hal yang tidak pernah chris harapkan akhirnya terjadi.
sial, bagaimana bisa seungmin menemukan koran serta bukti-bukti yang sebelumnya sudah jisung kumpulkan? kenapa yoshinori tidak memusnahkan itu semua?
"sayang.."
pandangan bergetar seungmin menatap kearahnya, ada emosi yang tidak bisa chris uraikan namun dia bisa melihat tatapan kaget, sedih, kecewa dan marah disana.
saat si pirang membawa kaki kananya maju satu langkah, seungmin langsung menjerit.
"berhenti disana! jangan mendekatiku!"
chris menahan nafas saat seungmin mulai menangis.
"kenapa..kenapa..hiks, kau membunuh orang tuaku?"
"sayang dengar—"
"diam kau pembunuh!"
hati chris mencelos saat sang istri menyebutnya pembunuh. meski ada benarnya, tapi dia tidak sepenuhnya bersalah atas kecelakaan itu.
yoshinori yang ada di balik kemudi dan menabrak mobil itu.
"kenapa hiks, kenapa kau membunuh orang tuaku?" seungmin yang menangis hebat jatuh merosot, wajahnya kacau oleh air mata. "kenapa..hiks.." lengan kurus itu lantas memeluk perutnya yang mulai membuncit.
"a—aku tidak mau anakku memiliki ayah seorang pembunuh."
"seungmin!" chris mulai panik.
"tidak..tidak akan aku biarkan." si manis itu mendongak, menatap kearah suaminya dengan pandangan amarah. dengan yakin kembali mengatakan—
"aku mau kita bercerai."
deg!
chris membuka mata dengan nafas memburu, menatap kesamping dengan cepat dan menghembuskan nafas lega saat melihat seungmin yang masih terlelap di sebelahnya.
"sial." gumamnya sembari mengusap wajah, menarik nafas dalam-dalam guna memenangkan jantung nya yang berpacu cepat.
kelambu yang mengelilingi ranjangnya bergoyang tertiup angin, seolah menertawakan dirinya yang baru saja bermimpi buruk.
hanya mimpi.
chris tidak pernah bisa membayangkan apabila mimpi itu menjadi kenyataan, dia tidak mau seungmin meninggalkannya. dia harus memberitahu yoshinori agar mereka tetap tutup mulut.
deru ombak terdengar sayup-sayup diikuti hembusan angin laut yang membawa hawa dingin. lelaki itu menarik selimut yang melorot untuk menutupi tubuh telanjang seungmin dan dirinya, lantas membawa tubuh mungil itu kepelukannya. tidak terlalu erat agar tidak menyakiti si bayi, tapi sepertinya cukup membuat seungmin terbangun.
"eum, chris.."
"kau terbangun? maaf mengganggumu sayang."
"ada apa—" seungmin menguap dengan muka bantal yang terlihat lucu. "..kau tidak bisa tidur?"
"hm, aku barusan bermimpi."
"bermimpi? tentang apa?"
"anak kita."
seungmin mengerjap beberapa kali, berusaha membuat kedua matanya terbuka lebar.
"kau bertemu anak kita didalam mimpi?"
"ya, dia tumbuh dengan sehat dan sangat tampan seperti papanya."
seungmin tersenyum mendengarnya, mengelus rahang suaminya dan memberikan kecupan ringan disana.
"aku harap begitu."
seungmin kembali menguap.
"tidurlah kembali sayang, kau pasti kelelahan karna kita terlalu lama bercinta."
si manis itu memukul bahu chris kesal karena merasa malu, tapi begitu dia tetap menenggelamkan tubuh didekapan suaminya dan tidak lama kembali terlelap.
chris mengecup dahinya cukup lama dan berbisik,
"kau itu milikku dan selamanya akan begitu."
jaehyuk tersentak bangun dari tidurnya, menghela nafas saat menyadari bahwa dia baru saja bermimpi.
mimpi yang sama, kecelakaan itu, lagi dan lagi.
jam weker diatas nakas berbunyi nyaring, menandakan si penghuni kamar agar segera bagun. remaja tampan itu menyingkap selimut, menuruni ranjang dan berjalan gontai menuju kamar mandi sebelum memulai aktivitasnya. seorang asisten rumah tangga sudah menyiapkan sarapan saat lelaki itu menuju dapur, duduk dengan tenang dan mulai menyuap serealnya.
oh, omong-omong kakak dan kakak iparnya sedang berbulan madu entah dimana. sudah dua hari lamanya, dan mungkin mereka akan kembali sekitar tiga hari lagi.
