No Good at Goodbye

By nayakang

144 9 1

Malaikat tak selalu bersayap, Mereka tak selalu bercahaya. Mereka bahkan bisa kau temukan di tempat yang tak... More

2. The Reason
3. Latihan

1. First Impresion

83 4 0
By nayakang


Dentuman music, gemerlap lampu dan segelas bir. Pelampiasan paling sempurna untuk 4 laki-laki ini setelah konser tour mereka. Club ini memang sudah menjadi langganan mereka, bahkan pemiliknya bisa dibilang member kelima mereka saking akrabnya.

"Ryu-kun. Ruang nomer 6 minta 2 botol wine" Seorang gadis meminta bartender bernama Ryu itu untuk mengambil 2 botol wine yang ada di belakang pantry.

Sontak ke empat laki-laki yang sedang nongkrong didepan pantry ini menoleh kepada gadis itu.

"Wah.. siapa gadis cantik ini?" Tanya Taka pada gadis itu, laki-laki yang duduknya paling dekat dengan posisi gadis itu.

Gadis itu tampak gugup di tatap 4 orang yang menyeramkan. Semenjak bekerja di tempat ini, ia sudah bertemu banyak laki-laki yang menakutkan, bahkan yang bertampang polos pun akan menakutkan saat menggodanya. Terlebih penampilan empat orang ini cukup membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, rambut di cat dan lengan penuh dengan tattoo.

Begitu Ryu-kun menaruh 2 botol pesanannya tadi, ia langsung membungkuk pada mereka alih-alih menjawab pertanyaan Taka. Ia menyambar botol-botol itu lalu meluncur bergitu saja ke ruangan pelanggannya.

"Tipe pemalu ya, tidak seru" gumam Taka setelah ia diacuhkan.

"Ryu-kun kau pintar sekali menemukan gadis cantik" Sahut Ryouta pada Ryu yang kembali meracik minuman.

"Dia host baru disini?" Tanya Tomoya.

"Sembarangan, kau tidak lihat seragam yang dia pakai?" Jawab Ryu. Gadis itu memang menggunakan seragam yang sama dengan Ryu. Kemeja dan celana jeans dipadukan apron dengan logo club ini. Tidak ada unsur sexynya sama sekali, tapi wajah gadis itu memang terlalu cantik untuk sekedar jadi pelayan.

"Cantik juga" Sahut Toru.

"Sayang sekali, jika dia jadi host disini pasti akan laris sekali." Ryouta menambahkan.

"Aku sudah menawarinya saat dia melamar disini. Tapi dia menolak." Balas Ryu. "Lagi pula aku tidak mau memaksanya."

---

Hana memijat lehernya, ini sudah jam 3 pagi dan club masih saja ramai. Jam kerjanya akan berakhir 2 jam lagi. Membasuh wajanya untuk menyegarkan kembali matanya yang terserang kantuk.

Ia memandang wajahnya sekali lagi di cermin. Matanya yang sendu dan rambut yang sedikit acak-acakan karena berlari kesana-sini saat melayani pelanggan. Belum lagi kalau ada pelanggan yang mabuk dan mencoba melakukan hal yang tidak-tidak padanya.

Bekerja di tempat ini mungkin melelahkan hati, pikiran dan fisiknya. Tapi ini satu-satunya pekerjaan tengah malah yang bayarannya cukup tinggi selain menjadi wanita malam dan sejenisnya.

Hana keluar dari toilet dan disambut sepasang muda-mudi yang sedang berciuman mesra diujung lorong. Ini hal yang sudah biasa ia lihat semejak bekerja 2 minggu yang lalu. Tapi yang mengagetkannya si pria itu adalah laki-laki yang mencoba menyapanya dengan cara tidak sopan tadi. Pria dengan banyak tattoo di lengannya. Hana mencoba mengacuhkannya, ia berjalan melewati mereka. Tapi entah mengapa ia menangkap tatapan mata laki-laki itu, kepadanya. Dengan tatapan tajam, dan ciuman yang semakin dalam.

Hana kembali ke pantry, merapikan apapun yang bisa ia rapikan.

"Hana-chan" sahut Ryu. "Kau ingat 4 orang yang duduk disini tadi?"

Hana mengiyakan sambil mengangguk. "4 orang yang menyeramkan tadi"

Ryu tertawa mendengar jawaban jujur Hana.

"Mereka orang yang sering kuceritakan."

Hana langsung terkejut. Pasalnya mereka adalah orang yang berharga untuk Ryu. dan ia sudah mengacuhkan mereka atau bisa dibilang tidak sopan terhadap mereka. Berarti mereka adalah teman Ryu yang merupakan band ternama ONE OK ROCK. Pantas saja ia merasa familiar dengan beberapa wajah mereka, terutama si lelaki pencium wanita di toilet tadi.

"Saat mereka datang, dan aku sedang tidak ada. Tolong layani mereka dengan baik ya." Pesannya.

"Baik.. maafkan aku tidak tau kalau mereka teman Ryu-kun"

"Tak apa, mereka tidak akan mempermasalahkannya. Mereka tidak semenakutkan kelihatannya, sebenarnya mereka sangat baik."

Begitulah hubungan baik Ryu dan 4 laki-laki itu, sepertinya mereka sedekat itu hingga setiap malam mendatangi club. Dan selalu menyempatkan bercanda gurau bersama Ryu sebelum mereka bubar dengan aktivitas malamnya sendiri.


