-- Bab 8 --
Gadis itu duduk di kursi berlengan panjang yang kelihatan empuk. Rambut pirangnya terurai dan jatuh sepanjang bahu. Sinar matahari menerobos dari balik kaca hitam pekat di sisi ujung ruang perpustakaan besar milik Tobias. Aroma kayu Tectona grandis dan buku-buku yang terawat baik membuat gadis itu terbius. Dia seolah tidak terusik bahkan oleh suara langkah kaki kami yang sudah mendekatinya.
Dari sampul buku yang dipegang olehnya yang berbau politik luar negeri itu bisa dipastikan gadis bernama Andrews itu orang terpelajar. Dia begitu menikmatinya. Jari-jarinya memindah lembaran kertas dari buku itu penuh elegan. Memandang gadis itu membuatku ingat bagaimana Dad prihatin melihat diriku yang jauh dari kata beradab sebagai seorang perempuan yang tahu bersikap perempuan. Aku memang bukan ahli penembak jauh dengan ciri khas ketenangan. Keahlian yang berkembang dalam darahku adalah beladiri dan tembakan jarak dekat yang berarti strategi, konfrontasi, dominasi.
Dad langsung tahu hal yang menjadi kelemahanku : kesabaran dan ketelitian. Meski aku tetap teliti dalam segala hal, namun tidak cukup untuk dipilih sebagai ahli penembak jarak jauh. Butuh ketenangan yang luar biasa ketika targetmu berada jauh limaratus meter dari tempatmu bersembunyi. Dan karena keahlianku itu, aku jarang menyamar menjadi perempuan baik-baik. Sulit, memang tapi bukan berarti aku menjauhi pekerjaan samaran menjadi gadis baik-baik.
Tobias menghampiri gadis itu sedangkan aku menunggu mereka dari kejauhan; berdiri diam di samping pintu masuk. Gadis bernama Andrews tadi berpaling dan senyum merona muncul dari kedua ujung bibir dan pipinya. Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata yang menghasilkan gema merdu. Gadis itu sempurna bagi Tobias. Pasangan yang pantas jika dilihat untuk pertama kali. Tubuh gadis itu sedikit menjauh dari Tobias dan pandangannya mengunciku dengan senyuman itu lagi. Gadis Andrews itu memesona bagi kaum adam. Dia malaikat yang menjelma menjadi bidadari bumi dan terlahir sebagai manusia. Pantas bagi Tobias. Mereka akan menghasilkan keturunan yang layak dibanggakan. Pikirku kecut.
“Hai, Alicia!” Dia menyapa sambil berdiri dan menuju ke arahku. Kejutan yang tidak terduga ketika dia tiba-tiba saja memelukku. “Jaga Tobias baik-baik, ya?” Lalu disusul suara tawa kecil. Aku memandanginya tidak percaya. Gadis ini waras, kan?
Aku mengangguk saat dia sudah melepaskan pelukan.
“Tobias sudah bercerita tentangmu,” katanya senang. “Aku dengar akhirnya mau tinggal di sini setelah kejadian mengerikan waktu di gedung Tobias.” Mimik wajahnya berubah ngeri. Dia pasti membayangkan bahaya yang terjadi kala itu.
“Terimakasih,” jawabku dari sekian ucapan yang keluar dari mulutnya. Nona Andrews ini sepertinya masuk dalam kategori manusia ramah; terlalu ramah malahan. Andrews menatapku. Apa dia menunggu komentarku yang lain? Tidak ada lagi!
Dia mendesah. “Jangan pelit berkata-kata, Alicia. Jangan seperti lelaki jelek di sana!” gadis itu melenguh kecil. “Tiap katanya berharga ratusan pound! Berani bertaruh, dia hanya menjawab seperlunya saja, benar, kan?”
Aku masih melihat Andrews dengan tidak percaya. Lalu arah mataku mengintip Tobias yang juga menatapku dengan sorot mata birunya yang menusuk. Tobias memang kikir dalam berbicara. Hanya saja, dia tidak begitu beberapa jam yang lalu. Lelaki itu sudah menjadi lelaki biasa yang normal dan mempunyai mulut untuk berbicara dengan normal juga. Aku balas pertanyaan Andrews itu, “Ya, Nona.” Aku ingat bagaimana Tobias sangat sensitif terhadap pertanyaan yang tidak dijawab.
“Jangan panggil aku nona. Panggil aku Cass.”
Cass? Seperti nama lelaki. Jadi gadis ini yang bernama Cassandra?
“Maaf, Anda adalah tunangan Tuan Currey. Saya tidak bisa.”
