“Rin, lo kenal cowok yang di parkiran tadi?” tanya Renata yang benar-benar tak bisa ditahan lagi rasa penasarannya.
Airin yang sempat melamun itu menatap Renata. “Ya kenal, emang kenapa? Lo kenal juga ya sama dia?”
“Sedikit.”
Airin membulatkan mulutnya, ia berdeham berpikir mau mulai dari mana untuk menjelaskannya pada Renata.
“Dulu, ibunya pernah kerja di rumah gue jadi ART. Ya kira-kira dari gue kelas 2 SD sampe kelas 2 SMP. Ibunya Dimas ga kerja lagi di gue karena saat itu di rumah ada Oma sama Tante perempuan gue yang saat itu masih anak kuliahan. Yaudah deh jadi mama gue ga perlu asisten lagi.”
“Oh.”
“Ya ampun Ren 'oh' doang? Gue panjang lebar woy, Sukro!”
“Gue belom selesai ngomong!” katanya, “Kenapa ga dibutuhin lagi? Kan bisa bantu Oma lo kalo ada apa-apa.”
“Gatau juga gue...”
Renata menganggukkan kepalanya.
“Kalo lo sendiri? Kenapa bisa kenal Dimas?”
Renata mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Dimas di depan kedai sosis. Lalu kejadian di rumahnya. Airin sempat kesal sendiri dengan sikap Renata pada cowok yang sedang mereka bicarakan.
“Terus, lo temenan sama dia?” Airin memajukan wajahnya untuk menatap mata Renata dengan jelas.
“Pertanyaan lo ga jelas sumpah.”
Airin berdecak. “Maksud gue, lo ga mau nambah temen?”
“Apaan si, Rin? Ya kalo temenan ya yaudah, ribet amat lo.”
“Ya ampun nanya doang kali gue,” kata Airin kicep. Lalu makanan keduanya datang dan disusul minumannya.
“Pulangnya anterin gue nyari buku yuk?”
“Males ah, lama lu kan.” Maaf Rin, temenmu itu emang ga dipagerin mulutnya.
“Ck! Yaudah ngopi gimana?”
“Kayak anak hits aja lo gayanya,” kata Renata yang niatnya mengejek.
“Ya ampun, cuma pengen ngopi ama WiFi-an doang Ren, sumpah!”
Renata menggelengkan kepalanya sambil menguyup kuah sotonya. Heran dengan temannya satu itu, sekaligus kagum. Pasalnya Airin adalah anak dari seorang pengusaha besar, punya dua mobil pribadi dan memiliki banyak rumah di daerah ibukota.
Tapi gaya hidupnya merendah, tak pernah memamerkan harta benda pada siapapun. Temannya banyak dan sifatnya yang terbuka. Kadang Renata bingung sendiri mengapa Airin selalu ada untuknya, bahkan mau bersabar untuk menghadapi sikapnya yang menyebalkan.
♡
Sekitar jam 8 malam, Wirawan pulang dari kantor dan cepat-cepat untuk menemui anak kesayangannya. Ternyata saat membuka kamar Renata, Wirawan mendapati satu perempuan lagi yang sempat membuatnya terkejut.
“Hai, Om! Apa kabar?” kata Airin dengan semangat '45.
“Baik dong, oh iya tumben kamu main?”
“Ah iya Om, aku sama Renata lagi akur,” ucap Airin yang membuat laki-laki berwajah lelah itu tertawa.
“Yaudah yaudah, Om mau mandi dulu. Kalian udah makan?”
“Udah kok Om, yaudah deh sekalian Airin pamit pulang, ya.”
“Loh kok pulang?”
“Iya Pah, sebenernya udah dari tadi dia mau pulang tapi baru selesai beres-beresnya. Lagian diajak nginep ga mau.” Renata yang sejak tadi diam mulai membuka mulutnya.
“Soalnya nanti malem Airin ada acara keluarga, Om. Mendadak banget.”
♡
“Sekolah kamu gimana?”
Renata yang sedang memainkan game di ponselnya itu menjawab cuek. “Lancar.”
“Taruh dulu dong HP-nya.”
“Ngomong aja Pah, aku denger.”
Wirawan mendengus. “Kamu harus rubah sikap kamu, Renata.”
“Why?”
“Papa ngerasa kamu jadi anak yang kurang bersosialisasi karena sikap kamu sendiri yang tertutup. Apa ga sebaiknya kamu jadi orang yang terbuka?”
Renata menjauhkan ponsel itu dari pandangannya dan menatap Wirawan penuh.
“Kenapa si emangnya, Pah? Harus ya aku jadi sosok yang kayak gitu? Harus ya aku cerita ke semua orang tentang hidupku? Papa ngga pernah bisa ngerti Renata. Selama ini Renata kesepian, Pa.
