Anak Ayah
Chanhee
Semuanya pulang ke rumah Ayah, ya |
Sunwoo
Ada apaan, Kak? |
Hyunjoon
Nanti siang aku sama Kak Kevin pulang |
Chanhee
Kak, pulang kerja langsung ke sini aja maaf aku ga sempet ngabarin semalem @ Sangyeon
Sangyeon
Iya |
Haknyeon
Gue sama Sunwoo baru bisa balik sore, Kak @ Chanhee |
Chanhee
Iya, hati-hati Nyeon |
.
"Kak, Kak Jae makin dingin badannya."
Chan-Hee masuk ke kamar Chan-Yeol dan langsung jalan nyamperin Young-Hoon yang lagi duduk di pinggir tempat tidur. Young-Hoon dari tadi cuma
ngeliatin Chan-Yeol dan Eric yang berusaha sembuhin Jacob.
Young-Hoon semalem dipanggil Chan-Yeol ke rumah Jacob, liat keadaan. Lalu Young-Hoon balik lagi ke dorm kisaran jam empat subuh, bangunin semuanya suruh pulang ke rumah Chan-Yeol. Jacob pun akhirnya dipindah ke sana.
Tapi waktu Young-Hoon balik ke dorm, Chan-Hee laporan kalau Hyun-Jae demam. Badannya dingin banget, dibangunin ga bisa.
Ju-Yeon juga sempet susah dibanguninnya, walaupun akhirnya bangun dan mereka berempat ikut jalan pulang.
Hyun-Jae ditaruh di kamarnya, diawasin Ju-Yeon dan Chan-Hee sementara Young-Hoon ikut gantian bantuin Eric sama Chan-Yeol.
Sihir yang ngikat Jacob udah di luar jangkauan new born, makanya Eric ga bisa sendiri. Chan-Yeol dan Young-Hoon aja harus putar otak ngakalin gimana cara sembuhinnya.
Ga ada luka atau racun sama sekali, tapi Jacob merasa lehernya sakit seperti dicekik. Pernapasannya terganggu, makanya dari semalem mereka bertiga kerja sama jagain Jacob supaya masih bisa bernapas.
"Udah ketemu, Kak?" tanya Young-Hoon ke Chan-Yeol.
Young-Hoon ngusap kepala Chan-Hee pelan lalu bangkit dan ngeliat keadaan Jacob lagi.
Bukannya Hyun-Jae ga penting, tapi ini Jacob kalau ga segera dicabut penyebabnya bisa langsung mati.
Bayangin udah beberapa jam dia susah napas. Kalau pernapasannya ga dibantu Eric mungkin udah ga selamat dari tadi.
"Udah, Hoon. Tapi ...."
Young-Hoon berdiri di samping Chan-Yeol yang duduk di pinggir tempat tidur, nopang kepala Jacob dengan tangannya.
Kejangnya udah berhenti, tapi justru itu tandanya nyawanya udah di ujung tanduk.
Chan-Yeol nunjuk garis kecil di dalam leher Jacob, melingkar seperti benang tipis. Hampir ga keliatan. Cuma mereka berdua yang bisa nerawang ke dalam lehernya.
"Aslinya ga ada warnanya, tapi gue masukkin energi supaya keliatan. Ini sihir tingkat tinggi, Hoon, anak-anak Yoon-Gi semuanya punya kekuatan yang semacam ini. Kalo seandainya Eric ga langsung manggil gue, ga tau lagi ini Jacob gimana."
Young-Hoon ikut nyentuh bagian garis itu.
"Ini ga bisa asal dipotong, Kak. Kalo garisnya dipotong nanti ngaruh ke aliran darah di lehernya. Ke saraf ga, sih?" tanya Young-Hoon.
Udah kayak dokter aja mereka berdua, tapi versi gaib.
Chan-Yeol ngangguk. "Itu yang gue takutin, Hoon. Tapi kayaknya lo bisa, kan?"
"Bisa," Young-Hoon ngangguk kecil.
Sekarang gantian Young-Hoon yang duduk di samping Jacob.
