I Don't Wanna Be In Love

By RayakaBPA

208 0 0

More

1
2
4
5

3

47 0 0
By RayakaBPA

Seperti biasa, hari ini May tampak sangat menarik. Tubuhnya yang mungil, tampak sangat bersemangat melakukan latihan Jab dan Straight dengan musuh yang tidak terlihat seolah sedang meluapkan semua emosi yang ditahan selama bertahun-tahun. Padahal, dengan tubuh semungil dan sekurus itu, mungkin pukulannya tidak lebih sakit dari tabokan ibuku waktu aku kecil dulu.

“Hey!” kata May menyapaku setelah melakukan beberapa pukulan terakhir dan mematikan timer-nya, mengambil sebotol softdrink dari ujung matrasnya. “Nih, sebagai permintaan maafku.”

“Lagi? Ini udah hampir sebulan dan mau berapa lama lagi kamu mau nyogok aku?” Walaupun bilang gitu, toh, softdrink-nya tetap kuambil. Pamali. Prinsipku, rejeki itu ngga boleh ditolak. Takut ngga dapet lagi.

May tersenyum, merapikan ikatan rambutnya yang dikuncir kuda tinggi-tinggi. “Sampai aku denger kamu maafin aku.”

Maafin sih udah, tapi kalau misalnya aku bilang, aku tahu May pasti akan berhenti mendatangiku dan menimbunku dengan segala macam barang sogokannya. Bukannya matre, tapi aku cukup menikmati kehadirannya didekatku walaupun kadang hanya sebatas melempar benda dan kabur.

“Kamu trainer disini?” tanyanya membuka pembicaraan sambil duduk selonjoran diatas matras didepanku, melakukan peregangan.

“Bisa dibilang begitu.”

“Oh, tapi aku ngga pernah ngeliat kamu ngelakuin apa-apa selain duduk-duduk disini.”

Jlebb. Tertohok.

“Aku ada disini selama 6 jam setiap hari, dan kalau kamu ngarepin aku melakukan exercises selama 6 jam, aku bisa mati muda,” jawabku berusaha memberikan alasan. Padahal alasanku yang sebenarnya adalah, aku hanya ingin duduk bersantai sambil memperhatikannya dan membiarkan pikiranku melayang kemana-mana. “Lagipula, tugasku hanya mengawasi dan membantu 3 orang. Member baru, siapapun yang nanya dan cewek cantik...”

May tertawa mendengar jawabanku. “Ah, okay... kamu ngga takut pasanganmu marah?”

Aku mengernyitkan dahi. “Pasangan? Siapa?”

“Ehm, cowok cantik yang selalu disebelahmu itu.”

Otakku berputar lebih keras, mencoba menerka setiap kemungkinan. Sebenarnya bukan hal yang sulit, toh kenyataannya aku termasuk type orang yang terteman dengan orang yang itu-itu saja. Tapi... entah kenapa ini terasa jauh lebih menjijikkan.

“Radith maksudmu? Yang suka dikuncir ala frozen itu?”

“Hah?”

“Dikepang maksudku.”

May mengangguk bersemangat. “Iya, iya! Rambutnya bagus banget. Aku suka tatanan rambut dia tiap hari.”

“I’m straight! Dia bukan pacarku, dan rambut kamu jutaan kali lebih bagus dari rambut dia yang ketombean itu. Wajah kamu juga milyaran kali lebih cantik. Dan... ah, dia punya pacar CEWEK!”

Ah, I see... jadi kalian, biseks?” tanyanya dengan wajah polos, matanya membulat seolah-oleh ia telah menemukan benua Amerika lebih dulu daripada Colombus.

ASTAGANAGABONARJADIDUA! Kalau bisa, biarkan aku menangis dipangkuan ibunda tercinta. Jauh-jauh aku merantau untuk mencari jodoh yang lebih baik, ujung-ujung malah dikira homo dan biseks. Sial. Mungkin salahku tidak bisa menghalau Radith yang nempel terus bak ulat pohon nempel di rambut. Tapi apa boleh buat, ketika kita pergi kesebuah tempat asing dimana kita menjadi minoritas dan disitu kita mengenal satu orang yang sudah kita kenal luar dalam dari kecil, maka kita akan sangat susah untuk lepas dari dia. Entah aku yang nyari, atau dia yang nyari. Prinsip utamanya, kita sama-sama terlalu kesepian dan ‘aneh’ di lingkungan yang baru.

