LIGHTS✔

Par Choco_Beomie

20.8K 2.5K 589

[COMPLETED] Bagaimana jika pembullyan-penindasan masih terus terjadi? Apa bisa berujung pada percintaaan? Ata... Plus

Cast
1. New Student?
2. Teman (친구)
3. Hukuman
4. Tidak Sengaja
5. Topeng
6. Penghinaan
8. Masa Lalu
9. Pelampiasan
10. Terulang Kembali
11. Salah Paham
12. Amarah
13. Rencana Hukuman
14. First Time
15. Takut (두려눠)
16. Mengaku!
17. Berbeda
18. Khawatir (걱정)
19. Rindu (보고싶다)
20. Protect
21. Perhatian
22. Time Together
23. Hancur
24. Berubah
25. Menjauh?
26. Jahat?
27. Maaf
28. Mendung
29. Marah
30. Tidak!
31. Pergi! (가다)
32. Cinta (사랑) (END)
Come Back Home (New)

7. Park Jimin (박지민)

504 73 14
Par Choco_Beomie

"Jimin?" Panggil Taehyung canggung.

"Eung?" Jawab Jimin malas.

"A-aku yang dari SMA Sekang, ta-tapi kenapa kamu yang badmood seperti itu?"

Jimin yang semula tiduran menemani Taehyung membaca di perpustakaan, kini menatapnya.

"Taehyung, aku pernah bilang kan, kalau aku pernah dibully?"

Taehyung mengingat-ingat sejenak.

---
"Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu. Sepertinya kau punya banyak teman di sana, aku lega kau pindah ke sini karena perusahaan orang tuamu, bukan karena pembullyan."

"Aku dulu juga terbully." Sambung Jimin.
---

"Aaa ne, aku ingat." Kata Taehyung sambil membenarkan kacamatanya. "Tapi, apa hubungannya dengan SMA Sekang?"

Jimin mengambil napasnya dalam-dalam. "Aku sebenarnya tidak akan memberitahumu, tapi sepertinya kita senasib, jadi aku akan memberitahumu sesuatu."

"Hm?"

"Aku memang pernah terbully sepertimu, bahkan lebih. Sampai aku koma."

"Aa Jimin chamkanman, kau yang cerita kenapa aku yang jadi pusing seperti ini?" Kini Taehyung membenarkan duduknya dan benar-benar bersiap mendengar Jimin bercerita.

"Kenapa aku bisa tahu kalau SMA Sekang terkenal muridnya yang brutal?" Tanya Jimin.

"Emmm, mollayo. Mungkin sekolah itu memang sudah terkenal kenakalannya."

"Ani. Karena aku dulu dari sana."

Detik itu juga detak jantung Taehyung seperti ingin berhenti, "M-mworago?" Taehyung tak percaya.

"Jangan sela ceritaku."

Taehyung mengangguk paham.

"Saat di SMA Sekang tahun pertama. Aku dulu seorang yang pendiam sepertimu. Karena aku terlalu lembut dan polos pada orang, jadi banyak yang memanfaatkanku. Mereka terus meminta uang sakuku untuk kepentingan mereka. Mereka juga selalu menyalin PR matematika yang aku kerjakan, karena aku hanya pandai matematika."

"Aku bisa memakluminya, karena aku dulu orang yang sabar. Tapi waktu itu ada anak yang meminta buku PR ku, tapi aku tidak menyerahkannya. Mereka lalu menggeledah tasku dan mengambilnya dan tidak dikembalikan."

"Waktu itu aku tidak berani melawan sepertimu ini. Alhasil, aku terkena hukuman karena buku PR ku diambil dan aku bilang buku itu tertinggal di rumah."

"Jika aku berkata buku itu diambil, aku akan terus-terusan dibully."

"Aku dihukum mengepel kamar mandi laki-laki."

Flashback On

"Jimin? Mana pekerjaan rumahmu?" Tanya Jang ssaem.

Jimin menatap anak yang mengambil bukunya itu, ia malah mendapat tatapan tajam, Jimin takut, "I-itu, ssaem, ketinggalan di rumah."

