5 bulan berlalu sejak aku terakhir kali bertemu dengan Mas Reno. Rindu? Jelas. Tak ada hari dimana aku tak ingin pergi menemuinya.
5 bulan aku menahan. Hingga akhirnya aku dapat berdiri lagi di depan apartemen ini.
"Loh? Si neng?". Pak Adi, satpam apartemen yang dulu selalu shift malam hari itu rupanya sekarang berubah jadi shift pagi.
Aku balas menyapanya, "Eh, iya pak. Apa kabar?"
"Ah bapak mah baik, neng. Neng Airin yang gimana kabarnya? Nggak pernah keliatan lagi sejak kapan taun."
Aku hanya bisa tersenyum. Entah harus kujawab apa pada Pak Adi.
"Saya ke atas dulu ya pak." Putusku, segera melangkah memasuki apartemen itu.
Kakiku sudah berada tepat di depan pintu apartemen Mas Reno dan hatiku rasanya mencelos. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana saat itu, jam 3 pagi ketika semua masih tertidur, aku mengemasi pakaianku dengan berat hati.
Aku tidak bisa tidur semalaman. Dan aku bahkan juga tidak kuat melihat Mas Reno yang diam-diam menyematkan cincin di jari manisku. Aku ingin menangis kala itu. Aku ingin bangun dan memeluknya. Menciumnya, dan mengatakan bahwa aku mencintainya.
Tapi aku tau itu tidak mungkin. Kami tidak mungkin bisa bersama. Aku jelas tidak pantas mendapatkan Mas Reno dan keluarganya yang sangat baik.
Sejak malam itu, hidupku rasanya semakin hampa. Aku tidak tau lagi tujuanku apa, kenapa aku begini, kenapa aku di tempat ini bersama pria lain yang menyewaku untuk menemaninya ke pernikahan mantannya.
Setiap malam ketika semua orang tertidur, aku selalu merindukannya, hingga tanpa sadar mungkin Tuhan mendengar doaku. Doa bahwa aku merindukan Mas Reno, juga Binar. Doa bahwa aku ingin bersama mereka.
Hingga kini Ia membawaku kembali ke tempat ini. Lagi.
Ya tuhan, jantungku rasanya mau meledak! Tiba-tiba saja aku takut untuk kembali. Sudah lama sejak kami bertemu terakhir kali dan aku takut di selang masa itu Mas Reno sudah bertemu dengan orang lain. Melupakanku. Aku takut!
Binar.
Ah tentu saja aku tidak melupakan malaikat kecil itu. Aku amat sangat merindukannya! Sudah setinggi apa dia sekarang? Apa dia sehat? Binar pasti makin cantik.. ah tapi.. bagaimana jika dia tidak suka melihatku? Bagaimana jika dia membenciku karna tiba-tiba pergi saat itu?
Tanganku bergetar saat hendak menekan tombol bel di depanku. Aku bisa saja lari sekarang, mungkin itu akan membuatku lebih baik. Tapi tidak mungkin, aku tidak mau tersiksa dengan kerinduan ini.
Ting tong..
Tak ada jawaban. Ah sial! Apa sebaiknya aku pergi? Aku takut mereka tidak menerimaku!
Tapi tak lama aku mendengar suara langkah yang setengah berlari dari dalam.
Tarik nafas, hembuskan. Aku harus tenang.
Pintu itu terbuka. Dan bagaimana aku sangat terkejut dengan siapa yang kulihat di depanku.
Malaikat kecil itu sudah tumbuh. Semakin besar dan tinggi. Cantiknya tak memudar. Ia berteriak memanggil namaku.
"TANTE AIRIIIIINNNN." Dan aku amat terkejut saat ia dengan sontak memelukku. Sangat erat. Aku balas memeluknya. Mengusap rambutnya yang panjang dan halus.
Tak lama pria itu datang dengan sama terkejutnya. Mas Reno mendekat perlahan ke depanku. Binar melepaskan pelukannya agar aku bisa menyapa Papanya.
"Mas.."