“Aku yang memintamu. Dan tenang saja, jika lelaki jelek itu marah karena kau tidak sopan, biar kupukul bokongnya yang seksi itu!” Cass tertawa dan aku begitu terkejut mendengar celotehan Cass itu.
“Cassy,” Tobias memanggil kekasihnya itu. “Jangan begitu di depan Alicia.”
“Panggil aku Cass. Aku benci nama Cassy; seperti kucing saja.”
Tobias mendesah lalu mendatangi kami. “Baiklah, aku sudah mengenalkanmu pada Alicia.”
“Aku senang akhirnya kau ada yang menjaga,” kata gadis itu sambil memeluk Tobias. Ada perasaan tidak nyaman menyaksikan mereka. Tangan Tobias yang membalas pelukan gadis itu menambah rasa ketidaknyamanan tadi.
“Bukankah itu maumu?”
“Iya, aku paham. Aku hanya khawatir pada keselamatanmu.”
Jadi inikah alasan Tobias menyewa agen MI6? Karena permintaan pacarnya itu? Gila!
Aku memerhatikan mereka dengan perasaan muak. Sungguh, baru kali ini ada keinginan untuk menguliti orang yang sekarang berdiri di hadapanku. Hanya karena ini aku disewa? Pemberontakan dan percobaan pembunuhan menteri pertahanan Kerajaan pernah kutangani dan sekarang aku berakhir sebagai penjaga karena permintaan konyol seorang gadis? Berengsek mereka! Aku harus menghubungi Dad untuk segera memindahkanku dari sini. Aku benci tempat ini. Aku muak melihat mereka.
“Baiklah, karena aku sudah bertemu denganmu,” Cass berbalik melihatku, “aku harus pergi.” Dia mencium pipi Tobias lalu memelukku sekali lagi. “Aku sudah janji dengan Dad untuk konsultasi hari ini di rumah sakit. Alicia, jaga Tobias untukku.” Dan gadis itu berlalu begitu saja. Gadis yang aneh. Tobias juga.
***
“Dad!”
Siang itu juga aku meminta izin Tobias untuk mengambil waktu pergi ke Vauxhall; markas pusat MI6. Dengan geram aku menatap Dad yang dengan santai menyesap kopi hitam di cangkir favorit Dad berukir bunga sakura. Lelaki itu tampak tidak terkonfrontasi oleh amarahku yang menggelegak karena berhasil tahu alasan lelaki kaya raya—bosku—menyewa jasaku. Hanya permohonan orang sinting. Tobias bisa dapatkan penjaga lain. Tidak perlu diriku! Inggris perlu agen level S-nya untuk hal lain! Rasa jengkel kembali membuncah saat mengingat percakapan dua orang paling konyol yang pernah kulihat. Dan jika Dad masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, orang konyol itu akan bertambah satu.
“Sudah sarapan, putri cantikku?”
“Berhenti bersikap seolah kau sedang bertemu anak TK,” amukku. Ruangan Dad kedap suara sehingga aku merasa aman tidak akan ada yang mendengar teriakanku.
“Dan anak TK itu sedang memasang wajah marah pada ayahnya. Bisakah kau duduk? Kau seperti orang yang ingin menyincang orang,” kata Dad.
“Andai aku bisa,” balasku sengit.
Dad membenarkan posisi duduknya. Dia mengusap mulutnya lalu kembali memberikan arah pandangnya padaku. “Jadi, kau sudah merasa ingin memanggang bosmu hari ini?”
Ya. Aku hanya menjawab dalam hati. Tidak cukup memanggang, demi pizza! Mengingat setiap senti raga lelaki itu, hatiku menjadi panas dan meledak-ledak. Melihat tingkahnya yang membuatku muak, setiap perkataan dan sentuhannya membuatku bergidik. Entah mengapa rasa muak ini semakin berlipat saat dia bersama Cass.
“Dad, bisakah posisiku diganti?” pintaku. “Aku nyaris gila mendengar alasan mengapa aku dipekerjakan di sana! Bukan karena urusan negara atau apapun itu. Hanya permintaan bodoh dari tunangan ….” Kata-kataku terhenti. Menggantung; sulit menemukan lanjutan kata yang tepat.
“Dan karena itu kau menjadi mudah sekali menunjukkan emosimu?” Dad langsung membuatku bungkam. “Kau mudah terpancing emosi tepat setelah kau menemui bosmu itu. Ada perubahan yang tidak wajar terjadi padamu. Boleh Dad tebak apa itu?”
“Aku hanya tidak habis pikir mengapa Dad memilihku menjadi penjaga lelaki itu. Aku tidak ingin pekerjaan itu. Terjebak pada bos dan harus tunduk bukan menjadi sifatku. Dad tahu kelemahanku.”