"Mwo? Ketinggalan?" Tanya Jung ssaem tak percaya.

"Ye."

"Alasan yang tak masuk akal, Park Jimin. Bisa saja kau tidak mengerjakan, sekarang, ssaem hukum mengepel kamar mandi murid laki-laki."

"Aa ta-tapi ssaem-"

"Jika membantah, ssaem akan menambah hukumanmu, Jimin."

Jimin mengepalkan tangannya mencoba menahan amarahnya. Ia keluar kelas dengan kepala menunduk.

Saat Jimin mengepel tiba-tiba dengan santai,

Brak!!

"Ji-jisung, neo gwaenchanha?" Tanya Jimin.

"Aaaaa eomma, tanganku sakit."

"Hya Jimin, apa kau tak bisa mengepel dengan benar?" Teriak anak yang diketahui bernama Jung Jaehyun itu.

"A-aku sudah mengepel dengan benar, dia saja yang tidak bisa berhati-hati." Jimin memegang gagang pel erat-erat.

"Kau menyalahkannya?"

Bugh!!

"Arkh mianhae, Jaehyun."

Bugh!! Bugh!!!

"Yha kau tak punya otak, kan? Dasar orang gila pembuat kacau."

"Jaehyun hyeong, sepertinya tanganku patah." Rintih Jisung.

"Kau dengar? Kau yang tidak berhati-hati bodoh."

Saat Jaehyung ingin memukul Jimin lagi, dari belakang ada yang menendang punggung Jaehyun.

"Yha!! Kau siapa membelanya?"

Bughh!!!

Orang itu memukul Jaehyun sampai tersungkur ke lantai.

"Jimin, irona. Kau tak apa?" Tanya namja yang menolongnya.

"Ani, kenapa kau menolongku?." Tanya Jimin dengan nada tidak suka, seragamnya terkena bercak-bercak darah.

Namja itu tidak menjawab.

"Hya Jisung! Kau lelaki, tetapi hanya berjalan saja sampai terpeleset."

"Hya!! Seharusnya Jimin yang salah!" Teriak Jaehyun.

Jimin langsung lari keluar kamar mandi karena takut akan pertengkaran mereka.

"Dasar bedebah, ditolong tidak tahu terimakasih." Gumam namja yang menolong Jimin.

***

Saat pulang sekolah Jimin memakai hoodie-nya agar darah yang ada di seragamnya tidak terlihat orang umum. Saat menunggu sopir yang biasa menjemputnya di pinggir jalan, tiba-tiba Jisung dan Jaehyun mendekatinya.

"Bagaimana? Kau puas melihat tangan sepupuku seperti itu?"

Jimin menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat tangan Jisung yang diperban karena ulahnya yang tidak sengaja.

"Kau lihat ini?!" Teriak Jisung. "Kau sepertinya tidak merasa bersalah sekali Park Jimin."

"M-mianhae." Lirih Jimin.

"Mianhae? Kau langsung pergi dan tidak bertanggung jawab!" Gertak Jaehyun dengan senyum smirknya.

"Mulai besok, kau harus memberikanku catatan pelajaran, karena ini ulahmu, aku tidak bisa menulis."

"Ne, a-aku akan memberikannya."

"Karena kau menerima permintaa Jisung, bagaimana jika kuberi hadiah?" Tanya Jaehyun.

"Hadiah apa hyeong?" Tanya Jisung yang tidak tahu maksud Jaehyun.

"Terima hadiahku ini!" Jaehyun mendorong Jimin ke tengah jalan dan..

Brakk!!!

Jimin terpental jauh.

"Omo!! Jaehyun hyeong? Apa yang kau lakukan?"

"Eomma." Jaehyung menganga, "Jisung bagaimana? Aku tidak tahu jika ada mobil yang akan lewat." Panik Jaehyun.

"A-ani!! Aku tidak tahu apa-apa!"

