Bersama Awan

By nisajung97

14.1K 1.9K 1K

Namanya cuma satu kata: Awan, tetapi cerita bersamanya takkan selesai dalam satu-dua halaman. More

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
25
26
27
28
29
30
31
32
33 ⚠️
34
35
36 ⚠️
37
38
39
40
41
42
43
44

24

273 42 12
By nisajung97

SUDAH lima hari berlalu sejak kejadian itu dan belum ada tanda-tanda Rafli akan pulang.

"Diangkat, nggak, Ma?" Kurapatkan telinga pada speaker ponsel ibuku, yang seharusnya sudah berangkat kerja pagi ini, agar bisa mendengar suara si kingkong nun jauh di sana. Namun, yang kami dapatkan sebatas balasan klise khas operator. "Yah. Sekali lagi, deh, Ma. Kalo masih nggak diangkat juga, baru―"

"Halo? Nak Rafli?" seru beliau, yang sesegera mungkin membuatku bungkam.

Suara serak Rafli tersiar pelan, "Ya, Bu?"

"Kamu, tuh, ke mana aja, sih, Nak? Kok pergi nggak ngabar-ngabarin Ibu dulu?" cecar ibuku. "Kapan mau pulang? Ibu udah masakin teri balado sama sayur asem kesukaan kamu, nih!"

Rafli terkekeh. "Nanti, ya, Bu. Rafli masih banyak kerjaan, nih. Belum bisa ditinggal."

Helaan napasku mengalun berat. Duh, kalau sampai teri balado―tak peduli betapapun sibuknya, Rafli akan segera meluncur ke meja makan begitu mendengar kata "teri"―saja gagal memancing atensinya, berarti pupus sudah harapan kami untuk melihat ia kembali dalam waktu dekat.

"Pokoknya, kamu kabarin kalo mau pulang, biar Ibu bisa masakin teri balado lagi." Alih-alih meminta Rafli untuk segera pulang sesuai instruksiku, ibuku justru fokus melimpahkannya wejangan. "Jangan sampe lupa makan, ya? Kopi, rokok, sama begadangnya juga kurang-kurangin. Jangan mentang-mentang di sana kamu nggak ada yang ngawasin, terus jadi sembarangan―"

"Iya, Bu. Makasih, ya," potong Rafli sebelum omongan ibuku tertumpah lebih banyak lagi.

"Jangan iya-iya aja. Dengerin, jalanin." Ibuku masih sempat menitah saat ponsel made in China-nya kutagih habis-habisan. "Oh, iya, ini katanya si Arin mau ngomong sama kamu. Bentar, ya."

Lekas kuhirup napas banyak-banyak sebelum memulai ocehan, "Halo, Raf, ini gu―"

Panggilan terputus, bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimat.

Seolah tahu (juga takut, tentunya) aku akan menggunakan cara serupa demi menghubunginya, setelah itu Rafli meniadakan respons untuk setiap panggilan yang kulakukan lewat ponsel para penghuni rumah. Kamu, sebagai orang terakhir yang kupinjam ponselnya, turut penasaran. "Gimana?"

"Nggak diangkat juga," jawabku lemas.

"Kalian, tuh, ya, udah mulut sama-sama pedes, ngambek sama-sama susah dibujuk ...." Kamu berdecak saat ponselmu kukembalikan. "Mau gimana lagi? Tungguin aja sampe ngambeknya reda."

Aku mendelik tajam. "Ya mau ditunggu sampe kapan? Seminggu? Sebulan? Setahun? Ini Pak Batara dari kemarin udah nagih jawaban terus, lho, Mas! Aku, kan, jadi nggak enak sendiri!"

"Terus kamu maunya gimana?"

"Bergerak, lah! Datengin ke tempat kerjanya, kek. Apa, kek. Yang jelas nggak diem aja!" seruku sembari bangkit dari sofa. Eh, sebentar, aku bilang apa tadi? Mendatangi tempat kerja si kingkong?

Boleh juga!

"Mas, boleh pinjem motor, nggak? Bentaraaan aja!" Nada bicaraku berubah 180 derajat, dari sengit menjadi (sok!) cute, demi meluluhkanmu. "Nanti bensinnya aku full-in, deh. Boleh, ya? Ya?"

Bukan jawaban, yang kudapat darimu justru tatapan datar.

"Please ...." Kesepuluh jariku bertautan tatkala mengatakannya. "Beneran sebentar, kok!"

Aku sudah akan bersorak ketika bibirmu terbuka, tapi ucapanmu setelahnya justru membuatku kecewa, "Nggak. Kata Ibu, aku nggak boleh minjemin kamu motor kalo nggak darurat-darurat amat."