"Harus cepet, jadi gue yang pegang instruksi, oke?" kata Chan-Yeol.
Chan-Yeol noleh ke Eric.
"Eric, dengerin baik-baik kata Ayah, ya? Jangan panik. Mau nanti keadaan Jacob kayak gimana, jangan panik. Prosesnya emang akan begitu."
Eric yang dari tadi cuma diem megangin kepala Jacob, ngangguk denger peringatan ayahnya.
Young-Hoon senyum ke adiknya itu. "Tenang ya, Ric? Ini emang ga mudah, tapi masih bisa gue handle, kok. Tenang, oke? Jangan panik, gue ga ada niat lukain Jacob."
Setelahnya Young-Hoon ngeluarin percikan api di tangannya. Yang semula berwarna merah, perlahan berubah biru sampai akhirnya jadi putih.
Api itu membentuk sebuah pisau kecil. Beberapa kali Young-Hoon pernah bikin wujud pisau itu, cuma ini pertama kalinya mereka liat apinya warna putih.
Eric kaget waktu Young-Hoon malah gores leher Jacob, darah perlahan membanjiri bantal dan tangan Young-Hoon.
"K-Kak ...."
"Eric, tenang," ucap ayahnya.
Eric bisa ngerasain napas Jacob semakin lemah. Ga kebayang, udah dibantuin pakai energinya Eric aja napasnya selemah ini.
"Kak ... napasnya ...."
"Iya, Ric. Tenang, fokus," kali ini Young-Hoon yang ingeti dia.
Chan-Hee yang dari tadi cuma duduk di tempat tidur seberang jadi ikutan nyamperin Eric, megang bahu Eric dari belakang.
"Fokus, Eric," tangannya beralih ngusap kepala Eric.
Young-Hoon terus goresin pisaunya melingkar di sepanjang leher Jacob. Agak dalam, karena emang letak garis yang serupa benang itu cukup ke tengah.
Jacob mulai gerak-gerak, kejang lagi.
"Di situ, Hoon. Putusin dari situ terus langsung tarik keluar," perintah Chan-Yeol.
Tepat di belakang tengah tengkuknya, Young-Hoon tancapin ujung pisaunya sampai tubuh Jacob tersentak hebat.
"Kak ...."
"Eric, tenang. Young-Hoon, tarik cepetan!"
Young-Hoon narik benang itu dan langsung ngelemparnya agak jauh dari mereka semua.
Walaupun bentuknya tipis, benang itu punya massanya sendiri (jangan bayangin karena setipis benang jadi bisa terbang kayak benang biasa).
"Kak, pegang Jacob," Young-Hoon balikin ke Chan-Yeol untuk sembuhin bekas goresan di lehernya.
Semuanya natap ke benang itu yang langsung berubah wujud jadi ular hitam besar.
Oh, bukan ular besar lagi. Tapi raksasa.
"Kak?!" teriak Chan-Hee refleks.
Chan-Yeol udah duga kalau pasti bukan cuma sekedar benda yang dimasukkin ke tubuh Jacob.
"Kamu mau pergi balik ke tuanmu atau mau mati di sini?" tanya Young-Hoon baik-baik.
Ular itu natap Young-Hoon yang tentunya jauh lebih kecil dari wujudnya.
"Oke kalo mau mati."
Pisau putih di tangan Young-Hoon diubah lagi wujudnya. Terlihat api hitam berkobar hebat dari kedua tangan Young-Hoon sebelum akhirnya berubah wujud jadi panah panjang dengan warna serupa, masih mengobarkan api.
Young-Hoon ngelempar panah itu ke si ular dan tentunya ular itu langsung terbakar api hitam yang berkobar hebat.
"Chan-Hee, bantuin Young-Hoon bikin barrier!" perintah sang ayah yang masih fokusin energinya untuk nutup luka Jacob.
Chan-Hee buru-buru bangun dan nyamperin Young-Hoon. Mereka berdua munculin pembatas dengan cepat sehingga kamar ini terbagi jadi dua sisi.