"Aarkhh, mianhae Jimin. Aa eoteokhae?!" Jaehyun mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Jisung ayo lari!" Jaehyung menarik tangan Jisung dan mengajaknya kabur dari tanggung jawabnya.

Sementara itu Jimin terluka parah dan tergeletak tak sadarkan diri. Orang yang tak sengaja menabraknya langsung membawa Jimin ke rumah sakit.

Karena kejadian itu, Jimin koma selama seminggu.

***

"Jimin? Kau sudah bangun?"

Jimin melirik melihat sekitar, ruangan bernuansa warna putih. Kepalanya terasa pusing. Ia melihat orang yang mengelilinya.

"Ka-kalian siapa?"

Eomma dan appa Jimin terkejut tak percaya.

"Ji-jimin? Ini eomma, nak."

"I-ini appa."

"Aku hanya bercanda." Jimin tertawa kecil yang langsung mendapat cubitan kecil dari eommanya.

Beberapa jam kemudian ada seseorang yang menjenguknya.

"Kau kenapa ke sini?" Tanya Jimin pada namja itu.

"Jimin bersikaplah sopan sedikit." Tegur eommanya.

Jimin mendecih.

"Yha! Kau tidak tahu terimakasih, sudah untung aku menolongmu di sekolah dari Jaehyun seminggu yang lalu."

"Buat apa aku berterimakasih."

"Yha aku-"

"Bukan keluargaku." Sela Jimin.

Namja itu serasa ingin memukul Jimin jika saja ia tidak sakit.

"Kau tidak ingin balas dendam pada Jaehyun yang membuatmu seperti ini?"

"Dia punya banyak teman, aku akan kalah."

"Makanya jadi orang jangan sok kalem. Lihat aku, aku selalu memukul orang yang selalu menggangu hidupku."

"Ara, kau pemberontak sejak dulu, aku berbeda denganmu, kita bukan satu darah daging." Jimin membulatkan mata malas.

"Jika kau masih dibully, tinggal pukul saja orang itu, tak usah basa-basi. Jika kau tidak membalasnya, dia akan semena-mena."

Perkataan itu membuat Jimin tertarik.

"Aku sudah bilang, aku tak bisa seperti itu!"

"Aishh jinjja? Kau tinggal memukulnya! Jangan mempedulikan orang lain. Dasar lelaki berjiwa perempuan!" Orang itu langsung keluar dari ruang inap Jimin.

Jimin masih memikirkan perkataan namja tadi. "Jiwa perempuan?" Gumam Jimin seperti membenarkan perkataan namja itu..

Setelah dua minggu Jimin tidak masuk sekolah, ia akhirnya kembali lagi bersekolah.

"Wohoho lihat Jimin sudah kembali!" Teriak Jaehyun.

Entah kenapa suasananya berbeda setelah Jimin dari rumah sakit. Hatinya mulai memanas mendengar itu. Sifat sabarnya menghilang sudah.

Dengan berani Jimin mendekati Jaehyun dan mencengkeram kerahnya, "Kau tak merasa bersalah, bodoh?"

Jaehyun yang terpojok masih tetap santai, "Wah wah wah lihat, Jimin bukan yang dulu lagi, dia sepertinya tidak bisa terbully lagi, guys."

"Dasar bedebah!"

Jimin langsung menarik Jaehyun dan membantingnya asal.

Flasback Off

"Aa Jimin-aa, uljima, kau seperti anak kecil." Taehyung tertawa pelan melihat Jimin meneteskan air matanya.

"Biarkan, aku selalu muak mengingat masa lalu itu."

"Emm, kalau boleh tahu, siapa yang menolongmu dan menghasutmu di rumah sakit itu?"

"Dia adalah orang yang paling aku benci dari dulu, dia saudara tiriku." Jimin mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghancurkan benda-benda di sekitar.

"Aaa Jimin, jangan membuatku takut." Taehyung langsung menunduk karena ekspresi Jimin yang sedang marah sangat menakutkan.

"Mwo?" Jimin tertawa kecil. "Hya kau jangan takut." Jimin menepuk pundak Taehyung.

