Di Antara Dua Asa

By atatiyan

6.9K 401 27

Terjebak dalam asa dari dua pria yang mencintainya tidak membuat Vania melupakan prinsip hidupnya. Prinsip se... More

Bagian 1. Gemas
Bagian 2. Hilang
Bagian 3. Lupa
Bagian 4. Tak Terduga
Bagian 5. Tak Disangka
Bagian 6. Rasa yang Berbeda
Bagian 7. H-1
Bagian 8. Pernikahan
Bagian 9. Benar Adanya
Bagian 10. Ujian Hati
Bagian 11. Terungkap Dalam Hati
Bagian 12. Jalinan Asa
Bagian 13. Terucap Juga
Bagian 14. Keinginan
Bagian 15. Keputusan (1)
Bagian 16. Keputusan (2)
Bagian 17. Berpisah
Bagian 18. Merindukannya
Bagian 19. Berkah Perjuangan
Bagian 20. Di Persimpangan
Bagian 21. Pilu
Bagian 23. Bertamu dan Bertemu
Bagian 24. Mengikhlaskan
Bagian 25. Impian Masa Depan
Bagian 26. Pupus - Hapus
Bagian 27. Musibah
Bagian 28. Bahagia
Bagian 29. Pulang
Bagian 30. Istikharah
Bagian 31. Gerak Hati
Bagian 32. Harus Melupakan
Bagian 33. Teramat Sakit
Bagian 34. Ikhlas dan Mengikhlaskan
Bagian 35. Ijab Qabul
Bagian 36. Anugerah Cinta
Bagian 37. Pergi tanpa Pamit
Bagian 38. Perih
Bagian 39. Bangkit
Bagian 40. Entah Mengapa
Bagian 41. Permintaan Terakhir
Bagian 42. Kembali
Bagian 43. Tirai Kalbu
Bagian 44. Pamit
Bagian 45. Hadir Kembali
Bagian 46. Kunci Hati
Bagian 47. Mengejar Impian
Bagian 48. Menuai Rindu
Bagian 49. Haru Bahagia
Bagian 50. Bahagia Bersama
Bagian 51. Mengejar Cinta
Bagian 52. Merajut Cinta
Bagian 53. Nikmat Cinta Karena-Nya
Bagian 54. Bahagia Selamanya

Bagian 22. Tak Terhindarkan

80 7 0
By atatiyan

Sekembalinya Vania dari Bogor, Vania kembali disibukkan dengan kegiatan kampus yang semakin banyak karena akan memasuki ujian semester genap untuk tahun ketiga. Sempat diprotes kak Rima karena sampai sebulan setelah kembali dari Bogor Vania belum juga berkunjung ke rumah mereka, padahal kak Rima ingin sekali ngobrol banyak tentang Bapak dan ibu juga Bude.

Seperti hari ini, dengan bergegas Vania melangkah keluar kelas karena pada jam 14.00 WIB nanti Vania janji ketemu dengan penasihat akademiknya untuk mengurus administrasi KKL setelah ujian semester ini. Saking buru-burunya Vania tidak melihat jika di ujung koridor ada dokter Azzam yang baru saja keluar dari ruang rapat. Dokter Azzam pun tidak berani menyapa Vania, karena teringat kembali dengan janjinya. Cukup dengan melihat Vania sehat wal'afiat hatinya sudah senang.

Setelah urusannya selesai Vania mencari Nurul di Musholla Fakultas, tadi pagi Nurul cerita kalau siang ini akan ada kajian hadits di Musholla. Sudah lama Vania tidak ikut kajian di Fakultas, selama ini Vania hanya ikut kajian sebulan sekali di masjid kampus karena Vania masih sulit mengatur waktunya. Menyibukkan diri dengan kuliah dan sesekali mengikuti kajian agama lumayan menenangkan pikiran Vania dari persoalan yang ada.

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Vania saat ini, perasaan yang campur aduk. Rasa sayang Vania pada Aldi tidak berkurang meski hatinya sempat sakit dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya. Sampai sekarang Vania belum percaya sepenuhnya dengan perasaan Aldi padanya, karena dilihat dari sudut manapun Kiara memang sangat mirip dengan Vania. Atau jangan-jangan mereka adalah sepasang kembar yang terpisah? Hush Vania jangan menduga-duga tidak baik. Tegur Vania dalam hati.

"Assalamu'alaikum Nurul" ucap Vania sambil berbisik dan mengambil tempat di samping Nurul. Kajian hadits sudah lima belas menit yang lalu dimulai. Tema kajian hari ini tentang pernikahan.

