I Don't Wanna Be In Love

By RayakaBPA

208 0 0

More

1
3
4
5

2

29 0 0
By RayakaBPA

“Nah kan, gue bilang juga apa. Temenin gue aja,” ujar Radith dengan nada puas sambil membersihkan luka di mukaku dengan menggunakan kapas dan

cairan antiseptik. Rambut hitam sepanjang bahu yang ia biarkan tergerai begitu saja membuatnya tampak makin cantik.

Aku mendorong tubuhnya menjauh. “Muka lo kedeketan, geli tau.”

Ia hanya tertawa riang, memonyongkan bibirnya dengan pose ‘pengen-cium’ untuk menggodaku. Benar-benar menjijikkan. Kalau aku tidak mengenalnya hampir seumur hidup, aku pasti akan benar-benar menyangka dia homo dan akan dengan senang hati menolak ajakannya sharing apartemen.

“Tapi gue ngga nyesel, paling ngga dia tau muka gue, ngomong sama gue dan gue kenalan sama dia! KENALAN LHO!”

Radith menutup sebelah telinganya, merasa terganggu dengan teriakanku. “Tapi lo bonyok tuh. Kayak ngga ada cara lain aja buat kenalan, orang kita

sekelas sama dia.”

Aku menggelengkan kepala. “Gapapa! Yang penting gue kenalan! Aduh, lo mesti liat mukanya tadi. Lagi nangis aja cantik banget, keliatan lemah, pengen banget gue peluk trus gue lindungin, gue bawa pulang...”

“Udah gila lo kayaknya!” ujar Radith dengan ikhlas, sambil menutup kotak P3K dan merebahkan tubuhnya di atas karpet, berguling-guling dari kiri-kanan seperti anak kucing untuk menggoda Dhanu yang sedang berusaha membangun menara LEGO didekatnya.

“Om Bima, liat deh, tapi papa beliin aku ini lho... cantikkan?” tanya Dhina sambil berjalan berputar-putar di sepanjang ruang tengah yang ia jadikan catwalk dadakan sambil mengibaskan baju princess nya.

“Iya, cantik. Kayak emaknya...” gumamku yang langsung disambut dengan gamparan keras dipaha dan tatapan tajam dari Radith. Ah, aku lupa, menyinggung soal orangtua Dhanu dan Dhina adalah dosa besar dirumah ini.

“Tapi tetep papa yang paling cantik,” kata Dhanu, kembarannya sambil melingkarkan tangannya ke leher Radith dan menciumnya. “Dhina cantik nomer dua, trus aku baru om Bima.”

Aku hanya bergeleng takjub. Bener-bener didikan yang ngga sehat. “Om sih ganteng, bukan cantik kali. Udah ah, kayaknya gue mau tidur aja deh. Gue ngga sempet belanja, pada jajan aja sana.” Aku beranjak, berusaha melarikan diri dari pembicaraan absurd mereka yang aku yakin akan terus berlanjut. Entah bakal jadi apa anak-anak ini nantinya.

***

“Jadi, udah lo sapa lagi?” tanya Radith sambil duduk disebelahku sambil memainkan bibirnya yang berwarna merah. Aku selalu curiga ia memakai lipstick, gincu atau apapun itu setiap pagi sekalipun dia tidak pernah mengaku.

“Siapa? May? Ya belumlah. Malu gue, apalagi muka gue lagi jelek gini.”

“Sampe tau jebot juga kaga bakal nambah bagus kali, Bim,” ujarnya sambil menyeringai usil. “Eh, liat tuh, daritadi dia ngeliatin lo mulu.”

Mataku langsung tertuju kearah yang Radith tunjuk. May sedang memperhatikanku! Mungkin berlebihan, tepatnya dia terlihat sedang memperhatikan ke arahku! Rambutnya yang hitam diikat menjadi dua, bibirnya merah, pipinya putih merona. Dia tampak seperti gadis desa yang manis dan sangat polos. Astaga! Hanya dengan melihatnya, rasanya otakku jadi kram.

Dia berjalan kesini! Dia berjalan kearahku!

“Dith, dia kesini! Dia kesini!” kataku berusaha tenang sambil mengguncang-guncangkan lengan Radith dan membuatnya tampak sangat kesal dan terganggu.

“Iye, gue tau! Gue ngga buta! Lebay lo ah, jauh-jauh sana gue mau ngerjain tugas nih!” ujarnya sambil mendorongku dan mulai fokus lagi menyalin semua tugas dari buku tugasku.

May semakin dekat, dan aku belum menemukan tempat untuk bersembunyi.

“Ray? Ray kan?” tanya May sambil menatapku, mencoba memastikan ia tidak salah orang.

“Hmm... kenapa?”

“Maaf, aku ingin minta maaf. Soal yang kemarin...” katanya lirih sambil menunduk. “Sebagai permintaan maaf, aku ada ini... makan aja. Maaf!” Ia meletakkan sekotak Toblerone Black ke atas mejaku dan buru-buru berlari kembali ke bangkunya tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.