Renata ngga punya orang yang Renata percaya dan ngga tau harus ungkapin cerita Renata ke mana! Renata benci!!!” Setelah berteriak di kalimat akhir, Renata berlari dari ruang tengah ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.
Panggilan dari Wirawan terdengar untuk merayu Renata agar mau diajak bicara baik-baik. Namun, ternyata anaknya lebih dulu salah kaprah. Atau, memang Wirawan yang salah?
♡
Renata pagi itu berniat untuk lari pagi. Dan mengajak Airin untuk menemaninya. Ia meraih roti tipis dengan rasa keju, lalu menambahkan susu cokelat yang ada di meja makan.
Renata masih marah pada Wirawan karena kejadian semalam. Renata sama sekali tak ingin membukakan pintu kamarnya untuk Wirawan karena ia malas mendengar ucapan yang lainnya lagi.
Renata bukanlah anak yang mudah menerima masukan, kecuali jika benar-benar dia sendiri yang memintanya.
Setelah menghabiskan rotinya dengan lahap, lalu berganti dengan segelas susu sapi yang sangat Renata sukai.
Susunya pun ikut habis hingga tetesan terakhir, Bik Ila mendekat untuk memberi Renata buah-buahan. Tapi Renata menolak.
“Ngga Bik. Nanti siang aja.”
“Non udah mau berangkat?”
“Nunggu temen dulu.”
“Oh gitu, yaudah Non Bibik permisi ke belakang, ya.”
Renata mengangguk dan masih fokus pada ponselnya. Masuklah chat dari Airin.
Renata berjalan keluar dengan sepatu hitam dan baju putih lengan pendek. Rambut yang diikat dan tas kecil yang ia bawa untuk menyimpan uang dan ponselnya.
“Lama lu!” cetus Airin karena sudah bosan menunggu di gerbang.
“Lo yang lama.”
Airin menarik napasnya. “Yauda iya.”
Setelah sampai di tempat tujuan, Renata mengajak Airin untuk cepat-cepat pemanasan. Airin mengikuti dengan malas, toh dia juga sudah kepanasan karena matahari yang mulai menyinari bumi.
Keduanya berlari kecil dengan kaki yang bersamaan. Renata berlari dengan leluasa dan kadang menaikkan celana olahraganya yang sempat melorot karena ditarik Airin.
“Diem ah!” kata Renata yang mulai risih dengan keusilan Airin.
“Ya maap,” ucap Airin. Lalu Airin menarik pelan lengan Renata yang masih bisa ia jangkau.
“Ren Ren, gawat!”
“Gawat kenapa?” Renata membalik badannya dan memperhatikan Airin yang membungkuk sambil memegangi perut sebelah kanannya.
Renata mendekat dan menaikkan dagu sahabatnya itu untuk melihat wajahnya.
“Gawat kenapa si?”
“Gue laper,” kata Airin yang tiba-tiba mengubah wajahnya menjadi wajah imut.
“Yailah Rin, baru juga lari. Udah laper aja!” Renata berdecak pinggang.
Airin berusaha menegakkan tubuhnya meski ginjalnya masih sakit. Dan jika jujur, posisinya lebih terlihat seperti nenek-nenek yang sedang berdiri.
“Heh Somplak! Ini udah jam 9! Dan lo masih bilang kita baru lari, hah?! Pengen nangis deh gue, Ren!!” kata Airin cukup kencang, menyita perhatian orang-orang yang berolahraga di sana juga. Beberapa pun ada yang tertawa.
Renata memperhatikan sekitar dan menatap sinis ke Airin. “Yaudah ayo cari makan.”
Wajah Airin langsung berseri-seri dengan mata yang ikut menyipit. Pipinya yang memerah itu membuat Airin semakin terlihat imut.
Airin menggandeng Renata dan berjalan di samping kanannya.
“Nyari makan di mana, Ren?” tanya Airin sambil mencari kunci mobilnya di saku celana. Kepalanya pun ikut melihat ke belakang.
Lalu,
BUGH!
“AW!!” ringis Airin yang hampir saja terjatuh jika Renata tak menahannya. Dari depan ternyata ada orang yang menabrak Airin keras.
“Woy lo ngga punya mata?!” teriak Renata. Airin sibuk mengelus bahunya yang sakit.
“Sorry, ngga sengaja.” Perempuan dengan celana pendek dan baju selengan itu pergi. Renata menatapnya tak suka.
“Sakit Rin? Mau duduk dulu ngga?”
“Ngga usah, gue masih bisa jalan kok. Makasih ya.”
---------------------------------
Kamis, 6 Februari 2020
1115 kata
17.27