MagicaLove

By RawnieMoon

443 18 0

Bagaimana jadinya jika setiap kata umpatan yang timbul dari kemarahan hati selalu menjadi kenyataan? Samantha... More

Interview
Samantha Clark
Xavier Winston
Miranda Gorbacheva
The Candidate
She is the one
The New Secretary
Welcome to the Jungle
The First Day
Her Special Gift
The Cassanova
Renee Montoya
Thomas Johnson
The Winstons
Yearly Party
Nicholas Winston
Tracy Winston
Sabotage
The Liar
Carlos Kurt
The Confession
He is Totally Jealous
Silver Lion
Rebecca Watson

The Junior CEO

10 1 0
By RawnieMoon

Pagi ini secara resmi Nicholas akan diumumkan sebagai CEO Winston Corp. Jabatan langsung dibawah jabatan direktur yang sedang dijabat Xavier. Xavier membuka peluang seluas-luasnya pada Nicholas untuk belajar banyak sebelum kelak akan mewarisi jabatannya.

Nicholas telah bersiap di meja makan sembari menunggu kedatangan Xavier. Pikirannya terus dibayangi pertemuan perdananya kembali dengan Samantha. Entah gadis itu masih mengenalinya atau tidak.

Tak lama kemudian Xavier menunjukkan dirinya lalu duduk dikursi berhadapan dengan Nicholas. "Apa kau nervous?" tanya Xavier sambil meletakkan sapu tangan diatas pahanya.

Nicholas menggeleng singkat. Bukan tentang pengumuman jabatannya yang membuat malamnya menjadi malam panjang tapi Samantha. Gadis itu selalu berhasil mengacau balaukan hatinya tanpa perlu melakukan apapun.

"Kurasa kau akan menikmati pekerjaan barumu." Xavier menambahkan.

"Kuharap juga begitu. Aku harap bisa membantumu nanti."

"Kau bukan hanya akan membantuku tapi juga mewarisi Winston Corp selanjutnya."

Nicholas terkekeh. "Kurasa aku hanya akan membantumu."

Xavier tidak menganggap serius ucapan yang diucapkan Nicholas barusan. Dia sibuk menghabiskan sandwich sarapannya.

"Apa aku bisa mendapatkan sekretaris pribadiku?" tanya Nicholas tiba-tiba.

Xavier menghentikan sarapannya. "Kau membutuhkannya sekarang? Kau bisa memilikinya kalau kau mau." Xavier menambahkan.

"Bagaimana kalau aku minta sekretarismu menjadi sekretarisku juga?"

Xavier mendelik kebingungan kearah Nicholas. Matanya memandangi Nicholas dengan penuh selidik.

"Kudengar cara kerjanya bagus. Aku hanya ingin tahu sebagus apa." Nicholas menjelaskan. Walau dalam hatinya tidak sepenuhnya berkata demikian.

"Kau nilai saja dia nanti. Kau akan bertemu dengannya."

***

Samantha sudah berdiri berjajar dengan para pegawai yang lain untuk menyambut CEO baru Winston Corp yang merupakan keponakan dari Xavier. Semua pegawai diharuskan untuk menyambut kedatangan Mr. Winston Jr. dengan datang lebih awal.

"Aku benar-benar tidak sabar melihat ketampanannya." Emma menyenggol lengan Samantha dan berbisik pelan.

Samantha terdiam lalu menyunggingkan senyum kecil. "Apa dia memang benar setampan yang kau duga?"

"Tentu." jawab Emma yakin.

Lima belas menit kemudian, mobil Xavier memasuki halaman parkir Winston Corp dan berhenti tepat didepan pintu lobi utama. Muka-muka penasaran para pegawai segera celingukan mencari sosok yang dimaksud. Tapi kemudian langsung pandangan mengarah kedepan begitu pintu mobil terbuka.

Pandangan yang biasanya selalu terfokus pada Xavier, kini beralih pada sosok Nicholas. Xavier seolah kehilangan pesonanya ketika bersanding dengan Nicholas.

