Sudah lima hari Adisty tinggal bersama Oma dan Opanya. Meskipun di awal dia merasa aneh namun lama-kelamaan dia merasa nyaman berada di rumah ini, apalagi pasangan tua itu memberinya perhatian lebih.
Seperti saat ini, Adisty yang tengah duduk di ruang makan sambil menyendok makanan buatan Ana, dia membalas pertanyaan dari Opanya.
"Kuliah? Adis malah nggak pengen kuliah Opa, maunya nikah wkwkwkwk. Canda Opa hehehe"
Wirawan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Opa kira beneran, padahal kalo iya mau nikah Opa bakal nikahin secepatnya hahaha."
"Hus! Oma nggak setuju. Adis sayang, masa depan kamu masih panjang. Emang kamu nggak punya cita-cita menjadi apa gitu yang buat kamu minat untuk kuliah?" Ana yang tengah mengelap piring basah itu bertanya.
Adisty menelan makanannya, "Ada Oma, jadi istri idaman eakss," Ana bersungut mendengar jawaban Adisty sedangkan Wirawan tergelak dengan keras.
"Tau gitu Opa nggak perlu perawatan wajah kalau kamu saja bisa buat Opa ketawa biar awet muda hahahaha." ucap Wirawan yang dibalas dengan wajah cengo Adisty.
"Opa perawatan? Serius? Pantes aja mukanya glowing-glowing gimanaaa gitu. Beda sama Adis yang kucel." cebik Adisty.
Kini Ana yang berganti tertawa keras, dia bahkan mengebutkan lap piringnya ke meja, "Kamu tau Dis, Opa mu itu tiap ke salon di sindir sama pegawai situ. Katanya gigi udah rompong aja begaya mau muka glowing."
Adisty benar-benar merasa makin hidup sekarang. Dia bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata Ana juga Wirawan meskipun mereka sekarang tengah menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda.
"Adis udah selesai makan nih, langsung mau ke kamar aja belajar. Malam semuaaa" Adisty langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya yang mana merupakan kamar ibunya dulu.
Ana dan Wirawan geleng-geleng kepala melihat tingkah Adisty.
"Dia mirip Amber, Mas. Tingkahnya benar-benar mirip." Wirawan mengangguk, dia menyetujui ucapan istrinya.
"Wajah manisnya pasti menurun dari Lay. Mas jadi ngerasa bersalah karena dulu tidak merestui mereka." Wirawan menunduk.
Ana mendekati suaminya dan memeluknya, "Semua yang sudah terjadi tidak perlu di sesali Mas. Ambil hikmahnya saja." Ana tersenyum manis kepada suaminya itu. Keduanya saling menyalurkan rasa cintanya melalui tatapan mata keduanya, hingga kegelapan membuat mereka terhenti.
"Mas kenapa lampunya mati? Apakah ada pemadaman lampu?" Tanya Ana panik, karena dia paranoid dengan gelap.
"Tenanglah Ana, Mas ada disini." Wirawan berdiri dan mencoba berjalan menuju ruang tengah untuk mencari lilin di almari dekat televisi.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka dari arah ruang tamu membuat Ana dan Wirawan berhenti melangkah seketika.
"Firasatku tidak enak, Ana. Sebaiknya kamu bersembunyi, cepat." Bisik Wirawan. Ana yang ketakutan itu mulai bergetar tetapi tak urung dia pun mencari tempat persembunyian.
Seketika lampu menyala.
Ana berhenti melangkah, sedangkan Wirawan berdiri kaku di tempatnya. Di depannya kini ada beberapa orang berpakaian serba hitam dan menodongkan senjata api kepadanya juga istrinya.
"M-mau apa kalian?" tanya Wirawan mencoba terlihat biasa.
"Membunuh mangsaku," seseorang muncul dari belakang salah satu pria berbadan tegap. Lelaki itu berjaket hitam tak lupa topi koboi nya yang dia kenakan di kepala.
