Leo perlahan melepaskan pelukannya dan terlihat sekali wajah Lea memerah, bagaimana tidak? Yang memeluknya ini Phantera Leo, cowok dengan berbagai macam jenis sifat dan yang termasuk satwa yang Lea sangat benci. Kedua matanya bertemu dengan mata Leo, tersadar keduanya saling tatap, Lea memutuskan kontaknya terlebih dahulu.
Lea berdeham pelan.
"Baru sadar?"
"Sadar apa?" bukannya menjawab, Leo malah bertanya balik. Lea berdecak.
"Kesalahan lo lah." Lea mengangguk.
"Lo kesandung ya?" nada itu terdengar meledeknya, Lea memutar bola matanya malas. Iya, dia memang menginjak tali sepatunya sendiri.
"Maaf juga," ujar Lea tiba-tiba seraya menunduk, Leo yang tadi diam langsung terkejut, bagaimana tidak? Cewek yang terkenal cukup menyebalkan dan keras kepala ini ternyata bisa juga meminta maaf.
"Lho? Kenapa?" balas Leo antusias.
"Udah nyiram cewek kesukaan lo, gue juga gada niatan." Leo pikir Lea meminta maaf soal masalah pertama kali ia bisa berurusan dengannya.
"Kalo soal masalah lo nabrak gue dulu gamau minta maaf?" Lea yang sudah jinak langsung liar kembali. Ia refleks mendorong tubuh Leo sampai Leo berpindah tempat menjadi di lantai, bisa dibilang jatuh.
"Gila, emang ngeselin banget lo ya jadi cewek!"
"Bodo amat. Pergi sono," usir Lea.
Lea menatap sekitar kamarnya sedangkan Leo akhirnya bangkit seraya tertawa kecil. Ia menatap Lea sejenak, lalu matanya beralih pada nakas di samping kasur Lea.
"Kenapa?" tanya Lea.
"Udah gue bawain makan. Jangan di diemin, nanti nangis nasinya," ujar Leo memberitahu, refleks Lea kesumber topik dan di atas nakas sudah ada sepiring makanan dan segelas air.
"Lo bawa dari bawah? Bi Sari emang kenapa?"
"Gue yang mau. Kenapa emangnya?"
Lea berdecak sebal.
"Emang udah sinting lo!"
"Ya udah gue....balik," Lea refleks menutup bagian pahanya tersadar ia hanya memakai hotpans.
"Gausah di tutupin, dari tadi juga gue udah liat." ucapan Leo barusan membuat Lea merona, emang namanya cowok berengsek, tetep aja berengsek. Saat Leo hendak pergi, Lea memanggilnya membuat tangan Leo yang hendak membuka knop pintu terurung sejenak.
"Kenapa?"
"Temenin gue makan." Leo menyipitkan matanya.
"Kok minta di temenin?" Lea memutar bola matanya malas.
"Ya udah gue ntar ambil makan sendiri!" refleks Leo tertawa lalu tidak jadi keluar kamar, ia segera menghampiri Lea dan duduk di samping gadis itu. Lea tanpa sadar tersenyum lalu segera mengambil sepiring makanannya.
"Lo kesini naik apa?" tanya Lea.
"Motor," balas Leo.
"Abis ini balik lo, jangan kelayapan," ujar Lea membuat Leo tertarik langsung mendekatkan wajahnya pada Lea.
"Khawatir ya?" Lea hampir saja tersedak, ia langsung memukul bahu Leo.
"Gausah ge er! Gue cuma ngasih tau, bego."
"Kasar banget mulut lo." Lea tidak menggubris sibuk makan sampai akhirnya ia menyelesaikan makannya dan Leo sibuk memainkan ponselnya. Setelah ia rasa sudah cukup Leo berada di sini, Lea memikir sejenak lalu segera merebut ponsel Leo.
Leo santai saja tidak keberatan seperti Lea yang pastinya langsung mengamuk jika ponselnya di ambil Leo.
"Mau ngapain?" tanya Leo.
"Suka suka." Lea mengambil potonya seraya berbaring.
"Dah sana pergi. Oleh-oleh dari cewek cantik," ujar Lea, Leo hanya bisa menghela napasnya lalu segera pergi dari kamar Lea. Setelah kepergian Leo tanpa sadar Lea tersenyum.
°°•••°°
Sevanya mencoba untuk biasa saja saat melihat status whatsapp yang Leo pajang, apa hubungan mereka begitu serius? Sampai Leo...terlihat begitu mesra. Sevanya tersenyum tipis lalu mulai mengirimi Nolan pesan.
Sevanya :
Nolan?
Nolan yang dapat pesan dari Sevanya jelas terkejut, dengan cepat Nolan membalas pesan Sevanya dengan cepat tak membutuhkan waktu lama Sevanya menunggu.
Nolan :
Tumben chat. Ada apa?
Sevanya perlahan mulai mengetikkan pesan pada Nolan.
Sevanya :
Mau latihan futsal ya? Ikut boleh nggak?
