HAI, WELCOME!
SEDIKIT ANNOUNCEMENT AJA, MAAF DI AWAL-AWAL CHAPTERNYA EMANG MASIH SEDIKIT BERANTAKAN, KARENA WAKTU AKU AWAL NULIS INI MASIH BUTA EYD/PUEBI. TAPI SEIRING BERJALANNYA CERITA SEMUA MULAI AKU PERBAIKI DAN MULAI SERU KOK!
SEMOGA KALIAN SUKA YA, TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA! ❤️✨
[PROLOG]
Sorak sorai para siswa pecah ketika hari pengumuman kelulusan tiba. Ratusan siswa SMP Adi Jaya tengah merayakan kelulusan mereka dengan suasana yang berbeda-beda. Ada yang senang, ada yang sedih karena akan pisah sekolah dengan teman-teman, ada juga yang kesal karena suara teriakan-teriakan tidak jelas.
Di sebuah tempat tidak jauh dari keramaian Diana duduk dibawah pohon mangga yang buahnya sudah habis dicuri maling sekolah.
Ya siapa lagi tersangkanya kalau bukan murid-murid sekolah ini. Masih mending kalau metiknya yang udah matang, kadang yang masih mentah aja udah dilahap diatas pohon, kayak monyet, ckckck.
"Eh na, ngapain sih lo disini? Ayo dong ikut rame-rame disana seru tau!" Ucap Melisa, sahabat Diana yang sudah dikenalnya 3 tahun lalu.
"Dih, kayak gitu lo bilang seru? Lo sama mereka tuh sama! Sama-sama sintingnya" Ucap Ria dengan sarkas.
Tiba-tiba Dino sang ketua kelas yang tak tahu dari arah mana datangnya pun ikut menyambar "Iya Ri, kek gitu masa dibilang seru, kalo ada dangdutan tuh baru seru!"
"Eh, Emangnya ini kondangan apa?" Sewot Melisa.
"Udahlah, gue disini tuh pengen suasana yang tenang kalian dateng dateng malah ribut gitu, panas nih kuping!" Ucap Diana sambil memegang telinganya.
"Iya deh na, maaf," kata Melisa, Ria dan Dino bebarengan.
"Eh iya, Dino lo ngapain disini sama kita-kita? Temen-temen lo mana?" Tanya si Rena.
"Dih Rena mah gitu, to the point aja sih, lo pasti nyari Andi yekan?"
"Dih apaan sih Lo, gajelas banget," ucap Rena ketus.
"Eh gue ke kelas dulu ya, haus pengen minum" Ucap Diana lalu bangkit menuju kelasnya yang tidak jauh dari lapangan.
"Eh ikut dong! Ayo Ri, Ren," Melisa menoleh kebelakang melihat Ria dan Rena.
"Wait, wait, wait kok si clara gak ada sih? Kemana dia? Dino, mana si clara?"
"Apaan sih gue gak tau,gue bukan cenayang. Dahlah gue juga mau ke kelas juga." Jawab Dino lalu pergi.
"Paling clara lagi ngaca di toilet, lo tau sendiri kan clara kalo ngaca gak inget waktu. Udah ayo ke kelas aja!" Ajak Ria sambil menarik tangan Rena dan Melisa.
Setelah merayakan kelulusan, mereka langsung pulang kerumah masing-masing. Sampai dirumah Diana berlalu pergi ke kamar tanpa menghiraukan ibunya yang sedang menonton FTV di ruang keluarganya.
Diana bingung, dia sedang memikirkan bagaimana kehidupan persekolahannya tanpa para sahabatnya.
Waktu di sekolah mereka bercerita mau kemana mereka bersekolah. Ternyata sekolah mereka terpisah-pisah, mulai dari Diana yang mau ke SMA Pelita Bangsa, Rena yang akan dibawa ayahnya pergi ke luar kota karena pekerjaanya dipindahkan, clara yang dipaksa orang tuanya ke pesantren, Melisa dan Ria yang akan sekolah di SMA Wirabrata.
Diana berpikir bahwa tanpa para sahabatnya dia pasti tidak bisa apa-apa. Diana sadar dia adalah seorang yang tidak mudah mencari teman baru dan bergaul, tidak seperti Melisa yang mudah bergaul dan berteman.
Lalu bagaimana dunia SMA nya nanti? Entahlah Diana pusing memikirkan itu semua. Pasti semua ada jalannya, Diana yakin bahwa semua pasti sudah diatur oleh Tuhan dengan baik, Diana hanya tinggal menjalankan semuanya.
