"Rik... Woy, Rik..."
"Mmmhhh..." aku menggumam.
"Bangun, gila. Ini lagi kelas malah tidur aja lu." Sial. Kepalaku masih sangat sakit dan Bayu sudah ribut saja pagi ini.
"Woy, Rik..."
"Apaan sih?" Aku terpaksa mengangkat kepala dari kedua tanganku yang terlipat di meja, demi apa? Mendengar celotehan Bayu.
"Ricky, coba baca ini lalu ubah jadi past tense!" Ms. Arum setengah berteriak dari depan kelas.
"Elu sih. Udah gua bangunin masih aja tidur, gua kira mati lu." Bayu berbisik dari depanku.
"Ya lu bilang kek dari tadi gua di perhatiin Ms. Arum." Umpat ku kesal sambil memegang kepala.
"Gimana, Ricky? Atau mau cuci muka dulu ke kamar mandi?" Wanita ini meremehkanku? Aku langsung berdiri dari tempat dudukku.
"Timmy goes to the school with his father. Timmy went to the school with his father this morning. Jhonny buys a milk at the store. Jhonny bought a milk at the store yesterday." Seisi kelas terdiam memandangku, termasuk Ms. Arum. Astaga, kau hanya tinggal mengubah satu kata dan menambahkan beberapa kata di akhir kalimat. Well, mungkin pengucapanku yang begitu fasih yang membingungkan mereka.
"Is there anything else that I should do for you, Miss?" beberapa anak mulai berbisik-bisik. Ms. Arum terdiam didepan kelas, mungkin malu serangannya tak mempan terhadapku.
"Yasudah, kamu boleh duduk. Dan tolong jangan tidur saat jam pelajaran saya!" aku duduk kembali.
Benar-benar sial hari ini. Semua ini gara-gara Mas Awan. Dia memaksaku pergi sekolah dan mengadukan ku dengan Papa. Bukannya aku takut, sebenarnya aku sudah sering melawan Papa. Tapi ini dua lawan satu. Itu tidak adil, kawan. Mas Awan pikir siapa dia? Setelah bertahun-tahun menghilang dari dunia dan pagi ini dia datang untuk memaksaku melakukan sesuatu yang ku tidak mau? Tak bisa dibiarkan.
Bel tanda istirahat berbunyi. Ms. Arum sudah keluar kelas dan anak-anak mulai berhamburan keluar kelas, beberapa anak diam di kelas. Ah masa bodo, aku akan bolos hari ini.
"Rik, kantin kuy." Ajak Bayu membalikkan badannya dari kursi depan.
"Gua mau cabut, Bay. Sakit banget nih pala gua dari pagi." Aku mengepak tas ku.
"Tuhan... Gaada bosen-bosennya ya lu cari masalah. Kan bisa ke UKS, atau tidur noh di belakang."
"Ah males gua. Lagian bete juga gegara Ms. Arum tadi."
Tiba-tiba ada tangan yang memegang dahiku. Seorang pria tinggi dengan kemeja biru ketat dan celana hitam slimfit berdiri disampingku.
"Badanmu panas. Kalo emang sakit kan bisa ke UKS. Lagian ini mau ujan, kalo bolos sekarang paling kena ujan di jalan." Mas Awan berkata dengan suara soprannya yang menyebalkan. Sok perhatian.
Bayu terheran-heran dengan mulut menganga menatap kami. Yaiyalah, guru musik baru kami secara mendadak berlagak sok akrab dengan ku, dan memegang jidatku.
"Ck... Aku bisa pulang sendiri." Aku menepis tangan Mas Awan dari dahiku. Benar saja, hari mulai hujan. Aku terduduk kembali di kursi, membenamkan wajahku pada kedua tanganku di meja lagi.
"Ayo, saya antar ke UKS. Bayu, tolong bilang sama guru selanjutnya Ricky izin sakit dan dirawat di UKS ya." Kata Mas Awan dengan senyum sok manis nya. Bayu hanya bisa mengangguk. Tunggu, baru kusadari badanku yang ternyata juga lemas.
Dia merangkul sebelah tanganku dan melingkarkannya pada pundaknya. Beberapa siswi cewek mulai jingkrak-jingkrak dan loncat keliling lapangan melihat aksi Mas Awan, aku bercanda, itu lebay. Ya, beberapa siswi mulai kegirangan melihat aksi Mas Awan.
"Yaampunnnnn soswit bangettttt Pak Kurniaaaa....." wajah Cindy berubah merah.
Pak Kurnia? Tunggu, harusnya akulah lelaki yang dipuja disini, bukan dia. Sial. Aku melepaskan topangan tubuhku pada Mas Awan. Jengkel.
"Aku bisa jalan sendiri." Aku berjalan kedepan kelas, hujan deras mengguyur lapangan basket, dan itu satu-satunya jalan untuk menuju UKS dari kelasku. Ah mau tak mau, aku tak sudi bersentuhan dengan Mas Awan lagi.
Kupaksakan diriku menyusuri lapangan. Beberapa siswa berlari berlawanan arah denganku, menghindari hujan. Tubuhku memang sedikit lunglai, dan aku suka hujan. Tapi kurasa ini terlalu deras, seluruh tubuhku basah.
***
Masih dengan seragam sekolah. Aku sengaja tidak menghubungi Bang Uji untuk menjemputku. Aku ingin berjalan menikmati dingin dan hujan. Para guru mendadak mengadakan rapat, alhasil seluruh siswa terpaksa dipulangkan jauh sebelum jam pulang sekolah seharusnya. Sekarang aku punya dua pilihan. Pulang ke rumah, atau memanggil taxi ke rumah sakit untuk menemani Mama?
