"Mona, bangun sayang. Ada paket buat kamu." Teriak Riska yang sudah rapi dengan baju kerjanya.
Dengan malas Mona beranjak dari tempat tidurnya yang sangat nyaman. Kasurnya sangat posesif, dia seakan melarang Mona untuk beranjak dari situ.
"Kenapa sih, Ma? Pagi-pagi udah teriak-teriak." Bram menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Tuh ada paket buat anak papa yang kalau tidur kayak kebo. Sulit banget kalau suruh bangun." Riska melirik putrinya yang baru saja menuruni tangga.
"Buat saya?" Tanya Mona kepada kulir barang yang masih muda.
"Mbak Mona?" Mas kulir itu menatap wajah bantal Mona yang masih berantakan.
"Iya, saya sendiri." Jawab Mona, sambil menggaruk rambutnya.
"Ini ada paket buat Mbak Mona. Silahkan tanda tangan disini." Mona menandatangani buku yang Mas kulir itu sodorkan.
"Kalau begitu, saya permisi." Mas kulir itu pergi. Mona menatap paket tipis yang berada di tangannya dengan malas.
"Dari siapa sih?" Tanya Mona pada dirinya sendiri.
"Dari siapa, Mon?" Tanya Riska, kepo.
"Entah, aku mandi dulu." Mona berlari menaiki tangga rumahnya. Dia ingin segera mandi, tapi kotak di depannya membuat dirinya penasaran.
Mona naik ke atas tempat tidurnya. Dia membuka paket itu dengan gerakan ragu. Setelah melihat isinya, Mona langsung mengembangkan senyumnya.
"Yes, tiket bioskop Mariposa." Mona memeluk tiket itu, lalu dia mengambil note kecil yang berada di dalam paket.
Dear, Mona sayang.
Aku akan menjemput kamu siang nanti. Kita akan nonton film yang diambil dari novel kesukaan kamu.
From, Aksa.
Mona langsung loncat dari tempat tidurnya. Akhirnya pacar cueknya itu bisa romantis.
🔹🔹🔹
Intan tidak henti-hentinya memuji masakan Mutiara yang sangat enak. Gadis mungil itu datang ke rumah keluarga Leonald dengan membawa rantang makanan.
"Andai Tante punya anak perempuan. Pasti setiap pagi ada yang menemani Tante masak." Ucap Intan, disela-sela makannya.
"Tenang, Ma. Bentar lagi mama punya anak perempuan. Tuh Bang Arga mau ngelamar Mutiara." Celetuk Aksa, yang langsung di beri pelototan mata oleh Arga.
"Oh, jadi kalian pacaran? Sejak kapan?" Tanya Intan, antusias.
"Sejak aku ikut lomba olimpiade MIPA di Bandung. Dan kebetulan Mutiara juga ikut lomba disana." Jawab Arga, santai.
"Sama-sama lomba MIPA?" Tanya Danil. Dia tertarik dengan percakapan anak dan istrinya.
"Tidak, waktu itu Mutiara ikut lomba sastra. Dia ikut lomba nulis dan baca puisi." Jawab Arga, sambil menatap wajah Mutiara.
"Wih, ceritanya getaran cinta ketika ikut lomba?" Goda Aksa.
"Maaf Om, Tante, Kak Aksa, Kak Arga, aku pulang dulu. Nanti aku di cariin mama sama papa." Mutiara beranjak dari posisi duduknya. Dia meremas rok-nya dengan ekspresi wajah gugup.
"Salam buat orang tua kamu ya, Mutiara?" Seru Intan, heboh sendiri.
"Iy_iya Tante." Jawab Mutiara, gugup.
"Wih, restu udah di depan mata nih." Aksa tergelak ketika melihat wajah merah abangnya.
"Ngomong-ngomong orang tua Mutiara udah tahu belum kalau kalian pacaran?" Tanya Danil, sambil menatap wajah putra pertamanya.
"Tahu kok, Pa. Waktu itu kan aku nganter kucing Mutiara ke rumahnya, aku sekalian ngomong sama kedua orang tuanya kalau kita pacaran." Jawab Arga, sampai membuat mulut Aksa menganga.
"Ternyata lo gerak cepat juga bang." Aksa terus menggoda Arga yang wajahnya sudah memerah.
"Terus kamu kapan ngenalin pacar kamu ke kita?" Tanya Intan, yang langsung membuat Aksa bungkam.
"Mati lo, haaa..." Arga tertawa keras. Dia menertawakan wajah shock Aksa.
🔹🔹🔹
Ini semua gara-gara Virus Corona, hingga bioskop yang biasanya ramai menjadi sepi.
Mona yang baru melihat setengah adegan film Mariposa memilih keluar. Suasana di dalam bioskop tidak enak karena sepi. Tidak seru seperti biasanya.
