The Curse of the Spider

By nectarx

415 45 38

Hwang Hyunjin, ksatria tingkat tinggi dari Kerajaan Baram harus diusir dan dikutuk karena kelalaiannya. Di bu... More

⬤⬤
⬤⬤⬤
⬤⬤⬤⬤
━
━⬤
━⬤⬤
━⬤⬤⬤
━⬤⬤⬤⬤
━━
━━⬤

⬤

106 8 6
By nectarx

Trap.. Trap.. Trap..

"Salam yang mulia."

"Duduk. Kau tahu siapa pembunuh Lee Taeyong?" tanya sang penguasa itu.

"Sa- saya, Yang Mulia Ratu Lee Eunbi," jawab pria itu penuh ketakutan.

"Mulai sekarang, jangan panggil aku ratumu lagi. Aku mengusirmu dari kerajaanku Hwang Hyunjin! Tak hanya itu, akan kusertakan kutukan yang dapat membunuhmu perlahan, kau akan mati dalam waktu satu tahun jika kau tak bisa mencari cintamu. Dan ingat! Kau hanya dapat mencintai satu orang. Jika orang itu tak mencintai mu, katakan selamat tinggal pada dunia.

Bertahun-tahun aku mempercayaimu, dan ini balasanmu? Terkutuklah kau Hwang Hyunjin!" ratu itu mengangkat tongkat kebesarannya dan membantingnya ke tanah.

Asap hitam menyeruak keluar dari bawah tongkat itu. Asap itu menari-nari di udara sebelum mendatangi Hyunjin yang sedang menangis memohon ampun.

Hyunjin yang melihat asap-asap itu kemudian mundur beberapa langkah. Namun asap tebal itu terus mendatanginya dan menyumbat pernafasannya. Matanya perih bukan main. Ia tercekat, tak bisa berbicara. Hanya bisa memohon dalam hati agar perasaan sakit ini tidak terasa lagi.

Dan benar, beberapa detik kemudian Hyunjin tak merasakan sakit. Asap itu pergi meninggalkan raga Hyunjin yang sudah tergeletak di lantai kerajaan.


Bumi, 20 Mei 20XX
"Lee Sera! Cepat sarapan!" seru wanita paruh baya dari ruang makan.

"Iya, Sebentar!"

Beberapa saat kemudian, Sera keluar dari kamarnya. Berjalan menuju meja makan kecil milik keluarganya.

"Akan aku ambilkan minummu."

"Terjadi kecelakaan kereta api jurusan Goesan-Seoul, hari ini pada pukul 03:20. Semua penumpang dan masinis kereta meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit terdekat. ....."

"Eo- eomma.."

Pyarrr

Gelas yang dibawa Yeri terjatuh begitu saja. Ia langsung terperosot sambil mengingat pesan dari suaminya kemarin malam.

Yeobo
Besok aku pulang! Subuh aku sudah berangkat agar bisa bertemu anakku sebelum ia berangkat.

Me

Iya, hati-hati ya. Saranghaee

Yeobo
Nae.. Nado saranghae!

"I-itu kereta Appa?" tanya Sera yang mengetahui soal kepulangan ayahnya.

"Iya.. Iya Sera, hiks! Itu kereta Appa mu," ucapnya semakin lemah.

"Eomma.. Tenang, aku tak mau sakit Eomma kambuh lagi.."

Namun seakan sia-sia. Sang ibu kehilangan kesadarannya tepat setelah Sera berhenti berbicara. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor ambulans melalui telepon rumahnya. Sera berdoa agar ibunya baik-baik saja. Beberapa belas menit kemudian suara mobil ambulans terdengar. Mereka mengangkat tubuh ringkih ibu Sera dan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Sera terus-menerus menangis dan merengek. Tak lupa ia kembali berdoa agar ibunya memperoleh kekuatan untuk hidup.

Sesampainya mereka di rumah sakit, Sera duduk dengan tatapan kosong. Melihat tembok putih bersih yang samar-samar terlihat rupa ibunya. Ia melihat ibunya memakai dress putih selutut dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai. Cantik, satu kata yang bisa melambangkannya sekarang. Yeri mendekati anak semata wayangnya. Diusapnya ujung kepala Sera yang masih setia melamun itu.

"Hiduplah dengan baik, nak. Buat Appa dan Eomma bangga ya? Kami menyayangimu Sera,"

Setelah itu Yeri pergi. Meninggalkan Sera sendirian di sana tanpa seseorang pun di sampingnya. Lamunan Sera buyar saat dokter yang menangani ibunya keluar dari ruangan.

"Keluarga Lee Yeri?"

"Saya dokter, bagaimana keadaannya? Eomma baik-baik saja kan?"

"Maafkan saya, Nyonya Yeri telah menghembuskan nafas terakhirnya satu menit yang lalu. Sera, kau harus tetap tegar ya. Kau harus jadi anak yang kuat, saya permisi."

Kuat? Sepertinya Sera tak yakin bisa kuat dalam menghadapi hidupnya sekarang. Siapa yang bisa bertahan saat kehilangan dua orang yang paling ia sayangi dalam waktu yang singkat?

