Kami Sahabat Sejati [COMPLETE...

By Hanyfazhr

16.9K 2.8K 410

"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina... More

Prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
END
Epilog
KAMI SAHABAT SEJATI 2

Chapter 30

169 42 2
By Hanyfazhr

What the hell!

Mengapa Felina dianggap keturunan tikus oleh Luna?Cobalah berpikir jernih. Sudah jelas dilihat menggunakan mata bahwa Felina ini manusia. Lalu disini siapa yang harus disalahkan. Fahri yang muncul tiba-tiba ataukah Luna yang menganggapnya keturunan tikus? Jujur Felina menjadi kesal dengan keduanya.

"Manusiaaaa.... Luna! Lo jangan ngomong macem-macem. Diem aja, oke." Mohon Felina dengan penuh harap agar Luna tidak berisik lagi. Lalu tatapannya beralih kepada Ajeng dan Alfia tetap tenang namun wajahnya terlihat bingung, tidak takut dengan tikus. Tapi kalau Hany sepertinya mengejar Gifta yang ingin pulang.

Kemudian Felina menatap Fahri kesal. "Bang Fahri, ngapain lempar tikus ke atas kasur?! Udah tau disini ada sahabat gue?" Tanyanya tak santai. Ia sangat mengetahui abangnya yang jahilnya kelewatan melempar tikus mainan, bukan tikus asli. Jika tikus asli, Felina pasti yang pingsan duluan.

"Dia siapa, Fel?" Tanya Ajeng.

"Diem! Lo jangan ngomong dulu!" Bentak Felina tanpa disadari karena tatapannya yang super galak masih fokus mengarah ke Fahri.

Fahri mengambil tikus mainan kesayangannya yang terpental jatuh ke lantai. Barang yang kesayangan inilah yang sering berhasil mengagetkan orang-orang. "Yaelah, sahabat Lo aja kali dek yang terlalu lebay. Masa sama tikus mainan aja langsung jerit-jerit." Ucapnya enteng lalu berjalan hendak keluar pintu. Fahri tak peduli, yang penting misinya kali ini tidak gagal.

Luna keluar dari tempat persembunyiannya. "Oh itu---"

"Stop! Lo gak usah ngomong!" Bentak Felina lagi. Kemudian Luna menutup mulutnya dengan telapak tangan, takut keceplosan. Mulai detik ini Luna tidak akan berbicara lagi, kecuali Felina yang menyuruhnya.

"Ayo Gifta gak usah takut. Cuman tikus mainan doang kok."

"Iyaa iya."

Suara Hany dan Gifta sangat jelas terdengar dan betul saja keduanya ini memasuki kamar Felina bersamaan dengan Fahri yang ingin keluar. Hany melepas genggamannya pada pergelangan tangan Gift dan menatap Fahri tak percaya. "Kak Fahri?" Kejutnya. "Kapan pulang ke Indonesia?" Tanyanya.

"Tadi pagi, Han. Jam 9 pagi." Jawab Fahri yang sudah sangat mengenal Hany.

"Berarti alasan Felina gak sekolah untuk jemput Kak Fahri?"

"Iya, Hany." Jawab Fahri, lalu segera bergegas pergi dari situ meninggalkan jejak kekesalan pada Felina dan kebingungan pada Ajeng, Alfia, Gifta dan Luna yang tercetak jelas di wajah mereka.

Gifta terduduk dipinggir kasur diikuti oleh Hany. "Abang Lo, Fel?"

"Iya." Jawab Felina.

"Masih kelas delapan ya?" Tanya Ajeng bergantian.

"Iya." Jawab Felina mengulang kembali perkataannya.

"Kenapa gue gak pernah lihat di sekolah? Apa Abang Lo sekelohnya bukan di SMP Winanta?" Tanya Alfia. "Terus samaaa---"

"Iya." Jawab Felina, kali ini tidak nyambung dengan pertanyaan.

Lama-lama mendengar jawaban 'Iya' yang berulang kali disebut oleh Felina, Gifta menjadi ikutan kesal. "Lo boleh kesel sama kita! Tapi jangan jawab iya terus dong!"

"Iya-iya, maaf." Ucap Felina merasa bersalah. "Abang gue sama kok sekolahnya di SMP Winanta. Dia ikut pertukaran pelajar ke Singapura sejak kelas 7 semester dua. Sebenarnya selama enam bulan, tapi karena diperpanjang jadi tujuh bulan." Jelasnya sedetail mungkin.

"Wahhh enak banget. Semoga aja tahun ini ada pertukaran pelajar dan semoga gue yang salah satunya terpilih." Ucap Ajeng berharap. Ia jadi membayangkan betapa enaknya berkunjung ke luar negeri karena dari kecil Ajeng tidak pernah diajak ke luar negeri. Apalagi dapat berbicara bahasa Inggris dengan fasih. Wow! Itu sungguh harapannya terbesar. Dengan begitu, salah satu harapannya tercapai.

"Aamiin." Balas Hany.

"Ngomong-ngomong gue masih penasaran deh sama orang asing yang sembunyi di taman Bintara." Ucap Alfia kembali menyadarkan semuanya.

"Jangan kegeeran. Kali aja itu anak kecil main petak umpet." Luna mengulang kembali kalimatnya.