"Gimana kalau kita beli Arum manis?" Tanya Mona, antusias.
"Emang ada yang jual?" Tanya Aksa, sambil bersandar di belakang mobilnya.
"Terus kemana dong?" Mona memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Aksa tertawa.
"Serius, kita habis ini kemana?" Mona menarik ujung jaket Aksa seperti anak kecil.
"Ke rumahku. Sepertinya mama ada di rumah. Kemarin aku kan udah ke rumah kamu untuk makan malam, sekarang kamu gantian main ke rumah aku." Usul Aksa.
"Kan aku sudah pernah ke rumah kamu?" Mona ikut Aksa masuk kedalam mobil.
"Tapi waktu itu mama sama papa gak tahu kalau kamu pacar aku." Mona mengangguk, dia membenarkan ucapan Aksa. Memang hanya Nenek Era dan Arga yang tahu bahwa dia dan Aksa waktu itu pacaran.
"Yaudah, ayo ke rumah kamu." Mona tersenyum kepada Aksa. Mereka berdua menikmati perjalanan yang sedikit tidak mancet dengan gurauan. Karena akibat virus Corona, semua orang jarang yang keluar rumah. Jadi jalan yang biasanya padat, sekarang sedikit sepi.
Mobil Aksa masuk kedalam perkarangan rumahnya. Dari luar sudah terdengar tawa dari mamanya yang entah tertawa dengan siapa?
"Assalamualaikum, Ma." Aksa masuk kedalam dapur mamanya.
"Waalaikumsalam. Eh ada Nak kemon." Mona tersenyum sambil bersalaman kepada mamanya Aksa.
"Mona, Ma. Bukan kemon." Koreksi Aksa.
"Ada yang marah, Ma. Nama pacarnya di ganti." Sindir Arga yang sedang duduk di meja makan sambil bermain game di heandponenya.
"Sirik, lo." Sinis Aksa.
"Udah-udah, kalian ini kalau ketemu kayak kucing sama tikus. Berantem mulu. Malu di lihatin pacar kalian." Tegur Danil yang tiba-tiba muncul di dapur.
"Papa gak kerja?" Tanya Aksa. Dia menatap papanya yang sedang meneguk air yang dia ambil dari kulkas.
"Kerja, tapi di rumah. Gara-gara virus Corona omset kita menurun. Hotel sepi, dan papa harus kerja di rumah. Papa takut jika kerja di luar nanti papa tertular penyakit Corona akibat bertemu dengan banyak orang." Jawab Danil, sambil menghela nafas kasar.
"Iya, Om. Bulan ini lagi marak banget Virus Corona. Papa sama Mama aja sekarang sibuk di rumah sakit." Timpal Mona.
"Maklumlah, orang tua kamu 'kan Dokter, Nak." Jawab Danil, sambil mengulas senyum.
"Mona, Mutiara, Om tinggal dulu." Setelah keduanya mengangguk, Danil kembali ke ruang kerjanya.
"Kak Mona, sini bantuin aku sama Tante masak." Ajak Mutiara, dia tersenyum kearah Mona.
"Kak? Emang gue kelihatan tua banget? Lo kelas berapa?" Tanya Mona, sambil membantu Mutiara memixer adonan roti.
"Sepuluh, kak." Jawab Mutiara, singkat.
"Mona aja, paling umur kita gak beda jauh. Gue juga kelas X." Suruh Mona yang di balas anggukan kepala oleh Mutiara.
"Kalian satu sekolah?" Tanya Intan kepada kedua gadis di sampingnya.
"Rencananya aku mau daftar ke sekolahannya Kak Arga." Jawab Mutiara, sopan. Tangannya sibuk membuat bulatan donat.
"Wih, entar satu sekolah juga dong sama gue. Lo mau masuk jurusan apa?" Mona yang orangnya memang cepat akrab terus bertanya.
"IPA." Jawab Mutiara, singkat.
"Wih, akhirnya aku bakal punya teman baru." Mona memeluk Mutiara dengan sangat erat.
"Lucu ya kalian, Tante jadi ingat waktu sekolah dulu." Ucap Intan, sambil menatap kedua pacar putranya.
"Heee..., Aku memang lucu Tante." Cengir Mona.
"Kayaknya Tante akan dapat menantu dua versi nih. Yang satu cerewet, dan yang satu pendiam." Gurau Intan. Ucapannya itu mampu membuat Mona dan Mutiara tersenyum malu-malu..
"Emang Tante restuin kita?" Tanya Mona, ragu.
"Tentu, kenapa tidak?"
Arga dan Aksa yang mendengarnya ikut tersenyum. Mereka tidak menyangka respon mamanya akan sangat baik kepada kedua gadis yang sekarang sedang tersenyum kepada mereka berdua.