Jinyoung's
"Oh Shhhht"
Ucap Jinyoung setengah berlari begitu melihat lokasi gadisnya berada.
"Woy! Park Jinyoung!!" Teriak Jackson selagi menyeimbangkan langkah Jinyoung.
Jinyoung tidak menghiraukan. Ia mempercepat langkahnya lurus menghampiri taxi yang tengah berbaris rapih.
Jackson mengikuti.
"Club Lullaby" ucap Jinyoung
Supir taxi segera menekan pedal gas, menembus padatnya kota.
"Kim Seok Woo! Kim Seok Woo! Kim Seok Woo!"
Jinyoung mengepalkan tangannya. Merenggangkan dasinya yang mengikat.
Panik.
Itulah yang sejak tadi Jinyoung rasakan.
Tadi pagi, Jinyoung bertemu kedua orang tuanya. Mereka sepakat memberikan Jinyoung hukuman dan hukuman itu berkaitan dengan Jisoo. Tidak. Lebih tepatnya itu hukuman untuk mereka berdua.
Namun, ketika Jinyoung akan menemui Jisoo, Jisoo malah tidak ada di kantornya.
Jinyoung kembali mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bagaimana bisa Ia lengah. Kini gadis yang sukses mengambil alih hatinya sejak kuliah malah terjebak bersama seorang buaya liar Kim Seok Woo.
Benar. Gadis si pemilik payung ini berhasil mengambil alih hatinya.
Dulu. Sebagian besar wanita mungkin mengejarnya. Memberi bingkisan, membuatkan bekal, mengucapkan semangat, mengirimkan pesan pengingat istirahat. Tapi berbeda dengan Jisoo.
Jinyoung kira setelah peristiwa pinjam meminjam payung. Jisoo akan memanfaatkan keberadaan payung itu untuk dekat dengannya. Jinyoung salah. Semakin hari, keberadaan Jisoo bahkan tidak terdeteksi.
Keadaan jadi berbalik. Justru Jinyoung yang mencari keberadan Jisoo. Aneh bukan.
Beberapa kali Jinyoung melihat Jisoo di koridor, tapi Jisoo pergi dengan cepat terlihat terburu-buru.
Beberapa kali juga Jinyoung melihat Jisoo di kantin, tertawa bersama teman-temannya. Tapi, Jinyoung malah mematung. Tidak berani mendekat.
Beberapa kali juga Jinyoung melihat Jisoo membantu orang-orang sekitarnya.
Terus begitu sampai Jinyoung disibukkan oleh skripsi dan laporan akhir jabatannya.
Ketulusan dari senyum dan hati Jisoo diam-diam meluluhkan Jinyoung. Bahkan semua memori itu tersimpan dengan baik sampai sekarang.
Jinyoung mendorong pintu club dengan kasar. Kemudian, menajamkan penglihatannya mencari sosok gadis yang Ia cari.
Seorang penjaga berbadan besar hampir mencegahnya, tapi Jackson dengan sigap menahan penjaga itu.
"Kalau kau menghalanginya. Bisa dipastikan kau akan mati disini" ucap Jackson terdengar samar
Sial.
Tidak ada.
Jinyoung bergegas naik ke lantai dua. Menendang seluruh pintu ruang VIP. Persetan dengan orang-orang yang kini meneriakinya.
Untung Jackson dengan sigap meghalangi orang-orang itu supaya tidak menganggu aktivitas Jinyoung.
Tidak ada.
Deg.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya sesak. Keringat turun dari dahinya.
Pintu terakhir.
DUG.
Dadanya menyerngit perih.
Kim Seok Wo berdiri disana, tanpa pakaian melekat di bagian atas tubuhnya.
Sementara seorang gadis berambut hitam. Rambut yang Jinyoung kenal tergeletak di sofa menutupi wajahnya dan membelakangi pintu dengan kaus putih yang terangkat hingga dadanya.
Terdengar isakan dari sana.
Amarah Jinyoung meluap. Tangannya mengepal semakin kuat.
"BAJINGAN!"
BUG. Satu pukulan di rahang kiri.
BUG. Satu pukulan di pipi kiri.
BUG. Satu pukulan diperut.
Dan entah sudah berapa banyak pukulan yang Jinyoung berikan.
Jackson menghentikan Jinyoung ketika dirasa sudah cukup.