"R-rusdi..." Kini Ana yang setengah terkejut menatap orang itu.
"Ya, ini aku. Ringkus mereka!"
- oOo -
Rangga berjalan menikmati hembusan angin malam yang membelai wajahnya dengan begitu senang. Dia senang karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan rakyat jelata, Adisty.
Dia tak membawa apa-apa di tangannya, karena di pikirannya pasti Adisty senang dengan kedatangannya meskipun tanpa membawa apa-apa.
Tadinya dia ingin membawa kendaraan, tetapi karena berhubung Dika tengah marah kepadanya, dia jadi malas ingin meminjam mobil. Jalan kaki yang dia pilih untuk pergi ke rumah Adisty.
Namun langkahnya terhenti kala dia akan memasuki gerbang kompleks perumahan karena ada anak lelaki berumur 9 tahunan kalau Rangga taksir tengah menghadangnya sambil tersenyum manis.
"Hai pemuda kecil, kenapa kau menghadangku?" tanya Rangga sambil menyamakan tingginya dengan anak itu.
"Om, aku tadi buat es krim di rumah. Dan aku ingin Om mencobanya, apa Om mau?" tanya anak itu sambil menyodorkan cup kecil es krim berasa coklat.
Kata Dika, aku tak boleh memakan makanan dingin, tapi bila aku menolak pasti akan menyakiti hati kecil anak ini...
"Baiklah, tapi satu suap saja ya? Om tidak terlalu suka es krim." Anak itu mengangguk girang.
Anak itu segera menyuap satu sendok kecil ke mulut Rangga. Perlahan Rangga menelan es krim itu. Tetapi tanpa di duga anak itu kembali menyuapkan sampai beberapa kali, membuat tubuh Rangga tiba-tiba bergetar hebat. Tubuhnya juga merasa panas, panas yang sangat menyiksa. Kepalanya terasa berputar-putar dan dihantam batu secara bersamaan.
"Arrrghhh..." Rangga terjatuh ke aspal sembari mencengkram erat kepalanya.
Anak itu sedikit ketakutan ketika melihat orang di depannya tiba-tiba seperti ini. Lalu tak lama wajah ketakutan itu hilang kala ada seorang lelaki yang datang menghampiri.
"Om, aku udah suruh dia makan es krim. Sekarang mana uang buat aku?" Lelaki itu tersenyum miring menatap Rangga yang berteriak kesakitan dan tangannya yang merogoh saku jaketnya.
"Ini dan pergilah anak kecil! Jangan muncul di hadapanku lagi, atau kamu akan mati." Melihat wajah garang itu, anak kecil itu langsung mengambil uang dan berlari dengan kencang.
Kini hanya tersisa Rangga dan lelaki itu. Rangga di sela-sela kesakitannya sempat melirik orang yang berdiri memandangnya.
"K-kau...Siapa kau? Be-beraninya... Arrghh"
"Hahahahaha terserah saja, ternyata lelaki kuno sepertimu kelemahannya mudah sekali. Selamat kehilangan kekuatanmu, sampai jumpa!" Lelaki itu berjalan meninggalkan Rangga.
Dengan sisa tenaga dan mencoba menepis rasa sakitnya, dia memejamkan matanya lalu mencoba mengirimkan telepati kepada Dika.
T-tolong aku... Juga Adisty dalam bahaya...
Setelah itu hanya kegelapan tak berujung yang menghampiri Rangga.
- oOo -
Sayup-sayup Adisty mendengar suara rintihan kesakitan di luar kamarnya, tepatnya di bawah. Dia mengangkat kepalanya dari meja belajarnya, ternyata dia ketiduran.
"Dimana anak itu?"
"Tidak akan ku beritau, dasar pembunuh! Arghh"
Adisty mengernyitkan keningnya kala mendengar suara samar-samar itu. Apa yang terjadi di bawah? Apakah Oma dan Opanya tengah menonton sinetron? Tapi bila sinetron kenapa suara rintihan itu mirip Opanya. Bahkan dari luar jendela dia juga mendengar ribut-ribut dari tetangga.