Hari ini hari kremasi kedua orang tuanya. Sahabat-sahabat Sera, dan teman-teman orang tuanya telah berkumpul dan memulai acara pemakaman. Lee Sera yang sedari tadi menangis, semakin deras air matanya saat kedua peti indah itu dimasukkan kedalam tempat pembakaran. Sera tak kuat menahan ini semua. Kebahagiaannya sudah direnggut oleh Tuhan. Sera tak mau ditinggalkan sendirian. Sera ingin terus bersama ayah dan ibunya,Lee Yeri dan Lee Jaehyung. Ayolah, Sera belum sempat meminta maaf kepada orang tuanya. Sera sadar dosanya terlalu banyak. Dan sekarang, Sera hanya bisa memohon ampun didepan tempat pembakaran itu.

Ia melihat orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Mereka yang datang bersama kedua orang tuanya yang lengkap, seperti mengejek hidup Sera. Ia memperhatikan setiap langkah orang-orang itu sambil menunggu mereka pergi. Sekarang tinggallah ia dan dua sahabatnya.

"Yang tabah Sera, aku tahu kau anak yang kuat. Eomma dan Appa sudah bahagia di sana," ucap Park Yejin, sahabat Sera.

"Nae Yejin-ah. Yejin, Bomi, pulanglah, sudah sepi disini."

Bomi yang namanya disebut pun langsung membuka suara. "Hwaitting Sera! Kita pulang dulu ya. Kuatkan hatimu," pamitnya.

Setelah kedua sahabatnya itu pulang, Sera mengemasi barang-barangnya dan memberi salam kepada petugas di sana. Setelah itu Sera segera meninggalkan tempat itu sebelum ia mulai menangis mengingat orang tuanya. Tanpa tujuan, Sera berjalan dengan sedikit terseok. Ia menengok ke kanan, dilihatnya sebuah minimarket yang sering ia kunjungi bersama sang ibu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberang. Setelah dipastikan aman, Sera berjalan pelan menuju seberang jalan.

Ia memasuki minimarket dan berdiri di depan lemari pendingin sambil mencari sasarannya. Susu pisang kesukaannya. Setelah menemukannya, ia mengambilnya dan hendak berjalan menuju kasir. Namun sebuah benda kecil mengalihkan atensinya. Tanpa berpikir panjang, ia menyahut benda itu.

"Totalnya dua ribu won."

Sera pun membayar dengan uang pas dan langsung pergi. Melupakan tradisi mengatakan terima kasih yang tak pernah absen dari kalimatnya selama ini.

"Nak! Tunggu sebentar. Apa pun yang terjadi, jangan menolaknya. Ia adalah tujuan hidupmu yang baru. Jangan mengakhirinya sebelum ia datang ya?" ucap sang kasir.

Sera mengerutkan dahinya dan melanjutkan langkahnya. Tubuhnya terbawa begitu saja ke arah Sungai Han. Ia mendudukkan dirinya dan segera menyesap habis susu pisangnya. Ia menatap langit kemudian menatap kresek susu itu. Ada satu barang yang ia beli tadi. Ia membuka bungkus benda itu dan membuangnya asal. Ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia mulai mendekatkan benda kecilnya itu didekat pergelangan tangannya.

"Tuhan, maafkan aku. Aku sudah tak tahan."

Benda itu hanya berjarak beberapa senti dari tangannya, namun seorang lelaki merebut silet milik Sera, menggagalkan aksinya. Sera yang kaget langsung berdiri dan menampar lelaki bertubuh jangkung itu. Sera mengambil tas nya kasar dan pergi dari tempat itu.

Sudah sekitar lima menit Sera berjalan dari tempat itu, lima menit pula ia merasa seakan diikuti seseorang. Sera menoleh kebelakang tapi tak menemukan apapun. Sera mempercepat langkahnya sampai ada tangan dingin mencengkeram tangannya. Ia ketakutan dan tak berani membalikkan badannya. Namun orang itu menggoyang-goyangkan tangan Sera seakan menyuruh Sera berbalik badan. Sera yang takut juga penasaran itu akhirnya memberanikan dirinya.

Sera bersyukur itu hanya lelaki yang tadi merebut siletnya. Mungkin ia ingin mengembalikannya?

Terkaan Sera buyar saat wajah lelaki itu mulai berubah. Matanya berair, urat nya muncul ke permukaan, bibirnya menghitam, dan ada tanda seperti cekikan di lehernya. Sera ingin berteriak namun dengan cepat lelaki itu melompat kearahnya, seakan menabraknya. Sera kembali ingin berteriak saat ada segerombolan remaja lewat di sebrang jalan. Sera sudah berteriak namun mereka tak mendengarkannya. Seakan suaranya tertelan dalam ketakutannya.