Ga lama setelah itu, kobaran api semakin besar dan akhirnya meledak, melenyapkan si ular raksasa.
Juga menghancurkan sebagian kamar Chan-Yeol.
"Gila ... yang barusan itu apa, Kak ...?" ucap Chan-Hee.
Lalu dia ambruk karena lelah dan syok bersamaan, yang untungnya sempet ditangkap Young-Hoon ke pelukannya.
Dia syok energinya terkuras mendadak untuk bangun barrier secepat dan sekuat itu. Kesadarannya menurun.
"Taruh Chan-Hee di situ, Hoon," kata Chan-Yeol.
Young-Hoon gendong Chan-Hee, rebahin di tempat tidur lalu duduk di sampingnya. Dia megangin tangan Chan-Hee yang sekarang setengah sadar.
Chan-Yeol bisa liat kalau anaknya itu pejamin mata cukup lama.
"Young-Hoon? Lo ga apa-apa?"
Young-Hoon buka matanya, noleh ke Chan-Yeol. "Ga apa-apa, Kak. Cuma agak ... well, udah lama banget ga ngeluarin api hitam jadi badan gue juga syok, mungkin," jawabnya ditutup dengan senyum kecil.
Akhirnya Chan-Yeol selesai sembuhin bekas sayatan di leher Jacob.
"Ric, cincin Jacob mana?" tanya sang ayah.
Eric ngeluarin cincin yang tadi dia lepas karena menyerap banyak energi hitam.
Chan-Yeol ngebersihin cincin itu, caranya sama kayak kalau Hak-Nyeon bersihin kalung Sun-Woo, lalu pasangin lagi ke jari Jacob.
Secara ajaib, kulit pucat Jacob kembali merona seperti semula. Aliran darah di nadinya kembali normal, detak jantung dan deru napasnya perlahan kembali terdengar.
"Biarin dia istirahat, kamu juga istirahat," ucap Chan-Yeol ke Eric.
Eric ngeliat Chan-Yeol yang sekarang jalan nyamperin Young-Hoon.
"Lo juga istirahat, Chan-Hee biar gue yang pegang," katanya.
Young-Hoon nurut karena dia beneran ngerasa tubuhnya ga enak. Nanti dia harus liat keadaan Hyun-Jae juga. Jadilah Young-Hoon pindah ke sofa di deket jendela, duduk bersandar di sana lalu pejamin mata.
Sementara Eric masih terdiam. Dia merasa ga berguna karena mau gimana pun dia berusaha imbangin kekuatannya dengan darah murni, lihat kejadian barusan bikin dia sadar kalau ada beberapa kekuatan yang emang ga bisa ditempa begitu aja.
There are many privileges of being a pure blood that a new born can't relate.
.
Ada empat tingkatan api.
1. Api merah. Api ini elemen dasar, semua vampir bisa gunainnya bahkan tanpa dilatih dengan keras. Contohnya Hyunjae, mungkin diajari sekali langsung bisa.
2. Api biru. Satu tingkat di atas merah. Semua darah murni punya tanpa harus dilatih, tapi ga mudah untuk dapetin ini bagi new born. Kekuatan ini berkali lipat lebih besar dari api merah.
3. Api putih. Setingkat lagi di atas api biru. Darah murni bisa dapetinnya kalau dilatih tapi jarang yang apinya bisa panas sempurna. Karena panas api ini setara dengan inti matahari. New born bisa aja dapetinnya, tapi sangat sangat sangat sulit.
4. Api hitam. Tingkatan panas paling tinggi. Kalau di tulisan jurnal kuno vampir sih ini sama dengan api neraka, karena saking panasnya sampai api itu menelan cahayanya sendiri makanya berwarna hitam. Jarang darah murni yang punya. Percaya ga percaya, yang berpotensi lebih besar bisa punya api hitam hanya vampir bermarga Kim. Persentase marga lain ga sampai 1%. Sejauh ini cuma Chan-Yeol, Yoon-Gi, Hoshi dan Seung-Woo vampir selain marga Kim yang punya api hitam sempurna. New born ga bisa punya karena tingkatannya terlalu kuat.