“Dan Dad ingin kau belajar untuk meminimalkan kelemahanmu itu. Kau harus menjadi sempurna saat berhadapan dengan Dean, Al. Kau harus sempurna.”
“Apa harus dengan menjadi penjaga?”
“Itu kesempatanmu.”
“Dad,” aku mengerang. “Apakah tidak ada yang bisa membantuku. Ya Tuhan, menghadapi bandar narkoba internasional jauh lebih menggugah daripada harus mengangguk dan menjadi anjing penurut.”
“Setidaknya dia mampu membuatmu merona,” gumam Dad yang sudah disibukkan di depan laptop.
“Aku tidak begitu!” sangkalku. Wajah Tobias seketika menelusup dalam imajinasi dan kembali aku merona. Segera kupalingkan wajah; berpura-pura melihat potret ibu yang ada di lemari kaca sisi kursi kerja Dad.
“Dia sudah punya pasangan dan kau semakin tersulut emosi sehingga kau datang kemari di hari liburmu. Pesona lelaki itu sungguh luar biasa,” Dad bergumam lagi sambil mengetik sesuatu.
“Aku tidak begitu,” sangkalku lagi namun dengan nada suara perlahan merendah.
Keraguan menyergap hati. Ada titik yang membuatku gamang. Titik yang melebar perlahan. Dad mulai menguak sisi yang selama ini tidak kusadari. Aku menjadi mudah marah. Emosiku menjadi mudah terbaca. Ini bukan diriku. Tidak seperti Alicia yang sesungguhnya. Dia tidak akan mudah memperlihatkan emosi kepada rival. Tobias memang bos tetapi bukankah dia memiliki hubungan dengan Dean? Aku tahu bahwa Dean bukan menjadi prioritasku bekerja. Tapi dia adalah obsesi terbesarku.
“Apa kau mulai tertarik pada bosmu?” Dad masih tenang di depan meja kerjanya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju padaku. Sikapnya yang menyelidik diimbangi suaranya yang berat dan dalam membuat wibawanya tak bisa ditolak. Suaranya membuat rasa segan rekan kerja lain; para agen senior maupun junior.
Aku diam. Percuma kembali mengatakan tidak padahal sesuatu yang aneh tadi mengusik semakin keras hatiku. Dari situ Dad akan tahu bahwa putrinya merasa tidak baik. Mungkin jika begitu, Dad akan segera memindahkanku. Kali ini profesionalismeku dipertanyakan.
“Dad tidak akan memindahkanmu meski kau mulai tertarik pada bosmu,” ucap Dad yang membuatku terkejut. “Apapun perasaan yang sedang kauhadapi, hadapilah. Dad ingin kau merasakannya. Jangan berusaha untuk menahan. Itu menyakitkan.”
“Dad ….”
“Jatuh cintalah, putriku. Kau akan merasakan hal yang tidak akan mudah kaulupakan.”
“Tapi rasanya tidak enak. Muak, konyol, dan … bodoh,” gumamku sambil memandangi potret Mom sekali lagi. Aku membayangkan apakah Dad dan Mom juga begitu? Menjadi sepasang yang konyol?
“Cinta terkadang menjadikan seseorang konyol. Seperti kau sekarang ini.” Dad berdiri mendekat. Langkahnya pelan dan menjajariku; ikut memperhatikan Mom. “Seperti Dad dan Mom.”
“Aku tidak konyol. Mereka yang konyol. Tobias dan Cass!” dan aku menyesal telah mengatakan itu.
“Bagaimana rasanya cemburu?” Dad mengerling sepintas dan tersenyum.
“Aku tidak--,”
“Berhenti mengkhianati hatimu, Dear.” Dad mengelus punggung. “Kau akan semakin konyol kalau kau selalu menampik bahwa kau menyukainya.”
Keheningan menyelimuti kami. Beginilah Dad. Aku mencintai lelaki tua ini, sangat mencintainya. Meski tanpa Mom, dia tak pernah menjadi pribadi yang keras padaku. Dia adalah Dad dan Mom. Dua sisi yang mampu Dad lakukan nyaris seumur hidupku. Aku kadang berpikir, apakah Dad tidak ingin menikah lagi? Dia semakin renta. Dan tanpa pikir panjang, kupeluk Dad erat. Ada setetes air yang jatuh dari sudut mataku. Aku jatuh cinta, Dad. Putrimu yang konyol ini sedang jatuh cinta. Hanya saja, putrimu ini jatuh cinta pada orang yang sudah memiliki tunangan. Jatuh cinta pada orang yang begitu membuat putrimu kesal sekaligus mendamba. Jatuh cinta pada lelaki kaya raya yang keras kepala sekaligus berhati lembut. Ya, aku jatuh cinta pada Tobias.