Lamunannya buyar ketika ponselnya berdering sangat lama. Di ponselnya tertera sederet angka yang menandakan nomor ponsel si penelfon. "Siapa ya, kok nggak ada namanya. Biarin aja deh paling panggilan nyasar" Gumam Diana.
"Ish tapi kok nggak berhenti-berhenti sih dari tadi, angkat aja deh"
"Halo... " Tidak ada jawaban terdengar diseberang sana.
"Halo, ini siapa ya?"
tut tut tutt
"Ish, gak jelas banget sih." Diana tidak ambil pusing, dia lalu pergi menuju dapur untuk mengambil makan karena dia dari pagi tadi belum makan.
••••••••••••••••••••••
Diseberang sana ada seorang laki-laki yang merutuki kejadian beberapa menit lalu. Pasalnya dia sedang menyimpan nomor seorang cewek yang dikaguminya selama ini.
Nomor itu dia dapat dari temannya yang ternyata saudaranya Melisa. Setelah menyimpan nomor tersebut tiba-tiba dia ingin ke kamar mandi, saat akan meletakkan ponselnya tanpa sengaja ia menekan nomor itu dan terjadilah kejadian kepencet telfon.
Ia panik, ponselnya dilemparkan ke arah ranjang. "Goblok banget sih gue, kenapa harus kepencet telfon sih,"
Dan tiba-tiba terdengar suara seorang cewek, "Halo.. "
"Halo, ini siapa ya?"
"Eh anjir belom gue matiin." Tanpa pikir panjang ia langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Ya Tuhan, sial bener hidup gue hari ini." Ucapnya lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
Laki-laki itu adalah Septian Refandi Putra, sebut saja dia Refan. Seorang pelajar SMP dengan segudang kenakalannya, yang akan beranjak ke kelas Sembilan.
Ia sangat mengagumi Diana. Menurutnya Diana itu spesial, dia pintar, cantik, manis, dan pemalu. Ia merasa bahwa dirinya sudah jatuh hati pada Diana.
Semua itu berawal saat Refan menginjak ke kelas 8, waktu itu sekolah mengadakan kemah kecil-kecilan untuk kelas 8 di lapangan sekolah. Karena Diana mengikuti eksta Pramuka, dia diwajibkan ikut kemah juga.
Pada suatu pagi, Refan kesusahan untuk mendirikan tenda, "Elah ini gimana sih kok ribet banget, temen gue pada ngibrit ke kantin semua. Temennya lagi susah gini malah ditinggal." Gumam Refan.
"Sini gue bantu. Kayaknya Lo kesusahan, emang temen lo mana?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Refan.
"Ehh kak, ngagetin aja. Iya nih susah banget, temen-temen malah pada ke kantin," Balas Refan.
Beberapa menit kemudian tenda pun sudah siap, "Oke selesai, makasih ya kak," ucap Refan yang dibalas deheman Oleh Diana.
"Oh iya, kita belum sempet kenalan, kenalin Aku Refan," lanjutnya.
"Diana," balas Diana datar dan langsung pergi begitu saja.
Sangat cuek, tapi Refan suka itu. Revan sadar ia masih terlalu muda untuk mengenal apa itu cinta. Tapi ia yakin suatu saat nanti pasti akan mendapatkan Diana.
••••••••••••••
Pintu kamar mandi berdecit menandakan orang yang ada didalam sana akan keluar.
Refan melangkah menuju balkon kamarnya sambil bergumam, "Gak nyangka gue udah kelas sembilan aja dan Diana udah SMA, gue pasti bakal kangen banget sama senyumannya, sama tingkahnya yang salting kalau gue liatin lama, gemesin banget."
Refan sudah sampai di balkon kamarnya, ia memandangi langit Jakarta yang hari ini sangat indah dan berkata, "Setelah gue masuk nanti gue harus rajin belajar biar bisa dapet nilai bagus dan satu sekolah sama Diana lagi. Nggak kayak tahun pelajaran kemarin, selalu bolos dan telat dateng ke sekolah."
Sekarang impian Refan hanya satu, bersekolah di tempat yang sama dengan Diana. Ia ingin mengejar cinta pertamanya, atau bisa dibilang hanya cinta monyetnya.
TBC
Hai guys!!!
Ini adalah cerita pertamaku, maaf kalau masih banyak typo.
Kalau ada typo komen aja, oke?
Terima kasih udah baca,
Jangan lupa untuk vote di pojok kiri bawah!
Sampai jumpa di next part❤️