Sera menghadap ke depan lagi dengan sangat takut. Lelaki yang telah menindihnya ini tiba-tiba berubah menjadi laba-laba super besar. Mengapa harus berubah menjadi ketakutan terbesar Sera? Sera tercekat, tak mampu mengatakan apa-apa. Dan akhirnya Sera pingsan. Saat itu juga, lelaki itu kembali menjadi manusia. Bahkan jauh lebih tampan jika dibandingkan dengan manusia yang sesungguhnya.

Sera tersadar karena ia mendengar suara dari dapurnya. Ia bingung, ia takut jika ada perampok yang akan membawa habis barangnya. Ia gemetar, namun juga penasaran. Dengan berbekal remot televisi, ia memberanikan diri untuk menangkap basah sang pelaku. Ia melangkahkan kaki sepelan mungkin. Dan sesampainya ia di ambang pintu dapur, ia menemukan seorang lelaki yang sedang mencoba menyalakan kompor. Apakah zaman sekarang perampok ingin makan di rumah korbannya?

Dengan segera Sera berlari kearah orang tak dikenal itu dan memukul kepalanya keras-keras. Orang itu berteriak kesakitan akibat aksi Sera.

"Akh! Hey! Ini aku!" teriaknya.

Ini aku katanya? Sera bahkan tak mengenalinya. Tunggu sebentar. Dia makhluk Sungai Han itu? Sera mengambil pisau dan mengarahkannya ke makhluk itu.

"Jangan mendekat! Atau akan kubunuh kau!"

Makhluk itu mengangkat kedua tangannya setinggi dada seakan memberitahu bahwa ia tak memiliki niat apa-apa. Ia mendekat ke arah Sera untuk mengambil pisau nya. Namun tanpa sengaja, pisau itu menusuk tangan kiri lelaki tampan itu. Sera yang panik langsung menarik pisau itu tanpa memikirkan akibat nya. Betapa terkejutnya Sera saat luka itu telah tertutup sempurna tanpa meninggalkan bekas. Padahal Sera yakin kalau pisau itu menembus tangannya dan pria itu merasa sedikit kesakitan.

"Hei, hei, tenang. Sudah jelas bahwa aku bisa regenerasi. Kenapa tetap mengarahkannya padaku hah?" katanya.

"Kau siapa, kau makhluk apa?" tanya Sera ketakutan.

"Perkenalkan, aku Hwang Hyunjin. Penghuni Kerajaan Baram sebelum aku diusir," kenalnya.
"Aku bukan orang jahat Sera."

Sera bingung saat Hwang Hyunjin itu mengetahui namanya. Namun Sera tetap menjawabnya. "Ya, kau bukan orang jahat. Tapi kau makhluk jahat! Katakan siapa kau sebenarnya! Dasar makhluk sialan!" Sera terus mengumpat.

"Sudah kubilang. Namaku Hwang Hyunjin, aku tak berbohong padamu. Aku memang warga Kerajaan Baram. Kerajaan laba-laba di dunia yang lain. Dan kau adalah istriku."

"Istri?! Kau sudah gila? Aku bahkan tidak mengenalmu siluman!" sanggah Sera.

"Lihatlah bahu mu. Ada tanda hitam tidak di sana?"

Dengan ragu Sera menyibakkan rambutnya dan menarik sedikit bajunya. Dan benar, ada tanda kecil yang tak seberapa jelas bentuknya. Sera menangis tanpa alasan dan mulai mengusir Hyunjin.

"Pergi kau makhluk sialan! Jangan ganggu hidupku! Hidupku sudah rusak! Tolong jangan kau rusak untuk yang kedua kalinya, aku tak mau terlibat dengan makhluk menyeramkan sepertimu! Pergi dari rumahku!" teriaknya sambil terisak.

Hyunjin mengeluarkan air mata hitam dan mulai melontarkan kalimatnya. "Tolong bantu aku, hidupku juga rusak! Tolong aku, Hwang Sera, cintai aku!" lalu tubuh Hyunjin berubah menjadi asap hitam yang baunya sungguh mengganggu Sera.

Sera meletakkan pisau itu di meja dengan tangan gemetar. Ia ingin muntah, bau itu benar-benar menyeramkan, sama seperti makhluknya.











TBC

Moga suka yaa kalo ada kekurangan plis komen karna Pepe baru pertama kali bikin ff fantasi :">

Vote comment jangan lupa yaa. Buai baiii

Love, Pepe✨

Continue Reading

You'll Also Like

53.4K 6.3K 31
"Aku akan membawamu ke tempat dimana hanya aku yang bisa menyentuh mu! " -LMH "Aku tidak akan pernah menjadi milikmu Lee!" -HJS "Dont leave me alone...
21K 916 36
Sung Hanbin dan Sung Gyuvin merupakan sepasang kakak-beradik yang saling menyayangi satu sama lain. Mereka juga sering berbagi cerita ataupun curhat...
75.2K 8.8K 36
Sepanjang hidupnya, mata, tubuh, dan pikiran Seungmin hanya tertuju kepada Bang Chan. Bangun tidur ia ingat Bang Chan, saat makan ia ingat Bang Chan...
Wattpad App - Unlock exclusive features