Napas Jinyoung tersenggal. Belum puas rasanya.
Membayangkan tangan kotor seorang Kim Seok Wo menyentuh gadisnya saja sudah membuat darahnya mendidih. Apalagi sekarang.
Baru akan memberikan pukulan lain. Jackson mencegahnya.
Hening. Hanya terdengar suara isakan.
Jinyoung menoleh ke sumber suara, kemudian menurunkan kepalan tangannya.
Ternyata Jackson menutup pintu ruangan sehingga membuat suara dentuman musik itu teredam.
Jinyoung berjalan perlahan menghampiri Jisoo. Menutupi tubuh Jisoo yang terlihat dengan jas hitamnya.
BRENGSEK. Sakit sekali rasanya.
Jisoo yang selalu Ia lihat senyumnya. Kini menangis.
Jinyoung sakit sekaligus bingung. Apa yang harus Ia lakukan?
Jinyoung merutuki dirinya yang tidak paham bagaimana cara memperlakukan wanita.
Sementara Jackson dan Rowoon telah pergi.
Jinyoung mengangkat tangannya perlahan, mengusap lengan gadis itu untuk menenangkan. Tapi, Jisoo menjauhkan lengannya dengan cepat.
Lagi-lagi dadanya menyerngit perih. Sekarang gadisnya tidak ingin Ia sentuh.
"Maaf, Aku terlambat" ucap Jinyoung
Hening. Lagi-lagi hanya terdengar suara isakan.
Jinyoung kembali mengangkat tangannya, kini menyentuh puncak kepala gadis itu. Tidak ada perlawanan.
Jinyoung mengusapnya lembut, menenangkan. Setidaknya Jisoo tahu, Jinyoung ada di sampingnya. Jadi, dia sudah tidak perlu takut.
"Tak apa, Aku disini" ucap Jinyoung
Cukup lama hingga Jisoo tenang. Keduanya hampir terlelap di sana. Hingga tiba-tiba saja Jinyoung merasa kemejanya ditarik
Jinyoung melihat ke arah tersebut, ternyata Jisoo tengah berusaha menarik lengan kemejanya yang sejak tadi berada di puncak kepala gadis itu dengan seluruh sisa tenaganya.
"Pulang sekarang?" ucap Jinyoung berusaha mengerti kode yang Jisoo berikan.
Jisoo mengangguk tanpa memperlihatkan wajahnya.
Jinyoung menekan tombol nomor 1 di ponselnya.
"Dimana?"
"Hotel Eich Calton" jawab Jackson
"Siapkan mobil. Aku kesana sekarang"
Kemudian, meletakkan ponsel di saku celananya.
Jinyoung bingung gadisnya tidak bergerak sedikitpun.
Perlahan Ia menarik lengan yang menutupi wajah gadisnya sejak tadi. Tapi, Jisoo mengelak dan menggelengkan kepalanya.
Kim Seok Wo sialan.
Jinyoung memindahkan jasnya menutupi wajah gadis itu. Menurunkan kaus putih gadis itu ke tempat yang seharusnya, kemudian melingkarkan lengan kanannya di antara betis dan paha. Sementara, lengan kiri melingkar di bahu gadis itu.
Jinyoung membawa gadis itu perlahan seakan membawa kaca yang sudah pecah. Sangat rapuh.
Jinyoung membawa Jisoo ke hotel yang Jackson maksud. Di dalam kamarnya telah ada barang-barang Jisoo. Seorang Jackson benar-benar bisa diandalkan.
Jinyoung meletakkan gadis itu perlahan. Tidak ada pergerakkan. Sepertinya gadisnya sudah tidur.
Jinyoung mengangkat jasnya perlahan. Dan benar. Tidak ada perlawanan. Gadisnya telah terlelap, dengan mata yang sembab.
Lagi-lagi dadanya menyerngit perih.
Baru akan melangkahkan kakinya keluar, terdengar suara isakan.
"Hiks.. tidak. Jangan! Hentikan.. Hiks.."
Jinyoung bergegas kembali ke arah Jisoo.
Mengusap puncak kepalanya lembut.
"Aku disini"
Jisoo mengenggam lengan kemeja Jinyoung yang berada di puncak kepalanya kali ini gengamannya lebih kuat.
Jinyoung's end
-under the rain-