***

Gadis itu masih terus memenuhi pikiranku, sekalipun semakin hari aku mulai menyadari tingkahnya sangat aneh. Dia terus menerus membanjiriku dengan ‘sogokan’ permintaan maaf setiap pagi entah berupa coklat, roti, kaos, CD atau benda lain dan buru-buru lari setelah menyerahkannya. Dibandingkan yang lainnya, dia tampak sangat ansos dan pasif dikelas sekalipun dia selalu duduk di deret terdepan.

Cantik, tapi ternyata aneh. Mungkin aku mulai ragu dengan perasaanku sendiri, tapi... tetap saja aku tidak bisa berhenti memikirkannya setiap hari. Kira-kira apa ya yang dia pikirkan? Dia selalu menghindari kontak fisik, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Apa ini? Aliran keras? Alergi manusia?

“Hey! Bima! Sini kamu!” teriak Bee, pria bertubuh kekar dengan muka chubby bak pelawak yang sangat tidak sinkron dengan tubuhnya itu memanggilku. Walaupun masih muda, tapi ia adalah pemilik Fitness center dan Sasana tempat aku bekerja part time sebagai trainer.

“Oke, karena instruktur ceweknya sedang berhalangan, kamu bisa berlatih dasar-dasarnya dulu dengan dia,” kata Bee sambil menepuk bahuku. “Bim, karena dia orang asing, jadi kuserahkan ke kamu ya. Jangan keras-keras, dia cewek.”

“Lah, May?”

***

“Err... pertama, kamu pakai dulu hand wrap nya, ini untuk mencegah pergeseran tulang waktu melakukan pukulan,” kataku sambil menyerahkan sepasang hand wrap berwarna hitam milikku. “Karena kamu belum punya, kamu bisa pake punyaku. Sorry, ngga bersih.”

May menggeleng pelan lalu tersenyum, meraih hand wrap yang kuulurkan dengan cepat. “Terima kasih.”

“Kembalikan setelah dicuci ya,” kataku berusaha sedingin mungkin.

“Pasti,” katanya sambil melebarkan senyumnya. Aduh mak... tolong, jangan tersenyum seperti itu. Kalau ini setara dengan acara uji nyali, aku akan segera melambaikan tangan mencari kamera. “Hey, Ray, bolehkah aku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Tolong jangan sentuh aku.”

“Hah?” aku berusaha memastikan lagi, jangan-jangan aku salah dengar. Permintaannya ini lebih seperti antisipasi karena aku terlihat mesum. Kesannya.

“Aku ingin berlatih menjadi lebih kuat, aku pengen jago, tapi tolong jangan sentuh aku. Ya? Tapi aku akan berusaha keras di latihan ini kok. Ya?”

Aku mengerutkan dahi. Cewek ini makin aneh aja. “Terserah lah. Kalau kamu udah selesai, ini namanya weighted skipping rope, gunanya untuk melatih daya tahan otot. Karena ada pemberatnya, mungkin pas awal tanganmu bakal pegel,  lakuin selama 3 menit lalu istirahat 30 detik baru lakuin lagi. ulang terus sampai 3 kali. Ngerti?”

May mengangguk dengan mantap. Rambut kuncir kudanya menyisakan beberapa helai di dahinya, seksi sekali. Mungkin ketika berkeringat akan lebih seksi. Ah, tidak! Aku memukul kedua pipiku sendiri sebelum pikiranku melenceng kemana-mana.

“Aku taruh disini ya, aku bakal ngawasin dari ujung sana sekalian latihan dan bakal balik lagi kalau kamu udah kelar. Kalau udah ngga kuat, lambaikan tangan. Oke?”

Sebenarnya, mengawasi dari jauh itu hanya sebuah alasan agar aku bisa memperhatikannya tanpa terlihat terlalu aneh dan nafsu. Lagipula, peraturan tidak boleh kontak fisik dalam bentuk apapun padahal dia memakai pakaian seminim itu, rasanya konyol. Bukan, aku bukan sedang berpikiran mesum. Tapi, hey, dia hanya memakai tanktop dan hot pants, dengan seluas itu kulit yang ia umbar, kemungkinan tidak sengaja bersentuhan secara tidak sengaja akan lebih besar bukan?

***

“Kukira dia bukan type orang yang suka boxing,” kata Radith sambil sibuk menumis sesuatu. Bau bawang semerbak menyebar ke seluruh ruangan sementara kedua anaknya sedang ‘menggila’.

“DHINA! TURUN KAMU DARI ATAS LEMARI! AWWW!!!” teriakku sambil berusaha menurunkannya sementara Dhanu malah menendang tulang keringku dengan semangat, membantu saudarinya. Aku meringis kesakitan, mengelus-elus kakiku. Dengan kesal, aku terpaksa menggendong Dhanu lalu menguncinya kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan teriakkannya.

“Hey!!!” Dhina berteriak marah melihat perlakuanku ke adiknya, ia segera turun dan berusaha menyerangku. Tapi apalah arti serangan anak umur 5 tahun. Dengan mudah aku menggotong tubuh mungilnya dan memasukkannya kedalam kamar mandi, bergabung bersama adik kembarnya lalu mengunci pintu.