Dia melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa begitu ramai? Tak ingin bertanya-tanya dia pun segera keluar kamar.
"TIDAK ADISTY, JANGAN TURUN!"
Adisty yang sudah berada di tangga terkejut melihat Oma dan Opanya terluka bersimbah darah dan tak lupa dengan tangannya yang terikat. Di sekelilingnya ada beberapa orang berbaju hitam.
"KEMBALI KE KAMARMU ADIS, KUNCI PINT-"
Bugh
"OPAAA," Adisty berlari turun dengan cepat ketika melihat secara langsung Wirawan di pukul oleh lelaki berbaju hitam itu.
Tetapi sebelum Adisty sempat sampai, tangannya sudah di tahan oleh seseorang di belakangnya. Lekuk lutut kaki Adisty dipaksa untuk bertekuk lutut membuat cewek itu menjerit kesakitan karena kuatnya orang dibelakangnya menekuk kaki Adisty.
"SIAPA KALIAN? APA YANG KALIAN LAKUKAN? LEPASKAN OMA DAN OPAKU SIALAN!" Adisty berteriak kencang.
Lelaki yang sedari tadi duduk di sofa dengan topi koboinya berdiri, dia berjalan mendekati Adisty.
"JANGAN MENDEKATI CUCUKU BAJ-"
Dorr
"ARGHH..."
"OPAAA"
"MASS"
"Diamlah kalian! Atau kalian mau senasib dengan dia?" ancam lelaki itu.
Adisty menangis menahan takut sedangkan Ana sudah pingsan, namun dia mencoba untuk terlihat berani. Bahkan dia berani memberikan tatapan menantang kepada orang yang sudah menembak Opanya.
"APA MAU MU RUSDI BAJINGAN!"
Lelaki itu, Rusdi. Dia menampilkan wajah terkejut kala mendengar ucapan Adisty yang mengetahui siapa dirinya, tapi tak lama seringai muncul di wajahnya.
"Rupanya kamu sudah tau siapa aku, hm? Baiklah aku tidak mau bertele-tele Adisty, sekarang serahkan sertifikat tanah itu dan saat itu akan aku permudah nyawamu melayang." Rusdi menodongkan senjata api ke pelipis Adisty.
"Dasar tikus got! Punya orang masih aja ingin memiliki. Tidak tau malu. Serakah!"
Plakk
Adisty tertoleh ke samping dengan rasa keram, panas dan sakit di sudut bibirnya karena mendapat tamparan keras dari Rusdi.
"Berani sekali kamu mengejekku, kamu tidak tau apa-apa tentangku anak kecil! Sekarang berikan apa yang aku mau!"
"Baiklah, lepaskan aku dulu. Biar aku ambil sertifikat itu." Rusdi menyetujui itu, tak lama Adisty kembali dengan membawa sertifikat tanah miliknya itu.
"Silahkan ambil! Kalau perlu anda makan sekalian!" Adisty melempar sertifikat itu ke wajah Rusdi.
Plak
Lagi-lagi Adisty di tampar oleh Rusdi, membuat gadis itu terduduk lemas di lantai. Saat itu juga Rusdi menodongkan pistol di leher Adisty.
Terdengar di luar rumah suasana makin ramai oleh beberapa tetangga Wirawan dan Ana, tapi Rusdi tak peduli.
Saat Rusdi mulai menekan pistolnya, salah satu anak buahnya masuk ke dalam, "Bos gawat! Polisi di luar banyak sekali. Apa yang harus kita lakukan?"
Rusdi menoleh tajam, "Dasar bodoh! Tentu saja ancam, bilang kepada mereka kalau mereka berani menerobos masuk maka sandra akan mati saat ini juga." Anak buahnya mengangguk lalu kembali keluar.
Rusdi kembali menatap Adisty, "Bersiaplah nak untuk bertemu kedua orang tuamu."