“Aku jelasin pelan-pelan ya,” kataku sambil berusaha mengatur napas agar lebih sabar. “Si Radith, dia punya pacar, pacarnya cewek dan dia sama sekali ngga tertarik dengan hubungan sesama jenis. Mungkin. Masalah dandanannya, entahlah... mungkin cuma hobby.”

“Oke...” gumam May dengan nada ragu dan geli sambil mengibaskan tangannya didepan muka.

“Aku jomblo sih, tapi aku normal soalnya aku suka sama kamu.”

May menghentikan gerakan tangannya. Menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan.

“Kecuali kamu transgender, mungkin aku akan berpikir ulang... untuk jadi gay,” tambahku sambil tertawa kecil. Jelas perkataanku ini hanya joke belaka. Dari awal aku sudah memastikan aku tidak akan mengulang kejadian ‘naksir-mbak-mbak-seven-eleven-yang-ternyata-pipisnya-berdiri’ dulu. Aku tahu dia cewek tulen. Sekalipun dia transgender dan cantiknya sekelas dengan Bell Nuntitha, aku tidak akan mengejarnya.

May menundukkan wajahnya. “Ja... jangan.”

“Eh?”

“Jangan! Kamu bisa cari yang lebih baik dan pantas daripada aku,” gumamnya pelan sambil menutup muka lalu segera berdiri dan berlari begitu saja menuju kamar ganti wanita. Otakku masih memanggil bumi, bumi belum merespon. Apa ini? Aku ditolak mentah-mentah?

***

Dia yang selalu datang lebih awal, tiba-tiba merubah jadwalnya menjadi masuk tepat bersamaan dengan dosen masuk dan berusaha menjadi yang pertama kali keluar saat kelas selesai. Artinya? Kemungkinanku bisa mendatanginya di kelas sangat minim, kecuali nekad terang-terangan mendatanginya ditengah jam kuliah berlangsung. Dia juga tidak pernah lagi datang ke sasana.

Aku galau. Patah hati, galau dan tidak punya uang adalah kombinasi menarik yang sangat manjur untuk membuat suasana menjadi serba menyebalkan. Hujan sinar dari mataharipun terasa seperti hujan batu. Berapa lama lagi dia akan menghindariku? Kenapa dia menghindariku seolah aku sudah melakukan dosa yang sangat besar terhadapnya? Apa yang salah dari perkataan ‘aku suka kamu’ toh aku belum minta tanggapan atau apapun. Type orang yang hyperbola kah?

Berangkat kuliahpun rasanya malas. Entah penasaran atau sakit hati, aku benar-benar ingin berbicara dengannya. Dihindari dengan cara seperti ini oleh orang yang kita suka secara tiba-tiba tanpa kita tahu alasannya itu sangat menyebalkan. Paling ngga, biarkan aku tau alasannya.

Dan inilah yang kulakukan. Membolos kelas, menunggunya didepan kelas lalu berusaha memanggilnya sambil menguntitnya pulang. Suaraku yang sudah sekeras orang yang baru menelan toa, tidak mampu menahan langkahnya yang semakin cepat.

“May, tunggu!” dengan paksa aku menarik tangannya.

“Lepas! LEPAS!” ia berusaha melepaskan genggamanku, menatapku dengan sorot mata antara marah dan... takut? Hey, apa yang ia takutkan? Mukaku?

Aku menggeleng. “Ngga sebelum kamu ngomong, aku salah apa? Kamu ngehindarin aku, bahkan kamu ngga dateng latihan! Salahku apa?”

Matanya semakin memerah dan basah. Beberapa tetes air matanya bahkan sudah mulai mengalir disepanjang pipinya yang halus. Bibirnya tampak bergetar, entah marah atau menahan diri.

