Siap, Coach! (Completed)

By NiaHusaen

8.6K 591 19

Masa Pertengahan Putih-Abuku banyak melewati rintangan, ketambah lagi sama Pelatih ekskul volley yang akhir-a... More

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37 (Final)
Info-infoan

1

905 36 6
By NiaHusaen

Senin, sore hari.

Ibu sama Bapak belum pulang. Cuman ada adek bungsuku yang lagi maen PS di kamarnya.
Sedangkan aku? Aku lagi ... galau. Tapi bukan karena baru putus cinta, aku udah lama menjomblo.

Aku terakhir pacaran itu waktu kelas 8. Dulu gak ada alasan kuat saat aku nerima teman sekelasku yang nembak pake coklat tim-tam itu. Ya mungkin satu-satunya alasanku nerima dia karena coba-coba aja, pengin tau rasanya jadi pacar orang.

Balik ke masa kini ... aku galau karena mulai tahun ajaran ini, sekolah cuma memperbolehkan siswanya mengikuti satu ekstrakulikuler saja. Sedangkan dari kelas 10, aku memilih dua ekskul yaitu Paskibra dan Volleyball.

Aku gak bisa memilih!

Aku suka dua-duanya.

Omong-omong, sekarang aku sudah kelas 11. Semester kedua ini memang banyak perubahan, terlebih pada struktur pengurus sekolah. Karena kepala sekolahnya mengalami pergantian.

Ada rumor yang mengatakan bahwa Bapak Kepsek yang sebelumnya diberhentikan karena terlibat kasus penyelundupan narkoba.

Aku sih gak mau ambil pusing mikirin rumor gak jelas itu, otakku menolak diajak mikir kasus-kasus pejabat sekolah ... apalagi pejabat negeri. Lagian aku gak lihat bukti konkritnya!

Karena yang kulihat selama ini, Bapak Kepsek Wanto itu orangnya baik. Waktu itu saja, beliau mengabulkan permintaan anak-anak Paskibra untuk ikut lomba di Kabupaten. Padahal dulu (saat aku kelas 10), Paskibra masih tergolong ekstrakulikuler yang gak terurus alias dicap 'memalukan' untuk diikutsertakan dalam lomba dengan tingkatan Kabupaten.

Tapi beliau gak peduli sama cap itu dan berani mengambil risiko. Beliau memilih terus mendukung anak didiknya untuk selalu semangat. Beliau gak mau memutuskan semangat anak-anak Paskibra hanya karena kualitas tim Paskibra sekolah belum memadai saat itu. Itu hebat!

Aku menghitung kancing kemeja sekolahku untuk menentukan pilihanku.

Kayaknya aku udah cukup banget kalau disebut nu gelo.
*(Bahasa Sundanya, orang gila.)

Soalnya kuperhatikan di cermin, dari rambut sama pakaianku persis orang kehilangan arah. Apalagi aku sengaja bikin tompel-tompelan di pipi tadi.

Arrgh!

Kuputuskan untuk mandi.
Mandiku hanya menghabiskan waktu 20 menit itu pun udah plus sama pakai baju.

Aku keluar dari kamar dan mendapati adek lagi nundukin kepala sambil nahan tangis. Di hadapannya ada Bapak yang lagi ngomel. Kayaknya Bapak baru pulang deh, soalnya baju kantornya belum diganti.

Aku gak lantas nyamperin mereka yang lagi dalam suasana emosional itu. Aku nyembunyiin diri di tembok yang deket ke ruang tengah buat ngintip apa yang terjadi.

"Kamu kalau mau minta duit, ke ibu aja! Jangan ke saya!" bentak Bapak cukup kasar. Atau mungkin sangat kasar.

"Ibu belum pulang, Pak. Kan sekarang adanya Bapak, kenapa aku gak boleh minta uang ke Bapak?" tanya adek dengan lirih. Kasian aku lihatnya.

Bapak kadang iritnya suka keterlaluan kalau sama adek. Entah kenapa ...

"Diam kamu! Dibilangin jangan pernah minta-minta ke saya!"

Fix! Bapak berlebihan banget gak sih? Emang adek minta duit seberapa banyak sampe dibentak begitu?

"Tino inget-inget ... Bapak kayaknya gak pernah ngulurin tangan untuk ngasih uang ke aku, bukan karena uangnya Pak. Tino sakit hati karena rasa peduli Bapak yang enol. Beda kalau Bapak sama Teh Ami." Lirih Tino.

Sekarang air matanya meluncur begitu saja meski wajahnya tetap datar, gak merengut sama sekali. Adekku emang kuat meski usianya masih 13 tahun.

Setelah itu tidak ada respon dari Bapak. Adek pun pergi ke kamarnya, tapi dia sempat melihat aku sebelum dia masuk ke kamarnya.

Setelah melihatnya, aku pun jadi masuk lagi ke kamarku, mengurungkan niatku untuk ngambil minum di dapur.

Aku jadi berpikir ... apa benar selama 13 tahun usianya, adek gak pernah diberi uang sama Bapak secara langsung?