"Ini hitungannya darurat, kok. Kan, aku mau nyari Rafli di tempat kerjanya," kilahku. "Ayolah, Mas. Kalo Mas Har lagi libur juga aku nggak bakal minjem sama Mas Awan, kok. Sekali ini aja. Please!"

"Nggak. Izin dulu sama Ibu, sana. Kalo diizinin baru aku kasih," tegasmu.

"Pelit banget, ih!" Kuhadiahi cubitan pada pinggangmu yang berbalut kaus. Izin? Pada ibuku? Sama aja bohong! Bagi beliau, melihatku mengendarai sepeda motor (sama halnya dengan menelan obat tidur) jauh lebih mengerikan ketimbang film horor mana pun.

"Aduh, duh, duh!" Kamu meronta, tapi cubitanku semakin ganas menyapu pinggangmu. "Ampun, Rin! Ampun! Sakit beneran kalo di situ mah! Nyelekit pisan!"

Lidahku terjulur. "Rasain! Siapa suruh pelit sama aku?"

"Kalo aku anter aja, gimana?" tawarmu, usai berhasil menghindari cubitanku selanjutnya dengan bantal sofa yang kamu gunakan sebagai perisai. "Tapi aku nggak bisa nungguin atau jemput, ya, soalnya masih ada sepuluh panel lagi yang belum diwarnain, nih. Harus buru-buru disetor."

Aku mencebik. "Jangan separo-separo gitulah kalo mau bantuin!"

"Beneran nggak bisa, Rin. Sumpah." Jari tengah dan telunjukmu mengacung. "Bisa sendiri, kan?"

Bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi ....

***

Sesuai kesepakatan, kamu benar-benar bergegas pergi usai menurunkanku di muka bengkel. Lalu, sebagaimana dugaanku, mimik bingung salah seorang montirnya menjadi sambutan telak atas kedatanganku yang tampak tak beralasan. Tanpa motor, mobil atau apa pun yang bisa direparasinya. Beruntung, montir berpapan nama "Romi" itu tidak segan menyapaku, "Ada yang bisa dibantu, Mbak?"

Aku mengulum bibir sebelum mencicit, "Rafli-nya ada?"

"Oh. Bentar, ya, Mbak. Saya tanyain dulu." Romi tersenyum, tapi fokusku tetap tertancap pada tato aksara Cina di pipi kanannya yang semula kukira noda oli bekas. "Obey! Si Repoy ada, kagak?"

Sebentuk kepala berambut nyaris putih―ssst, sewaktu baru rambutnya saja yang mencuat, kupikir itu kucing atau anjing berbulu lebat―mendadak muncul dari kolong mobil yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Sumpah, ini, tuh, bengkel atau sarang berandalan, sih? "Repoy? Nggak tau, tuh! Coba tanya si Ido!"

"Lah, bukannya si Repoy emang udah berapa hari nggak kunjungan, ya, Rom?" Satu lagi montir yang terlihat paling normal (jika dibandingkan dengan tato di wajah Romi atau rambut jagung Obey, dua anting di masing-masing telinga Ido bukanlah apa-apa) di antara kesemuanya, justru balik bertanya saat Romi menanyainya. "Palingan kalo ke sini buat jemput Pakde doang, abis itu cabut lagi!"

"Yah ... beneran nggak ada, nih?" keluhku.

Romi mengonfirmasi, "Emang bener, sih, Mbak. Belakangan ini Repoy emang jarang keliatan."

"Ngomong-ngomong, Mbak ada perlu apa sama si Repoy?" tanya Ido lagi, tapi kali ini dengan nada penuh selidik.

Aku bungkam sejenak. Sibuk menimbang-nimbang antara ingin berbohong atau jujur sekalian. Jujur saja, deh, ya! "Jadi, gini ... Rafli, tuh, udah beberapa hari ini nggak pulang. Nggak bisa dihubungin ju―"

"Nggak pulang?" Obey sekonyong-konyong keluar dari kolong mobil. Lantas didekatinya aku, Romi, dan Ido dengan dahi berkerut-kerut. "Tunggu, deh. Emang Mbak, tuh, siapanya Repoy, sih?"

Diserang picingan tiga orang sekaligus, mau tak mau aku salah tingkah. "Ng .... Adiknya?"

Tidak kusangka, tatapan penuh curiga mereka berubah menjadi gelak tawa karenanya.

"Mbak, Mbak. Kalo mau bohong yang masuk akal dikit, ngapa?" ledek Obey di sela-sela tawa mereka. Ingin rasanya kujenggut rambut putih pemuda itu. "Repoy mana punya adek! Perempuan, lagi!"