Tanpa bicara pria itu langsung mendekapku. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku.
"Rin.. you're back." Ucapnya lirih. Aku mengangguk di dalam dekapannya. Membenarkan bahwa aku benar-benar kembali.
Kami bertiga masuk ke dalam rumah. Belum ada yang berubah. Selain mungkin ada beberapa foto tambahan di dinding seperti foto hari pertama Binar masuk SD dan foto Binar saat wisuda TK bersama... aku dan Mas Reno...
Ya tuhan, mereka tidak melupakanku.
Binar sejak tadi sudah menggandeng tanganku, bertanya aku kemana saja, kenapa lama sekali perginya, apakah Australia sangat bagus hingga aku tak mau pulang ke sini?
Australia? Entah cerita apa yang dibuat oleh Mas Reno saat aku pergi. Aku hanya mengiyakan semua pertanyaan Binar.
Sedangkan pria itu hanya berdiri memandangi kami dengan senyum sendunya. Senyum yang selalu membuat jantungku ingin meledak.
Aku menginstruksikan Binar agar duduk dulu di sofa.
Sedangkan aku mendekatinya. "Umm, mas.. sebenarnya, aku kesini mau ngembaliin ini." Aku mengeluarkan kalung dengan liontin cincin yang dulu ia berikan padaku.
Aku bisa melihat raut bingungnya. Kuraih tangannya dan kuberikan kalung itu di genggamannya. Ia menatap bingung. menatapku dan kalung itu bergantian.
"Rin?" Nadanya mulai cemas. Entah apa yang dipikirnya dengan kalimatku barusan.
Ah, Gemas sekali! Aku tidak tahan melihat wajahnya. Ingin tertawa!
"Aku ngembaliin ini biar kamu bisa masangin lagi ke aku." Ucapku akhirnya. Aku mengulurkan tangan kananku.
Ia mendengus lega. Tersenyum lebar. Dan merengkuhku dengan erat. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Lalu tiba-tiba mengangkat dan memutarku. Membuatku berteriak kaget.
"Maaaaasss aaaak ahahaha."
"Kenapa sih kamu suka banget bikin jantungan?!" Katanya. Lalu merengkuh kedua pipiku dan mengecup bibirku cepat dan berkali-kali.
"Mas! Ada Binar!" Kataku berusaha menghentikannya. Kami menatap Binar dan benar saja. Anak itu tercengang dengan kedua telapak tangan di wajahnya. Menutup seluruh wajahnya kecuali jari-jarinya yang renggang membuat matanya masih bisa melihat dengan jelas.
"Binar ga liat kok." Ucapnya polos.
Aku dan Mas Reno tertawa.
"Pasti kamu yang ngajarin Binar jadi pinter boong ya?" Tuduhku menunjuk ujung hidung pria itu. Dan dia hanya tertawa nyengir.
"Kamu tuh yang bener dikit dong, kan mau ngelamar aku!" Kataku pura-pura ngambek. Sejak tadi aku memang sudah berencana untuk mengerjainya.
"Oh iya.." Lalu tiba-tiba saja ia berlutut di hadapanku, membuatku terkejut dan tersipu.
"Ekhem.. Airin—yang entah nama belakangnya siapa aku nggak perduli. Kamu mau nggak, hidup bersama aku" Ucapnya meraih tanganku. "Dan anakku, Binar" ia menoleh menghadap putrinya. Lalu kembali menatapku.
Dengan suara baritonnya, ia mengucap serangkaian kata yang seolah menjadi air hangat yang mengucur di seluruh nadiku.
"Rin, I'm dying to see you growing old with me by your side. I wanna wake up next to you everyday till the day I no longer can open my eyes, I wanna have another baby with you, I wanna be the one who always be there for you in your ups and downs, I wanna love you till the afterlife. I don't care who you actually are, what problem that you going through, I want to feel it too. I wanna be the one who can feel your pain. Share it with me, Rin...
And for that.. I wanna marry you..."
Air mataku tanpa sadar menetes.