Nicholas Winston melangkah dengan mantap tapi tidak dengan hatinya yang bergemuruh tak tentu. Seperti biasa, sosoknya selalu menjadi pusat perhatian dimanapun dirinya berada. Cukup berada pada jarak yang jauh, dia melihat gadisnya. Samantha memakai baju kerja yang begitu pas dibadan kecilnya. Sungguh gadisnya telah berubah menjadi wanita dewasa.

Pandangannya terpaku pada Samantha meski langkahnya tidak. Begitu sampai didepan Samantha, langkahnya secara otomatis terhenti. Sementara yang dipandang tak juga menatap pada yang memandang. Sampai akhirnya pandangan keduanya kembali bertemu setelah enam tahun tak bertemu.

Pupil mata Samantha membelalak kaget begitu melihat sosok yang tidak asing baginya.

"Long time no see." ucap Nicholas dengan seringai usilnya lalu kemudian mengikuti Xavier dari belakang.

Emma menarik lengan Samantha. "Apa kalian saling mengenal?"

Samantha mengangguk kecil.

"Bagaimana bisa?"

"Dulu kami berteman ketika bersekolah di universitas."

***

Samantha yakin betul bahwa sosok pria itu adalah Nicholas, temannya semasa kuliah. Tapi bagaimana mungkin jika Nicholas adalah keponakan dari Xavier Winston? Nicholas tidak pernah menceritakan dengan detail mengenai keluarganya. Samantha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal ketika dia berusaha mengingat-ingat nama belakang Nicholas. Tapi buntu, dia tidak mengingatnya sama sekali.

"Bagaimana bisa kau tidak mengingat nama belakangnya? Kau bilang kalian berteman baik." Emma menyenggol lengan Samantha ketika Samantha hendak memasuki lift menuju lantai 12 tempatnya bekerja.

"Entahlah. Aku juga heran kenapa aku tidak mengingat nama belakangnya sama sekali." jawab Samantha putus asa.

"Kalian sedekat apa? Apa kalian pernah berpacaran?" tanya Emma penasaran.

Samantha membelalakkan matanya begitu mendengar pertanyaan Emma. "Tidak. Kami tidak pernah berpacaran seperti katamu itu. Kami hanya saling mengenal satu tahun kemudian dia pindah. Setelah dia pindah, aku sama sekali tidak kabarnya sama sekali." ucap Samantha sejujurnya.

Emma mengangguk-anggukkan kepalanya menerima informasi dari Samantha. "Ya... aku juga tidak tahu kalau Mr. Winston Jr. pernah bersekolah di Universitas Chicago. Kudengar dia bersekolah di Harvard."

Samantha menghela napas kecil. Puluhan kali dia berusaha menggali informasi dalam otaknya tentang Nicholas tapi tak banyak hal yang dia ingat tentang Nicholas. Bagaimana bisa dia melupakan Nicholas yang menjadi satu-satunya teman yang dimilikinya ketika kuliah. 

Ketika Samantha tiba dilantai kerjanya, dia melihat sosok Nicholas berada didepan meja kerjanya seperti mengamati banyak hal disana.

Samantha berdeham kecil supaya Nicholas berbalik memandangnya.

"Hai, little girl!" sapa Nicholas ceria.

"I'm not little girl anymore!"

Nicholas terkekeh. "Kau akan jadi little girl bagiku selamanya."

"Apa yang kau cari dimejaku?"

Nicholas menggeleng. "Aku hanya melihat seperti apa dirimu sekarang. Sepertinya tidak ada yang berubah dari enam tahun lalu. So, I still call you, little girl."

Samantha menyunggingkan senyum kecil. "Kau berhutang penjelasan padaku. Sangat banyak."

Nicholas tertawa kecil sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana panjangnya dan menyandarkan pinggulnya pada meja kerja Samantha. "Dengan senang hati aku akan membayar hutangku kapanpun dan dimanapun kau ingin aku menjelaskannya."

"Okay. I'll wait."

"Senang kau mau menungguku. Kukira kau bahkan melupakanku. Aku harus segera pergi. Bos kita sudah menungguku." Nicholas melambaikan tangannya pada Samantha lalu bergegas masuk kedalam ruangan Xavier.

Sementara Xavier telah memperhatikan cukup lama perbincangan Nicholas dan Samantha. Ada keingintahuan yang meliputinya ketika melihat interaksi keduanya.