Terdengar suara ustadz dari tempat ikhwan yang dibatasi tirai setinggi orang dewasa"

Dan sabda beliau Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam:

اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ.

"Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat)"

Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383).

Mendengar penjelasan ustadz tentang hadits tersebut Vania langsung teringat pada Aldi dan dokter Azzam. Niat mereka melamar Vania mungkin karena mereka telah merasa mampu untuk menikah dan ingin menjaga diri dari godaan syahwat. Tapi justru Vania yang menghambatnya. Vania menolak karena khawatir tidak mampu menjalani dua-duanya. Apakah hamba berdosa yaa Allah? apakah hamba berhak menjadikan ketakutan dan kekhawatiran hamba untuk menolak niat baik mereka? Tanya Vania dalam hati. Ingin bertanya pada ustadz tapi Vania malu. Jangan-jangan di sana ada juga dokter Azzam, karena dokter Azzam adalah satu dari beberapa dosen yang juga aktif mengikuti kajian agama baik di Musholla Fakultas ataupun Masjid Kampus.

Ah sudahlah, jalani saja.. waktu yang akan menyelesaikannya. Entah memang sesuai dengan apa yang direncanakannya atau justru sebaliknya. Hamba serahkan semua urusan ini padaMu yaa Allah.

Hari demi hari dijalani Vania dengan sabar dan tetap semangat, meski sesekali tertunduk sedih jika teringat dengan masalah yang ada. Kesibukannya yang begitu menyita waktu membuat Vania bahkan tidak sempat mengikuti acara tujuh bulanan kak Rima. Itu pulalah yang membuat kak Rima marah dan kecewa padanya. Namun semarah-marahnya kak Rima tidak pernah marah lebih dari satu jam, hal itu yang membuat Vania begitu mencintai dan menyayangi kakak semata wayangnya itu. Tiba-tiba Vania rindu dengan kak Rima, ingin memeluknya erat namun kak Rima saat ini masih tinggal di Bogor. Sejak acara tujuh bulanan sampai melahirkan kak Rima belum kembali ke Bandung, menunggu dede bayi kuat baru diajak ke Bandung.

Setahun sejak kepulangan terakhir berlalu tanpa terasa, kini Vania dan Nurul akan segera memasuki masa pendidikan profesi. KKL dan ujian skripsi mereka jalani bersama-sama, alhamdulillah lancar dan sukses. Beberapa kali Vania bertemu dengan dokter Azzam terutama ketika mereka mengerjakan skripsi bersama-sama di rumah Nurul. Namun Vania hanya menjawab sekenanya jika dokter Azzam menyapanya.

Aldi pun selama setahun ini hanya dua kali menghubunginya, itupun hanya menanyakan kabar tentang kuliah dan kesehatannya. Ngobrol di telepon tidak pernah lebih dari lima menit, di WA bahkan sudah tidak pernah.

"Eh, Vania... besok kita hangout yuuk.. sudah lama kita belum jalan-jalan ke Mall" Ajak Nurul dan seketika membuyarkan ingatan Vania tentang Aldi dan dokter Azzam.

"Waduh maaf Nurul, besok aku ke Bogor.. mau ketemu Bapak dan ibu sekalian menjenguk kak Rima. Aku belum pernah ketemu dengan ponakan aku, maaf yaa.. kapan-kapan insya Allah kita ke Mall" Vania memohon pengertian Nurul. "Atau kalau mau.. sekalian ikut ke Bogor? Nanti aku temani kamu minta ijin ke Om dan Tante" ajak Vania dan berharap Nurul mau mengikuti keinginannya kali ini. Sejak mereka berteman belum sekalipun Nurul mau diajak ke Bogor.

"Pengen sih,, tapi kamu yang minta ijin sama ayah dan bunda yaa.. soalnya kalau aku yang minta ijin biasanya gak berhasil" pinta Nurul karena beberapa kali pernah mencoba belum sekalipun diijinkan.

"Siaap Nurul sayang.. sekarang temani aku dulu ke toko Baby Shop.. aku mau cari hadiah untuk ponakan aku.. yahh.." Vania merengek agar Nurul mau menemaninya. "Insya Allah dari sana aku akan ke rumah kamu menemui ayah dan bunda" Bujuk Vania yang membuat Nurul akhirnya mengangguk setuju dengan rencana Vania. Dari kecil hingga sekarang Vania memang sangat pintar dalam urusan bujuk-membujuk, selalu berhasil jarang ada yang gagal. Giliran dibujuk orang gak ada satupun yang diterima kalau tidak sesuai dengan keinginannya.