“Hey, jangan pasang ekspresi kayak gitu, aku cuma pengen tau. Jawab aja,” kataku lagi sambil meraih tangannya yang satunya. Ia mulai menunduk dan menangis.

“Jangan... jangan lakuin ini. Kumohon...” ia  menangis dan bereaksi lebih histeris, memaksaku untuk melepaskan kedua tangannya secara ekstrim seperti abg-abg kesurupan yang sering kutonton di berita. Untung walaupun didalam kampus, daerah ini cukup sepi. Kalau tidak, mungkin aku bakal dikira mesum lagi dan dihajar seluruh warga kampus lalu dideportasi.

Aku terpaksa melepaskan genggamanku dengan bingung. May jatuh terduduk sambil menangis histeris. Aku berusaha meraihnya, memeluknya, tapi ia malah mendorongku menjauh.

“Jangan... jangan lakuin itu ke aku,  kumohon...”

“Hey, aku ngga akan ngelakuin apa-apa. Aku cuma mau nanya.” Aku hampir frustasi dengan reaksinya, seolah-olah aku akan melakukan hal buruk terhadapnya. Aku menarik tubuhnya, dan memeluknya dengan erat tanpa memppedulikan usahanya untuk melepaskan diri. Oke, ini reaksi refleksku, dalam pikiranku, bukankah semua orang suka dipeluk ketika menangis?

“Lepas... kumohon. Lepaskan aku, Al! Jangan lakuin ini lagi ke aku. Please...”

Al? Mungkin aku mulai tuli atau aku lupa kalau namaku sudah berganti jadi Al. Al apa? Ali Baba atau malah Alhamdulillah? Alhamdulillah masih ganteng. Emang susah ya kalau dipeluk cowok ganteng, pasti histeris gitu deh.

May menangis semakin keras, nafasnya semakin tidak beraturan. Lebih tepatnya, ia terlihat susah bernapas, matanya tampak tidak fokus dengan bola mata yang menatap keatas, tubuhnya panas dan mengejang.

“Hey? Kamu ngga apa-apa?” Pertanyaan bodoh yang sangat klise memang. Kejang begitu, udah jelas bukan sekedar ‘ngga apa-apa’. “Kamu asma? Hey? Jawab dong!”

Napasnya semakin pendek-pendek, dengan mulutnya yang terbuka berusaha menyedot oksigen yang ada, menimbulkan suara-suara aneh seperti dawai biola yang digesek oleh pemula. Keringat dan air matanya bercamur menjadi satu, membasahi seluruh wajahnya yang kini tampak sangat pucat. Tubuhnya masih bergetar hebat sebelum akhirnya lemas seiring dengan kesadarannya yang mulai hilang.

Akupun masih terdiam, bingung. Otakku tidak dirancang untuk memproses kejadian yang terlalu cepat dan tiba-tiba membuatku masih terdiam menyangga tubuhnya yang lemas di dadaku. Bahkan disaat yang paling dibutuhkan, aku belum melihat ada satupun orang yang lewat! Luar biasa! Aku harus apa?

Continue Reading

You'll Also Like

1.2M 90.5K 30
Dewandra telah memantapkan hati untuk tidak pernah menikah. Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidup sebagai tentara setia demi melindungi negara. Hingg...
112K 10.2K 32
Diego, anak manis penyuka dinosaurus. Tumbuh tanpa pengawasan orang tua karna suatu hal membuatnya hidup bersama sang bibi yang bekerja sebagai Careg...
3.8M 35.5K 49
Aarav a.k.a Ayan sesungguhnya sangat menyukai wanita itu-Olivia. Seharusnya Ayan yakin, bahwa memilikinya ada di list hidupnya. Seharusnya Ayan yakin...
511K 60.6K 39
ini tentang Biwa dan ambisinya untuk bikin papa dipatuk kobra . . . "Keluar." "Kasih duitnya dulu." "Tergantung apa yang mau kamu beli." "Ular kobra...
Wattpad App - Unlock exclusive features