Lamunan Xavier terpupus ketika melihat Nicholas memasuki kantornya. Keponakan tampannya itu berjalan dengan santai. Sekilas Xavier melihat urat kesedihan tersorot pada kedua mata legam Nicholas.

'Sepertinya dia baik-baik saja sebelum... bertemu dengan Samantha. Apa ada sesuatu diantara mereka?' kata Xavier dalam hatinya.

"Apa yang harus kulakukan sekarang, Uncle?" tanya Nicholas sambil menarik kursi berhadapan dengan Xavier dan mendudukinya.

Seketika Nicholas menyembunyikan sorot mata sedihnya. Xavier masih mengamati Nicholas dalam hatinya.

"Aku akan memperkenalkanmu secara resmi pada dewan direksi. Pertemuan akan dilakukan setengah jam lagi. Kau bisa mempersiapkan dirimu diruangan disebelahku. Kau akan bekerja dilantai yang sama denganku. Samantha akan menunjukkan ruanganmu padamu."

Sosok yang disebutkan dalam perbincangan keduanya masuk kedalam ruang kerja Xavier sambil membawa segelas kopi seperti biasanya. Samantha meletakkan kopi untuk Xavier tepat didepan Xavier. Aroma kopi yang harum langsung menyerbu keseluruh ruangan.

"Kau tidak membuatkan untukku?" Nicholas memberengut kesal.

"Saya akan..."

"Samantha selalu membuatkan kopi untukku ketika pagi hari. Dia barista wanita yang paling hebat yang pernah kutemui. Kau bisa memintanya untuk membuatkanmu kopi yang menyegarkan tiap pagi." Xavier memotong kata-kata Samantha.

"Saya akan membuatkan Anda kopi, Mr. Winston Jr. jika Anda menginginkannya." lanjut Samantha formal. Meski Nicholas adalah teman baikknya dulu, sekarang Nicholas adalah atasannya. Sebisa mungkin dia harus memperlakukan Nicholas seperti dia memperlakukan Xavier.

Nicholas tertawa kecil kemudian cukup kencang melihat sikap Samantha barusan. Xavier mengeritkan keningnya kebingungan begitu pula dengan Samantha.

"Apa ada yang salah dengan ucapan saya barusan? Kalau ada yang salah saya minta maaf."

Nicholas menghentikan tawanya, lalu membalikkan badannya untuk secara langsung menatap gadis pujaan hatinya. "Kau bisa bersikap seperti dulu padaku. Jangan seformal ini. Kau membuatku tertawa. Jangan kau perlakukan aku seperti kau memperlakukan pamanku."

"Apa maksudmu?" tanya Xavier kebingungan.

"Aku akan menceritakan semuanya nanti, Paman. Aku ingin menikmati kopiku dulu di pagi yang cerah ini. Ayo, Samantha tunjukkan ruanganku dan buatkan kopi untukku."

Nicholas bangkit dari tempatnya berdiri dan meminta Samantha berjalan mendahuluinya. Xavier hanya memandangi keduanya dari jauh. Dia memang tidak mengenal dengan baik keponakannya tapi dia yakin ada sesuatu antara Nicholas dan Samantha yang telah terjadi di masa lalu.




Continue Reading

You'll Also Like

911 75 13
Mengapa rasa itu harus datang? Semuanya hanya izin untuk melewati raga dan jiwa yang kosong. Membuat kebahagiaan sementara dan rasa sakit yang membek...
3.4M 123K 34
"Jadi cewek badass itu bukan pilihan, tapi keharusan-apalagi kalau hidup lo tiba-tiba jadi karakter paling sial di novel orang lain!" "Cewek tangguh...
33.4K 3.2K 49
⚠️YANG PLAGIAT DOSA Bagaimana jadinya jika Caramel mempunyai gebetan yang merupakan kakak kelasnya. Namun, yang mengaguminya justru adik dari gebetan...
6.2K 237 70
[ 𝑬𝒏𝒅 ] Seorang gadis yang menghadapi kenyataan pahit sejak terungkapnya kebenaran yang membuat kehidupannya berubah. Kepedulian orang terdekatny...
Wattpad App - Unlock exclusive features