Setelah keliling-keliling mencari kado akhirnya mereka berhasil mendapatkan sebuah kado besar yang isinya bermacam-macam keperluan bayi, hasil hunting mereka di beberapa toko. Perjuangan yang tidak gampang, Vania benar-benar ingin menghadiahi ponakan tersayangnya dengan hadiah yang spesial.

Dari toko mereka pulang ke rumah Nurul untuk menemui ayah dan bunda, sebagaimana janji Vania tadi sebelum mereka hunting kado. "Maaf Om.. Tante.. mohon ijin Vania ingin mengajak Nurul ke Bogor besok. Sudah lama Vania belum pulang ke rumah, sekalian menengok ponakan baru, anaknya kak Rima" ucap Vania pada ayah dan bunda Nurul yang saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga. Vania sangat berharap Nurul diijinkan ayah bundanya.

"Berapa lama nanti di sana?" tanya bunda Nurul sambil tersenyum menatap Vania dan Nurul bergantian.

"Insya Allah dua hari Tante, karena empat hari lagi sudah mulai pengurusan wisuda" jawab Vania juga dengan senyum manisnya.

"Boleh, tapi harus diantar mas Azzam.. bunda gak mau kalian kenapa-kenapa di jalan" akhirnya bunda Nurul mengijinkan tapi dengan satu syarat dan syaratnya itu yang membuat Vania shock. Orang yang selama ini berusaha Vania hindari justru yang akan menemani perjalanan mereka.

"Zam, kamu sibuk gak tiga hari kedepan? Bunda minta kamu temenin Nurul dan Vania pulang ke Bogor. Mereka cuma 2 hari di sana, bunda gak mau mereka jalan sendiri" ucap bunda yang langsung menelpon dokter Azzam untuk meminta persetujuannya.

"Gak bunda,, alhamdulillah jadwal perkuliahan udah gak ada, tinggal ngolah nilai" jawab dokter Azzam dari seberang.

"Jadi bisa kan? Kalau jadwal jaganya gimana?" tanya bunda lagi karena teringat dengan tugas jaga dokter Azzam di Rumah Sakit.

Vania sebenarnya berharap dokter Azzam menolak permintaan bundanya, tapi ternyata tidak. Yaa Allah, gimana ini.. malah jadi begini ceritanya.. gumam Vania dalam hati.

"Kalau itu, nanti Azzam minta tukeran jadwal dengan Rio bunda" jawab dokter Azzam yang ternyata menyanggupi permintaan Bundanya.

"Alhamdulillah, kalau begitu boleh.. bunda ijinkan Nurul ikut Vania ke Bogor.. salam buat Bapak dan ibu kamu yaa Vania" ucap bunda karena dokter Azzam bisa menemani mereka besok.

"Iya Tante, insya Allah.. terima kasih sudah membolehkan Nurul ikut ke Bogor" balas Vania sambil menangkupkan tangannya sebagai ucapan terima kasih.

"Iya sayang.." bunda tersenyum manis ikut senang melihat mereka bahagia karena mendapat ijin darinya.

Sementara itu Vania berusaha keras menenangkan hatinya yang tiba-tiba gelisah karena dua hari kedepan mereka (Vania dan dokter Azzam) akan bersama, meski ada Nurul tetap tidak membuat hati dan pikiran Vania tenang.

Continue Reading

You'll Also Like

32.6K 252 4
❗[Tahap Revisi] Baca Masya Allah Zaujati || Cinta Dalam Doa dulu sebelum ini, untuk lebih jelas tokoh-tokoh yang ada di cerita ini. •••^^••• Mencerit...
1.9K 132 23
Pernikahan bagi Hana dan Arsyad bukanlah hasil dari kisah cinta yang indah, melainkan keputusan yang lahir dari keadaan. Mereka menikah tanpa pernah...
340 20 17
Di sebuah kota kecil, dua dunia yang berbeda bertemu di ruang-ruang sekolah menengah pertama. Alina, siswi baru yang penuh impian, terjebak antara ke...
86 1 22
Ia hanya cleaning service. Ia hanya anak angkat. Tapi cinta mereka tumbuh... di balik status, rahasia, dan satu danau kecil yang menyimpan cerita. Hi...
Wattpad App - Unlock exclusive features