Nolan :
Lo sendirian mau? Soalnya gada Tere sama yang lain..khusus cowok doang.
Sevanya :
Gaboleh ya? Gue mau lihat kalian:(
Nolan tidak bisa menolak, perlahan ia mulai mengetikan pesan pada Sevanya agar Sevanya tidak sakit hati.
Nolan :
Oke deh gue jemput
Dan yah, Sevanya dengan sigap memakai pakaian terbaiknya agar bisa menarik perhatian seseorang yang sempat dekat dengannya.
Lain dengan Leo dan teman-teman yang lain sudah menunggu lama akhirnya Nolan datang, bersamaan dengan seseorang yang membuat semuanya terdiam.
"Hai, gue nonton kalian latihan nggak apa-apa kan?" tanya Sevanya manis. Toni jelas bangkit.
"Wahh gapapa, asli gapapa haha!"
"Yoaiiii, butuh penyemangat juga ini," sambung haykal. Sevanya hanya tersenyum manis, sedangkan Leo tidak ekspresi. Akhirnya mereka latihan dan Sevanya sibuk menonton mereka juga seraya memainkan ponselnya. Entahlah ia rasanya ingin memosting dirinya saat ini sedang berada di mana.
Saat sedang asik bermain bola Leo memutuskan untuk istirahat sejenak, ia butuh minum. Sevanya langsung menyodorkannya.
"Nih, Le." Leo diam sejenak lalu segera mengambilnya.
"Makasih."
"Iya sama-sama." keduanya terdiam, tidak...Sevanya ingin berbicara pada Leo tapi Leo seperti tidak mempedulikan keberadaannya disini.
"Hm Leo, lo marah ya sama gue?" tanya Sevanya tiba-tiba, Leo refleks menoleh.
"Marah kenapa?"
"Soal...yang waktu itu, lo nanya ke gue." Leo sebenarnya ingat betul lalu ia berpura-pura tidak ingat dengan menampilkan wajah bingungnya.
"Soal apaan emang?"
"Yang kata---"
"Leo ayo main, Nolan capek dia istirahat!" ucap Haykal, membuat Leo refleks berdiri lalu ia menepuk bahu Sevanya.
"Gue duluan, nanti lagi ngomongnya," dengan dinginnya Leo bercakap demikian. Sevanya mencoba menahan tangisnya. Sedangkan Nolan yang melihat perubahan Sevanya langsung berdeham pelan.
"Lo, nggak apa-apa?" tanya Nolan hati-hati. Sevanya mengucek matanya mencoba terlihat biasa saja.
"Gak apa-apa kok. Hehe," balas Sevanya lalu kembali menatap mereka yang sedang bermain bola.
"Lo tau Leo kan? Dia...emang agak sadis." mendengar itu refleks Sevanya menoleh.
"Haha iya tau gue."
"Lo yang mulai duluan, jadi dia nggak segan-segan tertarik dengan permainan lo." Sevanya mencoba menelan salivanya.
"Gue sama sekali nggak mainin dia."
"Tapi ucapan lo itu yang tanpa sadar buat dia ngerasa kayak gitu. Btw, gue mau jujur aja nih, gue denger kok apa yang lo bicarain berdua," ujar Nolan terang-terangan saja. Sevanya menghela napasnya.
"Emang nyakitin ya?"
"Nggak sih. Seharusnya itu ucapan emang buat nyadarin Leo. Btw lo juga emang nggak suka kan sama dia?"
"Gue...gak bermaksud."
"Iya udah. Berarti cukup di sini aja gitu maksudnya Leo," ujar Nolan. Sevanya menunduk.
Nolan sebenarnya tidak tega namun dia harus mengatakan hal tersebut agar Sevanya sadar. Tapi Nolan juga tahu jelas kenapa Leo bisa pacaran dengan Lea adik kelasnya.
"Soal pacaran leo saat ini lo gausah khawatir. Mereka cuma bohongan," balas Nolan membuat Sevanya mendongak.
"Se-serius?"
"Iya, cewek itu juga gasuka sebenernya sama leo."
"Simpulin sendiri dah ya. Coba lo deketin Leo lagi, jangan kayak gantungin," setelahnya Nolan berlari menuju lapangan. Sedangkan Sevanya sudah menyimpulkan sedikit.
Jadi maksudnya Leo lakuin ini cuma...settingan?
Lea terkejut mendapat pesan dari orang tiba-tiba. Ia refleks membukanya dan ternyata itu bu Seza.
08×××
Ini saya bu Seza, kamu besok tetap sekolah seperti biasa.
Lea :
Lho kenapa bu? Bukannya saya di skors?
08×××
Hanya masalah sepele. Saya di tegur pak kepala.
Lea :
Baik ibuuuuu
Lea tertawa sinis, bagaimana tidak tahu rasa itu ibu Seza kena tegur pak kepala sekolah, memang masalahnya sangat sepele dan dia langsung kena SP, terlebih kena skors pula, padahal ia bukan panglima tawuran yang wajar kena Skors.
