Bagus deh... lo jadi gak sedih lagi." Dari kepala, tangannya perlahan turun ke pipi. Bhiyan mencubitnya. Membuat Adelia tiba-tiba mematung. Rona merah tiba-tiba muncul di wajahnya. Membulatkan matanya, menatap laki-laki di depannya tengah tersenyum dengan begitu manis. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat. Apa yang sedang terjadi dengan dirinya? Tidak biasanya dia seperti ini. Cuma Ray yang bisa membuatnya menjadi seperti ini. Kenapa Bhiyan?
"Gu... gue masih sedih!" Ujarnya tak terima, memalingkan wajahnya dari Bhiyan. "Bego lo Bhi!"
Bhiyan menaikkan sebelah alisnya. Beberapa saat kemudian ia mengangguk mengerti. Ia memperbaiki posisi duduknya, melipatkan kedua tangannya. "Lo mau cerita sama gue?"
"Cerita apa? Lo sendiri juga pastinya udah tahu hasilnya gimana." Adelia akhirnya bisa mengontrol dirinya. Raut wajahnya tertekuk kembali. "Waktu di panggung tadi gue panik banget, ditambah suara gue... enggak kayak biasanya. Gue kecewa sama diri gue sendiri. Enggak bisa memberikan penampilan yang terbaik."
"Gue udah ngecewain lo juga. Yah... sejujurnya buat ngeliat lo aja, gue malu banget Bhi." Adelia tertawa pelan, tatapan terlihat kosong. Terdiam. Air matanya jatuh tanpa seizinnya. Membuat isakan halus keluar dari bibir mungil gadis itu.
"Lo enggak perlu merasa bersalah Del. Yang seharusnya merasa bersalah itu gue, karena enggak ngajarin lo satu hal. Lo enggak perlu merasa terbebani gara-gara hal ini." Ucap Bhiyan yang sudah terlanjur iba dengan Adelia.
Mendengar hal itu Adelia malah tertawa. Ia menghapus air matanya, senyum manisnya terlukis indah di bibirnya.
"Sekarang lo ceritanya percaya kalau cewek itu gak pernah salah?" Pertanyaan Adelia membuat Bhiyan mengerutkan dahi. Sedetik kemudian ia tertawa pelan.
"Entahlah... mungkin lebih baik mengalah daripada memperpanjang," ucapnya.
"Jadi lo selalu ngalah gitu kalau misalnya lagi debat sama Alissa?"
"Jarang Alissa mau ngalah sama gue. Karena gue orangnya malas memperpanjang masalah, lebih baik gue duluan yang ngalah. Itu yang terbaik menurut gue," jawab Bhiyan.
Adelia tertawa pelan. Dari sisi manapun, dua sejoli ini terlihat begitu cocok.
"Kalian berdua cocok banget tau gak Bhi," ucapnya dengan nada suara yang begitu manis.
Namun malah membuat smirk Bhiyan berubah. Dahinya berkerut. "Cocok? Apaan? Gue sama Alissa?"
Mendengarnya membuat Adelia menjadi bingung, ikut mengerutkan keningnya. "Kalian pacaran kan?"
Tawa Bhiyan langsung pecah begitu saja membuat Adelia bingung dengan apa yang terjadi. Perlahan raut wajah gadis itu terlihat kesal.
Karena Bhiyan yang terus-terusan tertawa membuat Adelia harus mencubit lengan laki-laki itu. Bhiyan meringis sakit hingga akhirnya ia berhenti tertawa.
"Jelasin ke gue sekarang!"
Bhiyan mengatur nafasnya. Pertanyaan Adelia yang begitu polos membuat tawanya pecah tiba-tiba. Perutnya sampai sakit karena gadis di hadapannya.
"Kan dari hari itu udah gue kasih tahu sama lo Adelia. Gue sama Alissa enggak pacaran. Just friend."
Adelia terpana sejenak, ia benar-benar lupa dengan pengakuan mereka saat itu. Adelia kemudian membulatkan bibirnya. Rona merah tiba-tiba saja muncul di wajahnya. Ia malu sekali.
"Yang mikir gue pacaran sama Alissa itu gak lo doang kok, tenang aja. Tapi lo yang paling kocak dari semuanya by the way."
Padahal Adelia sudah merasa cukup tenang karena ucapan Bhiyan sebelumnya hingga rasa malu sekaligus kesal itu muncul kembali setelah kata terakhir yang ia ucapkan. Ingin sekali ia menonjok kepala laki-laki di hadapannya.
Ponsel Bhiyan tiba-tiba saja bergetar di sakunya. Sepertinya ada yang meneleponnya. Tanpa berlama-lama ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
....
"Iya Sa. Ada apa?"
....
"Adel udah keluar dari kamarnya."
....
"Oke."
....
Adelia ingin sekali mengetahui apa yang tengah dibicarakan Bhiyan di telepon. Ia hanya bisa melihat raut wajah Bhiyan. Terlihat datar, dengan kepala menunduk. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
Beberapa menit berselang sambungan telepon itu terputus. Bhiyan menaruh kembali ponselnya di saku celana. Ia menghembuskan nafas berat.
"Lomba vokal solo dah selesai. Hasilnya juga udah diumumkan."
Alis Adelia tampak turun, seperti harapannya saat ini. Sudah pasti dirinya tidak meraih posisi pemenang.
"Lo ada di posisi ke-10 dari 100 peserta."