"terimakasih untuk sarapannya bi."
jaehyuk meletakkan mangkuknya di bak cuci, beranjak menuju halaman depan berniat melanjutkan kegiatan berkebunnya sebelum kedatangan seorang tamu.
"selamat pagi jaehyuk."
"oh..dokter jisung." sapa si remaja dengan terkejut, berfikir mungkin kedatangan si dokter untuk menemui chris atau seungmin. "selamat pagi, kakak dan kakak ipar masih belum pulang dari bulan madu."
"aku tahu, dan tujuanku kesini bukan untuk mencari mereka, tapi dirimu."
"aku?"
jaehyuk tatap dokter itu lekat-lekat sebelum mengangguk.
"tunggulah dahulu, aku akan membuatkan teh untuk dokter."
jisung menurut, menduduki kursi kayu di teras depan sembari menunggu adik seungmin itu selesai membuat teh. tak lama, jaehyuk kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh dan setoples biskuit.
"silakan diminum."
"terimakasih."
jisung menghirup aroma teh melati itu terlebih dahulu sebelum meneguknya perlahan. saat dia mengembalikkan cangkir itu di tempatnya, jaehyuk kembali bertanya.
"ada keperluan apa dokter mencariku?"
jisung tersenyum, menatap jaehyuk yang menatapnya dengan pandangan bertanya.
"hanya ingin meluruskan sesuatu."
"sesuatu?"
"kau tidak bertanya-tanya kenapa kau bisa mendapatkan ingatanmu kembali?"
si remaja terdiam sejenak, lantas tertawa kecil.
"terimakasih atas bantuannya dokter." ucapnya yang membuat jisung terkejut.
"jadi kau—"
"aku masih mengingat wajah orang yang diam-diam menyelinap ke ruanganku dan membenturkan kepalaku di dinding." jaehyuk mengulum bibir bawahnya. "seharusnya kau tidak perlu melakukan itu, toh meski mengingat semuanya, aku tidak bisa mengatakannya pada siapapun. dan itu hanya menjadi mimpi buruk yang menghantui ku disetiap malam."
jisung memberikan pandangan bersalah nya. jaehyuk benar, jika pada akhirnya semua ini sia-sia, seharusnya dia berhenti dan tidak mencari tahu lebih banyak dari awal, bahkan melakukan hal nekat seperti mencoba peruntungan dengan membenturkan kepala jaehyuk ke dinding.
minho benar, seharusnya dia menuruti perkataan tunangannya itu saja.
"jaehyuk, maafkan aku."
"tidak apa-apa dokter, aku berterimakasih karna kau sudah berusaha dengan keras. kau pasti sangat peduli pada kakakku."
"kupikir dengan mengungkap semuanya bisa memberikan keadilan pada seungmin, tapi aku lupa bahwa kebahagiaannya yang akan menjadi taruhan jika aku melakukan itu."
keadaan seketika hening. jaehyuk yang masih menunduk dan jisung yang terus merasa bersalah. dia pasti membuat adik seungmin itu sangat menderita.
"apa yang yoshinori lakukan padamu?" tanya jisung akhirnya. jaehyuk mendongak, kedua tangan nya tanpa sadar terkepal diatas paha.
yoshinori.
tentu saja, lelaki itulah yang membuatnya tutup mulut.
jaehyuk ingat, dia membuka matanya kembali setelah bermimpi tentang kecelakaan yang dialaminya bersama ayah dan ibu. mobilnya ditabrak dengan keras dari belakang sehingga berputar menghantam truk yang sedang mogok di pinggir jalan.
jaehyuk mengingat, wajah dua lelaki yang menabrak mobilnya dari belakang.
