The Obsessed Pedia βœ”

By Min_Solitude

77.3K 5.2K 152

"Tidak ada alasan aku menyukaimu. Aku menyukaimu karena aku menyukaimu" "Sekali aku melihatnya, aku tidak aka... More

Prolog
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Teaser
Bonus Pedia

Epilog

2.4K 126 25
By Min_Solitude

Lotte Hotel Resort Sokcho
3 a.m. KST

"Aku memesan satu apartemen. Di dalamnya ada dua kamar. Aku dan Hyoora akan satu kamar, kamu bisa menggunakan kamar yang lain bukan."

"Ya, tentu saja" Mark masuk ke dalam kamar yang ditunjuk Yoongi

"Ayo, aku lelah ingin istirahat" Yoongi mengajak Hyoora masuk ke dalam kamar mereka juga

"Oppa bisa janji satu hal padaku?" Hyoora berjalan menuju balkon menunggu Yoongi yang tengah mengganti bajunya

"Janji apa?" Yoongi memeluk Hyoora dari belakang memberikan ketenangan

"Jangan pisahkan kita lagi. Aku tidak mau kita bertiga harus terpisah lagi. Jangan memilih antara Yura dan aku lagi seperti dulu. Tolong pertahankan kami oppa"

"Kau---" Hyoora membalik badannya, pegangan balkon ia gunakan sebagai tempatnya untuk bersandar

"Aku mendengarnya, tidak perlu khawatir seperti itu oppa. Cukup tepati janji yang kuminta. Bisa?" Hyoora menangkup kedua pipi Yoongi dan menaikkan kepalanya yang sempat tertunduk

"Oppa bisa?" Yoongi mengangguk, beralih meraih leher belakang Hyoora dengan tangan kirinya lalu mempertemukan bibir mereka, menarik Hyoora masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.

"Hah! Aku menyakitinya lagi!" Mark menghembuskan asap rokok yang baru saja ia hisap sembari mendengarkan pembicaraan Yoongi dan Hyoora

"Eungh, o-oppa... kita tidak mungkin melakukannya. Ada Yura di sini" Hyoora menahan lengan Yoong yang hendak menanggalkan pakaiannya

"Dia sepertiku jika sedang tidur. Jangan khawatir, dia tidak mungkin dengar. Bisa kita lanjutkan hahhh... aku sudah tidak bisa lagi"

Hyoora ingin menangis saja sumpah. Mereka tidak hanya berdua tapi berempat! Tetangga di seberangnya bisa saja mendengar suara erotisnya

"Diammu berarti iya. Aku sudah tidak bisa mundur lagi" Yoongi langsung saja melancarkan kembali aksinya

"Ahhh oppa, jan... o-oppaahh..."

"Hyoora, s-sa-sarang-sarangahe ahh..."

"Tuhan, tolong kasihani telingaku dan telinga Yura. Kasihani kami astaga, aku tidak sanggup lagi jika seperti ini." Mark membekap kepalanya dengan bantal seiring dengan teriakan pasangan itu yang tidak bisa berhenti 'menjerit'

"Mengapa mata daddy seperti mata panda?" suara Yura mengundang perhatian Hyoora dan Yoongi untuk melihat Mark yang terlihat seperti ridak bisa tidur semalaman

"Itu karena daddy tidak bisa tidur semalam makanya jadi seperti ini. Tidur Yura nyenyak semalam?" Mark mengusap lembut rambut Yura dan menyuapi Yura sup yang Yoongi pesan lewat layanan kamar tadi

"Biasa saja. Tapi sepertinya tidak dengan daddy?" Yura memencet-mencet bawahan mata Mark yang menghitam, membuat Mark sesikit risih

"Sudah Yura jangan dipencet-pencet begitu" Yoongi melarang Yura yang dengan jahil memainkan seluruh wajah Mark seperti squishy

"Berisik kau dasar mesum!" semua orang tidak dapat mendengar kata mesum yang Mark lontarkan

"Ayo kita ke pantai! Yura pasti mau main pasir kan?" Hyoora menggenggam tangan Yura dan keluar dari kamar lebih dulu

"Jika ingin berhubungan lebih baik di rumah sendiri daripada di sini. Mengganggu tidurku saja!"