Tapi kenapa? Perasaan kalau sama aku Bapak biasa-biasa aja. Aku minta uang ya dikasih. Walau kuakui Bapak orangnya irit, dan pasti nanya dulu mau dipake apa uang itu.

Ini aneh, karena kalau aku jadi adek. Aku pasti berpikir kalau Bapak itu pilih kasih.

Iya gak sih?

💧💧💧

Besoknya ...

Setelah sesi galau. Aku hari ini memutuskan untuk memilih ekstrakulikuler Volleyball. InsyaAllah aku yakin!

By the way, ternyata yang diganti bukan hanya kepala sekolah aja. Tapi juga pelatih volleyball dan seluruh pelatih ekstrakulikuler di sekolah diganti. Aku heran alasannya apa.

Tapi lagi-lagi aku menolak menggunakan otakku untuk  memikirkan hal-hal di luar kepentinganku.

Kebetulah hari Selasa memang jadwalnya ekskul Volley. Dan setelah bunyi bel tanda KBM berakhir aku gak langsung pulang. Dan pergi ke fitting room untuk mengganti baju.

Di sekolahku ekskul tidak dikumpulkan di satu hari. Misal pada hari Sabtu atau Minggu. Aku gak tau kenapa sistemnya begini tapi aku suka. Jadinya waktuku untuk weekend gak terganggu.

Sehabis cuci tangan lalu cuci muka tanpa menggunakan facial wash.
Aku pergi ke lapangan untuk berkumpul sama anak-anak Volley.

Sudah ada Aini sama Uni Indah, ah-Uni Indah ini seangkatan denganku walau beda kelas tapi usianya lebih tua setahun dariku. Harusnya dia udah kelas 12 sekarang. Jadi, sejak aku kenal cewek Padang ini, kuputuskan untuk manggil dia Uni (Panggilan Kakak dalam Bahasa Padang)

"Dari mana aja, lama banget!" tegur Uni Indah sambil becanda nyenggol bahuku.

"Toilet, gapapalah Ni ... pelatihnya aja gak on time." sahutku lalu terkekeh kecil.

"Oey yakin lo milih ekskul Volley aja?" tanya Aini. Dia sih orang Betawi. Jangan heran kalau omongannya agak nyablak.

"InsyaAllah aja, gue gak salat istikharah soalnya haha" Balasku diiringi guyonan yang agak anyep.

"Assalamualaikum, temen-temen ...."

Saat kami lagi asik-asik ngobrol datang mas yang tinggi semampai nyuruh kami kumpul, anak cowok yang dari tadi udah mulai latihan passing juga langsung ikut berkumpul membentuk satu lingkaran.

"Waalaikumussalam ..." Jawab kami kompak, yang muslim maupun non-muslim menjawab tak terkecuali.

"Perkenalkan nama saya Raden Bayu Lesmana, saya dapat amanah untuk melatih ekskul Volley disini." ungkapnya.

"Ada yang mau bertanya gak? Tentang saya atau tentang permainan bola volley? Saya jawab asal jangan aneh-aneh." Ucapnya lalu tersenyum tipis, tipis sekali.

Anak cowok ada yang mengangkat tangan.
"Badan kakak bisa keker gitu, kalau boleh tau diapain aja?" Tanya dia, lalu semua pada ketawa. Padahal gak ada yang lucu sama pertanyaannya.

"Ya olahraga, saya hobi olahraga. Selain itu jaga pola makan," jawabnya singkat, mukanya datar tapi gak keliatan jutek.

"Ada lagi?"

Kali ini orang di sebelahku mengangkat tangan. Ah Aini! Bocah ini kadang rem malunya suka blong.

"Kakak udah punya pacar belum?" tanya Aini asbun (asal bunyi).

"Ini cukup privasi, tapi akan saya jawab ..." Setelah mengucapkan itu Mas Raden Bayu Lesmana mengangguk, "Sudah."

Terdengar lenguhan kecewa dari kaum hawa. Dan gak terkecuali aku!

Aku ngapain ikutan buang nafas kecewa?

(muka datarnya Mas Bayu😁)


__________Bersambung_________

Makasih udah mau baca, tapi kalau udah baca tolong VOTENYA.
Itu berharga bagi gue.
Semoga suka karya ini :)

Stay safe dengan stay at home!
#lawancorona

C U!
Salam, 3064.

Continue Reading

You'll Also Like

6M 470K 65
Genre : Perjodohan, Fiksi, Romance. PART LENGKAP | 18+ 🍼 Yohanes Rama Ebiga Playboy kelas kadal, badboy sekolah, most wanted dan julukan paling buru...
6.3M 454K 40
Novel Not a Dreaming Marriage sudah terbit. Silakan untuk pemesanan bisa melalui: Shopee : Ibiz Store TikTok : Ibiz Store WA : 08886813286 (admin) ...
257K 10.4K 59
Dipublikasikan 28 Maret 2020 [END] Siapa yg tak kenal dengan keluarga WIJAYA? keluarga terkaya se asia Awalnya baik-baik saja,sampai akhirnya ada ses...
149K 7.3K 35
Cara orang menyampaikan cintanya itu berbeda. Dan kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai. Lalu, cinta dulu baru menikah? menikah dulu baru...
Wattpad App - Unlock exclusive features