Romi, yang tawanya sudah lebih dulu redam, menepuk bahu kurus Obey. "Eh, bentar. Coba perhatiin, deh, Bey. Kayaknya muka si Mbak ini nggak asing. Iya, nggak, sih?"

"Iya, ya?" Obey mengamati wajahku, sesuai titah Romi. "Kayak pernah liat di manaaa gitu?"

Aku terkekeh. Jelas tidak asing, wong aku sudah pernah menjejaki bengkel ini walau hanya satu kali, untuk menjemput motorku―yang sekarang sudah dipindahtangankan ke Mas Har―usai diservis Rafli secara cuma-cuma. Hanya saja, dulu aku sama sekali tidak menjumpai orang-orang ini lantaran fokus mendengarkan penjelasan Rafli soal kondisi motorku dan langsung pulang setelahnya.

"ANJING!"

Bukan cuma aku, dua pemuda yang tersisa pun turut menjengit akibat pekikan tak pantas Romi. Namun, hanya Ido yang tergerak untuk menoyor kepala Romi, sekaligus mengomelinya. "Heh, tuh mulut kayak nggak pernah disekolahin! Ada perempuan, ini! Maen anjang-anjing sembarangan aja lo!"

"Mbaknya anak yang punya kosan si Repoy sekarang, ya?" tanya Romi, tanpa mengindahkan omelan sang rekan. Tak ingin berbohong dan ketahuan untuk kedua kalinya, aku lekas mengangguk.

"ANJING! ANJING! ANJING!" Kini, seakan menjilat ludah―yang bahkan terhitung belum kering―sendiri, Ido bersumpah serapah dengan lancarnya. Asli, kenapa jadi pada kaget begini, sih? "Bentar, ya, Mbak, saya telepon Repoy sekarang. Mbak jangan ke mana-mana dulu, oke?"

Baru saja Ido menekan logo panggil, Romi buru-buru merebut ponsel pemuda bertindik empat itu. "Heh, goblok! Lagi di mana lo sekarang? Pulang, nggak, lo! Cewek lo nyariin sampe ke bengkel, nih!"

Aku refleks menelan ludah. Cewek lo, katanya?

"Cewek yang mana, lo bilang?" celetuk Obey, yang sedari tadi cuma bisa ternganga, begitu menguping jawaban Rafli. "Cewek yang dari dulu lo taksir sampe harus cabut dari markas kita, setan!"

... hah?

"Cepetan pulang atau gue obrak-abrik nih bengkel lo!" tambah Ido, sesaat sebelum panggilan itu diakhiri oleh pihak Rafli. "Dimatiin, lagi! Emang, ya, nih kampret satu, dari dulu kalo ada masalah kabur-kaburaaan terus! Kapan mau dewasanya, sih, kalo apa-apa ditinggal kabur? Empet banget gue lama-lama!"

Romi menyetujui. "Bener! Mana mentang-mentang dia sekarang statusnya bos kita, tiap kita nasihatin pasti tutup kuping! Mending gue nasihatin batu beneran, deh, daripada nasihatin dia!"

"Tunggu, tunggu, kenapa kalian malah bergunjing gini, sih?" protesku. "Intinya, tuh, si Rafli mau pulang apa nggak? Kalo nggak, gue cabut, nih. Percuma juga, kan, nungguin di sini?"

Tidak ada jawaban.

"Ih, malah pada diem! Iya atau nggak, nih?" hardikku, kukuh menagih kejelasan. Yang lebih menyebalkan, alih-alih menjawab, tiga pemuda berseragam di hadapanku ini malah saling menyikut. Persis penghuni kosku kala ditanyai siapa yang terakhir kali menggunakan mesin cuci dan merusakkan fungsi pengeringnya. "Ya udah, gue anggap Rafli nggak mau pulang, ya? Makasih banget udah mau―"

"Mbak," panggil Obey pelan. "Mau mampir ke markas kita, nggak?"

Meet the new cast(s) from GROOVL1N!

Continue Reading

You'll Also Like

1M 72K 113
Kumpulan Cerita Haechan dengan Member NCT ...Cerita ini mengandung unsur LGBT jadi untuk yang tidak suka maka tidak perlu mampir
14.7K 2.3K 30
- semua berawal dari jina yang harus wawancara seorang kapten basket nyeremin bernama hwang hyunjin. *cerita ini murni dari pemikiran penulis. adanya...
56.1K 4.1K 40
Hanya sekumpulan fanfiction bangtanvelvet Bahasa kadang baku kadang tidak Vomentnya membantu proses penulisan loh❤❤
Wattpad App - Unlock exclusive features