Karena malam itu Wirawan pulang dari kantor lebih awal membuatnya bertemu sang putri.
“Maafin Papa ya, Ren. Kamu marah, ya?” katanya dengan lemah lembut. Tas kerjanya ia letakkan di atas meja dan tangannya menarik ujung kemejanya supaya bisa dinaikkan ke atas lengan.
Renata yang sedang duduk di sofa empuk dan matanya yang tertuju pada layar besar televisinya itu masih diam, tak mempedulikan Wirawan.
“Papa pikir hal yang Papa bilang ke kamu kemarin itu solusi supaya kamu bisa bersosialisasi sama orang-orang sekitar. Maaf ya, Sayang. Papa janji ga akan ngulangin itu lagi.” Wirawan menghadap penuh pada ke arah putri sematawayangnya.
Renata menoleh. “Emang di mata Papa aku ini kenapa sih, Pah? Apa Papa anggep aku ga bisa bergaul? Papa anggep aku itu orang paling cuek di dunia ini?”
“Engga, Ren, ngga gitu, dengerin Papa dulu.”
“Pah, aku bisa jadi orang yang seperti Papa inginkan. Tapi butuh waktu! Aku juga kalo mau milih, aku pengen jadi kayak Papa, kayak Bik Ila, kayak Tante Aca, Airin, aku mau Pah!”
Renata langsung beranjak pergi, meninggalkan Wirawan yang masih terpaku dengan ucapan putrinya. Renata berlari dari lantai bawah sampai ia selesai menutup pintu kamarnya.
Kenapa hidup gue kayak gini sih?! Ujarnya dalam hati.
♡
Renata bangun dari tidurnya dan langsung mandi. Memakai seragam dan memasukkan beberapa buku tulis ke dalam tas abu-abunya.
Wajahnya yang datar dan tak ada lekukan sedikit pun di pipi kenyalnya pagi itu. Renata keluar kamar dan mengunci kamarnya dari luar. Tak seperti biasa.
Perempuan itu berjalan dengan langkah terburu-buru, mengaitkan tasnya ke bahu tapi hanya sebelah.
“Enon ga sarapan dulu?” tanya Bik Ila saat melihat Renata melewatinya tanpa melirik sedikit pun.
Pak Joko yang sedang menyesap kopinya itu terkejut bukan main, saat di pagi hari yang sejuk dan ayam jago baru berkokok tapi sang majikan sudah keluar untuk berangkat sekolah.
“Kunci,” kata Renata padat dan singkat, dengan tangan yang ia tadahkan. Pak Joko diam sejenak. “Buruan!” desak Renata.
Pak Joko buru-buru mengeluarkan semua kunci mobil yang ada di kotak hitam sebelah gelas kopinya.
Renata yang melihat Pak Joko bingung mau memilih yang mana, Renata buru-buru berucap. “Pajero aja.”
Setelah diberi kunci berwarna hitam itu Renata langsung mengangkat kakinya. Pak Anas sudah membukakan gerbang tinggi yang menjulang. Renata menancap gas mobilnya cepat dan melewati setiap jalanan kosong.
Karena malas datang ke sekolah sepagi itu, Renata memutuskan untuk mencari angin terlebih dahulu di jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Semua ucapan sang ayah semalam terulang lagi di otaknya. Tangannya menggenggam erat stir mobil dan tiba-tiba memukulnya.
Merasa sudah cukup, Renata membelokkan mobilnya menuju basement sekolah. Hanya ada dua mobil di sana, yang ia yakini itu adalah milik pekerja sekolah yang sedang lembur.
Setibanya di ruang kelas, Renata langsung duduk dan menelungkupkan kepalanya dan matanya juga ikut tertutup.
“Hai!” tegur seseorang. Renata langsung mendongak dan menurunkan kedua alisnya karena orang di depannya itu sama sekali tak pernah ia kenal sebelumnya.
“Lo siapa?” kata Renata, wajahnya datar dan menatap perempuan itu sinis.
“Gue murid baru, pindahan dari ibukota. Emh, btw duduk di samping lo boleh?”
“Ada orangnya.”
“Iya tau, maksudnya sebentar doang. Nanti juga orangnya dateng gue pindah.”
Kelihatannya perempuan itu adalah anak gaul yang memiliki banyak teman hits. Terlihat dari gaya pakaian dan juga logat bicaranya.
“Kenalin, nama gue Stefany.”
“Renata.”
“Lo lagi ada masalah ya?”
Renata hanya melirik Stefany sekilas sebagai balasan. Lalu diam. Stefany yang melihatnya tertawa.