"Tapi kau menakutkan."

"Ta-tapi siapa nama saudara tirimu?" Taehyung penasaran karena nama marga Jimim adalah Park, bisa jadi....

"Arkh Taehyung-ah, aku sedang tidak ingin membahasnya."

"Tapi sifatmu itu masih terbawa sampai sekarang, buktinya kau memukuli Jungkook dan mendorong So Hyun."

"Hyak Taehyung!" Ingin sekali Jimin memukul Taehyung, dia seperti membela Jungkook dan So Hyun. "Itu karena aku ingin melindungimu, bukan balas dendam seperti di SMA Sekang dulu."

"Tapi mengapa kau ingin melindungiku?" Taehyung kini menatap bukunya yang dibaca. "Sampai sekarang aku penasaran, kenapa kau mau berteman denganku sampai melindungiku dengan menyakiti orang lain."

"Aku sudah pernah bilang, karena ada suatu alasan."

"Mwo? Alasan apa?"

"Kau akan tahu suatu saat nanti, aishh banyak sekali pertanyaanmu, aku malas membahas ini. Lanjutkan membacamu saja!" Jimin meletakkan kepalanya kembali ke meja.

"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu, kita seumuran, berarti kita satu angkatan." Tanya Taehyung lagi.

"Mwo? Apa kau tak tahu rumor aku membanting Jaehyun?"

"Molla."

"Itu karena kau no life. Sepertinya kau tak pernah keluar kelas, aku saja tidak tahu jika kau juga dari sana. Kita sama-sama pendiam, jadi wajar."

"Hya Jimin!" Rengek Taehyung yang agak meninggikan nadanya dan langsung mendapat lirikan tajam dari siswa yang lainnya.

"Kau? Kenapa kau juga terkejut mendengar SMA Sekang?" Tanya Jimin bergantian.

Taehyung membeku dan berpikir sejenak mencari alasan yang tepat, tapi tidak menemukan, "Emmm, ani, hanya terkejut saja." Taehyung tidak ingin Jimin tahu jika dirinya terbully juga saat di SMA Sekang.

Rasanya Jimin ingin sekali cepat-cepat bertanding dengan SMA Sekang. Walaupun ini pertandingan persahabatan, tapi tidak untuk Jimin. Ia berencana akan bermain kasar. Ia yakin saudara tirinya ikut dalam pertandingan ini, dia berniat balas dendam dengan memanfaatkan acara ini.

Kira-kira siapa saudara tiri Park Jimin?













Next Part




🌸🌸🌸

Keknya biar ga bingung kenapa Jimin deket Taehyung, jadi aku buat cerita masa lalu Park Jimin.

Huhuu maap ya kemarin ga update dan partnya ini pendek, soalnya ni part aku khususin buat masa lalu Jimin😂😂 maap yah:(

Semoga kalian suka, jangan lupa vote and comment ya:")

Salam semanis gummy smile Suga Oppa💜

보라해💜

Continuer la Lecture

Vous Aimerez Aussi

38.7K 4.8K 83
[THE COMPLATE✔] [NO REVISIONS] [CHAPTER MANY AND LONG] [STORIES WITH COMPLICATED PROBLEMS] Perjodohan yang berakhir dengan sebuah fakta yang terbong...
1.3K 179 15
[ DISCONTINUED ] Hanya sebuah kisah yang mungkin tidak dapat memuaskan. Sebuah kisah yang menceritakan empat pasangan dengan jalan...
4.4K 311 6
Mini seri : 6 chapter ©Penausang Start : 3-7-2020 End : 19-7-2020 Berkisah tentang seorang pemuda sederhana bernama Kim Taehyung yang mempunyai gal...
209K 26K 70
[Dibukukan || tidak tersedia di toko buku] [Vacuous Series 01] ⚠️[Chapter cerita tidak lengkap] Kesalahan apa yang telah ia buat di masa lalu? Atau...
Application Wattpad - Déverrouiller des fonctionnalités exclusives