"Gak mungkin!" Jawab Gifta.

"Kenapa Lo bisa yakin banget sih, Gif?" Tanya Felina yang tidak melihat sama sekali orang yang bersembunyi di Taman tersebut. Lagian pandangannya tidak fokus kesana.

"Nih ya, gue yakin banget! Hany sebutin gumaman dia!" Pinta Gifta.

Hany bukannya menjawab, ia justru bingung.

"Jangan bilang kalo Hany...." Ajeng sengaja menggantungkan kalimatnya.

"LUPA!" Tambah Felina dan Alfia. Sementara Luna masih terdiam. Jarang-jarang lho, Luna mau nurut langsung diam.

"Hehehe, iyaa." Jawab Hany cengengesan.

Semuanya langsung pingsan di tempat, namun itu hanya kepura-puraan. Disaat begini, Hany justru tidak mengingat sedikit pun perkataan orang tersebut. Mau bagaimana lagi? Kalau Hany sudah lupa, jadi mereka ikutan lupa dengan tikus mainan milik Fahri.

***

Keesokan harinya, sepulang dari Sekolah setelah mengikuti ekstrakulikuler menari, Alfia pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Sudah lama sekali, ia tidak pernah melewati arah jalan ini, jalan yang lumayan kecil yang hanya bisa dilewati oleh pengendara motor dan pejalan kaki.

Berangkat ke Sekolah, tadi Alfia menggunakan angkutan umum. Ekstrakulikuler di hari pertama ini memang belum terlalu berat, melainkan baru melakukan perkenalan terlebih dahulu. Alfia memilih menari karena hanya itu satu-satunya yang paling ia gemari.

Alfia berjalan di pinggir, ia menatap sepatu sekolahnya yang menapak tanah. Oh iya, sekarang Alfia memakai baju olahraga sesuaikan dengan peraturan Sekolah yang telah ditentukan jika belum mempunyai baju khusus ekstrakulikuler.

Dari kejauhan mulai terlihat Supermarket di seberang jalan raya. Tiba-tiba ia menjadi haus, ingin meminum sebuah minuman dingin. Alfia memutuskan untuk Supermarket itu. Setelah menyebrang jalanan yang besar, Alfia sampai di depan Supermarket tersebut.

Namun ketika ia ingin membuka pintu, ia menghentikan langkahnya ketika melihat sosok yang amat sangat ia kenal. Orang itu tampaknya tengah berbicara dengan mbak-mbak kasir, Alfia melihat dia tengah menyemprotkan antiseptik ke tangannya.

Alfia sembunyi di balik tembok. "Kenapa dia harus balik lagi ke Indonesia?" Tanyanya sambil memerhatikan orang itu.

"Mau apa lagi dia kesini? Apakah yang dia inginkan belum tergapai?" Tanyanya.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahu Alfia, reflek ia berteriak, "BUNDA!" Selanjutnya mulut Alfia yang ditutupi dengan satu tangan lagi membuat ia panik.

"Shtt! Jangan teriak-teriak. Malu-maluin aja tau." Suara ini sangat dikenali. Alfia meyakini bahwa suara ini milik Felina. Tapi sejak kapan Felina berada di tempat ini bersamaan dengan Hany.

"Kamu ngapain diem disini?" Tanya Hany.

Setelah Felina membungkam mulut Alfia, akhirnya dilepas juga dan dengan hati-hati ia menjawab, "Gak kok---gak diem. Sebenarnya mau masuk, tapi kok pintunya gak kebuka pas gue dorong." Alfia beralasan.

"Dorong?" Heran Hany. "Pantesan pintunya gak kebuka, tulisannya kan disuruh tarik." Ia mengecek tulisan di pintu tersebut.

Alfia gelagapan. "Ma-ta gue kayaknya lagi ngantuk, makanya salah baca. Yaudah gue masuk dulu." Ia langsung terburu-buru masuk, setelah orang itu telah keluar dari Supermarket.

Felina menatap Alfia heran. "Kelihatannya Alfia tadi aneh banget."

"Kira-kira dia kenapa ya?" Tanya Hany.

Melihat tingkah Alfia yang gelagapan, Felina dan Hany merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alfia.

Tbc

29 April 2020

Continue Reading

You'll Also Like

633 96 20
Lauren dan Sam bukan kisah yang keras-keras jatuh cinta-mereka tumbuh pelan, dari tatapan singkat, senyum kecil, hingga diam yang saling mengerti. Di...
2.1K 279 46
Aiska Vania rela pindah dan tinggal bersama seseorang yang ia benci, ayah sambungnya, demi satu sekolah dengan sahabatnya--Rilan Aryandi--yang dulu p...
DOUBLE SARA By hi

Teen Fiction

6.3K 1.2K 27
(Follow sebelum baca plagiat itu gak bakal maju!!) Sara Aleza Geordio cewek manis yang duduk di sekolah SMA Putri Merpati yang masih duduk di kelas 1...
6.7K 1.9K 68
(Sequel of Kami Sahabat Sejati) Semuanya nampak berubah. Sudah berbulan-bulan bahkan hampir mau dua tahun Alfia tidak kembali ke tanah kelahirannya...
Wattpad App - Unlock exclusive features