Byurrr

Ice americano Yoongi terpaksa keluar lagi setelah mendengar perkataan Mark

"Yak! Tidak usah dibahas"

"Itu terdengar. Bagaimana bisa Yura tetap tidur seperti itu ya?" Mark mengambil dompet dan handphone nya lalu ikut keluar dari kamar

"Apa semalam terlalu kasar?" Yoongi berpikir dulu sebelum akhirnya ikut keluar menuju pantai

《¤》

"Hyoora bisa kita bicara sebentar?" Mark duduk di sebelah Hyoora yang sedang memperhatikan Yura dan Yoongi bermain pasir

"Jika tentang kau ingin mengambil Yura, aku tidak mau"

"Bu-bukan itu"

"Lalu apa?" Hyoora berubah menjadi dingin

"A-aku---" Mark ragu untuk mengatakannya

"Aku merindukanmu, tidak bisakah kamu kembali lagi? Aku membutuhkanmu Ra" Mark menggenggam tangan Hyoora

"Aku tidak bisa. Aku mencintai Yoongi." Hyoora langsung saja melepas tangan Mark. Ini tidak benar. Tidak seharusnya mereka begini. Hyoora sudah bersuami.

"Seseorang mencintai diriku melebihi dirinya sendiri dan sekarang aku tau bahwa aku juga mulai mencintai dirinya melebihi diriku sendiri. Sekarang kami impas, bahwa intinya adalah kami saling mencintai" Hyoora menatap Yoongi yang sedang membuat kerajaan kecil dengan pasir bersama Yura. Ayah dan anak itu tampak sangat bahagia.

"Kalau begitu ini sudah saatnya aku menyerah bukan? Ini sudah saatnya aku pergi kan. Bukankah sudah tidak ada yang menginginkan kehadiranku lagi?" Mark mengeluarkan selembar kertas dari sakunya

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mark. Mianhae. Aku hanya---"

"Sudah. Lihat ini saja, sebentar lagi aku harus berangakat. Melupakan semuanya. Meninggalkan kenangan menyedihkan dan hanya membawa kenangan manis. Hah, membawa kenangan manis hanya memnbuatku semakin sulit untuk melupakan dirimu." Hyoora membaca lamat-lamat tiket pesawat milik Mark

"Kau akan ke Amerika? Tapi ini hanya jadwal keberangkatan saja. Di mana jadwal pulangmu?" Hyoora membolak-balik halaman kertas.

"Aku tidak tahu kapan akan kembali. Aku tidak berani kembali ke sini. Jadi aku memutuskan hanya membeli tiket pergi saja. Sampaikan salam pada Yoongi kalau aku minta maaf dan aku akan pergi."

"Maafkan aku juga. Maaf karena belum bisa menerimamu oppa. Aku juga tidak bisa menahanmu karena ini sepertinya sudah menjadi keputusan yang sudah matang." Mark memgangguk melambaikan tangan ke arah Yoongi yang kebetulan sedang menatap mereka. Yoongi dengan canggung sama-sama melambaikan tangannya.

"Aku pergi. Jaga dirimu dan Yura. Si Yoongi pasti akan menjaga dirinya dengan baik. Yura harus tumbuh lebih cantik darimu ya." Hyoora menangis, tidak menyangka bahwa akhir dari dirinya bersama Mark akan seperti ini.

"Jangan menangis. Aku akan merasa semakin bersalah." Mark menghapus air mata Hyoora dan langsung saja berjalan menjauh saat Yoongi dengan mata berapi-apj berjalan ke arah mereka dengam Yura dalam gendongannya dan peralatan pantai mereka

"Apa yang baru saja eomma lakukan bersama Mark, hm? Ingin membuat appa marah." Yoongi awalnya berniat marah tapi ia urungkan saat melihat Hyoora menangis.

"A-apa yang terjadi denganmu? Mengapa menangis?" Yura bahkan menatap Hyoora dengan polos

"Mark oppa sudah pergi"

"Dia mati? Pergi untuk selamanya?"