Mama?
Hujan semakin deras, langit kian gelap tertutup awan hitam. Aku menghentikan langkahku ketika melewati sebuah taman. Aneh, baru kali ini aku sadar betapa tenangnya taman ini. Di bawah sinar matahari yang cerah, aku yakin taman ini adalah tempat yang menyenangkan. Baik bagi anak-anak, para lansia yang kadang berlari kecil di atas batu-batu kecil di tepian, atau para pasangan muda yang sekedar ingin menikmati hari minggu bersama. Hampir setiap hari aku melewati taman ini, tapi hari ini, di bawah hujan, baru aku menemukan keindahan tempat ini di hari kelam.
Aku memandang langit, mempersilahkan setiap tetesan air hujan membasuh wajahku. Seragam putih biru ku berantakan. Basah dan kotor bercampur padu. Ya, aku hanya berdiri disana. Sendiri, ditengah ombak hujan.
Haruskah aku menjenguk Mama kali ini?
"Iki!" seseorang menepuk pundak ku dari belakang.
Mata ku menyipit, mencoba melihat seseorang yang barusan memanggil ditengah hujan.
"Mas Awan?" setengah berteriak, aku meninggikan suara berharap Mas Awan dapat mendengar ku. Helm hitamnya tergantung di satu tangannya.
"Kamu bolos ya?" Mas Awan ikut berteriak, mensejajarkan suara ku walau jarak kami berdekatan. Dingin semakin jadi, aku melingkarkan tanganku di lengan, mencoba mencari kehangatan dari tubuh sendiri.
"Mas ngapain disini?"
"Jalan-jalan!" Mas Awan, dengan senyuman khas nya.
"Mana ada orang jalan-jalan sambil ujan-ujanan?!"
"Ada, tuh kamu." Masih dengan senyumannya, entah kenapa Mas Awan tidak marah melihat tingkah laku ku yang kupikir bodoh ini. Berjalan pulang ditengah hujan? Ya, itu bodoh.
Aku hanya terdiam menatap Mas Awan yang entah darimana tahu keberadaanku disini.
"Ayo pulang!" Mas Awan menunjuk motornya yang terparkir di sisi taman. CBR 150 yang telah menjadi kebanggaannya sejak SMA kini hujan-hujanan menghadang tuannya yang membujuk adik kesayangannya untuk pulang.
"Mas gak kuliah emang?" aku merapatkan tanganku.
"Gak, hari ini libur. Mas beli serabi tuh, keburu basah entar."
"Aku mau ke rumah sakit, Mas."
Mas Awan terdiam.
"Kalo gitu ayo, Mas anterin ke rumah sakit. Kita makan serabi bareng bertiga." Mas Awan mencoba tersenyum lebih lama.
Sekarang giliran ku yang terdiam. Mungkin terkejut dengan perkataanku. Apa aku benar-benar ingin melihat Mama? Menemani Mama disamping ranjang putih dengan tabung oksigen di kedua sisinya? Sudah lebih dari satu bulan kurasa, aku tidak melihat senyum tegar Mama dibalik masker oksigennya. Aku...terlalu takut untuk itu.
"Aku sendiri aja, Mas." Mas Awan masih mencoba terlihat tenang di depanku. Dia mendekat satu langkah. Kini kami semakin dekat.
Aku tertunduk. Sepertinya, air mata ku jatuh.
Mas Awan memegang pundak ku.
"Kamu kedinginan." Ia meletakkan helmnya, melepaskan jaket kulit hitamnya lalu melingkarkannya di pundakku. Kini badan Mas Awan terlihat jelas dibalik kaos hitamnya yang sekarang basah.
"Iki..."Mas Awan mendekatkan wajahnya. Ia menatap mataku lekat.
"Mas baru aja pulang dari rumah sakit. Mama kamu bilang, dia kangen sama kamu. Mama mau ketemu sama kamu." Senyum palsu yang dari tadi terpasang di wajah Mas Awan hilang, berganti dengan tatapan cemas terhadapku.
Aku jatuh. Terduduk dengan kedua lututku menapak tanah. Aku menangis. Melampiaskan semua kesedihan yang sudah sekian lama kutahan. Hujan semakin deras. Entah Mas Awan mengatakan apa. Aku hanya menutup wajahku dengan kedua tangan, berharap air mata ini segera berhenti.
Mas Awan mendekapku ke pelukannya. Aku melingkarkan tangan ke punggungnya. Menangis sejadi-jadinya di bahu Mas Awan. Hangat. Dinginnya hujan yang sedari tadi menusuk, hilang didalam pelukan Mas Awan.
"Mas tau kamu takut ketemu Mama, karena kamu gak mau liat Mama sakit. Mas tau kamu juga menderita liat keadaan Mama yang sekarang." Pelukan Mas Awan semakin erat. Aku hanya bisa membungkam wajahku di bahu Mas Awan. Ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata saat ini. Keinginanku untuk bertemu Mama, selalu kalah dengan besarnya rasa takutku melihat penderitaan Mama.
"Mas gak akan pernah biarin kamu takut sendirian, Ki. Tapi Mama kamu butuh kamu. Mama gak bisa berjuang sendirian. Sang ratu butuh ksatria-nya sekarang untuk nyelametin dia. Cuma kamu satu-satunya ksatria yang Mama punya, ki." Tangisku semakin menjadi.