“Kalau udah kapok, baru aku keluarin! Ngerti?” teriakku berusaha mengalahkan teriakan dan rengekan mereka berdua, memanggil-manggil papa nya. “Anak lo, perlu dikasi pawang kayaknya... makin hari makin bandel aja.”

Radith hanya menyeringai tanpa memberikan komentar apapun dan seolah tidak mendengar teriakan kedua anaknya. Huft, mungkin dia punya cara sendiri untuk mendidik kedua anaknya. Aku mulai merapikan mainan milik Dhanu dan Dhina yang tersebar di hampir setiap sudut ruangan. Ruang tengah ini hampir tidak bisa dikenali lagi wujud aslinya. Seluruh temboknya penuh dengan coretan gambar, buku, cucian kotor, sampah dan mainan berserakan dimana-mana. Benar-benar tidak sehat dan tidak layak huni.

“Lo butuh istri Dith, buat ngurusnya. Gimana coba mereka nantinya? Maksud gue, tumbuh hanya dengan ngeliat elo? Ngga kebayang gimana mereka ntar gedhenya. Atau lo balikin aja lah ke orang tua nya... si Dimas harus nanggung sendiri perbuatannya,” kataku untuk kesekian kalinya.

“Huft, kan ada elo sekarang. Mereka juga tumbuh ngeliat ke elo kok. Mereka udah bikin hidup gue banyak berubah jadi lebih baik. Mungkin juga elo. Iya kan?” ujar Radith membela diri. “Lo inget deh, sejak ada mereka, kita ngga pernah ikutan balap liar, dugem juga ga pernah...”

“Gue ngga, tapi lo iya! Lo nggak inget minggu kemaren lo kemana?”

“Itu... ketemu relasi, tapi bukan dugem,” kata Radith mencoba ngeles. “Lagian liat deh, kita jadi lebih rajin kerja bukan? Ayolah, lagian, lo mau ngarepin apa dari si Dimas? Tanggung jawab? Mereka berdua lebih bahagia hidup sama gue daripada sama Dimas!”

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa, mengacak-acak rambut frustasi. “Munafik lo, lo ngurus mereka karena mereka anaknya Ceren kan? Lo suka kan sama dia?”

“Lo lebih munafik lagi. bukan gue yang suka sama Ceren, tapi KITA! Elo, gue, Rei, Dimas! Kita berempat suka sama dia sebelum Dimas ngancurin semuanya. Inget? Sampai kapanpun, gue ngga akan nyerahin mereka berdua ke siapa-siapa. Nggak ke Dimas, nggak juga ke Ceren.”

“Tapi mereka butuh orangtua Dith.”

“Orangtua yang nyampakin mereka gitu aja? Lagipula, Dimas dan Ceren udah punya pasangan dan hidup mereka masing-masing. Lo kebayang ngga sih kalo kita tau-tau nyerahin mereka berdua? Sama aja kita ngehancurin kehidupan sahabat kita bukan? Ceren bisa dicerai sama suaminya! Lo mau liat dia nangis lagi?”

“Lo mungkin bisa ngerawat mereka, tapi lo belum bisa ngedidik mereka.  Paling ngga, mereka butuh ibu!”

Radith menaikkan sebelah bibirnya, tersenyum sinis. “Gue bisa jadi keduanya. Ada lo juga ada Rei yang bakal ngebantu gue, bukan? KITA pasti bisa mempertahankan anak-anak sampai mereka dewasa.”

Aku menghela napas jengah. “Mungkin...”

Pikiranku selalu lelah setiap kali kami berdebat soal ini hampir setiap hari. Aku selalu merasa, ada beberapa orang yang memang cocok menjadi orangtua di usia muda, dan juga yang sebaliknya. Mungkin Radith dan aku adalah type ‘sebaliknya’. Semakin hari, aku semakin tidak bisa membaca pikiran, mengendalikan dan mengerti kedua bocah itu. Mungkin keadaan akan jadi lebih baik waktu salah satu dari kami menikah.

May...

Continue Reading

You'll Also Like

562K 10.3K 35
WARNINGG INI CERITA DEWASA 21+, TOLONG YANG MASIH DI BAWAH UMUR JANGAN BACA❗❗❗ Kisah seorang remaja berusia 20 tahun yang di jodohkan dengan laki lak...
3.8M 35.5K 49
Aarav a.k.a Ayan sesungguhnya sangat menyukai wanita itu-Olivia. Seharusnya Ayan yakin, bahwa memilikinya ada di list hidupnya. Seharusnya Ayan yakin...
2M 93.2K 83
Bromance akut sini mampir! Dibaca dulu sampai akhir, siapa tahu jatuh cinta 🫢🏻 Hargai penulisnya dengan vote and komen ya 🫢🏻 ...
111K 10K 29
Diego, anak manis penyuka dinosaurus. Tumbuh tanpa pengawasan orang tua karna suatu hal membuatnya hidup bersama sang bibi yang bekerja sebagai Careg...
Wattpad App - Unlock exclusive features