—dan salah satunya tengah berdiri di sisi ranjangnya saat ini.
bungsu bang itu mendatanginya, tepat setelah dia sadar dan mendapatkan kembali ingatannya.
"remember me?"
perasaan remaja itu tentu saja campur aduk, berniat menghajar pembunuh kedua orang tuanya sebelum lelaki itu lebih dahulu melemparkan sebuah map coklat kearahnya.
"aku tahu kau pasti mengingat siapa aku. tapi sebelum kau berniat menghajarku, ada baiknya kau melihat itu semua."
di dalam map coklat itu terdapat sebuah kertas perjanjian, kwitansi dan beberapa lembar foto. mata jaehyuk langsung membulat melihat potret kakaknya bersama salah satu pembunuh itu. kejutan itu kembali berlanjut saat mengetaui apa isi dari kertas perjanjian itu.
"sudah paham?" yoshinori menyeringai begitu melihat remaja didepannya menangis. "kau boleh melaporkan kami terkait kecelakaan yang menewaskan orang tuamu setelah ini. tapi kau juga harus menanggung resikonya, yaitu kebahagiaan kakakmu—"
apa yang telah kakak lalui untuk menyelamatkan nyawaku?
"—sayang sekali, kakakmu menjual dirinya pada salah satu pembunuh orang tuanya sendiri demi menyelamatkan adiknya. dan berakhir jatuh cinta, oh..kau juga bisa melihat di lembar selanjutnya. calon keponakanmu ada disana."
tangis jaehyuk semakin menguat. bukannya prihatin, yoshinori malah terkekeh.
"besok kakakmu dan kakakku akan datang. kuberi kau sebuah pilihan, diam dan tutup mulutmu atau kau akan merusak kebahagiaan kakak dan calon keponakanmu sendiri."
wajah jenaka itu seketika berubah menjadi dingin, sepasang matanya menatap jaehyuk dengan tatapan bengis.
"aku sudah memperingatkan."
setelah mengatakan hal tersebut, bungsu bang itu segera pergi dari sana, meninggalkan jaehyuk yang masih menangis.
"sempat terpikirkan bahwa aku ingin egois dan mengedepankan keadilan untuk ayah dan ibu. tapi saat aku menanyakan kepada kakak, apakah dia mencintai chris, kakak menjawab dengan wajah yang teramat bahagia. i-itu membuatku tidak sanggup mengatakan apapun. kakak adalah satu-satunya orang yang aku punya, aku tidak mau membuatnya terluka, jadi biarkan aku yang menanggung semua beban ini sendiri."
jisung menatap sendu jaehyuk yang tengah mengusap air matanya tersebut, dalam hati menyalahkan diri sendiri bahwa semua ini terjadi karenanya. andai dia tidak nekat, seharusnya jaehyuk tetap hilang ingatan dan menjalani semua ini tanpa kepura-puraan.
"maaf..maafkan aku, jika ada yang ingin kau salahkan, maka orang itu adalah aku. maafkan aku jaehyuk."
remaja itu memandang jisung yag menunduk. "apakah dia juga melakukan hal yang sama pada dokter?"
dia, tentu saja dia tahu siapa yang jaehyuk maksud.
"ya."
keduanya kembali terdiam, sebelum deru mobil yang memasuki pekarangan membuat mereka mendongak, menemukan sosok yoshinori yang keluar dari mobil dengan seringaian tipis di bibir.
"woah, ada apa ini? kalian minum teh bersama tanpa diriku?" bungsu bang itu menghampiri keduanya, dengan seyum jenaka yang terlihat main-main.
"atau kalian sedang merencakan sebuah pemberontakan?"
senyum itu hilang, dan lagi-lagi baik jisung maupun jaehyuk melihat kembali tatapan bengis tersebut.