"Yoongi!!!" Hyoora memukul punggung Yoongi keras sekali, Yoongi yakin besok akan membekas kemerahan dengan cap tangan sang istri

"Ya, maaf. Lalu ada apa dengannya?" Yoongi meringis, mengusap punggung telanjangnya yang terasa kebas

"Dia berangkat ke bandara beberapa menit lalu. Mark oppa akan ke Amerika" Yoongi sama sekali tidak terkejut. Pukulan kejutan dari Hyoora lebih menyakitkan.

"Bahkan dia belum mendengar ucapanku. Aku padahal mempunyai kabar gembira." Yoongi menaruh Yura ke atas pasir lagi karena gadis itu sedari tadi merengek minta turun.

"Kau memberitahunya kabar gembira. Tapi aku tidak. Apa aku membuat kesalahan?" Yoongi mengenakan kaos hitam miliknya karena tidak enak jika harus berbicara serius tapi dia masih bertelanjang dada

"Aku membencimu oppa!" Hyoora memukuli dada Yoongi pelan

"Sungguh aku tidak mengerti. Apa salahku? Apa ada hal yang membuatmu tidak senang? Beritahu padaku!" Yoongi berusaha menahan. Memang benar bahwa pukulan wanita itu sangat brutal.

"Kau membuatku menjadi ibu beranak dua di usiaku yang masih muda ini." Tangisan Hyoora mulai mereda, tangannya yang semula memukuli dada Yoongi menjadi berpindah tangan ke leher Yoongi.

"Aku tahu kau kesal padaku. Tapi kau harusnya--- Apa!? Apa yang baru saja kau katakan tadi!!" Yoongi membeku, dirinya kembali dalam mode dungu

"Aku hamil oppa! Yura akan segera mempunyai adik."

"Sungguh! Kau tidak berbohong?"

Hyoora mengangguk dan mengeluarkan benda yang Yoongi yakini adalah test pack.

"Astaga! Aku akan menjadi ayah!" Yoongi mengangkat tubuh Hyoora dalam pelukannya dan loncat-loncat bak orang kesetanan di tengah pantai

"Oppa, pelan-pelan. Kau sudah menjadi ayah tahu." Yoongi semakin aneh, dia bahkan berani menyatukan kedua bilah bibirnya dengan miliki Hyoora. Tidak peduli dengan Yura yang masih terus saja menepuk-nepuk pasir dengan sekop mini.

"Ternyata mereka sudah akan memiliki dua anak. Memang sudah tidak ada tempat lagi untukku di hati Hyoora. Bukan begitu Suran?" Mark menatap Suran dengan mata yang memerah menahan tangis

"Bukankah kau harus menatap masa depan. Bertanggungjawablah dengan bayi yang ada di rahimku. Kau yang melakukannya."

Mark dengan ragu menyambut tangan Suran lalu mencari taxi untuk ke bandara.

Inilah akhir dari seluruh kisah cinta mereka. Akhir dari sebuah obsesi.

"This is our life. This is our story. This is our journey. This is our Obsessed Pedia." - Min Yoongi and Min Hyoora










































































THE END

Akhirnya tamat. Memang tamat nya itu udah ketebak dan biasa aja. Tapi semoga cerita ini cukup menghibur kalian. Ini work ketiga aku dengan chapter paling sedikit. Semoga kalian suka dan cek work baru aku DETROID. Sampai jumpa lagi. Stay safe guys!!! 💜🖤💜🖤

5K reader aku up bonus chapter, ini janji. No php php an

Continue Reading

You'll Also Like

487K 32.9K 40
Park Jimin salah satu member BTS yang pandai menyembunyikan kesusahannya. Masalahnya berdampak pada para member. Meski begitu sejujurnya masalah itu...
107K 9.3K 55
{Cerita ini telah Complete βœ”οΈ} 19 Februari 2019 - 22 April 2020 Kau memang tidak bisa mengatakan "I love you" pada ku tapi bagiku itu tidak masalah...
279K 28K 55
"Bukankah matahari tidak pernah meninggalkan bumi? Lantas mengapa kau meninggalkanku?" "Karena aku bukan mataharimu." Start: 24 Oktober 2019. Finish:...
183K 10.8K 30
"Aku tidak tahu mengapa kalian membenciku... Apa karena kejadian itu? Bahkan akupun tak tahu penyebabnya. Aku tidak apa jika kalian membenciku, bahka...
Wattpad App - Unlock exclusive features