"Airin—who's just Airin. Will you marry me?" Ucapnya. Suaranya begitu lembut dan tatapannya sangat teduh membuat hatiku berdesir.
Aku mengangguk dan mengangguk lagi dengan cepat. Air mataku terus menetes. "I will" Balasku. Lalu mengusap air mataku dengan tangan kiriku yang kosong.
"I will" Ucapku lagi sambil menangis. Mas Reno kembali berdiri setelah memasangkan cincin itu di jari manisku. Lalu memelukku dan mencium keningku dalam.
Tiba-tiba terdengar sebuah lagu pengiring wedding song. Aku dan Mas Reno menoleh dan mendapati Binar sedang memegang handphone dengan layar Youtube yang sedang menampilkan gambar pernikahan orang diiringi Backsound itu di belakangnya.
Teng teng teng teeeeng~
Teng teng teng tengggg~
Ucap anak manis itu. Membuat kami tertawa. Aku mengulurkan tanganku ke arahnya, menyuruhnya mendekat. Ia menaruh ponselnya dan merengkuh kami berdua. Membuat kami bertiga berpelukan. Sangat erat.
"Jadi sekarang Binar udah boleh manggil Tante Mama Airin?" Katanya menatapku sumringah.
Aku menatap Mas Reno yang sedang tersenyum menatapku, lalu aku kembali menatap Binar dan mengangguk padanya.
"YEEEEEEYYY ASYIIIIIKKK! BINAR PUNYA MAMAAAAA." Teriaknya. Lalu memeluk kami berdua lagi. Membuatku tertawa dan menangis bahagia.
Ya Tuhan, apakah ini akhirnya? Aku memiliki mereka. Terima kasih.
***
Malamnya, aku dan Mas Reno kembali bersatu di kamar miliknya. Nuansa coklat krem yang selalu kubayangkan diriku berada di sana selama beberapa waktu silam. Kami sudah bersiap untuk tidur. Tapi belum ada yang mau memejamkan mata. Ia masih mengangkat tangan kananku ke udara. Memperhatikan benda gemerlap yang tersemat di sana.
Ia bahkan tidak menyentuhku. Ia hanya mengusap lembut jariku yang masih ia angkat menutupi cahaya lampu.
"Mas? Belum puas ngeliatinnya?" Kataku. Tanganku mulai pegal. Ia menoleh menghadapku sembari tersenyum. Akhirnya menurunkan tanganku.
"Kamu seseneng itu?" Tanyaku tak habis pikir dengan tingkahnya. Ia justru mengangguk cepat seperti anak kecil yang ditawari ice cream.
"Me too." Ucapku.
"Mas, tapi gimana dengan mami kamu? Apa dia setuju?" Lagi-lagi aku takut. Pandangan orang tua biasanya berbeda dengan anaknya. Bisa jadi justru Mami yang tak menerimaku sebagai menantunya.
"Aku nggak tau nanti Mami bakal gimana, tapi aku mau ngadepin semuanya bareng-bareng. Kamu nggak sendirian Rin." Ucapnya. Ah, kata-katanya itu selalu menenangkanku.
"Mas.. apa Mami bakal tetep mau sama aku kalo nantinya Mami ngga bisa punya besan?" Aku mulai merambah ke sana. Ke topik pribadiku.
"Maksudnya?"
"Sebenarnya... aku ngga punya orang tua, Mas. Aku sejak bayi hidup di panti asuhan." Kataku lirih menatap tepat ke manik matanya.
Jika setelah cerita ini Mas Reno tidak jadi menikahiku, mungkin aku akan rela. Aku bisa memahaminya.
To be continued
HAPPY BIRTHDAY MBA AIRIN BAE 💝
Semoga kalo bisa jodohnya mino wkwkwkw suka2 bgt 😂 ga lah ya itu terserah Tuhan aja. Yg penting mba Irene bahagia mino juga bahagia🥰
Fyi buat yg belum tau, aku up work baru hehee minrene lagiii karna work ini uda mau tamat jadi lanjut cerita baru 🤗🤗 cekidot cekidot 💖