"Ya begitu deh. Orang licik emang pasti ada aja balesannya," gumam Lea. Akhirnya dia tidak di rumah haha yang sangat membosankan, bayangkan saja selama dua hari.
°°•••°°
Saat di sekolah Lea kesal sendiri, pasalnya ia terus di ledek oleh kakak kelas yang lewat. Asal melihat dirinya ia diledek istri Leo galak.
"Ngakak jir."
"Gausah ketawa, Vi. Apaan sih gajelas banget kakelnya, gue nikah aja belom." Vivi tertarik dengan kalimat Lea barusan.
"Maksudnya akan nikah gitu?" ledek Vivi, dengan cepat Lea menarik rambut Vivi membuat Vivi terpekik. Sedang asik bertengkar, seseorang datang padanya, dia Sevanya.
"Kak Seva..."
"Nanti pulang sekolah latihan ya. Kemarin kan gajadi," ujar Sevanya seraya tersenyum tipis seperti tidak ada masalah. Lea merasa tidak enak dengan itu.
"Iya, Kak. Btw maaf soal kemarin, gue bener-bener nggak sengaja," ucap Lea tulus. Sevanya mengangguk.
Gue tau lo sengaja, batin Sevanya.
"Ini kita bakal tampil di awal acara sama pas anak basket main sama anak futsal, terus penutupannya dance dari anak eskul. Banyak kan kita tampilnya?" Lea mengangguk.
"Makanya rajin latihannya. Gue duluan ya!" setelahnya Lea berdecak.
"Idih, ngomongnya biasa aja kale!" ujar Lea membuat Vivi menoleh.
"Muka dua lo."
"Emangnya." Lea dan Vivi melangkahkan kakinya menuju kelas berdua. Yang membuat Lea kesal karna melihat snapgram Sevanya yang mengatakan bahwa gadis itu tengah menemani parah boys latihan. Idih apa banget.
Lain dengan Leo yang sedang asik memainkan ponselnya langsung kena serbu anak cowok-cowok bermulut pedas.
"Lo udah apain anjir si adek kelas itu? Mainnya di kamar gileee.." leo berdecak sebal mendengarnya.
"Emang gue kayak lo tukang rusak."
"Eh anjir gue gapernah," sergah haykal lalu Toni tertawa.
"Icip yang lain dia mah, ceweknya di jaga banget," sambung Toni. Nolan yang mendengarnya langsung memutar bola matanya malas.
"Sama aja bege, berengsek."
Leo menatap teman-temannya yang sibuk bercanda dan membahas soal icip men-icip. Leo hanya bisa mendengus malas, dia saja mencium gadis itu langsung kena tampar.
Bahkan tidak mencium saja sudah kena tampar.
Lagian juga otak Leo suci. Leo mulai mengirimi Lea pesan.
Leo :
Ada guru ga?
Lea :
Ada
Mendapat balasan dari Lea membuat mata Leo menyipit.
Leo :
Kok bisa main hp?
Lea :
Apa si yg gue gabisa
Leo tertawa membaca pesan tersebut. Dengan cepat ia membalas pesan Lea.
Leo :
Yang lo gabisa itu mencintai seseorang dengan tulus
Lea :
Gada orang yg gue cintain
Leo :
Yaudah belajar aja dlu
Lea :
Iya ini lgi belajar
Leo :
Belajar cintain gue?
Lea :
Belajar b indo.
Leo menghela napasnya. Lalu ia mengirimi Lea stiker yang membuat Lea kesal sendiri.
Tanpa sadar keduanya tertawa dengan ponselnya masing-masing. Namun Lea langsung terkejut saat bu Sera menegurnya.
TBC!
Gajelas kan? Oiya jelas Lea leo gitu lho.
VOTE COMMENT NYA YAH! COMMENT SAMPE BERIBUH RIBUH NANTI CEPET UPDATE.
SEHABIS BACA JANGAN LUPA DIBUAT SG YA TAG :
PHANTERALEO_
OLEA_NDR
SAB_FEBRIANN
THANK U. DARI 1-10, PART INI BERAPA??? YUK SEMANGATIN AKU BIAR RAJIN UP😞
Sevanya itu model sekolah. Dia terkenal di majalah{}{}
Lea itu murid biasa aja, cuma pernah hits di smpnya, gayanya songong, kasar, cantik, cuma di SMA lea ga sehits Sevanya wkwk
Vivi itu tipikal cewek centil, dia juga suka ngomongin kakel cuma kalo udh berhadapan senior, dia masih takut:)
Tere. Paling gasuka sama Lea, karna dia dekat dengan clara cewek yg cukup ditakutkan di sklh. Tere agak belagu gicu
Ini Sintya temen Tere dan Sevanya.
Nolan, temen deket Leo. Paling deket dan skrg tebak coba dia lagi suka sama siapaaa???
THANK U SEMUAAAA!!