BLAMM
Pintu ruang tamu tertutup kencang, dan lampu tiba-tiba mati. Angin kencang tiba-tiba datang dengan kencangnya membuat kaca-kaca jendela bergetar. Bahkan satu kompleks disitu pun lampunya mati semua. Rusdi mendapat laporan dari anak buahnya yang sempat memeriksa keadaan.
"Ada apa ini? Kenapa bisa ada badai seperti ini?" Rusdi panik bukan main, karena dirinya seperti ingin tertarik oleh angin kencang itu. Meskipun di dalam rumah tetapi angin itu begitu kencang sekali, bahkan perutnya seperti di hujami oleh pukulan keras.
Setitik cahaya putih terlihat dari atas tangga, semua orang yang berada di kelegapan itu pasti melihat, begitupun Adisty yang sudah lemas di lantai. Titik cahaya itu lama-lama membesar lalu membentuk sesosok lelaki bertubuh tegap dan berjalan mendekat.
Adisty dan Rusdi terkejut kala melihat siapa sosok bercahaya itu.
Dia Rangga.
Namun ada yang berbeda, Adisty dapat melihat kemarahan tercetak jelas di wajah tampan Rangga. Terlihat mengerikan menurutnya dan tak lupa Rangga yang melayang seperti terbang.
"SIAPA KAU BERANINYA MENYENTUH RAKYAT JELATAKU?"
Rusdi merinding kala mendengar suara Rangga yang menggelegar dan nampak berat. Tak lupa sarat membunuh terlihat dari wajah tampan itu ke arahnya.
"Kamu pikir aku takut denganmu, Pria kuno?" Rusdi tertawa menutupi rasa merinding di tubuhnya.
Rangga menggerakkan tangan kanan dan kirinya ke atas. Saat itu juga teriakan dari anak buah Rusdi terdengar. Rangga kembali menggerakkan tangannya ke depan.
BRAKK
"ARGHHH..."
Rusdi ternganga kala melihat semua anak buahnya terpental keluar rumah, bahkan pintu sudah jebol akibat hantaman keras dari tubuh anak buahnya.
Rusdi berniat untuk kabur, tetapi Rangga yang mengetahui hal itu kembali menggerakkan tangannya ke atas yang membuat tubuh Rusdi terangkat. Tetapi Rangga ingin sedikit bermain-main dengan lelaki ini. Dia membanting tubuh Rusdi berulang kali menimbulkan bunyi tulang yang remuk dan memilukan di telinga Adisty.
"Rangga, hentikan... Gue takut hiks..." lirih Adisty.
Rangga yang dikuasai oleh kemarahan itu menoleh ke arah Adisty yang terduduk lemas di lantai, dia segera menghempaskan tubuh Rusdi keluar rumah sedangkan dia langsung menghampiri Adisty.
Rangga merengkuh Adisty, "Kau tak apa? Tenanglah aku disini melindungimu. Aku datang untuk memenuhi janjiku untuk melindungimu..." Rangga memeluk sangat erat Adisty, begitu pula sebaliknya.
Tetapi Rangga tiba-tiba melepas pelukannya dan tanpa sengaja mendorong Adisty hingga terpental cukup jauh. Rangga kembali meraung kesakitan dari dalam tubuhnya.
"Rangga..." Panggil Adisty dalam setengah kesadarannya.
Sebelum kesadaran Adisty tertelan, dia sempat melihat lampu yang kembali menyala lalu beberapa polisi masuk dan berjalan menghampirinya, namun ada satu yang mengganjal.
Rangga menghilang, saat itu juga. Ketika lampu menyala.
———o———
Udah tegang apa BELUM? Kalo belum dibuat tegang aja yak, maklumlah aing ini ndak bisa buat adegan action yang keren kyk pilem holiwud gitu:(
Dan cerita ini sudah End, sekian terima kasih 😭
Sans elah, kgk kok. Masih ada lanjutannya. Di tunggu aja. Jangan lupa Vote dan komennya;(
Apresiasi kalian membantu membuatku semangat menulis.