Pulang sekolah ini Aksa mengikuti mobil yang Mona kendarai. Di temani Karel, Aksa menguntit Mona. Tadinya Raka juga ingin ikut dengannya, tapi tiba-tiba Gebi menelpon dan menyuruh Raka menemaninya membeli Novel di Grenmedia.
Mobil yang Mona kendarai berhenti di depan rumahnya. Aksa mengerutkan keningnya, bingung. Jadi Mona kalau pulang sekolah langsung pulang, gak nongkrong kayak ABG Zaman sekarang?
Aksa ikut masuk kedalam perkarangan rumah Mona. Membuat Mona merasa bingung sendiri.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Mona, jutek. Dia berdiri di depan Aksa dengan angkuh.
"Salah kalau aku mau main ke rumah pacar aku sendiri?" Sontak pertanyaan Aksa mampu membuat pipi Mona bersemu merah.
"Oh, aku kira kamu lupa kalau kita pacaran." Sinis Mona, dia berjalan masuk kedalam rumahnya dengan di ikuti oleh Karel dan Aksa di belakangnya.
"Kalian mau minum apa?" Tanya Mona, dia berdiri di depan Aksa dan Karel.
"Minuman rasa cinta ada, Mon?" Karel bertanya kepada Mona dengan tatapan menggoda.
"Gue culek mata lo kalau berani natap Mona kayak gitu." Ancam Aksa, sontak langsung membuat Karel tertawa keras. Menertawakan kecemburuan Aksa.
"Bikinin gue minuman rasa cemburu tanpa mengakui, Mon. Biar orang di samping gue sadar, kalau dia mencintai cewek yang sekaran sudah menjadi kekasihnya." Mona dan Aksa tidak bodoh untuk mengartikan sindiran yang Karel berikan kepada mereka berdua.
"Tunggu sini, biar gue bikinin kalian minuman." Putus Mona, akhirnya.
"Kok kita di suruh tunggu sini, tunggu di hati lo gak boleh?" Kerlingan mata yang Karel berikan kepada Mona langsung di balas injakan kaki oleh Aksa.
Mona hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat kedua kakak kelasnya yang bertengkar di ruang tamu rumahnya.
"Mata lo gak usah jelalatan, gebetan gue itu." Desis Aksa, tajam. Namun tidak Karel perdulikan.
Mona berjalan menghampiri mereka berdua dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan.
"Ngapain berdiri disitu? Duduk. Dan lo Rel, pergi sana." Usir Aksa, yang dituruti Karel tanpa bantahan.
"Awas kebelabasan. SMA udah gendong bocah nanti." Mona yang mendengar ucapan Karel langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Nyari mati lo?!" Geram Aksa. Karel tertawa sambil keluar dari dalam rumah Mona. Sepeninggalnya Karel, suasana di dalam rumah Mona menjadi sepi. Aksa dan Mona saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Pinjam heandpone kamu." Pinta Aksa tiba-tiba.
"Buat apa?" Tanya Mona, tapi tetap memberikan heandponenya kepada Aksa.
"Nanti kamu juga tahu." Aksa sibuk mengetik sesuatu di layar pipih milik Mona. Kemudian dia kembali menyodorkan beda pipih itu kepada Mona.
"Aku udah save No aku di heandpone kamu. Biat kamu lebih gampang hubungi aku nanti." Aksa tersenyum lembut kepada Mona. Membuat cewek itu nyaman.
"Jangan pergi, jangan pernah berpaling dari aku." Mona memeluk Aksa sangat erat, mengikis jarak diantara mereka berdua.
🔹🔹🔹
Malam ini Aksa sedang berada di area balap, Sirkuit. Aksa di temani Raka dan juga Karel. Di depan Bima dan teman-temannya, Aksa berdiri dengan angkuh.
"Lawan tidak akan pernah jadi teman." Bima menarik sudut bibirnya keatas, dia menyugar rambut miliknya ke kebelakang.
"Bukannya gue udah bilang, Chindy meninggal itu karena lo. Coba dulu lo gak ngelakuin hal konyol kayak gitu, semuanya tidak akan pernah seperti ini." Aksa menyalahkan Bima atas kematian Chindy, kekasihnya.
"Kalau lo tidak mencoba membawa kabur dia dan menjadi sok pahlawan di depannya, mungkin sekarang dia masih bersamaku." Kedua cowok itu saling menyalahkan. Ego mereka terlalu tinggi untuk sekedar mengalah dan menerima semuanya.