---

Toru berdiri didepan sebuah toko pakaian bermerek. ia baru saja membeli gitar baru dari toko alat music disebelah toko pakaian itu. Sekalian jalan, ia pikir ada baiknya mampir ke butik ini untuk melihat-lihat.

Ia langsung menuju ke lantai dua, tempat baju laki-lagi berada.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan wanita mendekatinya.

Toru baru saja akan bicara, tapi tertahan. Ia memandang pelayan wanita itu. Dan si pelayang wanita juga cukup kaget memandang Toru.

"Kau.." belum sempat Toru menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya telah di bungkam oleh wanita itu. Ia terhuyung mundur hingga tas guitar di punggunya menabrak tembok.

Hampir tidak ada jarak diantara mereka. Toru cukup kaget dan entah mengapa dadanya sedikit bergetar saat ia menatap mata bening gadis yang lebih pendek darinya itu.

"Ikut aku" setelah memastikan Toru tak bersuara, gadis itu menarik Toru ke tempat yang sepi dan tertutup, setidaknya jauh dari teman-teman kerjanya.

"Kau Hana-chan kan? kau bekerja disini?" Tanya Toru pelan.

Hana mengangguk. "Tolong jangan katakan pada siapapun, termasuk Ryu-kun."

"Kenapa?"

"Ceritanya agak rumit, tapi bisakah kau tolong aku? Tolong sekali ini saja."

Toru tak keberatan dengan permintaan Hana, ia bukan tipe orang yang suka membicarakan privasi orang lain kepada teman-temannya. Tapi ia penasaran dengan dengan gadis ini, dan ia ingin tahu jawabannya. "Kalau begitu traktir aku makan siang lain kali."

Hana berpikir sejenak. Bukannya dia kaya raya, kenapa minta traktir pada pelayan yang banting tulang seperti ini. Pikirnya

"Kau tidak mau?" Tanya Toru memastikan. Karena Hana terlalu lama memberi jawaban.

"Oke"

Toru tersenyum puas mendengar jawaban Hana. Ada sedikit rasa senang karena ia punya kesempatan untuk dekat dengan gadis itu. Meskipun hampir setiap malam ia bertemu dengan Hana dan juga sudah saling menyapa. Tapi Hana seperti menutup diri, atau lebih tepatnya membuat batas dengan siapapun di sana.

---

Hana melirik jam tangannya, sudah jam 1 malam tapi ia tidak melihat batang hidung empat orang yang biasanya duduk di depan Ryu. bahkan satu orangpun.

Bukannya Hana mengharapkan kehadiran mereka. Tapi terbiasa mendengarkan kehebohan mereka membuat kursi itu terasa kosong saat mereka tak ada.

"Mereka ada tour ke Osaka hari ini." Ryu tiba-tiba memnulai pembicaraan seakan tahu isi pikiran Hana.

Hana reflek manggut-manggut sambil mengelap gelas. Lalu ia langsung tersadar. "Ryu-kun. Aku bahkan tidak bertanya"

"Terlihat jelas di wajahmu." Ryu terseyum "Oh iya, Toru menitipkan sesuatu untukmu." Ryu mengeluarkan sebuah tas kecil yang entah isinya apa.

"Untukku?" Hana tampak terkejut.

"Iya. Aku tidak tau itu isinya apaa." Ujar Ryu sambil senyum-senyum gemas. Padahal ia tahu persis isinya, sama seperti yang diberikan toru kepadanya. "Tapi yang jelas dia pesan padaku untuk memperlakukanmu dengan baik."

Seketika Hana merasa salah tingkah. Laki-laki itu bahkan membuatnya gugup saat dia tak ada disini.

"Tak kusangka kalian sedekat itu." Goda Ryu gemas.

"In... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak dekat dengan Toru-san" Hana gugup.

Ryu yang melihat tingkahnya tertawa, lalu mengacak-acak rambut kepala Hana dengan gemas.

Malam ini berlalu sebagaimana malam biasanya. Selalu melelahkan dan ada saja pelanggan yang menyebalkan. Hana menghela napas berat sebelum ia berganti pakaian di ruang ganti.

Ia lalu teringat dengan tas kecil pemberian dari Toru. ia megambil tas itu lalu membukanya. Hana cukup terkejut melihat isinya. Sebuah kotak berisi produk suplemen cair.

Hana terkekeh pelan. Setelah memergokinya bekerja di dua tempat, ia menyemangati Hana dengan sekotak suplemen cair yang sepertinya cukup mahal. Hana cukup terkesan, Laki-laki itu ternyata baik juga. Tidak semenyeramkan kesan pertamannya saat bertemu Toru dkk.



----

maafkan kalau masih ada typo

silahkan komen


Continue Reading

You'll Also Like

262K 26.4K 35
Veer Rajvansh x Dhriti Sharma Veer Rajvansh, a 29-year-old businessman known for his cold demeanor and intimidating presence, has a reputation as a...
252K 17.7K 55
ABHIMANYU RATHORE :- Rude , workaholic CEO of Rathore Empire .Devilesing hot , every girls drools over him .But loves his family to dearest . . SAKS...
592K 22.6K 53
Sit there and take it like a good girl You dirty dirty girl , i was talking about the book🌚🌝
671K 97K 37
Yaduvanshi Series #3 it is a book under yaduvanshi series. But it could be read as standalone too. Nitya Raghavendra is a telugu businesswoman earnin...