“Eh, lo tuh kalo ada masalah bisa cerita ke gue. Ya gue ngerti sih kita baru kenal, tapi, kali aja 'kan gue bisa bantu lo. Atau bisa buat lo ngelupain hal itu sementara biar lo ngga terbebani terus.”
Renata masih diam.
“Nih ya, kalo kita lagi stress itu, tandanya butuh refreshing! Pasti lo ga pernah nongkrong di puncak sama temen, ya? Mau nyoba?”
“Ngga, makasih.”
“Hm, kalo kita jalan-jalan ke Bali gimana?”
“Kita?”
Stefany mengangguk yakin. “Gimana?”
“Ga deh, gue ga bisa selesaiin masalah kalo di luar rumah.”
“Plis deh Cantik, kalo misalnya masalah lo dari rumah dan lo selesaiinnya di rumah, mana bisa? Pasti lo liatnya dari sudut itu-itu aja!” Entah kenapa perempuan itu begitu semangat menyampaikan pendapatnya.
Renata diam, ada benarnya juga. Tapi Renata tetaplah Renata, ia tak bisa menerima orang baru di hidupnya, tak semudah itu.
“Renata!!” teriak satu spesies manusia dengan rambut tebalnya yang hitam legam. Renata menoleh dan menatap penuh perempuan itu.
“Udah sampe aja lu, Broh!” kata Airin sambil menepuk bahu Renata.
“Stefany,” kata Stefany yang langsung mengulurkan tangannya. Airin menerima jabatan tangan itu dan menyebutkan namanya.
♡
Stefany diterima dengan sangat baik di dalam kelas, karena nilai tambahan juga tentunya; cantik, menarik, fashionable dan juga sangat piawai berbahasa Inggris.
Tapi tetap saja, nama Airin dan Renata masih menempati posisi teratas untuk disetarakan dengan nilai Stefany.
Satu hari penuh mereka bertiga bersama, di sana Airin tak banyak bicara apalagi dengan Stefany, antara masih malu atau memang ada yang tak Airin srek dari Stefany Gyeolin itu.
Renata menyadarinya, meski tak terlihat jelas, namun Renata bisa merasakannya. Bagaimana tidak? Setiap hari perempuan datar itu mendengarkan ocehan berdurasi panjang dengan rajinnya.
Dan semenjak adanya kehadiran Stefany, Airin lebih sedikit mengeluarkan kata dan ekspresinya yang dibilang sangat sedikit untuk ukuran Airin Hayda.
“Ren, gue pengen ke toilet nih. Anterin, yuk?” pintanya. Renata yang memang sedari tadi menahan hal yang dirasakan Stefany itu dengan cepat menyetujuinya.
Stefany menarik tangan Renata begitu saja tanpa mengajak Airin, bahkan perempuan berhidung mancung dengan alis tebal itu tak dilirik Stefany, seperti layaknya tak ada orang lagi.
Dengan otomatis, Renata menghadap ke belakang untuk memastikan kalau sahabatnya satu itu ikut. Tapi tidak. Renata berhenti.
“Rin, ayo!” ajak Renata.
Airin dengan wajah datarnya menggeleng dan membuka ponselnya. Mulai menyibukkan diri di benda tipis itu.
Airin yang melihat ke arah Renata lagi harus kecewa, nyatanya Renata sudah tak ada. Perempuan itu tidak mendekatinya untuk mengajak Airin.
Airin tak tau alasan mengapa Renata mau menemani Stefany, jadi, ia pikir Renata benar-benar sudah dibuat nyaman oleh Stefany.
Pikirannya tak ada di scrool-an beranda Instagram, fokusnya hanya pada sahabatnya yang tiba-tiba berubah.
Renata yang sedang menunggu Stefany itu berdecak kesal karena ia sudah menunggu 5 menit. Padahal tadi mereka bersamaan saat menutup pintu, tapi Renata lebih cepat selesai dan mau tak mau harus keluar lebih dulu dan menunggu Stefany.
Renata sebenarnya malas sekali, ia benar-benar membenci hal yang sudah menyia-nyiakan waktunya. Kenapa Airin tak ikut? Kenapa Airin mendadak berubah?
Renata ikut sebal juga pada Airin karena sikap perempuan itu hari ini sangat aneh. Tapi, Renata tak bisa merasakan kobaran api cemburu yang Airin rasakan saat sahabatnya lebih dekat dengan orang lain. Orang yang baru satu hari Renata kenal. Keduanya sama-sama merasakan perubahan tanpa diketahui satu sama lain.
---------------------------------
Jumat, 14 Februari 2020
1114 kata
20.57