"Apa selama ini dia nyaman sama lo, Bim? Apa dia suka sama lo? Tidak!! Lo itu sudah dia anggap sebagai kakaknya, gak lebih!!" Sinis Aksa. Bima yang tidak terima dengan perkataan Aksa, langsung menonjok perut cowok itu.
"Bajingan!! Bangsat lo!!" Aksa membalas perlakuan Bima dengan menonjok rahang cowok itu. Terjadilah pertengkaran diantara mereka berdua. Tidak hanya mereka berdua, tapi perkelahian itu melibatkan banyak orang.
🔹🔹🔹
Aksa berjalan mengendap-endap masuk kedalam rumahnya. Dia membawa kunci cadangan rumahnya, motornya tadi dia dorong agar tidak menimbulkan suara bising.
Tapi baru saja kakinya menginjak satu anak tangga, satu-persatu lampu rumahnya menyala, membuat Aksa menghentikan langkahnya.
"Bagus jam segini baru pulang! Terus apalagi itu? Wajah kamu lebam-lebam semua. Papa memberi kamu kebebasan bermain, bukan bertengkar. Kalau pergi ingat waktu, kamu itu...."
"Kalau pergi ingat waktu, aku ingat waktu. Menurut aku ini masih biasa untuk anak remaja cowok berada di luar." Potong Aksa, santai.
"Biasa? Ini jam 00.00 dini hari Aksa Leonald!!" Geram Danil. Ingin sekali dia mencekik leher putra keduanya sekarang juga.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Nenek Era menuruni tangga dengan langkah pelan. Dia bertanya kepada Danil dan Aksa yang sedang saling tatap tajam.
"Ini sudah larut malam, tapi cucu kesayangan mama baru pulang main. Apa aku harus diam saja?! Apa kata orang di luar sana? Keluarga kita keluarga terpandang, Ma." Geram Danil, frustasi. Aksa berdecih tidak suka.
"Mendengarkan omongan orang tidak ada habisnya. Ini hidupku, sejak kapan papa perduli tentang aku? Kalau soal keluarga yang terpandang, buang saja marga nama kalian dari belakang namaku. Aku tidak butuh itu." Aksa berjalan menaiki tangga, rasanya tubuhnya sangat lelah. Dia malas mendengar ocehan tidak bermutu milik papanya.
"Jangan kamu berbuat tidak adil kepada Aksa. Aksa maupun Arga itu sama Nil. Jangan membeda-bedakan mereka. Kamu kira mama tidak tahu kelakuan kamu sama Intan? Kamu selalu menyalahkan Aksa di setiap masalah sepele yang dia perbuat. Tapi kamu tidak pernah menyalahkan Arga di setiap masalah yang dia buat." Nenek Era menasehati putranya agar berbuat adil kepada kedua cucunya.
"Tapi Arga tidak pernah membuat masalah seperti Aksa, Ma." Bela Danil.
"Yakin? Bukankah waktu kecelakaan itu Arga yang mengendarai mobilnya?" Sontak pernyataan nenek Era mampu membungkam mulut Danil.
"Tapi..."
"Jangan kamu gunakan masalalu kamu untuk membenci Aksa, darah daging kamu sendiri." Potong nenek Era.
🔹🔹🔹
Pagi ini suasaa di meja makan sangat panas. Aksa memakan nasi gorengnya dengan cepat.
"Arga, mau nambah lagi sayang?" Itu suara Intan, suara yang membuat Aksa muak. Hanya Arga yang mereka perhatikan, dirinya mana pernah.
"Cukup Ma, aku udah kenyang." Tolak Arga, lembut.
Nenek Era mengusap pundak Aksa, dia tersenyum kepada cucu keduanya.
"Mau nambah nasinya sayang?" Tanya nenek Era, lembut.
"Tidak, nek. Aku berangkat sekolah dulu," Aksa mencium tangan neneknya, kemudian dia langsung keluar rumah tanpa mencium telapak tangan kedua orang tuanya.
"Dasar anak tidak sopan." Desis Intan.
"Bukannya kamu yang mengajari dia seperti itu? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika kalian tidak pernah memberi dia kasih sayang, maka jangan mengharapkan sesuatu darinya." Nenek Era berjalan menaiki tangga. Dia membiarkan Danil dan Intan menahan amarah.
"Aku berangkat dulu Ma, Pa," Pamit Arga, dia mencium kedua telapak tangan kedua orang tuanya.
"Iya nak, hati-hati." Pesan Intan.