Adelia langsung lemas. Hatinya begitu sakit. Air matanya kembali merembes keluar. Isakan halusnya pecah. Membuat ruangan ini penuh dengan suara tangisannya. Tanpa aba-aba Bhiyan langsung memeluk Adelia. Membuat gadis itu semakin larut dalam kesedihan.
"It's okay Del. Enggak apa-apa. Menang-kalah udah jadi hal yang lumrah dalam pertandingan. Lo enggak perlu sedih. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Dari kekalahan lo harus bisa bangkit. Jadikan kekalahan itu tolak ukurnya lo untuk sukses kedepannya."
Adelia mengangguk mengerti atas ucapan Bhiyan. Beberapa saat lamanya tangisannya berhenti. Bhiyan melepaskan pelukannya. Adelia langsung menghapus jejak air matanya, mencoba tersenyum kembali seperti yang dilakukan laki-laki di depannya itu.
"Makasih Bhiyan. Gue bakalan ingat kata-katanya Lo." Ucapnya dengan suara sedikit serak. Gadis itu sekarang merasa lebih lega.
Bhiyan mengangguk. Beberapa saat keduanya larut dalam diam, Bhiyan bersuara sembari tersenyum dengan lebar.
"Lo mau tahu good news-nya?"
"Apa?" Adelia merasa bingung dengan Bhiyan.
"Khusus untuk peringkat pertama sampai kesepuluh vokal solo, bakalan ada pertandingan kembali untuk memperebutkan posisi pertama, kedua, dan ketiga."
Adelia mengerutkan keningnya, bingung. Ia perlu waktu untuk mencerna ucapan Bhiyan barusan.
Mendengar respon yang cukup lama bagi Bhiyan, membuatnya menepuk dahinya. Gadis di hadapannya mendadak bodoh secara tiba-tiba!
"Listen to me, señorita," Adelia mengangguk, tanpa menghilangkan wajah bodohnya itu. "Lo... masuk... ke... babak... selanjutnya." Jelas Bhiyan dengan penuh penekanan di tiap kata.
Adelia mendengarnya cukup jelas. Kata demi kata. Dia tidak percaya ini. Segera Adelia berdiri, berlarian ke sekeliling ruangan, melompat-lompat. Bahagia sekali mendengarnya. Ia masih diberikan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki.
Masih diambang kebahagiaan, Adelia langsung berlari memeluk Bhiyan yang baru saja berdiri dari duduknya. Ia tersenyum begitu lebar padanya.
"Lo enggak bohong sama gue kan Bhi!?" Tanya Adelia penuh harap. Ia berharap sekali Bhiyan tidak berbohong padanya.
Bhiyan tersenyum sembari mengangguk. "Memangnya gue pernah bohong di depan lo?"
Adelia menggeleng. Tidak! Tidak pernah! Ya Tuhan... terima kasih telah memberikan kesempatan pada Adelia. Bahagia sekali rasanya!
"Selamat ya Del." Bhiyan mengusap-usap kepala Adelia, membalas pelukannya.
"Sama-sama Bhi."
Beberapa menit Adelia larut dalam kebahagiaan berlalu. Ia tersadar dirinya memeluk Bhiyan dengan begitu erat. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang, jantungnya ikut berdegup cepat. Kedua pipinya mendadak terasa panas.
Dengan gerakan kaku, Adelia melerai pelukan keduanya. Matanya melirik Bhiyan yang tersenyum begitu manis padanya. Membuat keduanya pipinya semakin panas. Pasti wajahnya merah padam sekarang!
"Ma-maaf kalau gue lancang pe-peluk lo tiba-tiba," ujar Adelia gugup tanpa berani menatap wajah Bhiyan. Ia jadi salah tingkah di depannya.
"Gak masalah Del. Banyak-banyak peluk gue aja. Mana tau kedepannya lo enggak bisa peluk gue lagi."
Ucapannya semakin membuat Adelia salah tingkah. Diam. Tidak menanggapi. Masih berusaha mengontrol dirinya agar tidak pingsan.
"Oh iya... lo bakalan tampil di malam pengumuman. Dua hari lagi," ucap Bhiyan teringat sesuatu. "Pastinya bakalan sulit buat lo untuk mengejar nilai mereka. Tapi kali ini gue bakalan yakin dan percaya sama lo, lo pasti bisa juara."
Adelia mengangguk semangat sembari tersenyum. "Pasti!"
"Good girl." Bhiyan tersenyum.
Entah pukul berapa sekarang. Pastinya lomba-lomba yang lain akan segera dimulai. Ia tidak ingin melewatkan momen Ulrich dan Daniel tampil dicabang Musikalisasi Puisi.
"Lo udah makan siang belum Del?" Tanya Bhiyan yang mendapatkan gelengan pelan dari Adelia.
"Belum Bhi."
"Mendingan lo makan siang dulu. Pasti lo lapar. Gak lucu kan kalau lo sampai sakit."
Adelia mengangguk mengiyakan. Sesaat berselang keduanya turun setelah Adelia selesai dengan riasan wajahnya yang sedikit luntur karena menangis tadi.
"Entar malam kita bisa latihan. Dan kali ini enggak ada istilah main-main. Jadinya lo harus siapkan mental buat entar malam."
"Aye-aye Kapten!!"
Bersambung...
Silahkan komen kalau ada pertanyaan. Author bakalan siap menjawab :)
Vote ⭐